NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Keheningan di Dapur Luar Sekte Awan Mengalir telah mencapai tingkat yang sakral, hampir menyerupai meditasi kolektif para rahib di kuil-kuil pegunungan jauh. Embun pagi masih menempel di jendela kayu yang mulai lapuk, dan sinar matahari pertama yang menyelinap masuk hanya berani menerangi butiran debu yang menari pelan, seolah-olah debu-debu itu pun takut menimbulkan kebisingan yang bisa merusak tidur sang "Pertapa Dapur".

Di balik tirai linen yang kini telah diganti dengan kain sutra biru muda—persembahan rahasia dari tabungan pribadi Kepala Koki Wang Ta

Lin Fan sedang bergulat dengan dilema eksistensial paling berat sejak ia bereinkarnasi.

Dilema itu bukan tentang bagaimana membelah gunung atau mencapai keabadian, melainkan tentang bagaimana cara bangun dari kasur tanpa kehilangan momentum kenyamanan yang telah ia bangun selama sepuluh jam terakhir.

Bzzzt.

Kipas angin otomatis energi Qi yang berada di samping kepalanya berputar dengan suara desiran yang sangat halus, memberikan hembusan angin sejuk yang menyapu pipi Lin Fan. Bau harum dari "Aura Bantalan Awan" yang kini menyatu dengan sprei tempat tidurnya memberikan sensasi seolah-olah ia sedang dibalut oleh pelukan awan marshmallow yang hangat.

"Bangun adalah sebuah pengkhianatan terhadap tubuh sendiri," gumam Lin Fan, suaranya teredam oleh bantal yang sangat empuk. Ia menarik selimutnya lebih tinggi, menutupi telinganya.

Namun, sistem sialan di dalam kepalanya tidak membiarkan kedamaian itu bertahan lama.

[Ding! Menghitung kemajuan Host...]

[Host telah mencapai Pemurnian Tubuh Tingkat 4. Status: Ikan Asin yang Berkilau.]

[Misi Turnamen Sekte Luar (Aktif): Persiapkan strategi untuk tidak berkeringat di arena.]

[Saran Sistem: Gunakan 'Mata Persepsi Malas' untuk menganalisis cara menyerah paling cepat namun terlihat seperti ahli yang sedang mengalah.]

Lin Fan menghela napas panjang, sebuah embusan udara yang penuh dengan beban penderitaan seorang budak korporat masa lalu. Di kehidupan lamanya, ia ahli dalam membuat laporan yang terlihat sibuk padahal ia hanya tidur di toilet kantor. Sekarang, ia harus menerapkan ilmu "Manajemen Kemalasan" itu ke tingkat yang lebih tinggi: Turnamen Kultivasi.

"Zhao Er..." panggil Lin Fan, suaranya sangat lirih, nyaris seperti bisikan hantu yang malas.

Dalam sekejap, bayangan di balik tirai bergerak. Zhao Er, yang sudah berdiri siaga dengan handuk hangat dan baskom berisi air bunga mawar (hasil curian dari kebun sekte luar), segera menyahut dengan suara yang ditekan serendah mungkin.

"Hamba di sini, Tuan Lin! Apakah Tuan butuh pijatan kaki atau apakah air bunganya kurang harum?"

Lin Fan perlahan menarik tangannya dari balik selimut. Ia menunjuk ke arah gulungan perkamen yang ditinggalkan Diaken Hu kemarin, yang kini tergeletak di atas meja kecil.

"Bawa kemari... dan jangan berjalan terlalu cepat. Suara langkahmu membuat kepalaku bergetar," kata Lin Fan.

Zhao Er mengangguk dengan penuh pengabdian, berjalan berjinjit dengan teknik yang sudah sangat terlatih. Ia memberikan gulungan itu kepada Lin Fan. Lin Fan membukanya sedikit, hanya cukup untuk melihat daftar nama peserta dari Dapur Luar. Ada namanya di sana, di urutan paling bawah, bersanding dengan nama-nama pembawa air dan pembersih kandang kuda.

"Zhao Er, menurutmu... jika aku pingsan tepat saat namaku dipanggil, apakah mereka akan tetap memaksaku naik ke arena?" tanya Lin Fan serius.

Zhao Er tertegun. Matanya membelalak, memikirkan makna mendalam di balik pertanyaan itu. "Tuan Lin... apakah ini adalah teknik 'Meditasi Tidur Mendalam' yang baru? Sebuah taktik untuk menyerang mental lawan dengan menunjukkan bahwa Tuan sama sekali tidak menganggap mereka ada?"

Lin Fan memutar bola matanya. Bocah ini terlalu banyak membaca novel fantasi rendahan, pikirnya.

"Bukan. Aku hanya tidak ingin berdiri di bawah sinar matahari selama tiga jam hanya untuk menunggu giliranku," ralat Lin Fan. Ia kembali menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit tirai. "Turnamen ini adalah pemborosan energi kalori yang luar biasa. Coba pikirkan, jika aku menang, aku harus bertanding lagi di babak berikutnya. Itu berarti lebih banyak berdiri, lebih banyak mengayunkan tangan, dan lebih banyak orang yang akan datang menggangguku untuk meminta bimbingan."

Lin Fan menutup matanya, memijat pelipisnya. "Kemenangan adalah awal dari kerja bakti yang tiada akhir. Aku butuh kekalahan yang efisien. Kekalahan yang membuat orang berkata, 'Oh, dia hanya beruntung bisa memotong daging kemarin, sebenarnya dia tetaplah sampah yang lemah'. Dengan begitu, aku bisa kembali ke kasur ini dengan tenang."

Tepat saat Lin Fan sedang merencanakan skenario kekalahan indahnya, pintu dapur yang biasanya dijaga ketat oleh Wang Ta terdengar berderit pelan.

Keheningan dapur mendadak berubah menjadi ketegangan yang merambat. Bukan Diaken Hu yang datang, melainkan seorang pemuda berjubah putih bersih dengan sulaman awan perak di pinggirannya—seragam Murid Dalam. Wajahnya tampan namun memiliki tatapan yang angkuh, dengan hidung yang mancung seolah-olah ia selalu mencium bau busuk di sekitarnya.

Namanya adalah Zhou Ming, seorang jenius dari Sekte Luar yang baru saja dipromosikan ke Sekte Dalam. Ia juga merupakan pengagum rahasia Su Qingxue yang sudah lama menaruh dendam pada siapa pun yang berani mendekati sang dewi es.

Zhou Ming melangkah masuk, mengabaikan tanda "Dilarang Masuk" yang dipasang Wang Ta. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra saat melihat kondisi dapur yang menurutnya kumuh.

"Di mana pelayan bernama Lin Fan?" suara Zhou Ming tenang, namun mengandung tekanan Qi Tingkat 7 Pemurnian Tubuh yang membuat murid-murid pelayan di sekitarnya merasa dada mereka sesak.

Wang Ta, yang sedang mengaduk bubur, segera menjatuhkan sutilnya. Ia gemetar, namun sebagai kepala koki yang sudah "dicerahkan" oleh Lin Fan, ia mencoba memberanikan diri.

"Mu-murid Dalam Zhou... Tuan Lin sedang dalam... meditasi mendalam. Beliau tidak bisa diganggu," jawab Wang Ta dengan suara bergetar.

Zhou Ming tertawa dingin, matanya beralih ke tirai sutra di sudut ruangan. "Meditasi? Seorang pelayan dapur bermeditasi di atas kasur bulu? Jangan membuatku tertawa. Aku mendengar dari Diaken Hu bahwa ada 'ahli' di sini yang berani menghinanya dan memiliki hubungan dengan Saudari Su. Aku datang untuk melihat seberapa hebat 'ahli' ini sebelum turnamen dimulai."

Tanpa peringatan, Zhou Ming mengibaskan lengan bajunya. Sebuah gelombang Qi berbentuk cakram angin melesat, bertujuan untuk merobek tirai sutra yang melindungi Lin Fan.

Wush!

Tirai itu terbelah menjadi dua. Namun, alih-alih melihat seorang ahli yang sedang duduk bersila dengan aura agung, Zhou Ming justru melihat seorang pemuda yang sedang memeluk bantal dengan posisi meringkuk, menatapnya dengan pandangan yang sangat, sangat terganggu.

Lin Fan mendesah pelan. Ia tidak bergerak sedikit pun dari kasurnya. "Bisakah kau membayar tirai itu? Wang Ta menghabiskan gaji tiga bulannya untuk membeli kain itu."

Zhou Ming tertegun sejenak melihat reaksi Lin Fan yang sama sekali tidak takut. Ia menyipitkan matanya, mencoba merasakan kultivasi Lin Fan. Tingkat 4? Sampah seperti ini disebut ahli?

"Kau Lin Fan?" tanya Zhou Ming dengan nada menghina. "Aku tidak tahu trik apa yang kau gunakan untuk menipu Saudari Su hingga ia memberikan lencana pribadinya padamu. Tapi dengar ini, sampah. Di turnamen nanti, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa berjalan lagi, apalagi tidur di kasur ini. Serahkan lencana itu padaku sekarang, dan aku mungkin akan membiarkanmu menyerah tanpa luka permanen."

Lin Fan menatap Zhou Ming melalui 'Mata Persepsi Malas'. Di mata Lin Fan, Zhou Ming tampak seperti kembang api yang terlalu banyak diisi mesiu. Aliran energinya meledak-ledak di bagian lengan, tanda bahwa ia terlalu sering menggunakan teknik serangan jarak jauh tanpa memperkuat fondasi kakinya.

"Lencana itu ada di sana," Lin Fan menunjuk dengan malas ke arah meja jagal yang jauh dari jangkauannya. "Ambil saja sendiri kalau kau mau. Tapi berjalan ke sana membutuhkan sekitar tiga puluh langkah. Apakah kau tidak merasa lelah hanya dengan memikirkannya?"

Zhou Ming merasa darahnya mendidih. Ia merasa sedang diajak bicara oleh orang gila. "Kau meremehkanku?!"

"Tidak, aku meremehkan konsep kerja keras," gumam Lin Fan. Ia kembali menutup matanya. "Dan kau sangat bising. Suaramu memiliki frekuensi yang tajam, membuat kipas angin spiritualku bergetar tidak stabil. Tolong pergi. Aku sedang sibuk menghemat energi untuk turnamen."

"KAU MENCARI MATI!"

Zhou Ming tidak bisa lagi menahan amarahnya. Ia mengangkat tangannya, energi Qi terkumpul di telapak tangannya, membentuk bola cahaya yang berputar cepat. Ia berniat memberikan "pelajaran" kecil yang akan menghancurkan kasur Lin Fan.

Namun, sebelum serangan itu dilepaskan, Lin Fan menggerakkan satu jarinya—hanya satu jari telunjuk.

Ia menggunakan teknik 'Langkah Awan Menguap' yang sudah ia pelajari, namun alih-alih menggunakannya untuk melangkah, ia mengalirkan prinsip "mengikuti aliran angin" itu ke udara di depan hidungnya. Ditambah dengan 'Mata Persepsi Malas', ia menyentil sebuah titik udara yang merupakan simpul dari tekanan Qi yang dibawa Zhou Ming ke dalam ruangan.

Ting.

Sebuah dentingan kecil, seperti suara kuku yang mengenai kaca.

Tiba-tiba, bola cahaya di tangan Zhou Ming meredup dan hancur berkeping-keping menjadi bintik-bintik cahaya yang tidak berbahaya. Zhou Ming terhuyung mundur, matanya membelalak kaget. Ia merasa seolah-olah seluruh kekuatannya baru saja ditarik masuk ke dalam lubang hitam yang hampa.

"Apa... apa yang kau lakukan?!" Zhou Ming berteriak, napasnya mulai memburu.

Lin Fan bahkan tidak membuka matanya. "Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya membiarkan energimu kembali ke asalnya karena dia terlihat lelah mengikutimu. Sekarang, tolong... pintunya ada di belakangmu. Tutup dengan pelan saat kau keluar."

Wang Ta dan murid-murid lainnya berdiri terpaku. Mereka melihat seorang Murid Dalam Tingkat 7 dibuat mundur hanya dengan satu sentilan jari dari seorang pemuda yang bahkan tidak melepaskan pelukannya pada bantal.

Zhou Ming gemetar. Rasa takut yang tidak bisa dijelaskan mulai merayap di punggungnya. Ia melihat Lin Fan yang tidur dengan tenang, dan tiba-tiba teringat kata-kata Tetua tentang "Ahli yang menyatu dengan alam".

"Turnamen... kita lihat di turnamen!" Zhou Ming menggertakkan gigi, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang hancur. Ia berbalik dan lari keluar dapur dengan langkah seribu, bahkan lupa menutup pintu seperti yang diminta Lin Fan.

Keheningan kembali ke Dapur Luar.

Wang Ta segera berlari dan menutup pintu dengan sangat hati-hati. Ia kembali ke tirai Lin Fan yang kini robek. "Tuan Lin... tirainya... saya akan segera membelikan yang baru!"

"Tidak perlu," gumam Lin Fan, suaranya semakin menjauh menuju alam mimpi. "Robekan itu memberikan sirkulasi udara yang lebih baik. Zhao Er... tambahkan sedikit madu lagi ke buburku nanti sore. Berurusan dengan orang sombong membuat kadar gulaku turun."

"Siap, Tuan Lin!" Zhao Er menjawab dengan suara yang penuh semangat namun tetap berbisik.

Lin Fan membenamkan wajahnya ke bantal. Di dalam benaknya, sistem kembali berdenting.

[Ding! Misi Sampingan Selesai: Mengusir pengganggu tanpa beranjak dari kasur.]

[Menerima Pengalaman Kultivasi +600]

[Inisiasi Terobosan Otomatis: Selamat! Host telah mencapai Pemurnian Tubuh Tingkat 5!]

[Komentar Sistem: Host adalah satu-satunya manusia yang menjadi lebih kuat hanya dengan cara tersinggung saat tidurnya diganggu.]

Lin Fan hanya bisa merintih dalam hati. Semakin kuat ia menjadi, semakin sulit baginya untuk meyakinkan orang bahwa ia adalah seorang sampah yang pantas untuk kalah.

Sial, pikirnya sebelum benar-benar terlelap. Sepertinya aku harus belajar cara berpura-pura pingsan yang lebih meyakinkan.

Sementara itu, di Puncak Teratai Salju, Su Qingxue baru saja selesai bermeditasi setelah mengonsumsi sup Urat Naga Tanah. Tubuhnya kini memancarkan aura es yang jauh lebih murni, dan penyumbatan meridiannya telah hilang sepenuhnya.

Ia membuka matanya, menatap lencana giok di tangannya yang kosong (karena lencana aslinya ditinggalkan pada Lin Fan). Sebuah senyuman tipis, yang mampu meluluhkan es abadi, muncul di bibirnya.

"Lin Fan... tujuh hari lagi di turnamen," bisik Su Qingxue. "Aku ingin melihat bagaimana kau menunjukkan 'Dao Kekosongan'-mu di depan seluruh sekte. Jangan berani-berani bersembunyi di balik tumpukan kubis itu lagi."

Tanpa disadari Lin Fan, target pribadinya untuk "kalah dengan efisien" baru saja mendapatkan hambatan terbesar dalam bentuk harapan dari seorang dewi es yang sangat serius.

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!