NovelToon NovelToon
Lentera Di Balik Luka

Lentera Di Balik Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Bagi Jati, kesetiaan adalah harga mati. Namun, sebuah kecelakaan tragis merenggut kejantanannya, membuat pernikahan yang ia bangun bersama Mila berubah menjadi neraka dingin tanpa suara tangis bayi. Di tengah kehampaan itu, Mila memilih jalan pintas yang menyakitkan: berselingkuh dengan Andre demi mendapatkan keturunan yang tak bisa diberikan Jati.
Puncak kehancuran Jati terjadi saat Mila dengan terang-terangan memamerkan pengkhianatannya di depan mata, bahkan menghina kekurangan fisik Jati demi uang belanja. Di titik terendah hidupnya, saat ia merasa bukan lagi seorang lelaki, Jati bertemu dengan Lintang.
Lintang hanyalah seorang janda yang bekerja sebagai tukang pijat keliling untuk menyambung hidup. Pertemuan yang diawali dengan ketidaksengajaan di taman itu perlahan membuka mata Jati. Di balik sentuhan tangan Lintang yang sederhana, Jati menemukan penawar luka yang tak terduga—sebuah harapan bahwa harga diri seorang pria tidak hanya ditentukan oleh fisik, melainkan oleh ketulusan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Tiga hari berlalu dengan penuh perhatian yang belum pernah dirasakan Lintang seumur hidupnya.

Luka lebam di wajahnya mulai memudar, menyisakan rona merah yang lebih sehat.

Pagi itu, dokter akhirnya menandatangani surat izin pulang, sebuah kabar yang disambut Jati dengan senyum paling lebar yang pernah ia tunjukkan.

"Ayo, Lintang. Waktunya pulang ke rumah kita," ucap Jati mantap saat ia sendiri yang mendorong kursi roda Lintang menuju lobi rumah sakit.

Namun, Lintang sempat tertegun saat mobil mewah Jati tidak mengarah ke gang sempit menuju rumah kontrakannya, melainkan berbelok menuju kawasan elit di pusat kota.

Mobil itu berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang berkilauan.

"Mas, ini bukan jalan ke rumah saya," bisik Lintang cemas.

"Aku sudah bilang, kan? Kamu tidak akan kembali ke sana. Mulai hari ini, tempatmu adalah di sampingku," jawab Jati tenang sambil membantu Lintang turun di lobi apartemen pribadinya yang sangat eksklusif.

Begitu pintu unit apartemen terbuka, Lintang terpana.

Ruangan itu begitu luas dengan pemandangan seluruh kota dari balik dinding kaca. Namun yang lebih mengejutkan lagi adalah ketika Jati menuntunnya masuk ke sebuah kamar besar yang didominasi warna hangat.

Di sana, Lintang melihat beberapa lemari terbuka yang sudah terisi penuh.

"Mas Jati, baju-baju ini?" Lintang menutup mulutnya dengan tangan, terkejut melihat deretan pakaian yang baru dibeli Jati tempo hari sudah tertata rapi.

Tak hanya itu, tas kecil berisi pakaian lamanya dari rumah kontrakan pun sudah ada di sana.

"Semua barang dan pakaianmu sudah kupindahkan ke sini. Aku sudah meminta orang-orangku untuk membereskan sisa urusan di kontrakanmu. Kamu tidak perlu kembali ke sana lagi untuk mengambil apa pun," jelas Jati sambil berdiri di belakang Lintang, tangannya memegang pundak wanita itu dengan posesif namun lembut.

Lintang menyentuh permukaan gaun tidur sutra yang halus di depannya.

"Mas, semua ini terlalu indah untuk saya. Saya merasa seperti bermimpi."

Jati membalikkan tubuh Lintang perlahan hingga mereka saling berhadapan.

"Ini bukan mimpi, Lintang. Ini adalah awal dari kenyataan baru kita. Di apartemen ini, tidak akan ada mantan suami yang berani menyentuhmu, tidak ada mertua yang menghinamu, dan tidak ada Mila yang bisa mengganggumu. Di sini, kamu adalah ratunya."

Jati kemudian menuntun Lintang ke arah balkon. Angin sore yang sejuk menerpa wajah mereka.

"Aku ingin kamu pulih sepenuhnya di sini. Sarafku pun sepertinya merasa lebih tenang sejak tahu kamu berada di bawah atap yang sama denganku."

Lintang menatap Jati dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa sangat terlindungi.

"Terima kasih, Mas. Saya akan melakukan yang terbaik untuk merawat rumah ini dan merawat Mas Jati."

Matahari baru saja terbenam, menyisakan semburat jingga yang indah di balik jendela kaca apartemen.

Lintang, yang merasa tenaganya sudah kembali pulih, tidak bisa diam saja.

Ia melangkah menuju dapur modern yang serba canggih itu, mengeluarkan beberapa butir telur ayam kampung, jahe merah, madu, dan rempah-rempah rahasia yang selalu ia bawa.

Suara denting gelas dan aroma rempah yang tajam namun menenangkan memenuhi ruangan. Jati, yang sedang membaca dokumen di ruang tengah, menoleh dan segera menghampiri dengan guratan cemas di wajahnya.

"Sayang, kamu yakin sudah benar-benar sembuh? Jangan memaksakan diri, kamu baru keluar dari rumah sakit tadi pagi," tanya Jati sambil memegang pinggang Lintang, mencoba membujuknya untuk kembali beristirahat.

Lintang menoleh, memberikan senyuman manis yang paling menenangkan bagi Jati.

Ia mengangguk mantap. "Saya sudah jauh lebih baik, Mas. Justru dengan bergerak seperti ini, badan saya tidak kaku. Ini jamu khusus untuk Mas, supaya aliran darahnya semakin lancar malam ini."

Setelah Jati meminum jamu hangat racikan Lintang sampai habis, Lintang menatap Jati dengan tatapan yang penuh dedikasi.

"Mas, tolong ganti baju dengan kimono handuk ya? Saya ingin memberikan terapi intensif malam ini."

Jati menurut tanpa bantahan. Tak lama kemudian, ia sudah berbaring santai di atas sofa beludru mewah di ruang tengah.

Lintang datang membawa botol minyak zaitun yang sudah dihangatkan sedikit.

Ia mulai mengoleskan minyak itu ke telapak tangannya, menciptakan suhu yang pas sebelum menyentuh kulit suaminya.

"Bismillah..." bisik Lintang lembut.

Sentuhan pertama Lintang mendarat di kaki Jati, merayap perlahan ke arah paha dengan teknik pijatan yang dalam namun ritmis.

Jati memejamkan matanya, menikmati sensasi hangat dari minyak zaitun dan pijatan jemari Lintang yang begitu ahli.

Namun, suasana berubah ketika Lintang mulai memfokuskan pijatannya di area sensitif di sekitar saraf pusat kejantanan Jati.

Dengan sangat hati-hati dan penuh perasaan, Lintang memberikan stimulasi pada titik-titik saraf yang selama ini terputus komunikasinya dengan otak Jati.

Deg!

Jati tersentak pelan. Ia merasakannya lagi. Getaran itu bukan lagi sekadar "sengatan" kecil, melainkan sebuah denyutan yang lebih kuat dan berirama.

Respons sarafnya merayap naik, memberikan sensasi penuh yang sudah sangat lama tidak ia rasakan.

"Lintang..." suara Jati terdengar berat dan serak, menahan gejolak yang mulai membuncah di dalam dirinya.

"Sabar, Mas. Rasakan saja alirannya. Jangan dilawan," bisik Lintang tanpa menghentikan gerakannya.

Jemarinya yang licin oleh minyak zaitun bekerja dengan sangat telaten, memastikan setiap jengkal saraf di sana mendapatkan stimulasi maksimal.

Jati mencengkeram pinggiran sofa. Ia bisa merasakan "senjatanya" bereaksi lebih nyata dari sebelumnya.

Ada kehidupan di sana, ada kekuatan yang kembali bangkit.

Di bawah temaram lampu apartemen, Jati menatap Lintang dengan penuh kekaguman.

Wanita yang dianggap rendah oleh dunia ini, kini sedang melakukan keajaiban yang tidak bisa dibeli dengan uang miliaran rupiah.

"Kamu benar-benar penyembuhku, Lintang," gumam Jati sambil mengatur napasnya yang mulai memburu.

Setelah sesi terapi yang intens dan emosional itu, Lintang perlahan menyeka sisa minyak zaitun di tangannya dengan handuk hangat.

Ia melihat Jati masih terbaring dengan napas yang belum sepenuhnya teratur, tampak kelelahan namun ada binar kepuasan dan harapan di matanya.

"Mas, sudah cukup untuk malam ini. Jangan dipaksakan lagi," ucap Lintang lembut sambil merapikan kimono Jati.

"Sekarang Mas harus segera istirahat supaya khasiat jamu dan pijatannya meresap sempurna ke saraf-saraf Mas."

Jati meraih tangan Lintang, seolah berat untuk melepaskannya.

"Tidurlah di sini, Lintang. Kamar ini sangat luas."

Lintang tersenyum tipis, lalu menggeleng dengan sopan sambil mengecup punggung tangan Jati.

"Belum saatnya, Mas. Kita belum sah di mata hukum dan agama. Saya ingin menjaga kesucian niat kita sampai hari pernikahan itu tiba. Saya akan tidur di kamar sebelah."

Jati menghela napas panjang, namun ia sangat menghargai prinsip dan harga diri wanita itu.

Ia melepaskan genggamannya dengan berat hati. "Baiklah. Selamat istirahat, calon istriku. Terima kasih untuk malam ini."

Lintang mengangguk, lalu membereskan peralatan terapinya.

Ia melangkah keluar dari kamar utama dan masuk ke kamar tamu yang terletak tepat di sebelah kamar Jati.

Kamar yang juga sangat mewah, namun terasa sangat tenang.

Begitu pintu tertutup, Lintang menyandarkan tubuhnya di balik pintu.

Jantungnya masih berdegup kencang. Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan kebahagiaan yang membuncah namun juga rasa tanggung jawab yang besar.

Di kamar sebelah, ia tahu ada seorang pria yang sangat menggantungkan hidup dan kesembuhannya padanya.

Sementara di kamar utama, Jati menatap langit-langit kamar dengan senyuman yang tak kunjung hilang.

Ia mencoba menggerakkan kakinya, dan meski masih lemah, ia merasakan otot-ototnya jauh lebih hidup.

Malam itu, di bawah atap yang sama, keduanya tidur dengan perasaan damai yang sudah sangat lama hilang dari hidup mereka.

1
tiara
sabar papa Jati demi si buah hati 🤭🤭🤭
tiara
selamat pa Jati dan Lintang atas kehamilan Lintang sehat selalu bumil
my name is pho: 🥰🥰 terima kasih kak
total 1 replies
tiara
nikmatilah hasilnya Mila, menyesal pun sudah tiada arti semua orang meninggalkanmu termasuk pacarmu
tiara
ceriitanya menarik tidak terlalu menguras emosi
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
tiara
rasain kamu Mila gatau diri sih, masih syukur dikasih uang masih aja kurang
Dessy Lisberita
bukan emas tpi logam mas kawinya
tiara
lanjuut thor
Dessy Lisberita
kenapa masih nungu unk membuang baju kotor
Dessy Lisberita
semoga normal kembali kejantanan jati
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "dramanya pasti akan semakin intens"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hey/ "cowok sejati emang harus berani untuk bertanggungjawab"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Scare/ "tanda-tandanya nih..."
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Cry/ "sebagai cowok kami faham seberapa sakit kamu sebenarnya Wak huhuhu"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Puke/ "udahlah hubungan kayak gini mendingan gak usah dipertahanin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Shame/ "aku dibuat tak bisa berkata-kata"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Panic/ "buta matanya sampai gak sadar"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Angry/ "ini kembarannya Jule kah?"
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
tiara
bagus tinggalkan saja baju kotormu karena sudah tidak bisa dipakai lagi
tiara
mampir thor mulau membaca ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!