NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pecahnya Inti Suci

Lembah Air Mata seketika bergetar hebat seolah-olah pondasi bumi di bawah Benua Pasir Emas sedang diremuk oleh tangan raksasa yang tak terlihat.

Wira terlihat berdiri di tengah pusaran badai pasir yang memekakkan telinga, dengan matanya yang terkunci pada jantung mekanis emas yang berdenyut kencang di atas meja batu.

Jantung itu memancarkan rona merah kegelapan yang menjalar ke nadi-nadi ketiga raja yang kini sudah kehilangan kemanusiaannya.

"Siwa... sekarang!" teriak Wira.

Ia memusatkan seluruh energinya ke ujung tongkat kayu lusuh itu. Siwa tidak lagi memancarkan cahaya biru yang tenang, melainkan pijar putih yang menyakitkan mata.

Wira pun kemudian langsung melesat secepat kilat, menggunakan seluruh energinya untuk menembus tekanan gravitasi yang menghimpit, dan menghujamkan Siwa tepat ke pusat jantung emas tersebut, bahkan Pendeta Bayangan tidak mampu menghadangnya.

KRAK!

Bunyi retakan logam yang bergema seperti jeritan jiwa yang tersiksa memenuhi lembah.

Jantung mekanis itu meledak, memuntahkan energi hitam yang sangat pekat.

Ketiga raja itu, Raja Bhaskara, Raja Maruta, dan Raja Ratu Kala terpental hebat, kabut hitam di mata mereka sirna seketika, namun tubuh mereka terkulai lemas, kehilangan sumber energi yang selama ini menopang kultivasi paksaan mereka.

Namun, kemenangan itu hanya bertahan sesaat.

"Kau... bocah ingusan... kau telah merusak rencana ribuan tahun!" suara Pendeta Bayangan menggelegar dari balik kabut hitam yang tersisa.

Dan ternyata asap hitam yang meledak dari jantung mekanis tadi tidak menghilang. Sebaliknya, asap itu mulai menyerap butiran pasir kristal dari seluruh lembah.

Pendeta Bayangan melompat ke tengah pusaran tersebut, tubuh kurusnya menyatu dengan material gurun yang sangat padat.

Dalam hitungan detik, sosoknya berubah menjadi raksasa pasir setinggi tiga puluh meter dengan kulit sekeras kristal baja. Matanya adalah dua lubang api hitam yang memancarkan kebencian murni.

Inilah wujud sesungguhnya dari kemarahan Ranah Gurun Abadi yang telah terkontaminasi energi iblis kuno.

"Matilah bersama tanah yang kau injak!" raksasa pasir itu menghantamkan tinjunya ke arah Wira.

Tepat saat maut akan menjemput, sebuah bayangan melesat cepat dan menahan hantaman itu dengan sebuah perisai energi pasir yang sangat padat.

BOOM!

Gelombang kejutnya meratakan tenda-tenda di sekitar mereka.

"Gusti Wira! Maaf hamba terlambat!" teriak Jenderal Sabrang.

Meskipun Sabrang telah membuka seluruh penyamarannya, memamerkan kekuatan puncaknya yang setara dengan Adiwangsa, wajahnya tampak sangat pucat.

Terlihat keringat dingin mengucur di dahinya. Tekanan dari monster pasir itu begitu luar biasa.

Di benua ini, energi alamnya jauh lebih keras, dan ditambah dengan energi iblis yang menyusup ke dalam struktur kristal pasir, kekuatan Jenderal Sabrang yang murni terasa sangat tertekan.

"Paman Sabrang, mundur! Kau tidak akan kuat menahannya sendirian!" seru Wira.

Benar saja, hanya dalam hitungan detik, perisai Jenderal Sabrang retak dan Monster pasir itu menggeram, dengan satu sapuan ekor pasirnya, sang jenderal terpental menghantam dinding tebing.

Jenderal Sabrang batuk berdarah, inti energinya pun juga terasa bergetar hebat.

Tingkat kultivasi di benua ini memang jauh lebih tinggi, dan musuh yang mereka hadapi saat ini sudah melampaui batas logika manusia biasa.

Wira melihat Sekar yang sedang berusaha melindungi Putri Arum Sari di sudut lembah.

Ia kemudian melihat Jenderal Sabrang yang terkapar membuat amarahnya kembali tersulut, namun kali ini ia merasa ada yang berbeda.

Ia teringat peringatan dari bayangan Dewi Shinta. Dunia atas sedang kacau, dan ia adalah benteng terakhir.

"Siwa... Bantu aku membuka semuanya. Jangan tahan lagi," bisik Wira.

"Bocah, jika kau melakukan ini, tubuhmu bisa hancur! Kau belum pulih sepenuhnya!" Siwa memperingatkan dengan nada panik.

"Aku tidak peduli. Jika bumi hancur hari ini, tidak ada lagi masa depan untuk dipulihkan!" jawab Wira dengan amarahnya yang tak terkendali.

Wira kemudian berdiri tegak, dan merentangkan tangannya.

Kali ini, ia tidak membiarkan energinya tersedot ke atas. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang dianggap mustahil oleh para pendekar, ia menjadikan dirinya sebagai titik pusat pusaran semesta.

Berkat ia menghancurkan inti energinya di alam dewa dan terlempar di Dunia Antara dulu, itu membuatnya menyatu dengan energi dewa, iblis dan alam.

Seketika, langit di atas Lembah Air Mata terbelah. Cahaya emas dari alam dewa turun menyerbu, namun di saat yang sama, energi alam dari pegunungan dan gurun, serta energi hitam yang tersisa dari ledakan jantung mekanis, semuanya tertarik masuk ke dalam tubuh Wira.

Tubuh Wira bersinar dengan tiga warna yang kontras yaitu emas, biru, dan hitam yang sedang dimurnikan.

Ia menyedot semuanya tanpa sisa.

"Jurus Semesta, Penghancur!"

Wira mengayunkan Siwa. Sebuah tebasan cahaya melengkung yang sangat tipis namun mematikan melesat, membelah tubuh monster pasir raksasa itu menjadi dua bagian tanpa sebuah perlawanan.

Suara teriakan Pendeta Bayangan yang terperangkap di dalamnya terdengar memilukan sebelum akhirnya tubuh raksasa itu hancur kembali menjadi tumpukan pasir tak bernyawa.

Hanya dalam sekejap Wira langsung mengalahkan Pendeta Bayangan tanpa perlawanan, namun dengan kalahnya Pendeta Bayangan, itu akan membuat sosok lain bangkit tanpa Wira ketahui.

Wira terengah-engah, matanya mulai mengabur karena ia telah menggunakan teknik yang melampaui batas kapasitas tubuhnya saat ini.

Meskipun ia memiliki nadi dan darah setengah dewa berkat gurunya dulu selalu mengalirinya saat tidur, itu tidaklah cukup karena kekuatan tubuh fisiknya belum mampu menahan semua tekanan, jadi kekuatannya hanya terbatas dan harus di segel atau jika ingin menggunakannya ia harus mendapat dukungan dari energi Siwa untuk menahan tubuhnya yang masih rapuh.

Dan sebuah mimpi buruk ternyata datang dalam keadaannya yang setengah sadar.

Beberapa detik setelah monster itu hancur, sisa-sisa energi hitam yang menguap dari pasir tidak menghilang begitu saja.

Energi itu memadat kembali, membentuk bayangan entitas kuno yang jauh lebih kecil namun memiliki aura yang ribuan kali lebih menekan.

Ini adalah sisa kesadaran dari entitas kuno yang asli, sama seperti bayangan yang ada di Samudera Biru, namun jauh lebih kuat.

Wira mencoba mengangkat Siwa, namun tangannya bergetar hebat.

Kekuatan yang ia banggakan selama ini, kekuatan yang ia pikir sudah sangat hebat karena mampu menumbangkan Kalingga dan Kaisar Baruna, ternyata hanyalah permukaan kecil.

Di hadapan entitas ini, Wira menyadari bahwa ia masih berada di bawah satu tingkat dari kasta tertinggi benua ini.

Ia juga kalah pengalaman dan ia juga kalah kapasitas inti energi yang masih terlalu sempit.

Karena untuk menampung energi dewa, iblis dan alam itu harus memiliki inti energi yang lebar, dan Wira saat ini masih menggunakan inti energi manusia yang sangat sempit, jadi setiap energi dan kekuatan yang ia keluarkan hanya terbatas dan harus cepat di gunakan, jika tidak itu akan menghancurkan tubuhnya, itu juga alasan kenapa kekuatannya harus selalu di segel dan di sembunyikan.

"Sudah kubilang... bumi akan menjadi milikku," ucap bayangan itu dengan serak yang terlihat sedikit samar seperti tembus pandang namun tetap padat.

Bayangan itu bersiap melancarkan serangan terakhir yang akan menghapus keberadaan Wira dari sejarah.

Wushhh!

"TIDAK!" teriak suara dari belakang Wira.

Sebuah bayangan perak melesat di depan Wira. Itu adalah Sekar yang muncul secara tiba-tiba.

"Sekar, lari!" teriak Wira panik melihat kekasihnya sudah berada di depannya, ia ingin kembali bangkit dan meraih Sekar, namun tubuhnya yang lemah membuatnya tak bisa bergerak.

Bahkan Siwa yang tergeletak di sampingnya pun saat ini juga tidak terasa energinya.

Melihat serangan bayangan entitas kuno semakin dekat, itu tak membuat Sekar lari.

Ia menoleh ke arah Wira dengan senyum yang sangat tulus, senyum yang membawa kenangan hangat dari pagi yang mereka bagi di Samudera Biru.

"Wira... kau harus tetap hidup. Dunia butuh kau. Dan aku... aku akan selalu menjadi bagian darimu," bisik Sekar dengan air mata yang sudah mulai mengalir menatap Wira.

Wira yang melihat itu tak mampu berbuat apa-apa dan hanya mematung.

Mata birunya kini juga telah di banjiri dengan air mata dengan mulut yang kaku menganga terisak menatap kekasihnya.

"Se-Sekar, Ja-jangan!!" teriaknya kembali.

Sekar pun kemudian hanya memejamkan matanya pasrah.

Ia melakukan teknik terlarang yang diajarkan oleh sekte rahasianya yang melatihnya setelah bertemu Wira di hutan terlarang beberapa tahun yang lalu.

"Pengorbanan Inti Suci." gumamnya lirih.

Sebelum serangan bayangan iblis entitas kuno benar-benar menghantam Sekar, Ia merapal mantra pengorbanan itu dan berbalik menghadap kekasihnya sembari mengulurkan kedua tangannya menuju ke arah perut Wira.

Seluruh energi sukma yang ia miliki, seluruh kultivasi yang ia bangun selama bertahun-tahun, ia padatkan dan ia tembakkan masuk ke dalam tubuh Wira melalui telapak tangannya.

"SEKAAAAR!" Wira berteriak pilu dengan air mata deras mengalir membanjiri wajahnya.

Wushhh!

Desir serangan bayangan entitas kuno sudah mulai mendekat.

Ia merasakan energi Sekar mengalir masuk, menambal setiap keretakan dalam inti energinya yang sebelumnya retak akibat ia memaksakan energi dewa, alam dan iblis masuk sepenuhnya kedalam tubuhnya.

Bommm!

Ledakan seketika terdengar di tempat sekar berdiri.

Debu pasir mengepul dengan tebal, hingga akhirnya perlahan memudar dan memperlihatkan Wira yang saat ini sedang membopong tubuh Sekar di depan dadanya, dengan tangan kanan memegang tongkat kayu lusuh menahan serangan entitas kuno.

Sebelum kejadian itu, energi Sekar ternyata memperluas kapasitasnya secara paksa. Namun harganya sangat mahal.

Tubuh Sekar mulai melemas. Rambut peraknya yang indah berubah kembali menjadi hitam legam. Inti energinya pecah berkeping-keping.

Ia jatuh pingsan, dan kembali menjadi manusia biasa yang tak lagi memiliki setetes pun kekuatan kultivasi.

Melihat kekasihnya menjadi korban, Wira kini kehilangan kendali atas dirinya.

Energi pemberian Sekar bersenyawa dengan amarahnya yang murni.

Wira kemudian bangkit menopang tubuh Sekar, dan menghilang dengan muncul kembali di samping Jenderal Sabrang untuk menjaga tubuh Sekar.

Wira kemudian melesat kembali dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata, menghujamkan Siwa tepat di kepala bayangan entitas itu.

BOOM!

Ledakan cahaya murni menghapus kegelapan di Lembah Air Mata sepenuhnya. Bayangan entitas kuno itu hancur menjadi abu pasir, dan langit gurun kembali menjadi biru cerah yang bersih.

Beberapa jam kemudian, keheningan menyelimuti oase di Lembah Air Mata.

Jenderal Sabrang sudah sedikit pulih dan mulai mengoordinasi sisa-sisa prajurit Kerajaan Embun Pagi untuk mengamankan para penguasa yang tersadar.

Sedangkan untuk Putri Arum Sari kini hanya duduk terdiam, menatap sosok pahlawannya.

Wira duduk bersila di bawah pohon kurma, memangku kepala Sekar yang masih belum sadarkan diri.

Ia menatap tangan Sekar yang kini terasa dingin dan biasa, tanpa ada getaran sukma. Air matanya jatuh di kening wanita itu.

Ia menyadari satu kenyataan pahit yaitu bahwa selama ini ia terlalu angkuh. Ia pikir dengan mengalahkan Kaisar Baruna dan Kalingga, ia sudah cukup kuat untuk menyelamatkan dunia.

Ternyata, kekuatannya masih sangat lemah. Ia bahkan tidak bisa melindungi wanita yang paling ia cintai tanpa harus membuat wanita itu mengorbankan segalanya.

"Bocah... janganlah kau larut dalam kesedihan," suara Siwa terdengar sangat rendah dan penuh kebijaksanaan di dalam benaknya.

"Siwa... bagaimana cara memulihkan inti energinya? Dia kembali menjadi manusia biasa. Dia bisa mati jika entitas itu datang lagi," ucap Wira parau penuh kesedihan.

"Perjalananmu masih sangat panjang, Wira. Aku telah hidup selama ribuan tahun, melihat ribuan pendekar jatuh dan bangun. Tingkatan kultivasi yang kau tahu saat ini hanyalah tingkatan dasar di mata para penguasa langit," ungkap Siwa.

Wira mendengarkan dengan saksama dan Siwa pun juga menjelaskan bahwa di atas tingkatan-tingkatan benua ini, ada tingkatan yang disebut sebagai Ranah Nirwana.

"Hanya ada satu makhluk abadi di seluruh Semesta 9 yang pernah mencapai titik itu. Dia tinggal di Langit Ketujuh, tempat di mana waktu tidak lagi berlaku. Untuk mencapai Nirwana, kau tidak bisa hanya berlatih secara biasa. Kau harus memperluas wadah inti energimu hingga seluas samudera raya," jelas Siwa.

"Bagaimana caranya?" tanya Wira cepat.

"Kau harus mencari pusaka-pusaka kuno yang tersebar di benua-benua sisa. Pusaka yang memiliki esensi penciptaan. Kau harus meleburnya di dalam tubuhmu, menjadikannya bagian dari daging dan tulangmu. Hanya dengan begitu, kultivasimu akan naik secara cepat. Dan hanya dengan energi di ranah yang lebih tinggi, kau bisa merajut kembali inti energi kekasihmu yang pecah," jelas Siwa.

"Inti energi Sekar sudah berada di atas inti energi manusia, karena ia pernah menggunakan esensi iblis untuk mempercepat kultivasinya naik, jadi untuk membuat inti energi baru, kau harus berada di ranah yang lebih tinggi." lanjut Siwa menjelaskan.

Wira mengelus rambut hitam Sekar dengan lembut. Tekad di matanya kini tidak lagi berupa api yang berkobar liar, melainkan seperti bara yang sangat panas dan stabil.

"Aku akan melakukannya. Tidak peduli seberapa jauh Langit Ketujuh itu, tidak peduli berapa banyak pusaka yang harus kulebur," gumam Wira.

"Aku adalah Sang Penyeimbang yang di pilih oleh takdir. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun berkorban untukku lagi." lanjut gumamnya penuh tekad.

Wira berdiri, menggendong Sekar dengan penuh kelembutan. Ia menatap Jenderal Sabrang yang mendekat.

"Paman Sabrang, jaga benua ini. Pastikan Kerajaan Embun Pagi memimpin dengan bijak," ucap Wira.

"Gusti... ke mana Anda akan pergi?" tanya Sabrang dengan hormat.

"Ke tempat di mana pusaka pertama berada. Aku harus menjadi lebih kuat, sebelum bayangan di langit itu turun sepenuhnya." jawab Wira.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!