NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Di dalam gubuk bambu yang mulai diguncang angin kencang, uap dari teh hangat membumbung tipis. Ghea sudah tertidur pulas di atas tempat tidur kayu beralaskan seprai lusuh namun bersih. Lia duduk di hadapan Regas, hanya dibatasi meja kayu kecil yang menjadi saksi bisu ketegangan di antara mereka.

"Jelaskan padaku, Regas. Apa arti 'kebahagiaan sendiri' yang kamu maksud untuk Elena?" suara Lia datar, namun matanya menuntut kejujuran mutlak.

Regas menarik napas panjang, menatap cairan teh yang mulai mendingin. "Elena setuju aku menikahimu, Lia. Dia memberiku izin, bahkan dia yang memintaku mencarimu."

Lia tertawa sumir, nyaris tak percaya. "Sejak kapan seorang Elena Adhitama menjadi begitu dermawan? Dia istrimu, Regas! Dan dia sedang mengandung anakmu!"

"Itu syaratnya, Lia," potong Regas cepat. "Dia tidak mau bercerai. Setidaknya tidak sekarang. Dia butuh status itu. Dia butuh aku tetap berada di sisinya saat acara tujuh bulanan nanti, dan dia memintaku hadir saat dia melahirkan. Dia tidak ingin anak itu tumbuh tanpa sosok ayah di matanya, dan dia tidak ingin perusahaan goyah karena skandal perpisahan kita."

Lia tertegun, tangannya yang memegang cangkir sedikit bergetar. "Jadi... dia memintaku menjadi yang kedua? Dia memintamu membagi waktu antara Jakarta dan pesisir ini? Kamu pikir aku semurah itu, Regas?"

"Bukan begitu, Lia! Elena tahu aku tidak pernah mencintainya. Dia tahu hatiku mati sejak kamu pergi ke London. Baginya, pernikahan kami hanyalah struktur bisnis dan perlindungan sosial. Dia bilang, dia tidak keberatan berbagi suami, asal statusnya sebagai istri sah dan masa depan anaknya tetap terjamin," Regas meraih tangan Lia, namun Lia menariknya kembali dengan cepat.

"Itu gila, Regas! Itu penghinaan bagi perasaanku dan juga bagi Elena sebagai wanita," Lia berdiri, mondar-mandir di ruangan sempit itu. "Kamu memintaku hidup dalam bayang-bayang? Menunggumu pulang dari acara keluarga yang megah di Jakarta sementara aku membusuk di sini menunggumu 'adil' membagi waktu?"

"Aku akan melepaskan operasional harian perusahaan, Lia! Aku hanya akan ke Jakarta jika ada acara mendesak atau saat persalinannya nanti. Selebihnya, aku milikmu di sini," Regas ikut berdiri, suaranya memohon. "Ini satu-satunya jalan tengah yang disetujui ibuku dan Elena. Mereka tidak akan mengganggumu lagi asalkan aku tetap menjaga wajah keluarga Adhitama di depan publik."

Lia menatap keluar jendela, ke arah kegelapan Samudra Hindia yang sedang mengamuk. Badai di luar sana seolah mencerminkan kekacauan di hatinya. Tawaran Regas adalah sebuah kemewahan sekaligus kutukan. Ia bisa memiliki pria itu, tapi ia harus berbagi—bukan hanya dengan wanita lain, tapi dengan kebohongan besar yang dirancang keluarga konglomerat itu.

"Bagaimana dengan Ghea?" bisik Lia tanpa berbalik. "Apa dia harus tumbuh besar melihat ayahnya menjalani dua kehidupan yang berbeda?"

Regas terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya tepat di ulu hati. Di saat yang sama, petir menyambar di kejauhan, menerangi wajah Ghea yang tampak begitu damai dalam tidurnya, tidak tahu bahwa masa depannya sedang dipertaruhkan dalam perdebatan ini.

Pet!

Suara trafo yang meledak di kejauhan menyisakan keheningan yang mencekam. Seketika, gubuk itu tenggelam dalam kegelapan total. Angin kencang menghantam dinding bambu hingga berderit nyaring, seolah-olah tangan-tangan raksasa sedang mencoba merubuhkan tempat perlindungan Lia.

"Lia!" Regas berseru dalam gelap, suaranya sarat akan kekhawatiran.

Lia mematung. Dalam kegelapan itu, ia tidak bisa melihat wajah Regas, namun ia bisa merasakan kehadiran pria itu yang mendekat. Hawa panas dari tubuh Regas dan aroma kayu manis yang ia rindukan kini terasa begitu nyata di dekatnya.

"Jangan mendekat, Regas," bisik Lia, suaranya bergetar bukan hanya karena dingin, tapi karena pertahanannya yang terus terkikis.

"Ghea takut gelap, Lia. Tolong, nyalakan lampu atau lilin," suara Regas terdengar tepat di samping telinganya.

Lia meraba-raba meja kayu, tangannya gemetar mencari korek api dan lilin cadangan. Namun, dalam kepanikannya, jemari Lia justru bersentuhan dengan tangan Regas yang juga sedang mencari hal yang sama. Sentuhan itu seperti aliran listrik yang menyakitkan sekaligus menenangkan. Regas segera menggenggam tangan Lia, tidak membiarkannya lepas kali ini.

"Lepaskan, Regas... ini salah," isak Lia pelan.

"Apa yang salah, Lia? Mencintaimu selama bertahun-tahun adalah satu-satunya hal yang terasa benar dalam hidupku," Regas menarik Lia ke dalam pelukannya. Di tengah kegelapan dan suara badai yang mengamuk di luar, Regas mendekapnya erat, seolah ingin menyalurkan semua beban dan rindu yang ia pikul sendiri di Jakarta.

Lia sempat meronta, namun tenaga pria itu jauh lebih kuat. Akhirnya, ia menyandarkan keningnya di dada bidang Regas, membiarkan air matanya membasahi kemeja linen pria itu. Di sana, di balik kain tipis itu, Lia bisa mendengar detak jantung Regas yang tidak keruan—sama seperti miliknya.

Tiba-tiba, suara tangis kecil pecah dari sudut ruangan. Ghea terbangun karena petir yang menggelegar dan kegelapan yang mengepungnya.

"Papa? Ibu Lia? Ghea takut... Ghea tidak bisa lihat apa-apa!"

Lia segera melepaskan diri dari pelukan Regas, dengan cepat menyalakan pemantik api. Cahaya kecil dari korek itu menerangi wajah Ghea yang basah oleh air mata. Lia bergegas memeluk gadis kecil itu, sementara Regas berdiri mematung di belakang mereka, menatap dua wanita yang menjadi pusat dunianya itu dengan sorot mata yang penuh tekad.

"Aku tidak akan membiarkan kalian dalam kegelapan lagi, Lia. Tidak di Bali, tidak juga di Jakarta," janji Regas rendah, lebih kepada dirinya sendiri.

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!