desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29: Hidup Baru Lita
Kampung di lereng Gunung Sindoro itu tak pernah berubah. Udara tetap sejuk, sawah tetap hijau, dan kehidupan tetap berjalan lambat. Tapi bagi Lita, semuanya terasa berbeda setelah perjalanan ke Jakarta.
Pulang dari stasiun, ia duduk di teras warung. Memandangi sawah di seberang jalan. Padi sudah mulai dipanen. Petani sibuk di sana sini. Hidup terus berputar.
"Lit, makan dulu," panggil ibunya dari dalam.
Lita bangkit. Masuk ke rumah. Ibu sudah menyiapkan nasi pecel kesukaannya.
"Makasih, Bu."
Mereka makan bersama. Sunyi, tapi nyaman.
"Bu, aku mau buka warung lebih besar."
Ibunya mengangkat alis. "Lebih besar gimana?"
"Tambah menu. Mie ayam, bakso, es campur. Biar ramai."
Ibu tersenyum. "Kamu serius?"
"Serius, Bu. Aku mau bikin sesuatu. Mau bangun hidup baru. Beneran."
Ibu mengangguk bangga. "Ibu dukung, Nak. Apa pun yang kamu mau."
---
Sejak itu, Lita sibuk. Ia belajar masak mie ayam dari YouTube. Bereksperimen dengan resep bakso. Membuat es campur dengan berbagai topping. Warung kecilnya berubah nama jadi "Warung Lita" dengan papan baru yang dicat warna-warni.
Hari pertama buka dengan menu baru, beberapa warga datang penasaran. Lita melayani dengan senyum. Seminggu kemudian, warungnya mulai ramai. Dua minggu kemudian, ia harus merekrut satu karyawan untuk membantu.
Malam harinya, setelah warung tutup, Lita duduk menghitung pendapatan. Matanya berbinar.
"Bu, kita untung!"
Ibunya mendekat. "Berapa?"
Lita menunjukkan angka. Ibunya terperanjat.
"Banyak sekali, Nak!"
Lita tersenyum. "Ini baru awal, Bu. Nanti kita buka cabang."
Ibunya tertawa. "Jangan keburu nafsu. Nikmati dulu."
Lita mengangguk. Tapi di hatinya, api semangat menyala.
---
Dua bulan kemudian, Warung Lita sudah jadi tempat nongkrong favorit anak muda kampung. Menu mienya enak, harganya murah, dan pelayanannya ramah. Lita dikenal sebagai pemilik warung yang baik hati. Suka memberi tambahan porsi buat yang kurang mampu. Suka tersenyum pada semua orang.
Tak ada yang tahu masa lalunya. Tak ada yang peduli. Yang mereka lihat adalah Lita sekarang.
Suatu sore, seorang pemuda datang. Usianya sekitar 30 tahun, tinggi, berkacamata, dengan senyum ramah. Ia memesan mie ayam dan es teh.
Lita melayani seperti biasa. "Tunggu sebentar ya."
Pemuda itu mengangguk. Matanya mengikuti Lita mondar-mandir.
Saat Lita mengantar pesanan, pemuda itu berkata, "Warungnya enak. Saya suka."
Lita tersenyum. "Makasih. Baru pertama kali ke sini?"
"Iya. Saya baru pindah tugas ke sini. Guru di SD seberang sana."
"O, Pak Guru. Selamat datang."
"Nama saya Pras. Prasetyo. Boleh kenalan?"
Lita agak canggung. "Lita. Pemilik warung."
Pras tersenyum. "Senang kenal, Lita. Mienya enak. Besok saya balik lagi."
Sejak itu, Pras jadi pelanggan tetap. Setiap pulang mengajar, ia mampir ke Warung Lita. Pesan mie ayam, es teh, lalu ngobrol sebentar. Lama-lama, obrolannya makin panjang.
"Lita, kok betah di kampung?" tanya Pras suatu hari.
Lita menghela nafas. "Kampung ini tempatku pulang. Tempatku mulai lagi."
Pras mengangguk. "Aku juga. Dulu di kota, tapi stres. Pindah ke sini, hidup lebih tenang."
"Gak ketinggalan kehidupan kota?"
"Gak. Di kota, orang sibuk sendiri. Di sini, orang masih peduli sama tetangga."
Lita tersenyum. "Iya. Aku suka itu."
Mereka diam sejenak. Menikmati sore.
"Lita, aku boleh traktir kamu makan?" tiba-tiba Pras bertanya.
Lita terkejut. "Maksud?"
"Ya... makan bareng. Di luar sini. Nggak di warung. Seperti... kencan?"
Lita bingung. Sudah lama tak ada yang mengajaknya kencan. Apalagi setelah semua yang terjadi.
"Aku... aku..."
"Gak usah jawab sekarang. Pikir dulu. Kalau mau, kabari aku."
Pras pergi. Lita termenung.
---
Malam harinya, Lita cerita pada ibunya.
"Bu, ada yang ngajak aku kencan."
Ibunya tersenyum. "Pras, ya? Guru itu?"
Lita mengangguk. "Ibu tahu?"
"Ibu lihat dia sering lihatin kamu. Orangnya baik, Lit. Sederhana."
"Aku takut, Bu. Takut dia tahu masa laluku."
Ibunya memegang tangannya. "Lit, setiap orang punya masa lalu. Yang penting sekarang kamu baik. Kalau dia memang baik, dia akan terima kamu apa adanya."
Lita diam. Pikirannya kacau.
Ponselnya bergetar. Aira.
"Lita, apa kabar? Kok lama tak kirim pesan?"
Lita membalas:
"Baik, Aira. Sibuk sama warung. Ada yang mau aku ceritakan."
"Cerita apa?"
Lita menceritakan tentang Pras. Tentang ajakan kencan. Tentang ketakutannya.
Aira membalas:
"Lita, ini kesempatan. Jangan takut. Tapi kau harus jujur padanya. Cepat atau lambat, dia akan tahu. Lebih baik dari mulutmu sendiri."
"Aku takut dia pergi."
"Kalau dia pergi karena masa lalumu, berarti dia bukan yang terbaik buatmu. Tapi kalau dia terima, dia pria sejati."
Lita membaca pesan itu berulang. Air matanya jatuh.
"Makasih, Aira. Kau selalu punya kata-kata bijak."
"Aku cuma kasih saran. Keputusan di tanganmu. Aku dukung apa pun pilihanmu."
Lita tersenyum. Menyimpan ponsel.
---
Keesokan harinya, saat Pras datang, Lita sudah siap.
"Pras, aku mau jawab pertanyaanmu."
Pras menatapnya. "Silakan."
"Aku mau. Tapi sebelum itu, aku harus cerita sesuatu. Tentang masa laluku."
Pras diam. Lita bercerita. Semuanya. Tentang Andre, tentang kejahatannya, tentang penjara, tentang pertobatannya. Air matanya jatuh saat bercerita.
"Aku tahu ini berat. Kau boleh pergi kalau gak mau sama aku. Aku terima."
Pras diam lama. Lalu ia meraih tangan Lita.
"Lita, aku sudah tahu."
Lita terkejut. "Apa?"
"Sebelum aku dekati kamu, aku tanya-tanya. Aku tahu masa lalumu. Tapi aku juga tahu sekarang kamu berubah. Warung ini buktinya. Senyummu buktinya. Kebaikanmu buktinya."
Lita menangis.
"Masa lalu adalah masa lalu. Yang penting sekarang. Dan sekarang, aku lihat wanita baik di depanku."
Lita terisak. "Pras..."
"Jadi, jawabanmu?"
Lita tersenyum di tengah tangis. "Aku mau."
Mereka berpelukan. Di warung kecil itu, di sore yang cerah.
---
Dua bulan kemudian, Lita dan Pras menikah. Sederhana. Di halaman rumah Lita. Dengan dihadiri warga kampung, beberapa guru, dan tamu istimewa dari Jakarta: Aira, Raka, Arka, Pelangi, dan Ibu Rosmini.
Arka jadi pengiring cincin. Ia berjalan dengan gaya kocak, membuat semua tertawa. Pelangi digendong Aira, matanya berbinar melihat dekorasi bunga.
Aira memeluk Lita setelah akad.
"Selamat, Lita. Kau pantas bahagia."
Lita menangis. "Makasih, Aira. Kau saudara terbaik."
Raka menyalami Pras. "Jaga Lita baik-baik. Dia sudah berubah jadi orang baik."
Pras mengangguk. "Saya akan, Pak. Saya janji."
Malam itu, pesta sederhana berlangsung. Lagu-lagu kampung diputar. Makanan enak disajikan. Semua tertawa bahagia.
Lita menari dengan Pras. Di matanya, ada air mata bahagia.
"Akhirnya aku punya keluarga," bisiknya.
Pras mengecup keningnya. "Iya, Sayang. Keluarga kita."
---
Keesokan harinya, keluarga Aira pamit pulang. Di stasiun, Lita memeluk Aira erat.
"Jaga diri, Aira. Kabari terus."
"Iya. Kamu juga. Bahagia ya."
Arka melambai. "Mama Lita, jangan lupa dateng ke Jakarta lagi!"
Lita tertawa. "Janji, Nak!"
Pelangi meniup cium. "Ta... ta..."
Kereta masuk. Mereka naik. Lita melambai sampai kereta hilang dari pandangan.
Pras memeluknya. "Pulang, yuk?"
Lita mengangguk. Tersenyum.
Hidupnya, setelah sekian lama dalam kegelapan, akhirnya menemukan cahaya.
Dan cahaya itu, bersinar terang.
---
ayooo sebelum dia tmbah nyaman dgn ulat bulu itu