NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

“Radit, dengar aku baik-baik,” ucap Arsy dengan suara bergetar namun ia paksa tetap jelas. “Aku benar-benar nggak tahu apa-apa soal pemecatan kamu. Aku nggak pernah lapor apa pun. Aku bahkan nggak punya urusan sama rumah sakit tempat kamu kerja.”

Radit terkekeh pendek. Tawa itu terdengar pahit dan penuh ejekan.

“Kamu pikir aku akan percaya?” katanya dingin. “Setelah semua yang terjadi?”

Arsy menggeleng cepat. Air matanya kembali jatuh.

“Radit, aku bersumpah,” katanya lirih, nyaris putus asa. “Aku nggak punya kekuatan atau wewenang buat ngelakuin hal sejauh itu. Aku bukan siapa-siapa.”

“Berhenti berbohong!” bentak Radit tiba-tiba. Suaranya menggema di ruangan IGD yang sempit. “Kamu selalu begini, Arsy. Selalu pasang wajah polos, seolah-olah dunia ini jahat sama kamu!”

Radit melangkah lebih dekat. Terlalu dekat hingga membuat Arsy ketakutan.

“Aku kehilangan pekerjaanku hari ini,” lanjutnya dengan nada naik turun, penuh tekanan. “Nama baikku hancur. Karierku tamat. Dan kamu berdiri di sini, bilang nggak tahu apa-apa?”

“Aku memang nggak tahu, Radit.” Arsy membalas dengan suara gemetar. “Kalau kamu marah, aku mengerti. Kamu salah kalau mengira aku yang melakukan semua ini pada kamu.”

Radit menatap Arsy dengan tajam. Matanya merah, napasnya berat. Untuk sesaat, Arsy berpikir mungkin kata-katanya berhasil masuk dipikiran Radit. Tapi harapan itu runtuh ketika rahang Radit mengeras dan sorot matanya berubah semakin gelap.

“Aku tidak peduli kau ngomong apa padaku, yang aku pedulikan sekarang adalah cepat cabut laporan pemecatan itu untukku, Arsy.” kata Radit tiba-tiba dan membuat Arsy terdiam.

“Laporan apa?”

“Jangan pura-pura!” bentak Radit. Tangannya terangkat dalam sekejap, jari-jarinya mencengkeram bahu Arsy dengan kuat hingga membuat Arsy merintih kesakitan.

“Aa—!” Arsy merintih kesakitan. Tubuhnya tanpa sadar menegang, sementara tangannya mencoba mendorong dada Radit. “Sakit, Radit! Lepasin!”

Namun Radit tidak peduli. Cengkeramannya justru semakin menguat, jari-jarinya menekan bahu Arsy seolah ingin menghancurkannya.

“Cabut laporan itu sekarang!” desaknya dengan suara rendah tapi penuh ancaman. “Atau aku pastikan hidup kamu juga nggak akan tenang.”

“Aku nggak pernah bikin laporan apa pun!” Arsy menangis. Air matanya jatuh dengan deras. “Radit, aku mohon, lepasin aku!”

Pak Rahman yang sejak tadi menyaksikan dengan napas tersengal langsung tersentak. Matanya membelalak melihat putrinya disakiti tepat di depan matanya.

“Lepaskan… lepaskan Arsy!” ucapnya lemah namun penuh kepanikan. Tangannya gemetar saat mencoba bangkit dari ranjang. “Jangan… jangan sentuh putriku…”

Radit menoleh sekilas, wajahnya penuh ketidaksabaran.

“Diam kau!” bentaknya kasar. “Ini bukan urusanmu!”

Ucapan itu seperti pisau bagi Arsy. Ia menoleh ke arah ayahnya yang kini napasnya semakin tidak beraturan.

“Ayah…” suaranya bergetar. “Ayah jangan bangun, ya. Tolong…”

Namun Pak Rahman memegangi dadanya. Wajahnya pucat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

“Argh…” gumamnya lirih. “Sakit…”

“Ayah!” teriak Arsy panik.

Cengkeraman Radit masih belum terlepas. Arsy berusaha memberontak sekuat tenaga, rasa sakit di bahunya bercampur dengan ketakutan luar biasa melihat kondisi ayahnya yang semakin memburuk.

“Radit, tolong!” Arsy menjerit histeris. “Ayahku, aku harus menolongnya! Lepasin aku sekarang!”

Namun Radit justru semakin gelap mata.

“Kalau kamu mau aku berhenti?” katanya dingin. “Cabut laporan itu sekarang.”

“Aku nggak bisa cabut sesuatu yang nggak pernah aku buat!” teriak Arsy sambil berusaha menepis tangan Radit.

Pak Rahman mengerang kesakitan. Tubuhnya bergetar hebat.

“Arsy…” ucapnya tertahan.

Air mata Arsy jatuh tanpa henti. Ia menoleh ke arah ayahnya, hatinya seakan diremas kuat-kuat.

“Ayah, bertahanlah… Arsy di sini…”

Ia kembali menatap Radit, amarah dan ketakutan bercampur menjadi satu.

“Lepasin aku!” Arsy menjerit sambil menghantamkan tangannya ke dada Radit. “Ayahku sekarat!”

Radit tersentak. Namun bukannya melepaskan, ia justru mendorong Arsy dengan kasar dan membuat tubuh Arsy terlempar ke belakang. Segalanya terjadi begitu cepat. Arsy menutup mata, bersiap menerima rasa sakit yang akan diterima tubuhnya saat menghantam lantai. Namun tubuhnya tidak jatuh.

Sebuah tangan kuat menangkapnya dari belakang. Menahan tubuhnya sebelum benar-benar terhempas. Arsy terhuyung, lalu punggungnya bersandar pada dada yang kokoh.

“Arsy,” suara itu terdengar berat, dingin, dan penuh amarah yang tertahan. Arsy gemetar. Ia mengenali suara itu bahkan sebelum menoleh.

“Syakil…”

Syakil memegangi tubuh Arsy dengan satu tangan, memastikan perempuan itu berdiri dengan seimbang. Matanya menelusuri wajah Arsy dengan cepat.

“Arsy, kamu nggak apa-apa?” tanya Syakil dengan cepat.

Arsy menggeleng pelan, terlalu panik untuk berkata banyak. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Syakil. Syakil menghela napas tajam, lalu menatap Pak Rahman yang kini memegangi dadanya dengan wajah kesakitan.

“Arsy,” katanya tegas. “Panggil dokter. Sekarang.”

Ucapan itu seperti menyadarkan Arsy dari keterkejutannya.

“Iya… iya!” katanya terburu-buru.

Dengan tangan gemetar, Arsy berlari kecil ke sisi ranjang dan menekan tombol bel pemanggil dokter dan suster berkali-kali. Air matanya jatuh membasahi pipinya.

“Tolong… tolong cepat…” bisik Arsy dengan panik.

Syakil menoleh perlahan ke arah Radit. Tatapan matanya terlihat dingin. Tidak ada teriakan maupun suara yang keluar dari bibirnya. Hanya kemarahan murni yang membeku di matanya. Radit masih berdiri di tempatnya, napasnya memburu, wajahnya tegang. Namun untuk pertama kalinya sejak tadi, ia tampak sedikit goyah.

“Kau siapa?” Radit menyeringai sinis, mencoba tetap terlihat berani. “Jangan ikut campur urusan orang lain.”

Syakil melangkah mendekat.

“Urusan orang lain?” ulang Syakil pelan. Suaranya rendah dan menggetarkan. “Kau sudah berani macam-macam sama perempuan yang aku cintai. Kau bikin ayahnya hampir mati.”

Radit hendak membuka mulutnya, tapi tidak sempat. Dalam satu gerakan cepat, tinju Syakil melayang.

Brak!

Tinju itu menghantam wajah Radit dengan keras. Radit terlempar ke belakang, tubuhnya tersungkur ke lantai IGD dengan bunyi berat.

Arsy menjerit kecil, sementara Pak Rahman terengah di ranjang. Dan suasana di ruang IGD itu seketika berubah menjadi kacau.

Radit terdiam di lantai selama beberapa detik, seolah dunia di sekelilingnya mendadak berhenti berputar. Kepalanya masih berdengung hebat akibat hantaman barusan. Pandangannya sedikit berkunang-kunang. Perlahan, ia mengangkat tangannya ke bibirnya yang basah. Ia mengusapnya dengan punggung tangan, lalu menatap cairan merah yang menempel di kulitnya. Darah.

Radit tertawa kecil. Tawa itu terdengar pendek, serak, dan dipenuhi ketidakpercayaan.

“Brengsek…” gumamnya lirih.

Ia mendongak, menatap Syakil yang masih berdiri tegak beberapa langkah darinya. Sorot mata Radit berubah—bukan lagi hanya marah, tapi juga tercengang. Seumur hidupnya, belum pernah ada orang yang berani menghantam wajahnya sekeras itu tanpa ragu. Syakil menatap Radit dengan dadanya yang naik turun. Napasnya berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena amarah yang masih membara dan nyaris tak terkendali. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, urat-urat di lehernya menegang jelas.

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!