Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Gedung itu menjulang tinggi di pusat kota. Logo VASILLO GROUP terpampang megah di bagian depan, huruf perak mengilap yang mencerminkan kekuasaan dan uang dalam jumlah tak terhitung.
Tasya berdiri beberapa detik di depan pintu utama, menggenggam map berisi berkas lamaran dan CV-nya.
Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Perusahaan ini bukan perusahaan biasa.
Vasillo cabang Indonesia dikenal sebagai salah satu korporasi terbesar dan paling berpengaruh. Bergerak di bidang kesehatan, teknologi, properti, dan investasi. Siapa pun yang berhasil masuk ke dalamnya, hidupnya hampir pasti berubah. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi misteri.
CEO mereka, Tuan Besar Roman Vasillo. Orang-orang hanya tahu bahwa pria tua itu lama menetap di Jerman. Ia jarang muncul di hadapan publik. Sesekali kembali ke Indonesia untuk memantau perusahaan, lalu menghilang lagi. Dan selama tujuh tahun terakhir, tidak ada kabar.
Tasya menarik napas panjang lalu melangkah masuk. Lobi gedung itu luas dan mewah. Marmer putih mengilap, lampu gantung kristal besar di tengah ruangan, dan petugas keamanan yang berdiri tegap di beberapa sudut.
Di sisi lain gedung, suasana berbeda terasa di lantai paling atas. Para direksi berdiri tegang di ruang rapat utama.
Hari ini bukan hari biasa, hari ini pewaris keluarga Vasillo datang ke Indonesia. Alex Roma Vasillo, Pria yang selama ini hanya menjadi bayangan kekuasaan di balik layar.
Kabar yang beredar di kalangan internal mengatakan bahwa kedatangannya bukan sekadar kunjungan. Tetapi, datang untuk mengambil alih.
Selama Roman Vasillo mempercayakan bisnis cabang Indonesia kepada tangan kanannya, banyak transaksi mencurigakan terjadi. Laporan keuangan yang tak sinkron. Aset yang menghilang. Kerja sama gelap dengan pihak tak dikenal. Dan Alex tidak pernah mentoleransi pengkhianatan.
Pintu lift eksekutif terbuka.
Langkah sepatu kulit mahal terdengar mantap memasuki lorong lantai direksi. Semua orang spontan berdiri.
Tasya duduk tenang di ruang tunggu HRD, meski jantungnya tak pernah benar-benar ikut tenang.
Beberapa kandidat lain sudah masuk dan keluar ruang interview. Wajah mereka rata-rata tegang saat masuk, dan lebih pucat saat keluar.
Namanya akhirnya dipanggil.
“Tasya Aditya?”
Ia berdiri cepat. “Ya.”
Namun, alih-alih diarahkan ke ruang interview biasa, staf HRD itu terlihat menerima panggilan singkat melalui headset kecilnya, wajahnya berubah serius.
“Nona Tasya, Anda tidak perlu interview tahap pertama,” ucapnya pelan. “Anda akan langsung bertemu dengan atasan kami.”
Tasya mengernyit. “Atasan … langsung?”
“Ya, perwakilan pimpinan pusat. Jika Anda lolos dari beliau, maka otomatis Anda lolos seluruh tahap.”
Jantung Tasya berdetak lebih keras. Itu berarti seleksi ini bukan seleksi biasa. Lift khusus karyawan eksekutif membawa Tasya naik ke lantai atas. Semakin tinggi lantainya, semakin sepi suasananya.
Pintu lift terbuka.
Di ujung lorong, seorang pria berdiri tegap mengenakan jas abu gelap. Tatapannya tajam namun terkontrol. Dia Mario, Asisten pribadi Alex Roman Vasillo.
“Nona Tasya?” tanyanya singkat.
“Ya, Tuan.”
Mario mengangguk tipis. “Ikuti saya.”
Ia masuk ke dalam ruang kerja luas dengan dinding kaca besar menghadap kota. Ruangan itu tidak terlalu penuh, tetapi jelas menunjukkan kekuasaan.
“Duduk.”
Tasya duduk dengan punggung tegak.
Mario membuka berkasnya, membaca dengan teliti. Tatapannya berhenti cukup lama pada bagian riwayat pendidikan.
“Lulusan IT Berlin?” tanyanya tanpa menatap.
“Ya.”
“Nilai Anda hampir sempurna.”
Tasya menahan napas. Mario mengangkat wajahnya, menatapnya lurus.
“Kenapa Anda kembali ke Indonesia dan memulai dari nol?”
Pertanyaan itu tajam, Tasya sudah mempersiapkan jawaban.
“Keadaan keluarga, Tuan. Dan saya ingin membangun karier di sini.”
Mario tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan bahasa tubuh Tasya.
“Baik,” ucapnya akhirnya. “Saya tidak peduli ijazah Anda dari mana. Saya peduli kemampuan, Anda.”
Ia memutar layar laptopnya menghadap Tasya.
“Sistem keamanan perusahaan kami pernah diretas tiga bulan lalu. Kami belum menemukan celah pastinya. Anda punya waktu sepuluh menit. Tolong analisa.”
Tasya terdiam sejenak, lalu matanya berubah. Jarinya mulai bergerak cepat di atas keyboard. Pola kode dibacanya seperti membaca buku cerita. Ia menelusuri jejak akses, pola anomali, lalu berhenti di satu titik.
“Di sini,” ucapnya pelan namun pasti. “Ada backdoor yang sengaja ditanam. Bukan hacker luar tetapi ini orang dalam.”
Mario menajamkan pandangan.
“Yakin?”
“Seratus persen.”
Ruangan itu hening.
Di balik dinding kaca ruang kerja itu, di ruangan lain yang lebih privat, seseorang berdiri memperhatikan melalui layar monitor CCTV internal.
Sementara di dalam ruangan, Mario menutup laptopnya perlahan.
“Jika Anda diterima,” katanya tenang, “Anda akan bekerja langsung di bawah pengawasan pimpinan pusat.”
"Terima kasih," kata Tasya, lalu berdiri.
"Pihak HRD akan menghubungi kamu lagi dalam waktu berapa jam kalau kamu lolos, lebih baik kamu tak pergi jauh dari perusahaan ini," kata Mario.
Tasya mengangguk lalu melenggang pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Siang itu.
Ruang kerja di lantai paling atas gedung Vasillo Group terasa sunyi.
Jendela kaca besar memperlihatkan pemandangan kota yang sibuk di bawah sana, namun di dalam ruangan itu suasananya justru dingin dan tegang.
Alex Roman Vasillo berdiri membelakangi ruangan, menatap keluar dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Jas hitam yang melekat di tubuhnya membuat sosoknya terlihat semakin tegas dan berwibawa.
Di belakangnya, Mario berdiri sambil memegang sebuah berkas.
“CV kandidat baru ini cukup menarik, Tuan,” ucap Mario sambil membuka halaman demi halaman.
Alex tidak langsung menoleh.
“Menarik?” tanyanya datar.
Mario mengangguk kecil.
“Namanya, Tasya Aditya. Lulusan IT Berlin. Nilainya hampir sempurna, bahkan bisa dibilang salah satu yang terbaik.”
Alex akhirnya menoleh sedikit, tatapannya dingin.
“Jika dia memang lulusan terbaik, kenapa dia melamar pekerjaan biasa di cabang Indonesia?” tanya Alex tajam.
Mario terdiam sejenak, pertanyaan itu memang masuk akal. Ia kembali melihat berkas itu.
“Menurut keterangannya, dia kembali ke Indonesia karena masalah keluarga.”
Alex berjalan perlahan menuju meja kerjanya. Tangannya mengambil berkas itu dari tangan Mario. Tatapan Alex menyapu setiap baris tulisan dengan teliti. Tidak ada satu detail pun yang luput dari pengamatannya. Lalu ia berhenti di bagian ijazah. Matanya menyipit.
“Ada yang aneh,” gumamnya.
Mario mengangkat alis.
“Aneh?”
Alex mengetuk ringan bagian kertas itu dengan jari telunjuknya.
“Format stempel universitas ini benar,” katanya.
“Tapi kode registrasi digitalnya tidak cocok dengan sistem Berlin yang terbaru.”
Mario langsung menegang.
“Palsu?”
Alex tidak menjawab langsung.
“Bisa saja.”
Ia meletakkan berkas itu kembali di meja.
“Orang yang memalsukan dokumen biasanya hanya memikirkan tampilan luar,” lanjut Alex. “Tapi mereka sering lupa detail kecil.”
Mario menatapnya.
“Namun, kemampuan teknisnya cukup luar biasa, Tuan. Saat saya uji sistem keamanan tadi, dia langsung menemukan celah backdoor yang bahkan tim IT kita belum sadari.”
Alex bersandar pada kursinya, tatapan matanya semakin dalam.
“Justru itu yang membuatnya semakin mencurigakan.”
Mario sedikit mengernyit.
“Kenapa?”
Alex tersenyum tipis, senyum yang tidak membawa kehangatan sama sekali.
“Perempuan dengan kemampuan seperti itu … tidak mungkin hidup sembarangan.”
Alex kembali mengambil berkas Tasya. Menatap nama itu beberapa detik lebih lama. Tasya Aditya, entah kenapa, nama itu terasa asing namun anehnya juga seperti pernah lewat di ingatannya.
“HRD,” ucap Alex singkat.
Mario langsung memahami maksudnya. Ia mengambil ponsel dan menelpon bagian HRD.
“Kirimi kandidat bernama Tasya Aditya ke lantai eksekutif sekarang,” perintahnya.
Dia menutup telepon.
“Sudah, Tuan.”
Alex berdiri perlahan, tatapannya dingin, penuh penilaian.
“Jika dia berbohong,” ucap Alex pelan, “aku ingin melihat langsung bagaimana dia melakukannya.”
Sementara itu di lantai bawah seorang staf HRD baru saja menghampiri Tasya.
“Nona Tasya, Anda diminta naik ke lantai eksekutif.”
Tasya terkejut.
“Sekarang?”
“Ya, Tuan Mario bilang CEO ingin bertemu Anda...”
Jantung Tasya berdegup keras.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal