Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Lia dengan lembut membisikkan kata-kata penenang di telinga Ghea, mengusap punggung kecil itu sampai napas sang gadis kembali teratur dan ia terlelap dalam pelukan bantal lusuhnya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Lia menyalakan sebatang lilin. Cahaya kuning yang temaram mulai menari di dinding bambu, menciptakan bayangan panjang yang memenuhi ruangan sempit itu.
Baru saja Lia hendak beranjak untuk menaruh lilin di atas meja, sepasang lengan kokoh kembali melingkar di pinggangnya dari belakang. Regas menyandarkan dagunya di bahu Lia, membiarkan napas hangatnya menyapu leher wanita itu.
"Jangan menyuruhku pergi lagi, Lia. Kumohon," bisik Regas, suaranya terdengar begitu rapuh, jauh dari citra mahasiswa teknik favorit yang dulu dipuja-puja.
Lia terdiam, tubuhnya menegang namun ia tidak lagi meronta. Cahaya lilin di depannya bergoyang tertiup angin yang menyelinap dari celah dinding. "Regas, dunia yang kamu tawarkan itu penuh duri. Kamu punya Elena, kamu punya tanggung jawab di Jakarta. Bagaimana aku bisa tenang di sini jika setiap kali melihatmu, aku teringat ada hati lain yang sedang menunggumu?"
Regas mempererat pelukannya, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, Lia akan menghilang seperti butiran pasir. "Hatiku tidak pernah di sana, Lia. Kamu tahu itu sejak awal kita bertemu di kampus . Status itu hanya kontrak untuk menyelamatkan muka keluarga, tapi hidupku... hidupku ada di sini, di gubuk ini, bersamamu dan Ghea."
Lia memejamkan mata, air mata jatuh membasahi tangannya yang masih memegang korek api. Kehangatan tubuh Regas adalah sesuatu yang paling ia benci sekaligus paling ia butuhkan. Di luar, badai masih mengamuk, namun di dalam gubuk itu, waktu seolah berhenti.
"Aku takut, Regas. Aku takut impian sastraku hancur lagi karena kebencian ibumu," gumam Lia parau.
Regas memutar tubuh Lia agar menghadapnya. Di bawah cahaya lilin yang mulai mengecil, ia menangkup wajah Lia dengan kedua tangannya. "Kali ini, aku yang akan menjadi perisaimu. Jika mereka menyentuh impianmu, mereka harus melaluiku dulu. Berikan aku satu kesempatan untuk menebus tahun-tahun yang hilang di London."
Regas perlahan mendekatkan wajahnya, menatap bibir Lia yang bergetar. Keheningan di antara mereka kini terasa lebih menyesakkan daripada suara badai di luar.
Dalam remang cahaya lilin yang kian mengecil, Regas perlahan menundukkan wajahnya. Jarak di antara mereka lenyap bersama hembusan napas yang tertahan. Saat bibir Regas menyentuh bibir Lia, dunia di luar gubuk yang sedang diamuk badai seolah benar-benar hilang.
Ciuman itu awalnya terasa ragu dan lembut, seolah Regas takut Lia akan hancur jika ia menekannya terlalu keras. Namun, saat Lia tidak lagi menolak dan justru meremas pelan kemeja di dada Regas, ciuman itu berubah menjadi ungkapan kerinduan yang pedih—kerinduan yang telah mereka pendam selama bertahun-tahun, sejak masa-masa di perpustakaan teknik hingga malam-malam dingin di London.
Lia terisak di sela ciuman itu, rasa asin air matanya bercampur dengan kehangatan yang diberikan Regas. Ia tahu ini berbahaya. Ia tahu ada sosok Elena dan beban keluarga Adhitama yang membayangi mereka di Jakarta. Namun untuk saat ini, di bawah atap bambu ini, ia membiarkan logikanya kalah oleh hatinya.
Regas melepaskan tautan mereka perlahan, namun tetap menempelkan keningnya pada kening Lia. Napas mereka memburu, saling beradu di udara yang dingin.
"Aku tidak akan membagi hati, Lia," bisik Regas dengan suara serak yang sangat dalam. "Hanya status yang mereka miliki, tapi jiwaku sepenuhnya milikmu. Izinkan aku membuktikannya. Biarkan aku menjagamu dan Ghea di sini."
Lia menatap mata Regas yang berkaca-kaca di bawah cahaya lilin. "Jika aku setuju... apa yang akan kamu katakan pada ibumu saat kamu harus kembali untuk acara tujuh bulanan Elena nanti? Apa kamu akan kembali padaku?"
Regas menggenggam tangan Lia dan membawanya ke dadanya, tepat di mana jantungnya berdetak kencang. "Aku akan kembali. Bahkan jika badai lebih besar dari ini menghalangiku, aku akan selalu menemukan jalan pulang ke tempat ini. Ke arahmu."
Di sudut ruangan, Ghea bergerak sedikit dalam tidurnya, membuat mereka berdua tersentak pelan dan tersadar akan realita yang ada. Cahaya lilin itu tiba-tiba padam tertiup angin kencang, meninggalkan mereka kembali dalam kegelapan, namun kali ini dengan rasa hangat yang berbeda.