NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Lampu neon koridor ICU yang pucat memantul di wajah Siska. Ia berdiri di hadapanku dengan aroma parfum yang menyesakkan, kontras dengan bau antiseptik rumah sakit yang tajam. Tangannya yang menggenggam flashdisk itu terlihat begitu tenang, sementara jantungku berdegup seolah ingin melompat keluar.

"Apa maumu, Siska?" suaraku rendah, penuh penekanan. Aku berdiri, menantang tatapannya. "Arlan sedang berjuang hidup di dalam sana, dan kamu masih sempat-sempatnya berjualan drama?"

Siska tertawa kecil, suara yang selalu membuat bulu kudukku meremang. "Hidup Arlan sudah berakhir sejak tiga tahun lalu, Rania. Dia hanya mayat berjalan yang mencoba mengejarmu. Tapi kamu... kamu punya segalanya. Karier, nama baik, dan... Harva."

Siska melangkah mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telingaku. "Harva Widjaya. Dia klienmu, kan? Kamu tahu tidak, siapa yang membayarku untuk menjebak Arlan di Jogja malam itu? Siapa yang memberiku uang untuk tinggal di kost Arlan saat kamu sedang magang di Jakarta?"

Duniaku seolah runtuh. Langkahku goyah, aku terpaksa berpegangan pada kursi besi di belakangku. "Apa... apa maksudmu?"

"Harva ingin memilikimu sejak kuliah, Rania. Tapi kamu terlalu sibuk dengan Arlan yang miskin itu. Jadi, dia membayarku. Aku memasukkan sesuatu ke minuman Arlan malam itu, membawanya ke tempat tidur, dan memastikan kamu datang tepat waktu untuk melihatnya," Siska tersenyum puas, seolah sedang menceritakan sebuah prestasi besar. "Arlan memang bodoh, dia terlalu pengecut untuk membela diri karena dia sendiri bingung apa yang terjadi. Dia pikir dia benar-benar khilaf."

Aku menggeleng kuat-kuat. "Bohong! Kamu pasti bohong!"

"Lihat sendiri kalau tidak percaya," Siska melemparkan flashdisk itu ke pangkuanku. "Harva sudah tidak membayarku lagi karena dia pikir dia sudah memenangkanmu. Tapi aku butuh uang untuk pergi dari kota ini. Lima ratus juta, Rania. Bayar aku, dan video ini milikmu. Kamu bisa menghancurkan Harva, atau kamu bisa terus menjadi bonekanya."

Siska memakai kembali kacamata hitamnya dan melangkah pergi, meninggalkan aku yang mematung dengan benda kecil itu di genggamanku.

Tanganku gemetar hebat. Jadi, selama tiga tahun ini, aku membenci pria yang sebenarnya adalah korban? Dan aku hampir menyerahkan hidupku pada pria yang telah merancang kehancuranku?

Aku segera berlari menuju ruang tunggu yang menyediakan komputer umum. Dengan napas memburu, aku mencolokkan flashdisk itu.

Layar monitor menampilkan sebuah video amatir yang buram. Di sana, aku melihat Arlan yang tampak teler, dibimbing oleh Siska masuk ke dalam kamar kostnya. Arlan terus meracau memanggil namaku, sementara Siska dengan dingin melepaskan kemeja Arlan dan mengatur posisi mereka agar terlihat sedang bercumbu tepat saat pintu terbuka.

Rasa mual yang selama ini menyiksaku tiba-tiba menghilang, berganti dengan rasa sesak yang luar biasa. Aku telah menghancurkan hidup Arlan. Aku telah memaki orang tuanya. Aku telah menjadi "Ratu Es" untuk pria yang sebenarnya sangat mencintaiku hingga ia jatuh sakit.

Tiba-tiba, pintu ICU terbuka. Perawat berlari keluar dengan wajah panik.

"Keluarga Pak Arlan! Pasien mengalami kejang hebat! Dokter butuh persetujuan tindakan darurat segera!"

Aku bangkit dari kursi, namun mataku justru menangkap sosok pria di ujung koridor. Harva. Ia berdiri di sana dengan wajah gelap, menatapku seolah ia tahu rahasianya baru saja terbongkar.

Pilihan itu hanya sepersekian detik, namun bagiku terasa seperti keabadian. Aku menoleh ke arah Harva—pria yang dengan rapi merancang kehancuran duniaku demi ambisi pribadinya. Ia berdiri mematung, seolah menanti konfrontasi meledak di sana. Namun, saat teriakan perawat kembali menggema, aku memalingkan wajah darinya.

Harva bisa menunggu. Kebencianku padanya bisa menunggu. Tapi napas Arlan tidak.

"Saya! Saya penanggung jawabnya!" teriakku sambil berlari menerjang pintu ICU, mengabaikan Harva yang langkahnya mulai mendekat.

Aku menyambar bolpoin dari tangan perawat, menandatangani lembar persetujuan tindakan darurat dengan tangan gemetar hebat. Persetan dengan prosedur keluarga, aku hanya ingin dia hidup. Aku ingin dia hidup agar aku bisa bersujud meminta maaf atas tiga tahun kebencian yang salah alamat ini.

"Lakukan apa saja, Dok! Tolong, selamatkan dia!" bisikku parau sebelum pintu ICU tertutup rapat di depan wajahku.

Aku berbalik, menyandarkan punggung di pintu kaca itu. Harva sudah berdiri beberapa meter di depanku. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak tegang, ada kilatan kepanikan yang ia sembunyikan di balik tatapan tajamnya.

"Rania, jangan percaya pada apa yang dikatakan wanita ular itu," suara Harva berat, mencoba memanipulasi keadaan seperti yang biasa ia lakukan di meja rapat. "Siska hanya ingin memerasmu. Dia tahu kamu lemah karena melihat kondisi Arlan."

Aku tertawa getir, air mata mengalir deras melewati pipiku yang panas. Aku mengangkat flashdisk di tanganku tinggi-tinggi. "Video ini tidak berbohong, Harva! Aku melihat Arlan memanggil namaku saat kamu dan Siska menghancurkannya! aku membangun karierku, tapi kamu membunuh jiwaku!"

"Aku melakukan itu karena aku mencintaimu!" bentak Harva, kehilangan kendalinya. "Arlan tidak punya apa-apa untuk diberikan padamu! Dia hanya akan menahanmu di Jogja dalam kemiskinan! Lihat dirimu sekarang, kamu sukses karena aku!"

"Sukses?" aku melangkah mendekatinya, suaraku meninggi penuh amarah. "Aku sukses dengan hati yang mati! Kamu membuatku membenci pria yang paling tulus mencintaiku sampai dia sekarat di dalam sana! Itu bukan cinta, Harva. Itu penyakit!"

Tiba-tiba, Bang Haris muncul dari arah lift. Ia melihatku menangis dan melihat Harva yang tampak emosional. Tanpa banyak bicara, Haris langsung berdiri di depanku, menghalangi Harva.

"Abang... Harva yang melakukan semuanya di Jogja," bisikku sambil terisak di balik punggung Haris.

Mata Haris yang elang langsung berkilat tajam. Ia mencengkeram kerah jas Harva, membuat pria itu terdesak ke dinding koridor. "Jadi kamu dalangnya? Kamu yang bikin adikku gila karena trauma selama tiga tahun?!"

"Lepaskan! Kalian tidak punya bukti!" tantang Harva.

"Aku punya buktinya, Harva. Dan aku bersumpah, setelah Arlan melewati ini, aku akan pastikan kamu membusuk di penjara dan kehilangan seluruh kerajaan bisnismu," ancamku dengan nada sedingin es—kali ini bukan es yang rapuh, tapi es yang tajam dan mematikan.

Di dalam ruangan, suara monitor jantung Arlan kembali stabil, meski sangat pelan. Arlan bertahan. Dia seolah tahu bahwa aku akhirnya tahu kebenarannya. Dia menungguku.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!