NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB VI—YANG KALAH BERARTI KALAH

...****************...

Jalanan pagi itu benar-benar tak bersahabat. Arus kendaraan nyaris tak bergerak, klakson bersahut-sahutan, sementara mobil mereka hanya maju beberapa meter lalu berhenti lagi. Sepeda motor menyalip dari segala arah, bus dan truk memakan badan jalan, membuat kemacetan makin menggila. Waktu terus berjalan, dan keterlambatan mereka tak terelakkan. Empat puluh lima menit kemudian, barulah mereka tiba di sekolah. Tanpa sempat mengatur napas, mereka turun dari mobil dan bergegas masuk, namun langkah keduanya langsung terhenti oleh guru-guru piket yang sudah siap menunggu siswa terlambat.

Sialnya, keterlambatan mereka bertepatan dengan piket Pak Adi Wibowo, guru yang terkenal problematik di sekolah. Baskara mendecih pelan, sementara Chandra refleks memijat dahinya, sama-sama menyadari nasib buruk yang baru saja menimpa mereka.

“HEI…Jam berapa ini kalian berdua baru sampai di sekolah?” Tanya pak Adi dengan nada tinggi

“Waduh, saya nggak bawa jam, Pak. Jadi nggak tahu jam berapa,” celetuk Baskara sambil mengangkat pergelangan tangannya, seolah itu cukup jadi bukti.

“Kamu bantah saya?” bentak Pak Adi sambil melangkah mendekat.

“Hehe… enggak kok, Pak. Cuma jawab aja” kilah Baskara sambil mengangkat bahu ringan.

Pak Adi menggelengkan kepalanya berkali-kali karena sikap Baskara.

Surya ternyata belum pergi. Mobilnya masih terparkir di depan gerbang. Dari balik jendela yang terbuka, ia menertawakan kedua anaknya yang sedang kena apes pagi itu.

“HUKUM SAJA, PAK. ANAK-ANAK BANDEL ITU!” Teriak Surya keras dari dalam mobil, tangannya melambai santai seolah sedang menonton tontonan lucu.

Anehnya guru tersebut merespon Surya “IYA PAK SURYA…AMAN SAJA BAKAL TA HUKUM KOG TAPI JANGAN SALAHIN SAYA YA” Balas Pak Adi tak kalah keras dengan acungan dan lambaian tangan lalu menjempol ke arah Surya.

Terlihat di dalam mobil Surya tertawa terbahak-bahak lalu pulang kerumah.

Chandra dan Baskara melihat tingkah ayahnya seperti itu membuat mereka berdua mengerutkan dahi hingga membuat alis-alis mereka menyatu “AYAH ANJING SEPERTI APA ITU” Cibir tak terima mereka dalam hati.

“Ehem…ehem”

Mereka berdua memutar leher ke arah Pak Adi yang sekarang sedang bersikap siap menghukum mereka.

“Letakan tas kalian…Jangan salahkan Bapak ya kalau menghukum kalian tapi salahkan Ayah kalian saja okey” Dalihnya

Mereka berdua diam tak membantah dan menuruti perintah Pak adi untuk meletakan tas mereka.

“Hukumannya gampang kog hanya pertanyaan sepele” Ujar Pak Adi dengan senyum mencurigakan

Mereka berdua menelan ludah bersamaan, mereka tahu bahwa ucapan pak Adi tak dapat di percaya apalagi senyumannya yang penuh tipuan di dalamnya.

Kalian tahu gak berapa waktu yang di butuhkan jika seseorang memutari lapangan sekolah?”

“Tidak Pak” Jawab mereka bersamaan.

“Ooooh gatau ya, kalau yang ini pasti tahu. Butuh berapa langkah sih kalau seseorang memutari lapangan sekolah?”

“Tidak Pak”

“Loh masih gatau?”

Mereka ikut mengalir dengan pertanyaan-pertanyaan pak Adi dan menggelengkan kepala untuk menjawab.

“Yaudah ini yang terakhir kalau kalian bisa jawab kalian Bapak perbolehkan masuk kelas kelas kalian masing-masing”

Wajah mereka berdua terlihat lega lalu berganti serius untuk menjawab pertanyaan final.

“Begini, Kalian tahu gak seberapa capeknya jika sesorang mengitari lapangan sekolah sebanyak lima kali?” Tanya pak Adi dengan senyuman.

Wajah serius mereka mendadak hilang dan berganti dengan wajah datar.

Tak tinggal diam Baskara protes “Pertanyaan seperti apa itu weh, siapa yang bakal tahu kalau orang tersebut belum pernah memutarinya” Bantah Baskara

“Ya silahkan di coba agar kalian tahu” Jawab simpel Pak Adi sambil menunjuk kearah lapangan

Mereka berdua menghela nafas paham dengan maksud Pak Adi namun tetap tak terima.

“YA TUHANNN HUKUMAN APA INI” Ucap Baskara

“Bukan Tuhan yang memberikan kalian hukuman tapi saya atas perintah Ayah kalian, lihat ini” Ujar pak Adi sambil menujukan ponselnya yang berisi pesan ayahnya untuk menghukum anak-anak mereka.

“Lihat sendiri kan? Jadi jangan segampang itu menyalahkan Tuhan”. Sindirnya

Mereka berdua berbicara dalam hati kedua kalinya untuk mengumpat “DASAR AYAH ANJING.”

“Tolong segera di lakukan ya hukumannya sudah jam berapa ini, tapi jangan lupa butuh waktu berapa lama dan butuh berapa langkah kalian untuk memutari lapangan sebanyak lima kali itu” Peringat Pak Adi sambil menunjukkan jam pukul berapa dalam ponselnya.

Tanpa ragu mereka berdua berlari seakan sedang mengadu fisik di antara mereka. Mereka berlari sambil saling menyalahkan.

“Ini gara-gara kamu Chand” Ucap Baskara

“Gak, ini salah Mas. Karena Mas Baskara, aku gak bisa tidur, makanya aku kesiangan” Sangkal Chandra

“Hah…Kog aku? Selain Ayah yang salah ya kamu yang salah kog tiba-tiba ke aku”

“Gak, selain Ayah yang salah tetap Mas yang salah kamu akarnya yang membuat aku kesiangan.”

“Gak…gak…gak”

“Iya…iya…iya”

“Oke kalau begitu gini saja siapa yang lebih cepat selesai memutari lapangan ini sebanyak lima kali maka dia dinyatakan tak bersalah dan pecundang yang kalah maka dialah yang bersalah, setuju?” Tantang Baskara.

“Okey aku terima”

Mereka berdua mempercepat langkahnya masing-masing, saling salip menyalip untuk menjadi pemenang lebih tepatnya menjadi orang yang tak bersalah atas akar dari hukuman yang di terima.

Dari kejauhan Pak Adi tersenyum melihat mereka berdua berlari memutari lapangan, kali ini dalam senyumannya tak ada tanda licik sama sekali namun di dalamnya hanya senyum yang tulus dan hangat.

Tak butuh waktu lama mereka menghadap kembali di hadapan Pak Adi.

“Wih cepat sekali ya memang anak muda masih semangat-semangatnya hahahaha” kelakarnya dengan tawa terbahak-bahak

Chandra dan Baskara melaporkan butuh berapa lama, berapa langkah dan seberapa capeknya untuk memutari lapangan sebanyak lima kali.

“Loh…kalian beneran menghitung? Gilak padahal bapak cuma bercanda” Ungkap pak Adi.

Mereka berdua keheranan dan memandang satu sama lain memasang wajah datar sekaan muak dengan candaan tak lucu dari pak Adi.

“Jadi Pak tadi siapa di antara kami yang menang” Tanya Baskara.

“Kalian berlomba? Sek sebentar tak fikir dulu siapa pemenangnya”

“Ya pasti aku lah” Kata Baskara sambil menepuk dadanya.

“Gaklah tentunya aku yang menang lalu yang kalah dan salah itu kamu, Mas” Sangkal Chandra

“Bapak rasa kalian seri deh, jadi gak ada yang kalah dan salah”

Mereka berdua saling memandang lagi namun bedanya sekarang dengan lirikan sinis satu sama lain karena tak ada si pemenang atau si pecundang jadi tak dapat menentukan siapa yang salah.

“Oh…tak ada yang kalah tapi ada yang salah”

“SIAPA PAK?” Tanya antusias mereka bersamaan

“Tentu Ayah kalian hahahahaha”

Sungguh mereka tertimpa sial, mendapatkan guru piket seperti Pak Adi. Muka mereka berdua sudah sangat-sangat muak karena Pak Adi, Ayah mereka berdua dan satu yang paling penting ialah tak ada pemenang di dalam pertandingan mereka.

“Sudah lah Pak kita mau masuk saja kalau di perbolehkan” Tukas Baskara

“Hahaha muak ya, okey saya perbolehkan silahkan sekarang ambil tas kalian berdua dan masuk sana ke kelas tapi jangan lupa ya nanti ada event dadakan yaitu kemarahan atau hukuman dari guru yang mengajar di kelas kalian hahahaha” Sindir Pak Adi sambil tertawa seakan lupa wibawa seorang guru

Mereka berdua dengan keringat yang bercucuran segera mengambil tas masing-masing dengan saling berdesak-desakan karena mereka berdua masih tak terima hasilnya seri. Kemudian mereka berlari lagi menuju ke kelas masing-masing tanpa pamit ke Pak Adi namun dengan tawa yang mereka bawa untuk berlari menuju kelas.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!