NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34: Cahaya di Ujung Belati

Rumah sakit di sepertiga malam terakhir selalu memiliki aura yang berbeda. Sunyi yang merayap bukan sekadar absennya suara, melainkan kehadiran bisikan-bisikan tak kasatmata tentang hidup dan mati. Di kamar 402, aroma antiseptik yang tajam beradu dengan aroma wangi minyak kasturi yang samar dari sajadah Shafira.

Dave duduk di kursi kayu di samping ranjang Pak Rahman. Di pangkuannya bukan lagi tablet berisi grafik bursa saham, melainkan sebuah buku saku Iqra yang ujung-ujungnya sudah mulai melengkung. Matanya fokus, bibirnya bergerak-gerak kecil mengeja huruf demi huruf.

"Alif... Ba... Ta..." Dave berbisik, keningnya berkerut seolah sedang memecahkan algoritma paling rumit di dunia.

"Shafira, apakah tekanan pada huruf 'Kha' ini harus sedalam saat aku menahan amarah?"

Shafira yang sedang merapikan botol infus ayahnya, menoleh. Ia tersenyum—senyum yang tidak lagi terbebani oleh surat beracun Bu Sarah.

"Tidak, Pak Dave. 'Kha' itu harus bersih, seperti cara Bapak membakar wasiat itu semalam. Lepaskan beban di tenggorokan, biarkan suaranya mengalir jujur."

Dave tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat manusiawi. "Jujur itu ternyata melelahkan ya? Lebih mudah memanipulasi laporan keuangan daripada memposisikan lidah dengan benar untuk menyebut nama Sang Pencipta."

"Tapi hasilnya jauh lebih abadi," sahut Shafira lembut. Ia mendekat, berdiri di sisi Dave, memberikan bimbingan pada huruf berikutnya.

Di balik pintu, pemandangan itu tampak seperti potret kedamaian yang mustahil. Namun, bagi mata-mata yang berseragam perawat di luar sana, kedamaian itu adalah kegagalan yang harus segera diakhiri.

Baginya, Shafira bukan sekadar wanita, ia adalah penghalang bagi aliran dana tak terbatas dari Singapura. Jika Shafira hilang, Dave akan hancur, dan pria yang hancur akan lebih mudah ditarik kembali ke dalam kendali korporasi.

Pukul 03:15 pagi. Koridor rumah sakit lengang. Suara roda troli medis terdengar berdecit pelan, memecah kesunyian. Perawat gadungan itu, sebut saja dia 'X' mendorong troli berisi nampan obat menuju Kamar 402. Di dalam sakunya, terdapat sebuah ampul tanpa label berisi cairan bening yang bisa menghentikan detak jantung secara instan tanpa meninggalkan jejak dalam otopsi rutin.

Targetnya jelas, Shafira. Namun, instruksinya berkembang siapa pun yang menghalangi harus disingkirkan.

X masuk ke kamar dengan kepala menunduk. Masker menutupi sebagian besar wajahnya.

"Waktunya pemeriksaan cairan infus dan pemberian antibiotik untuk Pak Rahman," suaranya datar, sengaja dibuat serak.

Dave berdiri, memberikan ruang. Shafira bergeser ke ujung ranjang. Ada sesuatu yang mengusik insting Shafira. Ia memperhatikan pergerakan tangan sang perawat.

Tangannya terlalu kasar untuk seseorang yang terbiasa memegang jarum suntik, dan gerakannya tidak memiliki ritme lembut khas perawat senior yang biasa menangani ayahnya.

"Suster, bukankah antibiotik Bapak biasanya diberikan pukul enam pagi?" tanya Shafira pelan, matanya menyipit.

X berhenti sejenak. "Instruksi dokter jaga ada perubahan karena kondisi Bapak yang membaik. Kami harus mempercepat dosisnya."

X mulai menyiapkan spuit. Dave, yang mulai peka terhadap perubahan atmosfer, memperhatikan tangan perawat itu yang sedikit bergetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang memuncak.

Saat X hendak menyuntikkan cairan bening itu ke dalam selang infus Pak Rahman, Shafira menangkap pergelangan tangan pria itu.

"Tunggu. Saya tidak melihat label pada ampul ini. Di mana catatan medisnya?" suara Shafira tegas.

"Lepaskan, Nona. Ini demi keselamatan ayahmu," desis X.

Dave segera melangkah maju, firasat buruknya meledak. "Siapa kau sebenarnya? Aku tidak pernah melihatmu di shift malam minggu ini."

X menyadari penyamarannya terbongkar. Dengan gerakan secepat kilat, ia memutar tangan Shafira dan menariknya ke depan dada, menjadikan Shafira sebagai perisai. Sebuah belati kecil yang tadinya tersembunyi di balik lengan baju kini menempel di leher Shafira yang terbungkus jilbab.

"Mundur, Dave Mahesa! Atau wanita ini akan menyusul wasiatmu menjadi abu!" teriak X.

Dave membeku. Darahnya terasa berhenti mengalir. Dunia yang baru saja ia bangun dengan susah payah kini terancam runtuh dalam hitungan detik.

Ia menatap Shafira. Gadis itu pucat, namun matanya tidak menunjukkan ketakutan yang melumpuhkan.

Di matanya, Dave melihat sebuah ketenangan yang magis ketenangan orang yang sudah menyerahkan nyawanya pada Sang Pemilik Hidup.

"Jangan lakukan ini," suara Dave gemetar, namun nadanya memohon.

"Kau ingin uang? Aku akan memberimu sepuluh kali lipat dari apa yang dibayarkan ibuku padamu. Ambil semua sahamku, ambil hartaku, tapi lepaskan dia."

X tertawa sinis. "Ibumu tidak hanya membayar dengan uang, Dave. Dia membayar dengan ancaman. Jika aku gagal, keluargaku yang akan hilang. Jadi, pilihannya hanya satu, Shafira harus pergi."

Shafira mengatur napasnya. Ia bisa merasakan dinginnya logam belati itu menyentuh kulit lehernya. Ia berbisik pelan, hampir tak terdengar,

"Pak Dave... jangan menawar nyawa saya dengan harta. Saya tidak berharga di depan uang Bapak. Saya hanya berharga di mata Allah."

Lalu, Shafira menatap tepat ke mata X melalui pantulan cermin di dinding.

"Anda bisa membunuh saya, tapi Anda tidak bisa membunuh kebenaran yang sudah tumbuh di hati pria ini. Jika saya mati hari ini, Dave Mahesa akan menjadi pria yang paling tidak mungkin bisa Anda kontrol selamanya. Dia akan menghancurkan kalian semua dengan sisa hidupnya."

Kata-kata Shafira seperti godam yang menghantam mental X. Di saat kritis itu, Pak Rahman yang tadinya tak berdaya, tiba-tiba menggerakkan tangannya. Dengan sisa tenaga yang entah datang dari mana, Pak Rahman menarik kabel monitor jantung di sampingnya hingga jatuh berdentang keras ke lantai.

PRANG!

Suara itu mengejutkan X. Fokusnya teralih selama setengah detik ke arah ranjang. Kesempatan sempit itu digunakan Dave untuk menerjang. Dave tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Ia menerjang X dengan seluruh beban tubuhnya, menjauhkan belati itu dari leher Shafira.

Pergumulan terjadi di lantai kamar rumah sakit yang sempit. Dave, yang jarang terlibat perkelahian fisik, bertarung dengan insting seorang pria yang sedang melindungi jiwanya. Belati X sempat menggores lengan Dave, merobek kemeja putihnya hingga darah merah segar merembes keluar.

"Pak Dave!" teriak Shafira.

Ia segera menekan tombol darurat di dinding berkali-kali.

Dave berhasil mencengkeram tangan X dan menghantamkannya ke pinggiran meja besi hingga belati itu terlepas.

Tak lama kemudian, dua petugas keamanan rumah sakit dan perawat asli menyerbu masuk ke dalam kamar. X akhirnya berhasil diringkus dan diseret keluar, namun suasana di kamar itu masih penuh dengan aroma maut.

Shafira berlari ke arah Dave yang terduduk di lantai, memegangi lengannya yang terluka. Ia tidak peduli lagi dengan batasan-batasan fisik untuk sejenak. Ia mengambil kerudung cadangannya di dalam tas dan melilitkannya kuat-kuat pada luka Dave untuk menghentikan pendarahan.

"Bapak gila... Kenapa Bapak menyerang pria bersenjata itu tanpa pikir panjang?" isak Shafira.

Air matanya pecah, bukan karena takut akan nyawanya sendiri, tapi karena melihat Dave terluka demi dirinya.

Dave menatap Shafira, wajahnya pucat namun ia tersenyum lemah. Matanya beralih ke buku Iqra yang jatuh di lantai, kini ternoda oleh beberapa tetes darahnya.

"Aku baru saja belajar huruf 'Ra' tadi, Shafira," bisik Dave parau. "'Ra' itu untuk Rahmah. Kasih sayang. Aku baru mengerti artinya hari ini. Kasih sayang itu bukan tentang memiliki, tapi tentang kesediaan untuk berdarah agar yang dicintai tetap bisa bernapas."

Shafira terdiam. Ia melihat darah Dave yang membasahi kain jilbabnya, dan ia melihat ketulusan yang melampaui segala logika korporat.

Surat Bu Sarah yang menyebut Dave "menggunakan" Shafira kini terasa seperti sampah peradaban yang paling hina. Tidak ada orang yang bersedia mati demi sebuah 'tiket warisan' dengan cara seperti ini.

Tiba-tiba, suara Pak Rahman terdengar lemah namun jelas. "Nduk... Shafira..."

Mereka berdua menoleh ke ranjang. Pak Rahman membuka matanya dengan sempurna. Ia melihat ke arah Dave, lalu ke arah putrinya. Tangan pria tua itu bergerak perlahan, meraih tangan Dave yang tidak terluka.

"Terima kasih... Tuan Muda," ujar Pak Rahman terbata.

"Terima kasih sudah menjaga bunga saya."

Dave menggeleng pelan, air matanya jatuh air mata syukur yang paling murni.

"Bukan saya yang menjaganya, Pak Rahman. Dia yang menjaga nyawa saya dari kegelapan."

Di sebuah mansion mewah di Singapura, Bu Sarah duduk di kursi rodanya, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman hitam dari kamera tersembunyi di kamar 402 yang tiba-tiba mati. Ia melepaskan tabletnya ke lantai hingga retak.

Wajahnya yang pucat karena sakit kini berubah menjadi topeng kebencian yang dalam. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya kehilangan warisan Mahesa Group, tapi ia telah kehilangan putranya sepenuhnya.

Dave bukan lagi pion di papan caturnya. Dave telah menjadi raja di kerajaannya sendiri kerajaan yang dibangun di atas cinta dan sujud.

"Cinta adalah kelemahan, Dave," gumam Bu Sarah dengan suara parau yang dipenuhi racun.

"Dan kau memilih untuk menjadi lemah demi seorang anak tukang kebun."

Namun, di Jakarta, di kamar rumah sakit yang sederhana itu, Dave merasa dirinya tidak pernah sekuat ini. Ia menyadari bahwa kekuasaan yang sesungguhnya bukan terletak pada berapa banyak gedung yang ia miliki di Orchard Road, melainkan pada kemampuan untuk berdiri tegak di hadapan badai demi menjaga satu hati yang murni.

Pagi mulai menyingsing. Cahaya matahari pertama menembus jendela kamar 402, menyinari debu-debu yang menari di udara. Dave sudah mendapatkan perawatan pada lengannya. Ia duduk di sofa kecil, sementara Shafira duduk di kursi samping ayahnya.

"Pak Dave," panggil Shafira pelan.

Dave menoleh. "Ya?"

"Wasiat itu... apakah Bapak benar-benar tidak menyesal kehilangannya? Singapura adalah tempat impian semua pengusaha."

Dave menatap Shafira, lalu beralih ke arah matahari terbit. "Singapura itu hanya setitik debu di bumi, Shafira. Semalam, saat belati itu di lehermu, aku menyadari satu hal. Jika kau pergi, seluruh dunia ini Singapura, Jakarta, London akan menjadi penjara bagiku.

Aku tidak butuh takhta untuk menjadi pria sukses. Aku hanya butuh ridha dari Allah, petunjuk dari buku kecil ini," ia mengangkat Iqra-nya yang ternoda darah, "dan kehadiranmu untuk mengingatkanku cara untuk pulang."

Shafira menundukkan kepalanya, menyembunyikan rona merah di pipinya sekaligus rasa haru yang meluap.

"Kita akan mulai lagi dari awal, Pak Dave. Bukan sebagai CEO dan sekretaris, tapi sebagai dua manusia yang sama-sama belajar mengeja arti hidup."

Dave tersenyum. "Setuju. Tapi ada satu syarat."

"Apa itu?"

"Jangan panggil aku 'Pak Dave' lagi. Panggil saja Dave. Karena di depan Allah, kita tidak punya jabatan."

Shafira tersenyum lebar, senyum yang paling cantik yang pernah dilihat Dave seumur hidupnya.

"Baik, Dave. Mari kita selesaikan huruf 'Ra' tadi."

Di koridor rumah sakit, polisi mulai melakukan penyidikan. Bu Sarah mungkin masih memiliki sisa-sisa rencananya, namun di dalam kamar itu, intrik telah kalah oleh doa.

Cahaya yang masuk bukan lagi sekadar matahari, melainkan harapan akan masa depan di mana cinta tidak lagi diukur dengan saham, melainkan dengan sujud yang selaras.

Pertempuran fisik malam itu berakhir dengan luka, namun pertempuran batin berakhir dengan kemenangan mutlak bagi iman mereka. Dan di atas meja samping ranjang, botol berisi abu wasiat itu tetap di sana sebuah monumen tentang kehancuran dunia lama dan kelahiran seorang pria yang telah menemukan takhta sejatinya di balik jilbab seorang wanita yang ia cintai karena Allah.

1
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!