Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Berdiri Sebagai Rian
"Rian... Nak... bangunlah."
Suara itu menyusup ke dalam tidurku, lembut dan familiar. Sangat mirip dengan panggilan ibuku dulu saat membangunkanku untuk sekolah. Mata ini terbuka perlahan, masih berat oleh sisa mimpi.
Ratri terduduk di samping tempat tidurku, wajahnya serius. "Kau memanggil ibumu semalam," ucapnya pelan. "Berulang kali. 'Ibu, aku ingin pulang'."
Aku mengusap wajah, mencoba menghalau kabut tidur. "Ya," aku mengakui dengan suara serak. "Itu... niat terdalamku. Pulang. Apapun caranya."
Dia memandangiku, matanya yang emas itu seakan bisa menembus jiwa. "Tapi, Rian," bisiknya, "lihat sekelilingmu. Di duniamu yang dulu, kau hanya seorang buruh yang dicampakkan. Di sini, kau punya kami. Kau punya kekuatan yang bahkan bisa membangkitkan dewi. Tidakkah lebih baik kau jalani hidup di sini saja? Kenapa bersikeras pada dunia yang telah menyakitimu?"
Aku duduk, menatapnya. Pertanyaannya logis. Dari sudut pandangnya, ini seperti menukar emas dengan sampah.
"Ratri," ujarku, mencoba mencari analogi yang dia pahami. "Bayangkan ada seseorang yang memaksamu untuk menjadi... aku tidak tahu, misalnya, dewi kegelapan yang kejam. Itu bukan jati dirimu, kan? Meski mungkin dengan itu kau akan lebih kuat, atau dihormati, atau ditakuti, kau pasti akan menolak, bukan?"
Dia mengangguk perlahan, ada kilat pahit di matanya. "Tentu. Itu akan mengkhianati segala yang kupercayai."
"Nah, begitulah juga aku ini." Kataku, menatapnya langsung. "Dunia ini, dengan segala keajaiban dan kekuatannya, bukanlah jati diriku. Aku cuma Rian Saputra dari Jakarta. Bukan pahlawan, bukan pembangkit, bukan tuan bagi siapa pun. Memaksaku tinggal di sini selamanya, meski dengan segala kemewahannya, sama saja memenjarakan jiwaku dalam sangkar emas."
Aku melihat sedikit kekecewaan di wajahnya, tapi di balik itu, ada juga pemahaman. Dia, yang telah berjuang mempertahankan jati dirinya melawan Kekaisaran, akhirnya mengerti.
"Aku paham," bisiknya akhirnya. "Aku tidak akan menahanmu. Tapi... izinkan aku setidaknya memastikan kau baik-baik saja selama masih di sini."
Dia bangkit dari tempat tidurku, wajahnya telah kembali tenang. "Istirahatlah. Aku akan ambil sesuatu."
Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa nampan kayu. Di atasnya ada semangkuk bubur hangat yang beraroma gandum dan rempah, serta sepotong roti panggang.
"Sarapan," ucapnya sederhana, meletakkannya di pangkuanku. "Bubur gandum dengan madu Sunset Blossom dan kayu manis Frostpine."
Aku menerimanya, rasa haru menyergap. Di tengah semua kerumitan ini, masih ada kebaikan sederhana. Aku mencicipi buburnya. Hangat, mengenyangkan, dan enak.
"Terima kasih, Ratri," ucapku, tulus.
Dia hanya membalas dengan senyuman kecil sebelum pergi meninggalkanku menikmati sarapan. Perbincangan tadi menggantung di udara. Dia mengerti, aku teguh pada pendirian. Dan kini, kami akan melanjutkan perjalanan ini dengan pemahaman baru: bahwa setiap langkah kami, pada akhirnya, adalah untuk membawaku pulang.
Setelah menghabiskan sarapan yang dibuat Ratri, aku memanggil Eveline dan Ratri yang sudah siap untuk pergi.
"Oke, dengarkan baik-baik," ucapku, mencoba terdengar profesional seperti manajer briefing tim. "Yang gue butuhkan hari ini:"
"Eveline, perhatikan bagaimana sistem ekonomi di sini bekerja. Dari mana barang-barang datang, bagaimana harga ditentukan, siapa yang mengontrol perdagangan."
"Ratri, gue butuh informasi tentang struktur sosial. Kelas penguasa di sini seperti apa, bagaimana hubungan antara ras-ras berbeda, adakah ketegangan tersembunyi."
"Yang paling penting - cari tahu tentang transportasi antar wilayah. Apakah ada pelabuhan, caravan, atau cara lain untuk bepergian jauh."
Mereka berdua mengangguk, menunjukkan mereka paham.
"Kita bertemu kembali di rumah sebelum matahari terbenam," pesanku terakhir. "Hati-hati, dan ingat - amati saja dulu, jangan terlibat masalah."
Dengan anggukan pamit, kedua wanita itu pergi - Eveline dengan anggunnya yang alami, Ratri dengan langkah ringan yang hampir tidak bersuara.
Setelah beberapa menit sendirian di rumah, rasa bosan mulai menghampiri. Gue memutuskan untuk keluar juga, sekadar jalan-jalan mengamati lingkungan sekitar.
Begitu kaki melangkah keluar, pemandangan yang membuka mata menyambutku. Keragaman ras di Frostwind Expanse ternyata jauh lebih kaya dari yang kubayangkan.
Di seberang jalan, sekelompok manusia dataran tinggi dengan kulit pucat dan rambut pirang sedang memperbaiki atap rumah mereka. Beberapa manusia gurun berkulit gelap dengan mata tajam sedang berdagang rempah-rempah di kios sederhana. Aku bahkan melihat beberapa furry - manusia dengan karakteristik hewan - seorang wanita dengan telinga kucing sedang menjual ikan, sementara pria bertanduk domba sedang memanggul kayu.
Yang paling menarik perhatianku adalah seorang beast - makhluk yang lebih mendekati serigala bipedal - yang sedang berdiri gagah menjaga pintu masuk sebuah bangunan yang terlihat seperti balai kota. Dia mengenakan baju zirah sederhana dan membawa kapak besar.
Semua ras ini tampaknya hidup berdampingan dengan relatif damai, setidaknya di permukaan. Tapi aku bisa merasakan ada garis-garis pemisah yang tak terucap. Para manusia dataran tinggi terlihat sedikit menjaga jarak dengan yang lain, sementara kaum furry dan beast cenderung berkumpul di area mereka sendiri.
aku terus berjalan, mencoba tidak terlihat seperti sedang mengamati. Di pasar, seorang manusia kepulauan dengan kulit sawo matang sedang menawar harga dengan pedagang manusia hutan yang lebih pendek dan lincah. Bahasa mereka berbeda, tapi mereka sepertinya memahami satu sama lain.
Dunia ini... kompleks. Jauh lebih rumit dari sekedar "kerajaan manusia vs monster" seperti di game-game RPG. Masing-masing ras punya budaya dan perannya sendiri.
Saat aku berbelok ke sebuah gang, tiba-tiba melihat sesuatu yang membuatku berhenti. Seorang pria dengan mata merah menyala dan kulit pucat kebiruan sedang duduk di tangga, mengasah pisau. Iblis? Dari deskripsi yang pernah kudengar, dia cocok dengan gambaran itu. Yang mengejutkan, orang-orang lalu lalang tampaknya menerima kehadirannya, meski dengan jarak yang jelas.
Perjalanan singkatku ini membuka mataku. Untuk benar-benar memahami dunia ini dan menemukan jalan pulang, aku harus memahami mosaik kompleks dari ras-ras yang menghuninya. Mungkin jawaban yang kucari tidak terletak pada kekuatan atau sihir, tapi pada hubungan antar makhluk yang mengisi dunia ini.
Dengan pemikiran baru ini, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku punya banyak hal untuk dipikirkan sambil menunggu Eveline dan Ratri kembali dengan laporan mereka.
Setelah berkeliling cukup lama, sebuah pertanyaan besar mengusik pikiranku. Mengapa dunia ini, dengan segala keajaiban dan keragaman rasnya, tampak begitu tertinggal dalam hal kemajuan teknologi? Di Jakarta, bahkan di pelosok sekalipun, sudah ada listrik dan kendaraan bermotor. Di sini, semua masih bergantung pada lilin, obor, dan tenaga hewan.
Apakah karena keberadaan sihir menghambat inovasi teknologi? Atau memang zaman di dunia ini masih setara dengan abad pertengahan di Eropa? Aku terus berjalan, mengamati setiap sudut kota dengan mata yang lebih kritis.
Sebagai orang yang berjalan sendirian tanpa pengawalan, aku mulai merasa kurang aman. Membawa dua wanita cantik seperti Eveline dan Ratri selalu membuatku merasa terlalu mencolok. Terlalu banyak mata yang memperhatikan, dan itu berisiko. Aku butuh sesuatu untuk membela diri, sesuatu yang bisa memberi kejutan dan keunggulan taktis.
Namun, setelah memeriksa beberapa toko senjata, yang kudapati hanyalah tombak, pedang, tameng, busur silang, dan ketapel sederhana. Tidak ada satu pun senjata api, bahkan yang paling primitif sekalipun.
Ini aneh. Di dunia asalku, mesiu sudah ditemukan sejak berabad-abad lalu. Apakah di sini benar-benar tidak ada yang mengenal bubuk mesiu? Atau mungkin pengetahuan itu sengaja disembunyikan?
Sebuah ide mulai terbetik dalam pikiranku. Jika tidak ada yang menjual senjata api, mungkin aku bisa mencoba membuatnya sendiri. Aku ingat pelajaran kimia dasar di sekolah dulu tentang komposisi bubuk mesiu: potasium nitrat, arang, dan belerang.
Tentu saja, ini akan sangat sulit. Aku harus mencari bahan-bahan tersebut, mungkin dengan nama yang berbeda di dunia ini. Lalu, aku perlu merancang mekanisme pistol yang sederhana namun efektif. Dan yang paling berbahaya, aku harus bereksperimen tanpa laboratorium yang memadai.
Tapi ide ini terasa masuk akal. Senjata api, bahkan yang primitif, akan memberiku keunggulan yang signifikan. Kebanyakan orang di sini mengandalkan sihir atau senjata jarak dekat. Sebuah pistol, meski sederhana, bisa menjadi penyeimbang yang tepat untuk seseorang sepertiku yang tidak memiliki kemampuan bertarung alami.
Aku memutuskan untuk mulai mencari informasi tentang bahan-bahan yang kubutuhkan. Mungkin di apoteker atau toko kimia, jika ada. Atau bertanya pada para penambang yang mungkin mengenal mineral-mineral tertentu.
Ini akan menjadi proyek rahasia. Aku tidak bisa memberitahu siapa pun, bahkan Ratri atau Eveline. Jika senjata api benar-benar belum dikenal di dunia ini, penemuannya bisa mengubah keseimbangan kekuatan secara drastis. Dan sebagai penemunya, aku harus berhati-hati.
Dengan tekad baru, aku berbalik arah menuju area pasar, kali ini dengan mata yang mencari sesuatu yang berbeda. Bukan makanan atau pakaian, tapi bahan-bahan yang bisa memberiku kekuatan untuk bertahan hidup di dunia yang asing ini.
Matahari mulai terbenam di ufuk barat, langit berubah menjadi jingga keemasan yang indah namun tidak sempat kunikmati. Aku mempercepat langkah menuju rumah yang baru saja kutinggali, hati dipenuhi perasaan tidak menentu setelah seharian menjelajah dan merencanakan proyek rahasia senjata api.
Namun, saat mendekati rumah, jantungku hampir berhenti. Sekumpulan orang ramai berdiri di depan rumahku. Lebih mengejutkan lagi, mereka adalah sekelompok tentara bersenjata—bukan tentara kadipaten dengan seragam Lindenroth yang pernah kulihat, melainkan pasukan dengan baju zirah dan jubah berwarna lebih gelap, dengan lambang elang mencengkeram pedang di dada mereka. Seragam Kekaisaran Aethelgard.
Aku membeku di tempat, berusaha tak terlihat sambil mengamati dari balik sudut bangunan. Seorang komandan dengan jubah panjang memegang selembar kertas dan menunjukkan kepada tetangga yang terlihat ketakutan.
"Kami mencari pria dengan nama 'Rian'," kata komandan itu dengan suara keras dan berwibawa. "Sketsa ini didapat dari sumber terpercaya. Apakah kau pernah melihatnya?"
Dari jarak beberapa meter, aku bisa melihat sketsa wajah di kertas itu. Tidak terlalu mirip. Hidungnya terlalu mancung, matanya terlalu sipit, seolah digambar berdasarkan deskripsi lisan yang samar. Namun, yang membuat darahku berdesir adalah tulisan di bawahnya: "Rian - Pembangkit Terlarang".
Paman Alaric. Hanya dia yang tahu nama asliku dan gelar itu. Dalam hati, aku sama sekali tidak marah. Siapapun makhluk di mana pun, ketika keluarga terancam, naluri pertama adalah melindungi diri sendiri. Aku memakluminya.
Tiba-tiba, sebuah tangan menarik lengan ku dari belakang dengan kuat. Aku nyaris berteriak, tapi suara yang berbisik pelan membuatku tenang.
"Jangan menoleh. Mundur perlahan." Itu suara Ratri. Dia dan Eveline sudah berada di sampingku, wajah mereka tegang.
"Mereka adalah Tentara Kekaisaran Elit," bisik Ratri sambil menuntunku menjauh dari kerumunan. "Jika mereka menangkapmu, kau tidak akan pernah melihat cahaya lagi. Interogasinya... sangat kejam."
Eveline, dengan tatapan waspada, berdiri di posisi yang melindungi tubuhku dari pandangan tentara. "Mereka memiliki penyihir pendeteksi kebohongan. Mustahil berbohong pada mereka."
Aku melihat sekali lagi ke arah rumah yang baru kusewa. Semua barang-barang kami masih di dalamnya. Persediaan makanan, uang sisa, dan semua bukti bahwa kami pernah tinggal di sana.
"Tapi—"
"Tidak ada 'tapi', Rian," potong Ratri dengan suara tegas namun rendah. "Harta benda bisa dicari lagi. Nyawa hanya sekali."
Aku menarik napas dalam. Mereka benar. Ini bukan saatnya untuk nekad. Dengan berat hati, aku mengangguk.
Kami berbalik dan menyusuri jalan kecil yang gelap, menjauhi kerumunan dan rumah yang sudah tidak aman lagi. Langkah kami cepat namun tidak terburu-buru, berusaha tidak menarik perhatian.
Rumah pertama yang kupikir akan menjadi tempat persembunyian yang aman, kini telah berubah menjadi jebakan maut. Kekaisaran benar-benar serius memburuku. Dan sekarang, kami kembali menjadi pelarian, tanpa tempat tinggal, tanpa persediaan, hanya dengan pakaian yang melekat di badan.
Malam yang semakin gelap seakan menyelimuti nasib kami yang tidak menentu. Pertanyaan besar kini menggantung: ke mana kami harus pergi sekarang?
Kami bertiga bersembunyi di balik reruntuhan sebuah gudang tua di pinggir kota, dinginnya malam mulai merasuk hingga ke tulang. Aku duduk memeluk lutut, kepala dipenuhi oleh kekalutan. Ini benar-benar buntu. Uang yang diberikan Paman Alaric hampir habis untuk membeli rumah dan perlengkapan winter. Kini, kami tidak memiliki tempat tinggal, persediaan makanan terbatas, dan yang paling mengerikan, Tentara Kekaisaran tahu wajah dan namaku, meski samar.
"Ratri," ucapku akhirnya, suara serak karena keputusasaan. "Aku kehabisan akal. Ada ide?"
Dengan tenang, hampir terlalu santai, Ratri menjawab, "Aku bisa saja menggunakan 'Lembutkan Kehendak' pada salah satu warga di sini. Mereka akan dengan senang hati menyerahkan rumahnya pada kita, atau setidaknya memberikan kita makanan dan tempat berlindung."
Aku terkekeh getar. Dia sengaja mengulang tawarannya, seolah menguji prinsipku.
"Tidak," jawabku pendek, meski godaan itu besar. "Aku tidak akan membiarkanmu mengontrol pikiran orang lain untuk keuntungan kita."
Tapi, keputusasaan memicuku untuk memikirkan opsi lain. Mataku beralih ke Eveline yang duduk tenang di sudut, tatapan birunya kosong. Tubuhnya yang utuh sempurna, kekuatannya yang luar biasa... Dia adalah aset yang belum sepenuhnya kumanfaatkan. Sebagai mayat hidup tanpa jiwa, dia bisa bekerja tanpa lelah, tanpa perlu makan banyak, tanpa mengeluh.
Bayangkan, pikirku, dengan kekuatan Eveline, kita bisa membangun pondok sederhana dalam hitungan hari. Dengan kemampuan Ratri, kita bisa menemukan lokasi terpencil yang aman.
Tapi, rasa etisku kembali menghantam. Ini tidak benar. Memanfaatkan mereka seperti ini...
Namun, pikiranku kembali ke bayangan tentara kekaisaran, interogasi, dan kemungkinan kematian. Ketakutan akan hal itu akhirnya mengalahkan keraguanku.
"Tidak," batinku pada diri sendiri. "Bertahan dengan cara yang tidak etis sama saja menghancurkan jati diriku. Aku lebih baik meninggalkan semua ini dan mulai dari nol di tempat yang benar-benar baru."
Aku berdiri, tekad baruku mengkristal. "Kita pergi dari sini," ucapku pada mereka berdua. "Tinggalkan semuanya. Uang, rumah, barang-barang... itu hanya materi. Nyawa kita lebih penting."
Ratri dan Eveline menatapku, mendengarkan.
"Kita cari pulau terpencil. Yang cukup luas untuk ditinggali, dengan sumber air dan mungkin tanah yang bisa ditanami. Di sana, kita bangun kehidupan baru dari nol." Aku menatap Ratri. "Kau bisa bantu mencari pulau seperti itu?"
Dia mengangguk, matanya berbinar. "Tentu. Laut dan pulau adalah domain yang kukenal."
Lalu aku menatap Eveline. "Dan kau... bersediakah membantu membangun rumah kita nanti? Bekerja keras?"
"Dengan senang hati, Tuanku," jawabnya dengan patuh.
"Baik," ucapku, rasa lega dan semangat baru mengalir di dadaku. "Kita akan bekerja sama. Aku akan bekerja sebisaku, dan kalian membantu dengan... kemampuan masing-masing. Yang penting, kita tidak merugikan orang lain dalam prosesnya."
Keputusan ini terasa benar. Mulai dari nol, jauh dari kejaran kekaisaran, membangun sesuatu dengan tangan kami sendiri. Mungkin di sanalah, di tengah keterpencilan, aku akhirnya bisa menemukan ketenangan dan jawaban yang selama ini kucari.
Dini hari yang menusuk tulang. Embun beku membekukan jenggotku yang mulai tumbuh. Setiap tarikan napas seperti menghirup pecahan kaca. Ratri, dengan wajahnya yang tak terganggu cuaca dingin, menawarkan untuk membawaku dengan kekuatannya—entah dengan membuat angin mendorongku atau mungkin bahkan menggendongku. Tawaran yang membuat pipiku memanas. Dasar gue, ditawarin dibantu sama cewek, itupun dewi lagi. Kek mana gue laki-laki kalau kayak gini. Aku gelengkan kepala, gigih bertahan dengan kakinya sendiri meski lutut terasa kaku.
"Gak usah, aku bisa," batalku, suara bergetar menahan dingin.
Kami terus berjalan, meninggalkan jejak di atas salju yang perlahan-lahan berhenti turun. Dan kemudian, pemandangan itu terbentang. Di kejauhan, garis pemisah yang jelas antara putihnya salju yang mencair dan hijau tua dari vegetasi yang mulai terlihat. Seperti metafora untuk hidupku—periode sulit yang akhirnya mencair, memberi jalan pada kemungkinan baru. Harapan pun menguat.
Hingga kami tiba di ujung dunia, atau begitulah kelihatannya. Sebuah tebing terjal, dengan batu-batu runcing seperti gigi raksasa menantang di bawah, dan di depan, laut luas membentang tak berujung.
"Di sana," ucap Ratri, menunjuk ke sebuah pulau hijau samar di tengah lautan. "Pulau itu tak berpenghuni. Alamnya subur. Aku bisa merasakannya." Dia tidak perlu menjelaskan lebih lanjut; sebagai Fallen Goddess, pengetahuan tentang daratan dan lautan adalah nalurinya.
Tapi kemudian, wajahnya yang tenang itu berkerut. Matanya yang emas menyipit, menatap jauh ke belakang, melewati bahuku.
"Ada yang mengikuti kita," bisiknya, suara tiba-tiba tegang. "Banyak. Berkuda. Ada... Trace-Seeker bersamanya."
"Trace-Seeker?" tanyaku, bingung.
"Penyihir pelacak jejak Kekaisaran," jawabnya singkat. "Mereka bisa mengikuti 'aroma' kekuatan anomali-mu, Rian. Seperti pemburu yang mengendus darah."
Kepalaku langsung pusing. Jantung berdebar kencang. Rasanya ingin marah, ingin memaki. "Gimana ini, Ratri? Aduh, taik lah! Tentara Kekaisaran itu BABI! Gue cuma mau cari tempat damai, malah dikejar-kejar! Udah di ujung jurang lagi!"
Ratri meletakkan tangan di pundakku, mencoba menenangkan. "Tenang. Aku dan Eveline bisa 'menghadapi' mereka. Mereka tidak akan pernah sampai di sini." Nada datarnya justru membuatku semakin ngeri—'menghadapi' dalam kamus Ratri dan Eveline bisa berarti sesuatu yang sangat mengerikan.
"Tidak!" potongku cepat. "Gak boleh! Minimalisir, Ratri! Cuma bikin mereka... aku tidak tahu, tersesat! Atau bikin kabut tebal! Apa saja yang tidak melukai mereka!"
"Tidak bisa, Rian," Ratri menggeleng, wajahnya serius. "Aura-mu terlalu terang bagi para Trace-Seeker. Seperti obor di kegelapan. Menutupinya mustahil."
Putus asa. Benar-benar putus asa. Kami terjepit. Laut di depan, musuh di belakang, jurang di bawah. Nafasku berat. Ini sudah kali keberapa kami dikejar? Berapa kali kami harus lari?
Lalu, sebuah keputusan darurat muncul di kepalaku. Sebuah perintah yang selama ini kuhindari.
"Eveline. Ratri." Suaraku tiba-tiba datar, penuh dengan beban yang tak ingin kuangkat. "Kondisi darurat. Jika negosiasi damai tidak memungkinkan... aku melepaskan perintah eliminasi."
Mata Eveline langsung berubah dari biru pucat menjadi merah darah. Tubuhnya bergetar halus, bersiap. Ratri terlihat ragu.
Tapi sebelum mereka bergerak, aku melangkah maju, berdiri di tepi jurang, menghadap arah datangnya musuh.
"Rian, jangan!" teriak Ratri.
Aku menoleh, memberinya senyum getir. "Mereka cuma cari aku, Rat. Bukan kalian. Terlalu egois kalau aku bersembunyi di balik kalian terus. Hati gue nggak enak. Itu bukan jati diri gue yang sebenarnya."
Angin laut menerpa, menghembuskan aroma garam dan kebebasan yang begitu dekat, namun begitu sulit dicapai. Aku berdiri di sana, sendirian, menunggu detak kuda dan para pemburu yang datang untukku. Untuk pertama kalinya, aku akan menghadapi takdirku sendiri, bukan sebagai korban yang lari, tapi sebagai Rian Saputra yang memilih untuk berdiri. Meski mungkin ini adalah pilihan terakhirku.