NovelToon NovelToon
Terikat Tanpa Pilihan

Terikat Tanpa Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: ludiantie

Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.

Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.

Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.

Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan gerbang tinggi berlapis besi tempa. Pagar itu terbuka perlahan, seolah menyambut tuannya kembali.

Tessa menahan napas.

Rumah itu bukan sekadar besar. Itu seperti dunia lain.

Bangunan tiga lantai berdiri angkuh dengan dinding marmer krem dan jendela-jendela tinggi berbingkai hitam.

Lampu taman menyala lembut di sepanjang jalan setapak, memantulkan cahaya ke kolam kecil dengan air mancur yang berkilau. Semuanya terlihat rapi. Terlalu rapi.

Mobil berhenti di bawah kanopi luas. Pintu mobil segera dibukakan.

“Selamat datang kembali, Tuan Nick.”

Dua orang pelayan berdiri membungkuk sopan. Seorang wanita paruh baya dengan seragam hitam-putih yang sempurna tersenyum tipis pada Tessa.

“Selamat malam, Nona.”

Tessa hanya menunduk ramah,

Langkah Tessa terasa kaku saat ia turun dari mobil.

Lantai marmer di teras begitu bersih hingga hampir memantulkan bayangannya sendiri. Di dalam, ruang utama menjulang tinggi dengan lampu kristal besar menggantung di tengah langit-langit. Sofa kulit putih tersusun simetris. Lukisan-lukisan mahal terpajang di dinding. Aroma ruangan harum dan tenang.

Semua terasa dingin. Megah. Tak tersentuh.

Berbanding terbalik dengan rumah yang ia tinggali sebelumnya.

Di sini… bahkan udara terasa mahal.

Tessa meremas ujung gaunnya pelan.

Ia bukan takut pada kemewahan itu.

Ia hanya sadar dunia ini bukan dunianya.

Nick berdiri di sampingnya, wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah semua ini hal biasa. Bagi pria itu, memang demikian.

“Tessa.”

Suaranya rendah.

“Kamu akan tinggal di sini mulai sekarang.”

Bukan pertanyaan. Bukan juga penjelasan.

Sebuah fakta.

Dan untuk pertama kalinya, Tessa benar-benar merasakan arti dari kata terikat.

Nick berbalik menoleh ke belakang pada kepala pelayannya.

"Dia Istri saya, dan saya mau kalian menghormati dia sama seperti kalian menghormati saya," jelas nick

"Baik, Tuan,"

"Selamat datang, Nyonya, dan selamat atas pernikahannya, Tuan," para pelayan mengikuti kepala pelayan membungkuk hormat pada nyonya barunya.

Tessa tersenyum kikuk,

"Biasakan dirimu," Nick menimpali,

"Ayo, ikuti aku,"

Nick berjalan lebih dulu, tenang, seolah lorong panjang dengan lampu-lampu dinding berdesain emas itu adalah bagian alami dari hidupnya. Tessa mengikuti beberapa langkah di belakang, berusaha menyamakan ritme napasnya.

Tangga utama membentang luas, dengan pegangan kayu gelap yang dipoles sempurna. Karpet tebal berwarna abu-abu tua membungkam suara sepatu mereka. Di dinding, lukisan-lukisan mahal berjejer rapi, diterangi cahaya temaram yang membuat suasana terasa elegan sekaligus sunyi.

Setiap langkah terasa seperti memasuki wilayah yang bukan miliknya.

Di lantai atas, Nick berhenti di depan sebuah pintu besar berwarna cokelat gelap dengan ukiran halus. Ia membuka pintu itu tanpa ragu.

Kamar utama itu luas, lebih luas dari seluruh rumah yang pernah Tessa tinggali.

Langit-langitnya tinggi dengan lampu gantung kristal yang lebih kecil namun tak kalah berkilau dari yang ada di ruang utama. Dindingnya dilapisi panel kayu elegan berpadu dengan aksen marmer lembut.

Tempat tidur king-size berdiri megah di tengah ruangan, dengan headboard tinggi berlapis kulit krem. Seprai putih bersih terlipat sempurna, bantal-bantal tersusun rapi tanpa satu pun kusut.

Di sisi kanan, jendela kaca besar membentang dari lantai hingga hampir menyentuh langit-langit, memperlihatkan pemandangan lampu kota di kejauhan.

Tirai tipis bergerak perlahan tertiup pendingin ruangan yang sunyi.

Sofa panjang berwarna abu-abu gelap terletak di dekat jendela, dilengkapi meja kecil dengan vas bunga segar.

Di sisi lain, pintu kaca buram mengarah ke kamar mandi dalam terlihat sekilas bathtub putih besar dan cermin lebar berbingkai hitam.

Semua tertata sempurna. Bersih. Mahal. Tak bercela.

Tessa berdiri di ambang pintu, merasa kecil.

Kamar itu tidak hanya menunjukkan kekayaan tapi juga jarak.

Jarak antara kehidupannya dulu… dan kehidupan yang kini mengikatnya.

Nick melangkah masuk dan meletakkan jasnya di kursi tanpa berkata apa pun. Gerakannya santai, seperti seseorang yang tidak pernah mempertanyakan tempatnya di dunia.

“Kamar ini cukup untukmu?” tanyanya akhirnya, suara rendahnya memecah keheningan.

Bukan pertanyaan yang benar-benar membutuhkan jawaban.

Lebih seperti pengingat bahwa mulai malam ini, ruang ini adalah kenyataan.

Tessa menelan pelan.

Cukup?

Ruangan sebesar ini bahkan terlalu besar untuk sekadar disebut cukup.

Nick melangkah lebih jauh ke dalam kamar, lalu berhenti di depan sebuah pintu geser berwarna senada dengan dinding. Ia mendorongnya perlahan.

Ruangan di baliknya bukan sekadar lemari.

Itu sebuah wardrobe khusus.

Lampu-lampu tersembunyi menyala otomatis, memperlihatkan deretan pakaian yang tertata sempurna.

Kemeja-kemeja putih, hitam, dan biru gelap digantung rapi, tersusun berdasarkan warna. Jas-jas mahal berbaris tanpa satu pun lipatan yang salah.

Di rak bagian bawah, sepatu-sepatu kulit mengilap berjajar seperti pajangan butik oxford hitam klasik, loafers cokelat tua, hingga sepatu formal dengan kilap yang memantulkan cahaya.

Di sisi kiri, sebuah lemari kaca transparan berdiri sendiri.

Di dalamnya, deretan arloji mahal tersusun dalam kotak-kotak khusus berlapis beludru gelap. Jam tangan dengan tali kulit eksklusif, rantai baja mengilap, hingga desain yang tampak begitu rumit dengan detail mekanik yang memukau.

Setiap arloji diletakkan sejajar, seperti koleksi yang bukan hanya bernilai uang, tetapi juga status.

Tessa terpaku.

Ia bahkan tidak pernah membayangkan seseorang bisa memiliki jam sebanyak itu.

Di kehidupannya dulu, satu jam tangan sederhana sudah cukup untuk bertahan bertahun-tahun bahkan dipakai sampai talinya mengelupas.

Di sini, waktu seolah dikoleksi.

“Kalau kamu butuh ruang tambahan, kita bisa atur ulang,” ucap Nick datar, seolah semua ini bukan hal besar.

Tessa menoleh padanya.

Ruang tambahan?

Satu sudut wardrobe ini saja lebih besar dari seluruh lemari kayu di rumah lamanya.

Dulu, ia harus melipat pakaian dengan hati-hati agar cukup dalam satu rak kecil. Sepatu hanya dua pasang satu untuk kerja, satu untuk acara penting. Tak pernah lebih.

Sementara di hadapannya kini, sepatu-sepatu Nick berjajar seperti tidak pernah kekurangan pilihan.

Kemewahan itu tidak hanya berbicara tentang uang.

Ia berbicara tentang jarak.

Tentang dunia yang sejak awal memang tak pernah dirancang untuk seseorang seperti dirinya.

Tessa menarik napas pelan, berusaha menenangkan jantungnya yang berdetak tak beraturan. Ia bukan iri. Ia bukan silau.

Tessa kembali mengingat angka 10 miliar tadi, angka itu seolah mengecil dipikirannya setelah melihat deretan koleksi jam mahal nick yang ia taksir jauh lebih mahal dari pada harga dirinya tadi.

Ia hanya sadar… mulai malam ini, ia harus belajar hidup di dalam dunia seorang pria yang bahkan mengoleksi waktu dalam kotak kaca.

"Maksudmu kita akan tidur satu kamar?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir tessa,

Nick mengerutkan kening,

"Apa masalahnya? Kau istriku sekarang, apa kau keberatan?"

"A....aku... Maksudku...ini terlalu... cepat," Tessa bingung dengan kata-katanya sendiri,

"Apanya?" Nick mulai melepas arloji yang ia pakai dan mulai melepas kemeja nya,

"Kau mau apa!" Tessa bersikap defensif, menyilangkan tangan ke dadanya,

Jantung tessa berdetak kencang saat nick melangkah ke arahnya,

Nick berdiri tepat dihadapannya, dengan dada bidang nya yang terpampang nyata membuat tessa hanya bisa menelan ludah dan membuang pandangan nya kesamping,

Nick mengamati ekspresi tessa yang menurutnya lucu, pria itu makin mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat ditelinga tessa,

"Jangan berpikir macam-macam atau aku akan benar-benar melakukannya,"

1
Nur Halida
cieeee nick mulai romantis2an🤭🤭
itsmecancer: hihii... baru permulaan nihh, hati hati looh... nanti nick makin bikin hati meleleh 🤭❤️
total 1 replies
Nur Halida
ada ya anak dan ayah kek gitu kalo ketemu yg di bicaraka saham proyek bisnis dan persaingan .. ngeri2 sedap😁😁
Nur Halida
hufffttt😮‍💨
capek banget keknya jadi tessa
Nur Halida
repot banhet ya jadi horang kaya🤭🤭🤭
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
Nur Halida
semangat tessa😍😍😍
itsmecancer: makasih sudah semangatin tessa 💪❤️
total 1 replies
Nur Halida
tessa kamu harus belajar dan percaya diri berada sejajar dg nick. .dan kamu pasti bisa
Nur Halida
ternyata nick berwatak keras tapi aku suka😁
Nur Halida: pasti entar nick jadi bucin ke tessa dan aku gak sabar nunggu nick yg bucin .. pasti lucu🤭
total 2 replies
Nur Halida
nick baik banget sihh😍😍😍
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna
itsmecancer: wahh ... nick tuh emang pinter bikin baper pembaca 🤭, ditunggu kelanjutannya ya 👌🏻
total 1 replies
Bunga
tegang
Bunga
rasanya dikit banget thor
Bunga
suka
itsmecancer: wah makasih kak, dukunganmu berharga buat author ☺️
total 1 replies
Bunga
lanjut thor😍
itsmecancer: ditunggu ya ☺️👌🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!