NovelToon NovelToon
Reverb

Reverb

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Idol / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.

Selamat Bacaaaa 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Matahari London naik dengan malas, membiaskan cahaya pucat ke dalam apartemen Knights bridge yang pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Lucky Caleb duduk di ruang tengah, namun matanya tidak lepas dari sosok Freya yang sedang sibuk di area dapur.

Sepanjang hari itu, pikiran Lucky adalah medan perang. Ada rasa bersalah yang menghimpit dadanya—rasa bersalah kepada Renata karena merasa telah mengkhianati komitmen mereka, namun di sisi lain, ada perasaan yang jauh lebih kompleks terhadap Freya. Ia baru saja menyadari bahwa ia telah mengambil sesuatu yang sangat berharga dari asistennya, sesuatu yang tidak bisa dikembalikan hanya dengan kata maaf.

Namun, Freya tetaplah Freya. Gadis Montgomery itu adalah definisi dari ketangguhan. Meskipun setiap langkah yang ia ambil pagi ini terasa seperti duri yang menusuk, ia tetap menolak untuk diam.

"Frey, berhenti. Aku bisa mengambil minum sendiri," tegur Lucky saat melihat Freya mencoba membawa nampan berisi kopi dan cemilan ringan.

Freya tidak menjawab. Ia terus berjalan, meski langkahnya terlihat sedikit kaku dan lambat. Pinggulnya terasa pegal, dan ada sensasi nyeri yang tertinggal akibat kejadian semalam yang begitu intens. Jika biasanya ia bergerak secepat kilat, pagi ini ia tampak seperti robot yang butuh pelumasan.

"Aku asistenmu, Luc. Duduk dan diamlah," jawab Freya ketusnya. Suaranya sedikit serak, sisa dari jeritan-jeritan kecil yang tertahan di bawah guyuran air dingin semalam.

Lucky memperhatikan bagaimana Freya meletakkan nampan itu dengan sangat hati-hati di meja nakas. Ia melihat dahi Freya yang sedikit berkerut menahan nyeri setiap kali ia harus membungkuk.

Lucky merasa sangat jahat, namun secara bersamaan, ada sisi maskulinnya yang merasa aneh; ada kepuasan tersembunyi sekaligus rasa ingin tertawa melihat asistennya yang "super" itu kini kewalahan karena ulahnya.

"Frey... berhentilah berjalan-jalan seperti itu. Kau membuatku merasa seperti monster," ucap Lucky, suaranya parau.

Freya berbalik, menatap Lucky dengan mata sayu yang tampak memelas. "Kalau kau tahu kau monster, kenapa kau tidak membantuku sejak tadi? Ini semua ulahmu! Jangan ganggu aku!"

Lucky tak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya. Melihat Freya yang biasanya dingin dan efisien kini menunjukkan muka memelas dengan langkah yang terseok-seok adalah pemandangan yang... menggemaskan.

"Istirahatlah, Frey. Kumohon," Lucky berdiri, mencoba meraih lengan Freya untuk membimbingnya ke sofa. "Aku benar-benar tidak tega. Aku... aku takut kau berdarah karena terlalu banyak berjalan. Kau tahu kan, itu pertama kalinya bagimu dan aku tidak benar-benar lembut semalam."

Wajah Freya yang tertutup masker seketika memanas hingga ke telinga. "Lucky! Jaga bicaramu!"

"Pfff..." Lucky menutup mulutnya dengan tangan, berusaha keras menahan tawa yang nyaris meledak. Ironi ini sungguh luar biasa; ia merasa bersalah hingga ingin mati, tapi melihat Freya yang rusak karena perbuatannya justru membuatnya ingin terus menggoda gadis itu.

"Apa yang lucu?!" desis Freya, tangannya meraih bantal sofa dan melemparkannya tepat ke wajah Lucky.

Lucky menangkap bantal itu sambil terkekeh pelan. "Maaf, maaf. Tapi sungguh, Frey. Duduklah. Aku yang akan menyiapkan baju untuk pertemuan dengan Renata nanti siang. Kau hanya perlu menginstruksikanku dari sini."

Mendengar nama Renata, suasana kembali mendingin. Freya akhirnya luluh dan duduk di sofa dengan perlahan, menarik napas panjang saat punggungnya menyentuh sandaran yang empuk. Ia menatap Lucky yang kini sibuk membuka lemari pakaian—sesuatu yang biasanya tidak pernah dilakukan pria itu sendiri.

"Kau akan bertemu dengannya jam satu siang," ucap Freya, kembali ke mode profesional meski tubuhnya meronta. "Pakai kemeja biru yang kugantungkan di sebelah kiri. Itu akan menutupi bekas kemerahan di lehermu jika ada."

Lucky terhenti, tangannya meraba lehernya sendiri. Ia teringat bagaimana Freya mencengkeram dan menciuminya dengan liar di bawah pengaruh obat semalam. "Terima kasih sudah mengingatkan," gumam Lucky, suaranya merendah.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Lucky menoleh, melihat Freya yang memejamkan mata. Rasa bersalah itu kembali datang, kali ini lebih tajam. Ia mengkhianati Renata, wanita yang ia sebut cinta sejatinya. Namun, menatap Freya yang sedang kesakitan demi melayaninya, Lucky menyadari satu hal yang menakutkan: ia tidak menyesali malam itu. Ia menyesali rasa sakit yang dirasakan Freya, tapi ia tidak menyesal telah memiliki gadis itu sepenuhnya.

"Frey," panggil Lucky lembut.

"Hmm?"

"Soal semalam... meskipun kau bilang itu karena obat, bagiku itu nyata. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi Renata nanti siang tanpa memikirkanmu yang ada di sini, menahan sakit karena aku."

Freya membuka matanya. Ia melihat ketulusan di mata Lucky. Untuk sesaat, ia ingin melepas maskernya dan berteriak bahwa ia mencintai Lucky lebih dari nyawanya sendiri, lebih dari martabat Montgomery-nya. Namun, bayangan foto Renata dan Arthur kembali muncul.

"Jangan pikirkan aku, Lucky. Pikirkan saja kebahagiaanmu bersama Renata. Aku hanya... hanya perlu sedikit istirahat," ucap Freya pelan.

Lucky mendekat, ia berlutut di depan Freya dan mengambil tangan gadis itu, mengecup punggung tangannya dengan lembut—ciuman yang sama seperti yang ia berikan pada Renata, namun kali ini terasa lebih berat oleh janji yang tak terucapkan.

"Aku akan segera pulang setelah makan siang. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian terlalu lama," janji Lucky.

Freya hanya mengangguk, membiarkan Lucky pergi bersiap-siap. Ia menatap punggung Lucky dengan tatapan yang sulit diartikan. Di satu sisi, ia merasa menang karena telah memiliki apa yang belum pernah dimiliki Renata. Di sisi lain, ia tahu ia sedang membangun istana di atas pasir yang mulai tersapu ombak kebohongan.

Saat Lucky akhirnya keluar dari apartemen dengan penampilan sempurna, tampak seperti bintang besar yang tak punya dosa—Freya segera mengambil ponselnya. Langkahnya masih sakit, tapi amarahnya lebih besar.

"Satu jam lagi, Renata akan bertemu Lucky," gumam Freya. "Dan aku akan memastikan pertemuan itu menjadi awal dari kehancuranmu."

Freya berdiri dengan tertatih, berjalan menuju meja kerjanya. Ia membuka folder dari Fank. Ia tidak akan menunjukkan foto itu sekarang. Ia ingin menunggu saat yang paling tepat, saat di mana Renata merasa paling tinggi, agar jatuhnya terasa paling menyakitkan.

"Kau boleh memiliki waktunya siang ini, Renata. Tapi semalam... dialah yang memohon padaku," bisik Freya pada sunyinya ruangan.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Ridwani
👍👍
winpar
hujn2 bca cerita sedih ini 😥😥😥😥
smngt Thor ceritanya bgus bgt
ros 🍂: Aaaa ma'aciww udah semangatin 🤭
total 1 replies
Ridwani
👍👍👍
winpar
pinter bgt kk thornya1 hari bnyk bnget up nya 🥰😍
ros 🍂: Makasih jejak nya kak, kan jadi tambah semangat nulisnya 🥰
total 1 replies
winpar
up lgi kk seru bgt ceritanya🥰😍
ros 🍂: Ma'aciww jejak nya kak🥰🙏
total 1 replies
winpar
sedih banget 😥😥😥😥
ros 🍂: Kita harus bahagia Kak 😭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!