Bayangkan di sebuah kehidupan indah Bumi, terdapat teror yang di rahasiakan pemerintah semua umat manusia. Teror Iblis, siluman, dan Kaiju.
Umat manusia yang memiliki kekuatan khusus disebut Exorcist mampu melawan 3 musuh besar umat manusia. Tapi umat manusia tidak bisa selamanya menang atau di bilang selalu kalah.
Kekuatan Iblis jauh lebih kuat dari pada Exorcist disebabkan kasta Level, sehingga umat manusia hanya bisa menutupi kekalahan dari teror mengerikan.
Akan tetapi itu tidak selamanya, karena Reyhan seorang siswa SMA biasa di Jakarta mendapatkan sebuah Sistem Pembunuh Iblis. Tugas Sistem itu memberi Reyhan sebuah misi dan kekuatan untuk mengalahkan Iblis-iblis lawan manusia.
Akan tetapi saat Reyhan melangkah lebih jauh sebagai Exorcist, Reyhan semakin tahu bahwa kekuatannya bukan apa-apa untuk Iblis atau Exorcist lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacarealitas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. 24 Jam Sebelum Dua Kaiju Penguasa Bertemu
Begitu Reyhan tiba di Mall Meishan yang sudah hancur parah, tapi beberapa masih stabil.
"Oke, Asuna bantu aku mencari baju yang cocok untuk Putri Petir" Reyhan tak mengerti soal fesyen wanita jadi dia menyerahkannya pada Asuna.
Asuna mengangguk. "Serahkan pada saya tuan"
Segera Putri Petir keluar dari tubuh Reyhan, Reyhan memalingkan wajahnya dan keduanya masuk ke dalam Mall.
Reyhan berjalan mondar-mandir dari tempatnya untuk menunggu. "Sistem, ketika aku menukar tembok Chengdu dan senjata rusak apa bisa yang lainnya?"
[Tergantung kualitas dan manfaat nya, host tidak bisa menukar sembarang barang terhadap sistem]
Reyhan mengerti, dia kira dia bisa menukar segala barang untuk jadi poin.
"Ngomong-ngomong sistem apa ada barang lainnya kecuali Ramuan? Senjata atau lainnya?"
[Sistem memiliki berbagai barang yang host butuhkan, karena sistem telah di update versi 0.2]
Reyhan tersenyum lega. "Aku berniat memberikan banyak ramuan untuk pertempuran di Mesir, karena pastinya akan ada banyak korban"
Setelah menunggu beberapa saat, keluarlah Asuna memakai baju yang berbeda juga.
Asuna memakai dress sederhana putih, dan sepatu boots hitam, Putri Petir meniru gaya Asuna juga, dia memakai dress hitam sederhana dan sepatu boots putih.
Reyhan tersentak karena mereka berdua terlihat cantik saat pakaian mereka berdua berubah.
Pipi Asuna agak memerah jambu tapi dia berusaha terlihat profesional. "Tuan saya sudah selesai mengganti pakaian Putri Petir"
Putri Petir memerhatikan bajunya dengan puas. "Lumayan, ini cocok untuk bergerak"
Reyhan mengangguk kemudian menatap konflik yang akan terjadi. "Kalau begitu saatnya kita pergi ke Mesir menyusul Kaiju Savage"
Putri Petir mengangguk siap. "Serahkan padaku, kekuatanku lebih banyak meningkat saat evolusi"
Ketiganya hendak melesat, tapi sebelum itu mereka mendengar pergerakan mesin dari arah sebelah mereka.
"Ini suara kendaraan" Alis Asuna berkerut. "Tuan, saya akan mengecek nya sebentar"
Reyhan mengangguk lalu Asuna segera beranjak dari tempatnya dan dari balik puing-puing bangunan berantakan. Asuna melihat jika ada barisan tentara DGA dan China bergerak menuju ke suatu tempat.
Apalagi dari jumlahnya Asuna memperkirakan ada lebih dari 1.000 orang, tank-tank juga bergerak membuka jalur.
"Mereka... Mereka akan kemana?" Gumam Asuna. "Tunggu, apa jangan-jangan akan ikut menyerang Kaiju Savage?" Asuna langsung kembali mengabari Reyhan.
Begitu Reyhan mendengar penjelasan Asuna, Reyhan memegang dagunya karena bingung.
"Tidak, itu tidak mungkin melawan Kaiju Savage" Putri Petir menggeleng. "Setahuku saat dua Kaiju bergerak maka gelombang Gate akan berantakan dan mudah terbuka. Mungkin konvoi yang kamu lihat adalah bagian dari perlawanan terhadap Gate"
Reyhan merasa itu juga masuk akal, jarak antara Savage dan pasukan sudah terlalu jauh.
"Kalau begitu kita harus berangkat sekarang" Reyhan melesat duluan di susul Asuna.
Putri Petir menatap tajam dari suatu tempat di balik-balik puing-puing kemudian melesat pergi.
....
250 Km menuju Baghdad, Kilvara bergerak bersama Stain Er'lord dan pasukannya.
Kilvara melihat ratusan Drone kamikaze terbang ke arahnya. "Trik rendahan ini lagi" Kilvara sudah menerima banyak serangan yang seperti ini.
Stain Er'lord tertawa sinis. "Benar sekali tuan, trik murahan seperti ini tidak layak untuk tuan hadapi"
Stain Er'lord melompat ke udara dan mengerahkan tenaganya untuk meledakan semua drone dengan gravitasi.
Stain Er'lord kembali ke bahu Kilvara. "Tuan, kita menhimpun banyak pasukan dari batu. Apa kita bisa mengalahkan Raja Savage?"
Kilvara mendengus, nafasnya yang dingin membuat bulu kuduk Stain Er'lord bergidik.
"Tenang saja Stain Er'lord, dia akan mengira aku baru lahir. Tapi dia tidak akan mengira kalau aku hanya duduk menunggu aku menetas" di susul tawanya yang keras.
Stain Er'lord masih agak ragu kalau mereka bisa menang dengan mengeroyok Savage.
Stain Er'lord bukan khawatir soal manusia yang akan menghalau mereka di tengah-tengah Pertempuran.
Tapi khawatir tentang manusia yang memegang pedang berisi roh Naga petir. Dan jiwa roh Putri Petir.
Kedua roh itu mampu menandingi dan membunuh Kaiju penguasa, karena itu Stain Er'lord jadi khawatir.
....
Kaiju Kilvara dan Savage akan bertemu dalam 24 jam...
....
Baghdad, Irak....
"Semua sistem pertahanan siap, tembok telah di aktifkan. Menunggu pemasukan ruang dari Jenderal Andika" ucap orang dari pusat kendali.
Grandmaster Andika, Grandmaster Cid Kazuma, Grandmaster Rei Shui, Fui Han, Legenda Freya, Legenda Alisa telah tiba di pangkalan militer darurat Baghdad.
Ke-enam orang andalan Lionil berkumpul di lapangan, mereka belum bergerak karena tidak mengerti rencana Lionil.
Begitu Lionil tiba, Lionil bersama Shu Yuan di belakangnya dan Francisco.
Lionil memandang ke-enam Exorcist yang sudah memakai zirah baru diberi DGA sebagai kemajuan teknologi.
"Saya senang kalian mau melawan dalam aksi ini" tersenyum. "Saya harap perlawanan kita akan menunjukan hasil yang sepadan untuk umat manusia ke depannya"
Alisa mengangguk mengerti. "Saya siap, saya tidak akan membiarkan umat manusia terancam lagi"
Freya merangkul Alisa dengan akdab, dia tersenyum mabuk seperti biasa. "Wah wah bagus dong, sepetinya kehilangan Raya membuatmu lebih kuat"
Raya adalah nama dari suami Alisa dan ayah dari Reyhan.
Mata Alisa terpejam sedih. "Ya, tapi itu juga membuatku bertekad balas dendam"
Andika memperhatikan mereka berdua lalu pandangan nya tertunduk sejenak kemudian memandang Lionil.
"Sebenarnya apa rencana Raja? Kenapa pemberitahuan tadi mengatakan aku harus memasukan pangkalan ke dalam ruang dan waktu?"
Wajah Lionil berubah tegas. "Untuk menyerang kedua Kaiju kita harus meminimalisir korban jiwa. Keduanya akan bertempur dengan brutal jelas kita akan kalah cepat"
Lionil berjalan ke depan Andika, menepuk bahunya. "Aku percaya padamu untuk membawa pangkalan ini ke ruang dan waktumu" matanya menyoroti keyakinan.
Andika tidak yakin rencana ini bagus untuknya. "Saya akan berusaha"
Rei Shui menyela. "Tunggu sebentar Raja, apa kita akan menyerang saat salah satu dari mereka tumbang?"
Lionil mengangguk, lalu menatapnya. "Ya Grandmaster Rei Shui, karena kita meminimalisir korban jiwa"
Fui Han mengangguk dan tersenyum licik. "Itu rencana yang bagus, tapi markas ini memiliki jangkauan luas. Apa Tuan Grandmaster Andika bisa?"
Roh ruang dan waktu muncul. "Tentu saja bisa" menatapnya serius. "Saya roh ruang dan ruang adalah keahlian saya"
Lionil tersenyum puas. "Kalau begitu rencananya... Di mulai!"
...
Wum... Wumm...
"Semua pasukan harap masuk ke dalam bangunan agar tidak tertekan oleh ruang"
"Sekali lagi semua personel segera masuk ke dalam bangunan agar tidak tertekan oleh ruang" peringatan dari pusat.
Segera 450.000 lebih personel masuk ke dalam bangunan, Roh ruang bersama Andika yang dia rasuki berdiri melayang di tengah-tengah pangkalan.
"Absolute Ultimate" Roh ruang menggerakan tangan Andika untuk terentang.
Munculah bola aneh yang memiliki sinar di tengah sebagai sumber energi. Dari bola itu tiba-tiba semuanya masuk ke dalam ruangan yang ada di sinar.
Tapi Andika tidak ikut masuk karena dia harus sebagai mata disini untuk menentukan kapan dia mengeluarkan Pangkalan.
Andika langsung pergi menjauh untuk mengamati bukan ikut bertempur.
....