Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Pesan yang Tertinggal
Kesunyian di perpustakaan pusat semakin terasa tebal saat sore perlahan berganti menjadi senja. Aroma kertas dan kelembapan udara sisa hujan menciptakan suasana yang sangat tenang, hampir seperti sedang berada di dunia yang berbeda. Di pojok belakang, Justin masih duduk di posisinya. Ia tidak kembali ke kursinya yang semula, melainkan tetap duduk di samping Liana yang masih terlelap.
Justin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu yang keras, melipat tangannya di dada. Matanya tidak lagi menatap buku tebal tentang manajemen strategi miliknya, melainkan terpaku pada sosok gadis di sampingnya. Liana tampak sangat pulas. Deru napasnya teratur dan halus. Sesekali, ujung hidungnya bergerak kecil saat ia bermimpi, sebuah pemandangan yang entah kenapa membuat Justin enggan untuk beranjak.
Hoodie abu-abu miliknya yang dikenakan Liana terlihat sangat kontras dengan kulit wajah gadis itu yang bersih. Justin merasa ada perasaan aneh yang merayapi hatinya—sesuatu yang hangat dan asing. Ia yang selama ini terbiasa hidup dalam keheningan rumah besarnya yang dingin, kini merasa keheningan di perpustakaan ini terasa lebih "hidup" hanya karena kehadiran seseorang di sisinya.
Tiba-tiba, layar ponsel Liana yang tergeletak di atas meja tepat di samping kepalanya menyala terang. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul.
Dhea: Li! Lo di mana? Tugas Pak Bram yang bagian analisis pasar lo udah ketemu belum sumbernya? Gue pusing banget nih, mana di rumah mati lampu lagi! Bales woi!
Justin hanya melirik sekilas ke arah layar yang menyala itu. Ia melihat nama "Dhea" di sana. Karena Liana tidak kunjung bangun, layar itu kembali meredup dan mati. Justin tidak berniat membangunkan Liana hanya untuk sebuah pesan tentang tugas. Menurutnya, istirahat gadis ini jauh lebih penting saat ini, mengingat betapa kerasnya ia berlatih basket belakangan ini.
Sepuluh menit berlalu dalam diam. Justin masih setia menunggu, menjaga ketenangan di sekitar meja mereka agar tidak ada mahasiswa lain yang berisik dan mengganggu tidur Liana. Namun, ketenangan itu terusik saat ponsel di saku celana Justin sendiri bergetar hebat.
Justin merogoh ponselnya dan mengernyitkan dahi saat melihat rentetan pesan masuk di grup pengurus inti UKM Basket.
Raka: Woi, Kapten! Di mana lo? Kaila udah standby nih di sekre.
Kaila: Justin, buruan ke sekre. Gue udah bawa data revisi anggaran yang lo minta semalem. Jangan bilang lo lupa kita ada rapat lanjutan jam 5 sore ini.
Raka: Ayo Tin, Kaila udah mulai pasang muka singa nih. Jangan bikin gue jadi sasaran empuk dia sendirian di sini.
Justin menghela napas panjang. Ia melirik jam tangannya. Pukul 17:15. Ia sudah terlambat lima belas menit dari jadwal rapat yang ia tentukan sendiri semalam. Sebagai ketua, ia tidak boleh memberikan contoh yang buruk soal kedisiplinan, apalagi ia sudah berjanji pada Kaila.
Justin menoleh ke arah Liana. Ia ingin membangunkan gadis itu, namun melihat betapa damainya wajah Liana saat tidur, tangannya kembali ragu. Ia tahu Liana pasti sangat kelelahan. Jika ia membangunkan Liana sekarang, gadis itu pasti akan merasa sangat bersalah dan canggung karena telah tertidur di depannya.
"Gue harus pergi," gumam Justin sangat pelan.
Justin bangkit dari duduknya dengan gerakan yang sangat hati-hati, berusaha agar kursi kayunya tidak mengeluarkan suara decit yang keras. Ia membereskan buku-buku dan alat tulisnya ke dalam tas dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang melakukan operasi rahasia.
Setelah tasnya siap, ia kembali menatap Liana. Ia tidak bisa meninggalkan gadis ini begitu saja tanpa pesan, apalagi Liana masih memakai jaketnya dan sedang mengerjakan tugas yang sulit.
Justin merogoh tasnya, mencari sesuatu untuk menulis. Ia menemukan sebuah lembar kertas memo kecil berwarna kuning dan sebuah pulpen hitam. Dengan tulisan tangannya yang tegas namun rapi, ia mulai menggoreskan beberapa kalimat.
Liana,
Gue harus pergi ke sekretariat buat rapat lanjut sama Kaila dan Raka. Lo tidur pules banget, jadi nggak gue bangunin.
Tugas Pak Bram bagian yang lo bingung tadi, udah gue kasih tanda di buku biru itu. Halaman 142-150. Baca pelan-pelan, kuncinya ada di sana.
Kalau sudah bangun dan mau pulang, kabari gue lewat WA. Hujan di luar sudah reda, tapi udara dingin. Jangan lepas jaketnya sampai lo sampai di rumah.
— Justin.
Justin meletakkan kertas kuning itu tepat di atas buku tulis Liana, menjepitnya dengan pulpen agar tidak terbang tertiup angin dari ventilasi. Ia menatap kertas itu sejenak, memastikan pesannya cukup jelas.
Sebelum benar-benar melangkah pergi, Justin menyempatkan diri untuk membetulkan posisi buku biru besar di samping kepala Liana agar tidak merosot jatuh. Ia memberikan satu tatapan terakhir yang dalam pada wajah tidur gadis itu, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan perpustakaan.
Sementara itu, di ruang sekretariat UKM Basket, suasana sudah mulai memanas. Kaila duduk di ujung meja sambil mengetuk-ngetukkan jarinya dengan tidak sabar. Raka sendiri sedang pura-pura sibuk memutar-mutar bola basket di jarinya, berusaha menghindari kontak mata dengan Kaila yang tampak sedang dalam mode "siap menyerang".
"Mana kapten kebanggaan lo itu, Rak? Dia yang bikin jadwal, dia yang telat," sindir Kaila tajam.
"Sabar, Kai. Mungkin dia lagi ada urusan mendadak. Justin nggak pernah telat tanpa alasan, lo tahu itu kan?" bela Raka, meski ia sendiri juga bertanya-tanya ke mana sahabatnya itu pergi.
Brak!
Pintu sekretariat terbuka. Justin masuk dengan napas yang sedikit tidak beraturan, seolah baru saja berlari menaiki tangga.
"Sori, gue telat," ucap Justin singkat sambil langsung duduk di kursinya tanpa banyak basa-basi.
Kaila mengangkat sebelah alisnya, memperhatikan penampilan Justin. "Tumben. Ada urusan apa sampai seorang Justin Adhinata lupa waktu?"
Justin membuka folder berkas di depannya, berusaha menutupi sedikit rasa canggung yang tersisa. "Tadi ada materi yang harus gue selesaiin di perpus. Bisa kita mulai?"
Raka menyeringai tipis, ia menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tatapan Justin sore itu, tapi ia memilih untuk diam dan mengikuti arus rapat.
Di perpustakaan yang sunyi, Liana mulai bergerak kecil. Ia mengerjapkan matanya perlahan, merasakan tangan dan lehernya sedikit kaku karena posisi tidur yang tidak ideal. Ia menguap kecil, lalu perlahan mengangkat kepalanya dari atas meja.
"Aduh... jam berapa nih?" gumamnya serak.
Ia menoleh ke arah kirinya, tempat Justin seharusnya duduk. Namun, kursi itu kosong. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Justin di sana. Liana merasa jantungnya sedikit mencelos. Apa Kak Justin marah karena gue ketiduran? Apa dia pergi gitu aja?
Liana panik dan langsung melihat ke arah buku tulisnya. Di sana, ia menemukan selembar kertas kuning yang tadi ditinggalkan Justin. Liana mengambil kertas itu, membacanya baris demi baris.
Setiap kata yang tertulis di sana membuat wajah Liana perlahan memanas. Terutama bagian “Lo tidur pules banget” dan “Jangan lepas jaketnya sampai lo sampai di rumah”.
Liana memeluk kertas kuning itu di dadanya, sebuah senyuman lebar merekah di wajahnya. Rasa kantuk dan lelahnya hilang seketika, digantikan oleh ledakan kebahagiaan yang sulit digambarkan.
"Dia nggak marah... dia malah kasih petunjuk buat tugas gue," bisik Liana senang.
Ia segera mengambil ponselnya, melihat notifikasi dari Dhea yang tadi juga sempat dilihat Justin. Namun, perhatian Liana langsung teralihkan ke arah buku biru besar di depannya. Ia membukanya ke halaman yang disebutkan Justin, dan benar saja, di sana terdapat penjelasan yang sangat jelas tentang materi yang membuatnya pusing tadi.
Liana merasa seperti sedang mendapatkan harta karun. Bukan hanya harta karun berupa nilai tugas, tapi juga perhatian dari seseorang yang selama ini dianggap sebagai "puncak gunung es" yang tak tersentuh.
Ia segera mengetik pesan di WhatsApp.
Liana: Kak Justin, maaf ya saya ketiduran. Makasih banyak catatannya, ini sangat membantu! Saya baru bangun dan mau lanjutin sedikit tugasnya.
Liana: Semangat ya rapatnya sama Kak Kaila dan Kak Raka!
Liana meletakkan ponselnya, menarik napas dalam, dan mulai menulis kembali dengan semangat baru. Di bawah lampu perpustakaan yang mulai menyala terang, Liana merasa malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang, namun ia tidak keberatan sama sekali selama hoodie abu-abu besar itu masih mendekapnya dengan hangat.