lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
Malam itu, langit tidak lagi hitam pekat seperti dahulu. Ada semu keunguan dan hijau pucat yang menari tipis di antara bintang-bintang—sisa dari resonansi permanen yang kini melindungi atmosfer. Di teras pondok, Romano sedang mengasah pisau tuanya dengan batu asah, suara gesekan logamnya berpadu ritmis dengan suara jangkrik yang terdengar lebih nyaring dari biasanya.
Mira keluar dari pintu kayu yang kini tidak lagi berderit setelah diberi minyak oleh Romano. Ia membawa selembar kain tenun kasar dan menyampirkannya di bahu pria itu. Udara malam di pesisir kini terasa lebih tajam, seolah-olah oksigennya lebih murni dan dingin.
"Kau memikirkan kapal itu lagi?" tanya Mira, duduk di anak tangga teratas, memeluk lututnya.
Romano menghentikan gerakan tangannya. Ia menatap pisau di genggamannya, lalu menatap ke arah laut yang gelap. "Kapal patroli itu... aku bertanya-tanya apa yang mereka lakukan sekarang. Apakah mereka benar-benar pulang, atau mereka hanya tersesat dalam ingatan mereka sendiri?"
"Mereka sedang berproses, Romano. Sama seperti kita dulu," sahut Mira pelan. "Ingatan itu bukan hukuman. Itu adalah kompas. Mereka mungkin butuh waktu lama untuk memaafkan diri mereka sendiri, tapi setidaknya mereka tidak lagi bertindak berdasarkan perintah buta."
Romano meletakkan pisaunya. Ia berbalik dan menatap Mira. Cahaya dari lampu minyak kecil di atas meja kayu memantulkan binar di mata wanita itu—binar yang kini tidak lagi terasa asing atau menakutkan bagi Romano.
"Kadang aku merasa ini semua terlalu tenang," bisik Romano. "Setelah bertahun-tahun hidup dengan adrenalin, dengan peluru yang mendesing atau radar yang berbunyi... kesunyian ini terasa seperti beban yang berbeda."
Mira tersenyum, sebuah senyum kecil yang tulus. Ia meraih tangan Romano yang kasar dan kapalan, menangkupnya dengan kedua tangannya yang kini terasa hangat. "Itu karena kau belum terbiasa mendengar suara hatimu sendiri tanpa gangguan, Romano. Dulu, kebisingan dunia menenggelamkan segalanya. Sekarang, kau dipaksa untuk mendengarkan dirimu."
Romano terdiam, merasakan kehangatan dari tangan Mira yang merambat ke seluruh tubuhnya. Ia menarik napas panjang, menghirup aroma kayu kering dan garam laut. "Kau benar. Kadang suara itu lebih berisik daripada mesin kapal."
Ia menarik Mira ke dalam pelukannya, membiarkan wanita itu bersandar di dadanya. Mereka duduk di sana, di bawah naungan atap yang baru saja diperbaiki, menatap mercusuar yang lampunya berputar dengan tenang. Tidak ada lagi pesan kode rahasia, tidak ada lagi frekuensi peringatan. Hanya cahaya yang memberi tahu bahwa daratan ada di sana.
"Mira," panggil Romano rendah.
"Ya?"
"Jika suatu saat nanti... simpul itu memanggilmu lagi. Jika dunia butuh konduktornya kembali... apa kau akan pergi?"
Mira terdiam cukup lama. Ia merasakan getaran bumi di bawah kakinya—sebuah bisikan yang kini stabil dan tenang, seperti napas seseorang yang sedang tidur lelap.
"Dunia sudah belajar cara bernapas sendiri, Romano," jawab Mira akhirnya. "Tenzin, Anya, dan yang lainnya... mereka adalah penjaga yang cakap. Tapi jika memang ada saatnya harmoni ini terancam, aku tidak akan pergi sendirian. Kita akan pergi bersama. Bukan sebagai simbol, tapi sebagai manusia yang ingin melindungi rumahnya."
Romano mengecup puncak kepala Mira. "Kesepakatan yang bagus."
Malam semakin larut. Di dalam pondok, bara api di tungku kecil mulai meredup, menyisakan pendar kemerahan yang hangat. Di luar, dunia baru terus berputar, berevolusi dalam keheningan yang megah. Tidak ada lagi kerajaan yang harus diruntuhkan, tidak ada lagi rahasia yang harus digali.
Hanya ada dua manusia, sebuah pondok kayu, dan masa depan yang kini bukan lagi sebuah ancaman, melainkan sebuah janji yang ditepati setiap pagi saat matahari terbit.
Pagi berikutnya datang dengan cahaya yang tidak lagi terasa mengancam. Tidak ada peringatan dari sensor frekuensi, tidak ada dengung statis di telinga Mira. Hanya suara ayam hutan yang bersahutan dan deburan ombak yang memukul karang dengan ritme yang malas.
Romano sudah bangun lebih dulu. Mira menemukannya di dermaga batu kecil, sedang membantu dua nelayan setempat memperbaiki jaring mereka. Romano tampak berbeda; ketegangan di bahunya yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khas seorang tentara bayaran kini telah luruh, digantikan oleh gerakan yang lebih santai namun tetap presisi.
"Ikatannya harus lebih kuat di sini, Pak Tua," suara Romano terdengar berat namun ramah. "Jika tidak, arus bawah yang sekarang lebih padat akan merobeknya dalam semalam."
Nelayan tua itu mengangguk takjub, melihat bagaimana tangan Romano yang besar dan kasar dengan cekatan menyimpul nilon yang rumit. "Kau tahu banyak tentang arus, Anak Muda. Seolah kau bisa melihat apa yang ada di bawah sana."
Romano hanya tersenyum tipis, lalu melirik ke arah bukit tempat Mira berdiri. "Aku hanya belajar dari seseorang yang bisa mendengar laut."
Mira berjalan menuruni jalan setapak, kakinya merasakan hangatnya pasir yang mulai tersengat matahari. Saat ia mendekat, nelayan itu memberikan salam hormat yang tulus. Bukan penghormatan kepada seorang penguasa, melainkan kepada seseorang yang mereka anggap sebagai pembawa ketenangan.
"Nona Mira," sapa nelayan itu. "Istriku bilang, sayuran di kebun belakang rumah kami tumbuh dua kali lebih cepat sejak cahaya emas itu muncul di langit. Dia ingin kau mampir nanti sore. Ada kue sagu hangat untukmu."
"Terima kasih, Pak. Aku akan datang," jawab Mira lembut.
Setelah nelayan itu pergi dengan perahunya, Romano mendekati Mira, menyeka keringat di keningnya dengan lengan baju. "Mereka mulai terbiasa dengan 'keajaiban' ini. Bagi mereka, ini bukan sains atau evolusi kesadaran. Ini hanya berkah."
"Memang begitu seharusnya, bukan?" Mira menyandarkan tubuhnya pada tiang kayu dermaga. "Jika kita menjelaskan tentang simpul energi dan resonansi magnetik, itu hanya akan menciptakan kasta baru antara yang tahu dan yang tidak tahu. Biarkan mereka merasakannya sebagai kehidupan yang lebih baik saja."
Romano mengangguk, lalu menatap ke arah laut lepas. "Anya mengirim pesan singkat lewat radio tadi subuh. Jakarta mulai stabil. Mereka mulai membongkar aspal di pusat kota untuk dijadikan lahan hijau. Katanya, tanpa kebisingan mesin, orang-orang mulai bisa mendengar suara hati mereka sendiri. Beberapa ketakutan, tapi lebih banyak yang merasa... lega."
"Dan Nusantara Group?"
"Sudah tidak ada," jawab Romano pendek. "Aset-aset mereka diambil alih oleh komunitas. Mereka tidak punya lagi kekuatan untuk menindas karena energi tidak bisa lagi dimonopoli. Setiap rumah sekarang adalah pembangkit listriknya sendiri, selama mereka tetap selaras dengan frekuensi bumi."
Mira mengembuskan napas panjang, menatap pantulan matahari di air yang jernih. Di bawah sana, ia bisa melihat ikan-ikan kecil berwarna-warni berenang di antara terumbu karang yang warnanya kini lebih tajam, seolah-olah setiap polipnya telah dipoles oleh energi putih.
"Kita benar-benar berhasil, Romano," bisik Mira.
"Kita hanya membuka pintunya, Mira. Mereka yang memilih untuk melangkah masuk." Romano menggandeng tangan Mira, mengajak wanita itu kembali menuju pondok. "Ayo. Ikan bakarnya tidak akan matang sendiri, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membiarkanmu kelaparan hari ini."
Saat mereka berjalan mendaki bukit, mercusuar di atas mereka tetap berdiri tegak, menjadi saksi bisu dari perubahan zaman. Lampunya tidak lagi berputar dengan liar mencari musuh, melainkan hanya berkedip pelan setiap beberapa detik—sebuah detak jantung mekanis yang kini menyatu dengan denyut nadi dunia yang baru.
Tidak ada lagi rahasia yang harus dijaga, tidak ada lagi pelarian yang harus dilakukan. Di bawah langit yang kini selalu menyimpan warna fajar, mereka akhirnya menemukan apa yang selama ini mereka cari: sebuah tempat untuk sekadar menjadi manusia.