NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Langkah kaki Evelyn terdengar cepat menyusuri lorong rumah sakit yang panjang. Sepatu hak rendahnya mengetuk lantai keramik putih dengan irama yang sedikit keras, seolah mencerminkan kekesalan yang masih memenuhi kepalanya.

Wajahnya sedikit merengut, alisnya bertaut, sementara bibirnya terus menggerutu pelan.

“Pria itu sepertinya tidak waras. Bisa-bisanya dia menyuruhku melepas celananya,” gumam Evelyn dengan nada kesal.

Ia menggelengkan kepalanya, seakan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di ruang rawat tadi.

“Memangnya tangan dia kenapa? Orang tangannya masih utuh, tidak terluka sedikit pun. Tadi makainya saja bisa, giliran sekarang tidak bisa. Modus saja dia tuh pasti,” lanjutnya sambil mendengus.

Di dalam kepalanya, bayangan wajah pria itu terus terlintas. Wajahnya tampan memang, bahkan terlalu tampan untuk ukuran pasien biasa. Namun bagi Evelyn, itu sama sekali tidak mengurangi rasa kesalnya.

Baginya, pasien tetaplah pasien. Tidak peduli setampan apa pun mereka.

Ia menghela napas panjang sambil berjalan menuju ruangannya sendiri. Evelyn hanya ingin duduk sebentar, menenangkan pikirannya sebelum kembali bekerja.

Namun baru beberapa langkah lagi mencapai ruang dokter, sebuah suara memanggilnya.

“Kamu kenapa, Eve?”

Evelyn menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah suara itu dan mendapati seorang wanita mengenakan jas dokter putih sedang berdiri di dekat meja perawat.

Itu adalah Jihan, salah satu dokter yang sudah cukup lama bekerja bersamanya di rumah sakit itu.

Jihan menatapnya dengan tatapan penasaran. Ia mengenal Evelyn cukup baik, dan dari raut wajah temannya itu, jelas ada sesuatu yang sedang mengganggunya.

Evelyn menghela napas kecil sebelum akhirnya menjawab.

“Tidak apa-apa, cuma sedang kesal saja,” ucapnya sambil mengangkat bahu ringan.

Jihan mengangguk pelan, seolah memahami.

Sebagai dokter, mereka memang sering menghadapi berbagai macam tipe pasien. Ada yang sabar, ada yang manja, ada yang terlalu banyak mengeluh, bahkan ada yang sengaja mencari perhatian.

Tidak jarang juga pasien-pasien itu membuat emosi para dokter ikut naik turun.

“Pasien lagi?” tanya Jihan santai.

Evelyn mendengus pelan.

“Pasien yang aneh,” jawabnya singkat.

Jihan terkekeh kecil mendengar itu.

“Sudah biasa,” katanya sambil bersandar santai di meja. “Beberapa pasien memang suka bikin kita naik darah.”

Evelyn hanya mengangguk pelan. Ia terlalu malas menjelaskan panjang lebar tentang pria yang sedang dirawatnya itu.

Kalau Jihan tahu pria itu menyuruhnya melepas celananya, bisa-bisa temannya itu malah menertawakannya sepanjang hari.

Jihan kemudian menatap Evelyn lagi dengan rasa penasaran yang lain. “Kamu semalam katanya tidak jadi pulang?” tanyanya. “Kenapa?”

Pertanyaan itu membuat Evelyn sedikit terdiam.

Ia mengingat kembali kejadian semalam. Bagaimana ia menemukan pria itu bersimbah darah, bagaimana ia membawanya ke rumah sakit, dan bagaimana ia harus berjaga hampir semalaman memastikan pria itu selamat.

Evelyn menghembuskan napas pelan sebelum menjawab.

“Ada pasien gawat darurat. Terpaksa aku balik lagi ke rumah sakit.” ucapnya pelan.

Jihan mengangguk mengerti.

“Kasus berat?”

“Lumayan,” jawab Evelyn singkat.

Namun di dalam hatinya, ia tahu kata lumayan itu sebenarnya terlalu sederhana untuk menggambarkan keadaan pria itu semalam.

Luka tusuk di tubuhnya juga bukan luka biasa. Kalau saja ia terlambat sedikit membawa pria itu ke rumah sakit, mungkin nyawanya sudah tidak tertolong.

Jihan menatap Evelyn dengan mata sedikit menyipit, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah temannya itu.

“Kamu sampai tidak pulang. Berarti kamu yang menangani langsung pasiennya?” tanya Jihan lagi.

“Iya,” jawab Evelyn.

“Sekarang bagaimana keadaannya?”

Evelyn terdiam sejenak sebelum menjawab.

“Sudah sadar.”

“Syukurlah.”

Namun Evelyn malah menghela napas lagi, kali ini lebih panjang. “Sayangnya mulutnya juga sudah ikut sadar,” gumamnya.

Jihan mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

Evelyn memijat pelipisnya pelan.

“Dia pasien paling menyebalkan yang pernah aku tangani hari ini,” jawabnya.

Padahal hari itu bahkan belum benar-benar dimulai.

Jihan menatapnya beberapa detik, lalu tiba-tiba tertawa kecil. “Wah, jarang-jarang aku dengar kamu ngomel seperti ini gara-gara pasien,” katanya.

Evelyn hanya memutar bola matanya. “Percayalah, kalau kamu yang menangani dia, kamu juga pasti kesal.”

“Memangnya dia ngomong apa?” Evelyn langsung terdiam.

Ia ragu sejenak. Tidak mungkin ia mengatakan hal itu dengan santai.

Akhirnya ia hanya menggeleng. “Sudahlah, tidak penting. Yang jelas pasiennya aneh.” katanya.

Jihan mengangkat bahu.

“Ya sudah. Yang penting sekarang dia selamat.”

Evelyn mengangguk pelan.

“Iya… selamat,” gumamnya.

Namun entah kenapa, bayangan wajah pria itu kembali muncul di pikirannya.

Tatapan matanya yang tajam, sikapnya yang santai seolah tidak sedang terbaring sebagai pasien, dan cara bicaranya yang seenaknya.

Evelyn mendesah pelan.

“Semoga saja aku tidak terlalu sering berurusan dengan pria itu,” gumamnya dalam hati.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa pria yang baru saja ia selamatkan itu bukanlah pasien biasa.

"Kau sudah makan? Kalau belum, ayo kita ke kantin" tanya Jihan.

"Ayo" jawab Evelyn, kebetulan dia juga belum sempat sarapan.

*******

Langit di luar jendela rumah sakit sudah mulai berubah gelap. Cahaya matahari perlahan menghilang, digantikan lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu.

Evelyn berdiri di dalam ruangannya sambil merapikan beberapa berkas pasien di atas meja. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan menghela napas lega.

Akhirnya waktunya pulang.

Dua hari penuh berada di rumah sakit membuat tubuhnya terasa lelah. Bahunya sedikit pegal, kepalanya juga terasa berat. Ia hanya ingin segera pulang, mandi air hangat, lalu beristirahat di tempat tidur empuknya.

Evelyn mengambil tasnya yang tergeletak di kursi, lalu menyampirkannya di bahu. Ia berjalan menuju pintu ruangannya dengan langkah santai.

Namun baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, tiba-tiba seseorang berlari tergesa-gesa menuju ke arahnya.

“Dokter Evelyn!”

Suara itu membuat Evelyn menoleh.

Seorang perawat datang dengan napas terengah-engah, wajahnya terlihat panik seolah sesuatu yang buruk baru saja terjadi.

Evelyn langsung mengernyit.

“Ada apa, Sus?” tanya Evelyn heran.

Perawat itu berhenti di depan Evelyn sambil mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal.

“Pria itu menghilang, Dok,” katanya dengan suara terburu-buru.

Evelyn mengerutkan kening.

“Pria yang mana?”

“Pasien yang tadi malam Anda bawa ke sini,” jawab perawat itu cepat. “Dia tidak ada di kamarnya.”

Mata Evelyn langsung membesar.

“Hah?” Keterkejutan jelas terlihat di wajahnya.

“Bagaimana bisa?” tanya Evelyn tidak percaya. “Bukankah dia di kamarnya?”

Perawat itu menggeleng cepat.

“Tidak ada, Dok. Kami tadi masuk untuk mengecek infusnya, tapi saat kami sampai di kamar, dia sudah tidak ada. Tempat tidurnya kosong.”

Evelyn terdiam beberapa detik, mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar.

Pasien itu baru saja sadar pagi tadi. Kondisinya bahkan belum benar-benar stabil. Luka tusuk di tubuhnya masih membutuhkan perawatan, dan ia juga kehilangan cukup banyak darah.

Tidak mungkin pria itu bisa bergerak jauh dalam kondisi seperti itu.

Evelyn menutup matanya sejenak, lalu menghembuskan napas panjang penuh kekesalan.

“Lagi-lagi dia,” gumamnya pelan.

Baru saja ia hendak pulang setelah seharian bekerja, kini jadwalnya kembali tertunda karena pria asing yang menyebalkan itu.

Seolah-olah pria itu memang sengaja membuat hidupnya lebih merepotkan.

Evelyn membuka matanya lagi lalu menatap perawat di depannya.

“Ayo, kita lihat ke kamarnya” katanya akhirnya. Perawat itu terlihat sedikit bingung.

Tanpa menunggu jawaban, Evelyn langsung melangkah cepat keluar dari ruangannya. Perawat itu segera mengikuti di belakangnya.

Mereka berjalan cepat menyusuri lorong rumah sakit yang sudah mulai sepi karena waktu sudah menjelang malam.

Lampu-lampu di koridor memantulkan cahaya putih yang membuat suasana terasa sedikit dingin dan sunyi.

Sepanjang jalan, Evelyn terus memikirkan kemungkinan yang terjadi.

Apa pria itu benar-benar pergi? Atau mungkin ia hanya berjalan sebentar keluar kamar?

Namun perasaan tidak enak mulai muncul di dalam dadanya.

Dengan kondisi luka seperti itu, seharusnya pria itu bahkan kesulitan untuk berdiri.

Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan kamar rawat tempat pria itu dirawat.

Pintu kamar sudah terbuka.

Evelyn langsung masuk tanpa ragu. Matanya segera menyapu seluruh ruangan. Tempat tidur pasien terlihat kosong.

Selimutnya sedikit berantakan, seperti seseorang baru saja bangun dari sana. Tiang infus masih berdiri di samping tempat tidur, namun selang infusnya sudah terlepas begitu saja.

Evelyn menghela napas panjang.

Benar-benar tidak ada orang.

Ia berjalan mendekati tempat tidur, menatap bekas tempat pria itu berbaring beberapa saat yang lalu.

“Pasien gila,” gumamnya pelan dengan nada kesal.

Tangannya bertumpu di pinggang sementara ia mencoba menahan rasa jengkel yang mulai muncul.

“Dia pikir ini hotel?” lanjutnya kesal.

Perawat di sampingnya hanya berdiri cemas.

“Dok… bagaimana ini?” tanya perawat itu pelan.

Evelyn menatap ruangan itu sekali lagi, seolah berharap pria itu tiba-tiba muncul dari sudut kamar. Namun tetap saja tidak ada siapa pun.

Ia menghembuskan napas panjang sekali lagi.

“Coba cek CCTV lorong,” kata Evelyn akhirnya. “Mungkin dia keluar dari kamar.”

Perawat itu langsung mengangguk.

“Iya, Dok.”

1
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
Atik Marwati
wkwkwkw...mafianya mleyot
Atik Marwati
gabung thor🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!