Di balik sosok wanita seksi yang selalu mencuri perhatian di setiap ruangan, Sasha Wijaya menyimpan rahasia besar—ia adalah agen intelijen yang telah menyamar selama tiga tahun untuk menggali kebenaran di balik jaringan kontrabanda terbesar di Asia Tenggara. Gaun malam yang menempel pada lekukan tubuhnya bukan hanya untuk menarik pandangan, melainkan sebagai selubung untuk menyembunyikan alat-alat khusus yang ia butuhkan dalam setiap misi.
Ketika jaringan itu mulai merencanakan transaksi besar yang mengancam keamanan negara, Sasha diberi tugas untuk mendekati Marcus Vogel—bos tersembunyi dari organisasi tersebut yang baru saja tiba dari luar negeri. Dengan pesona yang tak tertahankan dan kecerdasan yang tajam, ia berhasil meraih kepercayaan sang bos dan masuk ke dalam lingkaran paling dalam jaringan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng Kaca di London
Memindahkan medan pertempuran dari hutan hujan yang lembap ke jantung finansial yang dingin dan kaku di London. Di sini, musuhnya bukan lagi tentara bayaran, melainkan angka-angka di layar saham dan pria-pria bersetelan mahal yang membuat keputusan hidup-mati ribuan mil jauhnya.
Sasha dan Rafi berdiri di depan sebuah gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di area The City, London. Gedung itu adalah markas Global Resource Equity, firma ekuitas yang diam-alih menjadi pendana utama di balik konsorsium yang mencoba menghancurkan Amazon.
"Di sini tidak ada suara burung atau deru helikopter, Rafi," bisik Sasha, menyesuaikan syal batiknya di tengah udara London yang menusuk. "Tapi kehancuran yang mereka ciptakan jauh lebih efisien daripada buldoser."
Menyusup ke Rapat Umum Pemegang Saham
Mereka tidak datang dengan spanduk protes. Berkat dana kecil yang disisihkan dari koperasi Cihideung, Sasha telah membeli satu lot saham minimal di firma tersebut. Hal ini memberinya hak hukum untuk hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan.
Di dalam aula yang megah dan kedap suara, ratusan investor duduk dengan tenang. Direktur Utama firma, seorang pria bernama Alistair Vance, sedang mempresentasikan grafik keuntungan yang terus menanjak.
"Investasi kita di sektor 'Energi Hijau' di Brasil dan Indonesia telah memberikan imbal hasil 15%," ujar Vance bangga. "Kita sedang menyelamatkan dunia sekaligus memperkaya investor."
Bom Kebenaran di Tengah Rapat
Sasha berdiri saat sesi tanya jawab dibuka. Seluruh ruangan mendadak sunyi ketika melihat sosok wanita dengan pakaian tradisional Indonesia berdiri di antara para bankir.
"Nama saya Sasha, dan saya di sini untuk bicara sebagai pemilik sah atas lahan yang kalian sebut sebagai 'aset'," suara Sasha tenang, namun otoritasnya memenuhi ruangan.
Rafi, yang duduk di barisan belakang dengan laptopnya, menekan tombol Enter. Tiba-tiba, layar besar di belakang Alistair Vance yang tadinya menampilkan grafik saham, berubah menjadi video mentah dari Amazon: pengejaran tentara bayaran, tangisan suku Yanomami, dan kerusakan hutan yang mereka sebut sebagai "konservasi".
"Imbal hasil 15% yang Anda banggakan," lanjut Sasha, "dibayar dengan nyawa dan penghancuran paru-paru bumi. Inilah yang sebenarnya kalian biayai."
Kekacauan dan Perlawanan Investor
Vance mencoba mematikan layar, namun Rafi telah mengunci sistemnya. "Sistem Anda sedang disiarkan langsung ke ribuan investor retail di seluruh dunia," teriak Rafi dari kursinya.
Kegaduhan terjadi. Beberapa investor muda mulai berdiri dan menuntut penjelasan. Mereka tidak tahu bahwa uang pensiun mereka digunakan untuk membiayai milisi swasta.
"Ini bukan investasi hijau!" teriak salah satu pemegang saham dari Swedia. "Ini adalah penipuan lingkungan!"
Konfrontasi Terakhir di Ruang VIP
Setelah rapat dibubarkan secara paksa oleh pihak keamanan, Vance meminta pertemuan empat mata dengan Sasha di lantai paling atas.
"Anda pikir Anda telah menang?" Vance mendesis, menatap pemandangan kota London dari balik kaca antipeluru. "Dunia ini digerakkan oleh modal, Sasha. Jika bukan saya, orang lain akan datang mengambil lahan itu. Anda tidak bisa menghentikan kemajuan."
Sasha mendekat, menatap langsung ke mata pria itu. "Kemajuan tanpa kemanusiaan hanyalah kehancuran yang dipercepat. Anda mungkin punya modal, tapi kami punya legitimasi. Hari ini, harga saham Anda anjlok karena dunia tahu kebenarannya. Bank-bank akan menarik dukungan mereka karena mereka takut pada reputasi buruk."
Sasha meletakkan sebuah dokumen di meja Vance. "Ini adalah tawaran dari Jaringan Global kami. Kami akan membeli kembali hak kelola lahan tersebut dengan harga pasar, didukung oleh dana filantropi dunia yang tidak menginginkan darah di tangan mereka. Ambil, atau Anda akan bangkrut saat pengadilan HAM internasional memanggil Anda bulan depan."
Langkah Keluar
Sasha dan Rafi berjalan keluar dari gedung kaca itu tepat saat hujan London mulai turun. Di luar, ribuan pengunjuk rasa yang terinspirasi oleh siaran langsung Rafi telah mengepung gedung, meneriakkan nama Sasha.
"Sudah selesai, Bu?" tanya Rafi, memegang payung untuk ibunya.
Sasha menatap kerumunan itu, lalu menatap langit yang kelabu. "Satu babak besar telah selesai, Rafi. Sekarang, tugas kita adalah memastikan bahwa modal dunia tidak lagi digunakan sebagai senjata, tapi sebagai alat untuk memulihkan."