NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan

Dua puluh menit mobil yang kukendarai ini melaju di jalan raya kota Jakarta, kondisi jalan yang lengang mampu membuatku betah untuk semakin lama mengelilinginya. Tiada tujuan sama sekali, hanya saja sesekali kulirik ponsel di dashboard. Ck, apasih yang kutunggu, tidak ada harapan sama sekali daru benda itu. Hingga sedetik kemudian kutambah kecepatan mobil ini, yah walaupun cuma mobil BMW setidaknya ia menjadi mobil kesayanganku.Tak terasa kini aku sudah memasuki kota Bogor, banyak kulihat gedung-gedung tinggi disana sama halnya di Jakarta, tampak pula dari kejauhan gedung 45 lantai yang bertuliskan 'Pradipta'. Toh melihatnya saja sudah membuatku muak, kubanting kemudi memutar balikkan arah menuju Jakarta lagi.

‘Drrttt..Drrttt..Drrttt..’

Ponsel itu berbunyi, awalnya kuabaikan, namun benda pipih itu tetap berbunyi hingga lima kali, geram sudah aku mendengar nada dering tersebut, kulirik Si Penelpon.Terlihat nama kontak dilayar ternyata yang sedari tadi menelponku adalah Papa, dasar buat apa pria tua itu menelponku, kuangkat telpon tersebut, untungnya ponsel ini tersambung ke perangkat mobil.

‘PAPA IS CALLING’

‘Kaisar, segera kembali ke mansion, acara penobatan akan segera dimulai’. sentak Papa dari sebrang sana. yah, siapa lagi kalau bukan Aksara Pradipta

‘hm’. dehemku.

‘Segera, gila kamu pergi mencari angin sampai kota Bogor’Cerca Papa di sebrang sana.

"Ck". Decakku. Kupikir lagi ini sedikit gila, untuk apa sampai melacakku seperti itu, toh aku masih tau jalan pulang.

'Jangan sekali-kali melacakku lagi, benci aku kalau papa seperti itu' tekanku sebelum mematikan panggilan tersebut secara sepihak.

Rasanya pening kepalaku kerap kali mendengar ceramah panjang papa tentang penerus, namun sebagai anak tunggal keluarga Pradipta tidak ada pilihan lagi selain menerimanya, aku tidak mungkin akan berbuat egois.

Aku tidak tahu, mengapa aku dilahirkan pada kondisi seperti ini. So i have to accept it.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di Mansion Pradipta, dengan kecepatan diatas rata-rata kulalui hanya tiga belas menit. Sudah kuduga dari kejauhan Mansion Pradipta sudah ramai mobil mewah memasuki gerbang utama mansion, kubelokkan kemudi melewati gerbang baja hitam yang megah tersebut.

Usai menaruh mobil di garasi mansion, segera aku berlari kecil menuju ballroom mansion, tidak heran mansion ini sangat luas dan megah sampai memiliki ballroom sendiri, setidaknya dengan aku kembali ke mansion, aku membantu mengurangi beban tugas milik 'Kadek' yang berlaku sebagai tangan kanan kepercayaan Aksara Pradipta yang tak lain Papaku.

"Kaisar". Sayup-sayup kudengar suara lembut seorang wanita dari kejauhan memanggilku. Spontan aku berhenti dari langkahku, aku menoleh menatap wanita tersebut, aku tercekat.

"Bunda". Beoku, dia mendekat kepadaku dan memelukku walaupun tubuhku lebih tinggi dsrinya dua puluh senti meter.

"Kamu dari mana saja nak, bunda khawatir denganmu". Setiap ucapannya mampu membuat lidahku kelu, serasa tidak ada energi untuk diriku menjawabnya."Maaf Bunda". Batinku.

Sosok yang kusayangi dan juga sosok yang menjadi kelemahan utamaku adalah Bundaku, ia sosok yang memiliki belas kasih yang besar, persis seperti namanya 'Kasih Bumantara' Bunda menguraikan pelukannya, sepasang tatapan lembut itu menatap diriku dalam-dalam.

"Bunda mohon sama kamu nak, ikuti apa kata Papamu, disini Bunda tidak bisa berbuat apapun". Lagi-lagi tutur kata lembut yang mendominasi keluar dari mulut Bunda yang pastinya mampu membuatku tak berdaya. Aku menundukkan kepala, sulit bagiku mengatakan 'iya' pada Bunda.

"Maaf Bun, Kaisar gak janji". Lirihku.

Dapat kulihat tatapan sayu Bunda usai mendengar jawaban lirihku.

"Tuan muda Kaisar, dipanggil Tuan Aksa didalam". Ucap Kadek kepadaku. "Ck". Decakku, mau ataupun tidak mau aku harus tetap datang kepada Papa, sekesal apapun diriku padanya ia tetap Papaku.

...

Suara pintu terbuka disana, sudah sepuluh menit aku menunggu Papa di balkon ballroom mansion. Dia selalu begitu memanggilku tapi, aku yang hatus menunggu, payah, selalu saja seperti itu.

"Sudah lama kamu menunggu disini...". Ucapan Papa yang masih diberi jeda sembari mendekat kepadaku dengan tuxedo yang melekat pas di tubuh tegap Papa. "...Bumi". Lanjut Papa.

Sontak kedua netraku melirik sosok disampingku ini.

"Don't call me that name". Tukasku sembari menenggak segelas wine.

"Kebiasaan yang buruk". Timpal Papa sembari bersandar di pagar balkon, mendengarnya tentu membuatku terkekeh.

"Lawak sekali, kebiasaanku tidak jauh dari kebiasaanmu". Ucapku mengandung sarkasme.

Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi diantara aku dan Papa, aku juga tidak akan memulai obrolan terlebih dahulu. Kedua mataku mengerling memperhatikan seluruh penjuru ballroom, aku menatapnya dari atas. Semua mulai memadati kursi undangan, seluruh tamu dari kalangan atas tampak ramah tersenyum meski dibalik senyum itu ada ekspresi tidak nyaman yang tersurat ataupun kebencian. Walau ballroom ini sudah dihias dengan megah disertai kursi empuk import dari Spanyol, tetap hati tidak akan pernah berbohong akan kehausan pada kekuasaan dan mabuknya pada kekayaan harta.

"Hari ini akan kuresmikan dirimu menjadi penerusku, pewaris tunggal Pradipta". Ujar papa meski dari tatapannya mengandung cibiran merendahkanku. "Sialan!". Umpatku Seraya menenggak wine hingga tandas. Papa tertawa lepas melihat sikapku. “Sangat mirip”. imbuhnya.

“Stale, tidak mau aku dimiripkan denganmu”. sahutku merasa tidak terima.

Semakin lama aku memperhatikan tamu, instingku tertuju pada seorang wanita dengan dibaluti dress coklat yang tengah duduk di kursi undangan, bukan dia yang membuatkua terfokus, akan tetapi apa yang ia pakai sebagai penghias rambut kepala membuatku berpikir siapa dia?.

‘Bumi, apa kamu tertarik dengan gadis itu”. secara tiba-tiba papa menanyakan hal semacam itu tatkala papa juga ikut melihat gadis itu. Namun aku kesal dengan panggilannya padaku, meski aku tahu arti nama belakangku adalah ‘Di Antara Bumi’ yaitu ‘Bumantara’, tetap saja aku marah dengan panggilan itu, karena bumi itu tak selamanya indah saat diisi oleh manusia munafik yang gila akan kekuasaan di zaman ini.

“Tidak sama sekali, buat apa juga dia bukan seleraku”. Tukasku.

Menyebalkan ,aku tidak tertarik pada gadis itu, hanya saja apa yang ia pakai membuatku tertarik. Tak lama ia melihat ke arahku, oh apakah aku ketahuan memperhatikannya?, malu sekali!

“Let’s welcome our role main, Mr. Akasara Pradipta”. Teriak Kadek dari pintu masuk ballroom. Aku berkerut bingung, kemudian kulirik papa di sebelahku, hah, sudah hilang saja sosoknya, dasar.

“Tuan muda”. Panggilan itu membuatku terkejut, akau membalikkan badan menatap Kadek yang sudah berdiri di hadapanku.

“Segera ke podium, perintah Tuan Aksa”. Ucapnya tegas, aku tersenyum sekilas menanggapi kerja keras kadek. Tidak heran Kadek sangat cepat dan tanggap karena dahulu sebelum menjadi tangan kanan papaku, ia adalah seorang kapten angkatan udara yang dipecat karena tuduhan pengkhianatan. Namun lebih miris lagi jika ia menjadi tangan kanan papa, layaknya Kadek adalah sarung tangan yang papa pakai untuk membereskan pihak-pihak yang menentangnya. Entah apa yang menuntun kakiku hingga sampai ke podium ballroom manson.

“Kaisar sampaikan pada leluhurmu bahwa kamu siap menerima seribu satu tanggung jawab Pradipta”. Ucap papa lantang dihadapan tamu disana, aku tidak siap sebenarnya. Aku masih termangu memilah aku akan menjawab apa, seklebat aku mengingat ucapan bunda.

“Ikuti kata hatimu di lubuk hati paling dalam, karena disanalah jawaban yang sesungguhnya”. Ucap bunda kala itu.

“Saya..”. Aku masih menggantungkan ucapan, mencoba memantapkan ucapan dan alasan yang akan terlontar, semua menunggu jawabanku.

“Belum siap, sampai saya mendapatkan pasangan hidup”. Lanjutku mantap walaupun dengan alasan yang kurang logis, toh mereka semua tidak akan mepedulikan alasanku, asalkan aku mengatakan belum siap dapat dengan mudah diterka bahwa mereka senang papa masih memimpin sendirian. Tapi maaf, pikiranku matematis, semua sudah kurencanakan untuk melihat seberapa kuat mereka menginginkan kekuasaan papa.

“Sebelum itu saya pamit undur diri, see you next time”. Tutupku sebelum akhirnya aku meninggalkan podium serta menuju kamar bunda.

“Maaf bunda kali ini aku menentang dan juga mematuhi perkataanmu”. Monologku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!