Di SMA Bhakti Nusantara, dua nama selalu jadi pembicaraan—Reina dan Kenzo. Reina adalah ketua OSIS yang disiplin, teliti, dan selalu mengutamakan aturan. Sedangkan Kenzo adalah kapten tim sepak bola sekolah yang populer, tapi sering mengabaikan peraturan dan membuat masalah.
Mereka saling membenci sejak awal tahun ajaran, ketika Kenzo sengaja merusak dekorasi acara pembukaan yang sudah Reina susun dengan teliti. Sejak itu, setiap pertemuan mereka selalu berujung pada argumen dan perselisihan. Reina menganggap Kenzo sombong dan tidak bertanggung jawab, sementara Kenzo menyebut Reina pelit dan terlalu serius.
Namun, takdir membawa mereka bersama ketika sekolah mengadakan program "Pasangan Tugas" untuk lomba ilmiah tingkat nasional. Mereka terpaksa bekerja sama, dan perlahan-lahan menemukan sisi lain satu sama lain. Reina melihat bahwa Kenzo sebenarnya memiliki hati yang baik dan selalu siap membantu teman, sedangkan Kenzo menyadari bahwa ketegasan Reina datang dari rasa peduli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang di Meja Makan
Cahaya lampu jalanan Sudirman yang gemerlap kini terasa seperti sorot lampu interogasi bagi Reina. Pesan dari Aris bukan sekadar undangan makan malam; itu adalah sebuah ancaman halus yang dibalut kesopanan. Aris tahu persis di mana titik lemah Reina: Keluarga.
Kenzo berdiri, mengusap keringat di wajahnya dengan kasar menggunakan punggung tangan yang baru saja diplester oleh Reina. Amarahnya yang sempat padam oleh kelembutan Reina, kini berkobar kembali, lebih panas dari aspal yang baru saja ia pijak.
Perjalanan Pulang – Pukul 20.15 WIB
"Naik," perintah Kenzo singkat. Ia sudah berdiri di samping motor pinjaman milik salah satu teman setianya di tim basket.
"Ken, jangan gila. Kalau Ayah lihat kamu mengantarku dengan kondisi berantakan begini, dia bakal makin membandingkanmu dengan Aris," cegah Reina, suaranya bergetar karena cemas.
Kenzo memasangkan helm ke kepala Reina dengan gerakan yang tegas namun tetap hati-hati agar tidak menjepit kulit lehernya. "Aku nggak peduli, Rein. Aku nggak akan biarkan si muka dua itu memojokkanmu sendirian di rumahmu sendiri. Aku partner pelaksanamu, ingat? Aku punya hak untuk bicara soal festival ini di depan orang tuamu."
Motor melaju membelah malam. Reina memeluk pinggang Kenzo lebih erat dari biasanya, bukan karena takut jatuh, tapi karena ia merasa hanya punggung tegap ini yang bisa melindunginya dari badai yang menanti di rumah.
Rumah Keluarga Maheswari – Pukul 20.45 WIB
Sebuah sedan putih mewah terparkir manis di depan pagar rumah minimalis milik keluarga Reina. Kenzo menghentikan motornya tepat di belakang mobil itu, suara knalpotnya sengaja ia biarkan menderu sesaat sebelum dimatikan—sebuah sinyal kedatangan sang pemberontak.
Reina turun dengan tangan dingin. Di ruang tamu, melalui jendela kaca, ia bisa melihat Aris sedang tertawa santai bersama ayahnya, Pak Maheswari. Di atas meja, hidangan makan malam sudah tersaji rapi.
"Rein, tunggu..." Reina menahan lengan Kenzo saat cowok itu hendak melangkah masuk. "Biarkan aku yang bicara. Kumohon."
Kenzo menatap mata Reina yang penuh ketakutan. Ia menghela napas, lalu merapikan kaosnya yang lecek. "Aku di belakangmu. Tapi kalau dia mulai keterlaluan, aku nggak janji bisa diam."
Saat pintu terbuka, tawa di dalam ruangan terhenti. Pak Maheswari berdiri, wajahnya yang tadinya cerah mendadak mendung melihat penampilan putrinya yang kuyu, berdebu, dan... bersama seorang laki-laki yang terlihat seperti baru saja selesai tawuran.
"Reina? Dari mana saja kamu? Aris sudah menunggu satu jam," suara Pak Maheswari berat dan menuntut.
Aris berdiri, tersenyum simpul dengan sangat tenang—jenis senyum pemenang. "Halo, Reina. Dan... Kenzo? Wah, aku tidak menyangka kalian masih sibuk 'bekerja' selarut ini."
"Kami baru saja mengumpulkan dana, Pak," sahut Kenzo, melangkah maju ke samping Reina tanpa rasa takut. Ia meletakkan kotak donasi yang berisi uang receh dan lembaran lusuh di atas meja kayu yang dipoles mengkilap itu. "Tiga juta dua ratus ribu rupiah. Hasil keringat kami sendiri, bukan hasil minta-minta."
Pak Maheswari menatap kotak itu dengan dahi berkerut, lalu menatap Aris yang membawa map bersih berisi komitmen dana ratusan juta. Kontrasnya begitu menyakitkan.
"Duduklah dulu, Reina. Kenzo, jika kamu ingin bergabung, silakan. Tapi saya rasa Aris sudah menjelaskan solusi yang jauh lebih masuk akal untuk masalah sekolah kalian," ujar Pak Maheswari, suaranya dingin.
Makan malam itu terasa seperti medan perang. Aris dengan lihai menjelaskan betapa efisiennya jika SMA Garuda bergabung dengan pameran sainsnya. Ia memuji kecerdasan Reina di depan ayahnya, membuat Pak Maheswari semakin merasa Aris adalah pasangan yang tepat untuk masa depan putrinya.
"Reina, Ayah rasa kamu harus menerima tawaran Aris. Ini soal masa depan prestasimu, bukan soal idealisme buta di jalanan," tegas Pak Maheswari sambil melirik Kenzo yang sejak tadi hanya diam menusuk daging di piringnya dengan kasar.
"Tapi Yah, festival ini punya jiwa karena kemandirian kami—"
"Jiwa tidak membayar sewa panggung, Reina," potong Aris dengan nada sok bijak. "Kenzo, kamu harusnya sadar. Memaksa Reina bekerja di jalanan sampai malam seperti ini hanya membuktikan kalau kamu tidak bisa menjaganya."
BRAK!
Kenzo meletakkan garpunya dengan keras. Ia menatap Aris, lalu beralih ke Pak Maheswari. "Bapak benar, saya tidak punya uang sebanyak Aris sekarang. Saya juga tidak punya sedan putih. Tapi hari ini, Reina tertawa tulus saat kami berhasil mendapatkan donasi pertama kami. Dia bangga dengan apa yang dia kerjakan."
Kenzo berdiri, menatap Reina dengan sorot mata yang dalam. "Aris menawarkan solusi, tapi saya menawarkan perjuangan. Dan saya yakin, Reina yang saya kenal tidak akan pernah menjual harga dirinya hanya karena takut gagal."
Kenzo berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak. "Oh, dan satu lagi, Ris. Cokelat panas yang kamu kasih tadi pagi di kantin? Sudah tumpah. Sama seperti rencanamu untuk mengatur hidup Reina."
Kenzo keluar, meninggalkan keheningan yang memekakkan telinga. Reina menatap ayahnya, lalu menatap Aris yang kini kehilangan sedikit senyum sempurnanya. Di dalam tasnya, Reina mencengkeram plester sisa yang tadi ia gunakan untuk mengobati tangan Kenzo.
Saat itu juga, Reina tahu. Ia tidak bisa lagi kembali menjadi "Reina yang kaku".