Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - IRREGULARITAS
Pak Syarif sudah ada di warung kopi Jalan Kenari dengan map kulitnya dan kopi yang belum disentuh ketika Lily tiba jam delapan lewat lima.
Hendra duduk di sebelahnya. Keduanya tidak sedang bicara, jenis hening orang yang sudah mendiskusikan sesuatu sebelum orang ketiga datang dan sekarang menunggu orang ketiga itu siap.
Lily duduk. Memesan air putih. Menatap keduanya.
"Tolong ceritakan."
Pak Syarif membuka map-nya. Tapi kali ini dia tidak langsung mengeluarkan dokumen, dia meletakkan kedua tangannya di atas map tertutup itu dan bicara dulu.
"Lily, apa yang akan saya ceritakan hari ini bukan sesuatu yang mudah didengar. Bukan karena informasinya berbahaya secara langsung. Tapi karena menyangkut orang-orang yang masih hidup, yang masih punya posisi dan sumber daya, dan yang selama dua belas tahun sudah berhasil memastikan bahwa versi cerita mereka adalah satu-satunya yang beredar."
Lily mengangguk. "Lanjutkan."
"Mulai dari perusahaan Reinaldo."
Pak Syarif membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar. Bukan dokumen resmi, lebih seperti print-out dari catatan yang sudah disusun ulang. "PT Langit Nusantara Properti didirikan dua puluh tahun lalu. Di awal, perusahaan ini memang bergerak di properti, pengembangan perumahan di beberapa kota. Tapi sekitar empat belas tahun lalu, ada perubahan pola yang saya perhatikan dari arsip publik yang bisa diakses."
"Perubahan apa?"
"Perusahaan ini mulai mengakuisisi tanah-tanah yang statusnya bermasalah. Sengketa warisan yang belum selesai, kepemilikan yang dokumennya tidak lengkap, aset yang pemilik aslinya sudah meninggal dan ahli warisnya belum mengklaim. Pola ini konsisten selama sepuluh tahun terakhir dan bukan kebetulan."
Hendra mengambil alih. "Ada tim yang bekerja khusus untuk ini. Mereka mencari aset-aset yang vulnerable, yang bisa diambil alih dengan cara yang terlihat legal karena tidak ada yang mengajukan keberatan. Dan untuk memastikan tidak ada yang mengajukan keberatan, mereka..." dia berhenti sebentar, "...kadang memastikan bahwa orang yang seharusnya mengajukan keberatan tidak dalam posisi untuk melakukannya."
"Tidak dalam posisi," ulang Lily. "Artinya?"
"Artinya berbeda-beda tergantung kasusnya," kata Pak Syarif. "Kadang tekanan finansial. Kadang tekanan hukum yang dibuat-buat. Kadang..." dia menatap map di depannya, "...hal-hal yang lebih langsung."
Keheningan di antara mereka bertiga.
"Mama termasuk yang mana?" tanya Lily.
Pak Syarif menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Ini yang butuh waktu paling lama untuk saya kumpulkan buktinya karena sebagian besar masih berupa kesaksian, bukan dokumen." Dia mengeluarkan satu lembar lagi, ini berbeda dari yang lain, kertasnya lebih tua, tulisannya bukan print tapi tulisan tangan yang difoto lalu dicetak. "Ada seorang dokter yang pernah menangani ibumu di bulan-bulan terakhir sebelum dia meninggal. Dokter ini sudah lama tidak praktik lagi... pensiun, tinggal di luar kota. Delapan bulan lalu, beliau menghubungi rekan sejawatnya di kota ini untuk menyampaikan sesuatu yang sudah lama ingin beliau laporkan tapi tidak tahu caranya."
"Apa yang dia sampaikan?"
"Bahwa gejala-gejala yang dialami ibumu di bulan terakhirnya tidak sepenuhnya cocok dengan serangan jantung alami. Ada pola yang dalam pengamatannya menunjukkan kemungkinan paparan zat tertentu dalam dosis kecil yang konsisten selama beberapa waktu."
Lily tidak bergerak.
"Beliau tidak bisa membuktikan ini waktu itu," lanjut Pak Syarif dengan hati-hati. "Dan karena ibumu sudah dikebumikan sebelum ada yang mempertanyakan penyebab kematiannya, tidak ada pemeriksaan lanjutan yang dilakukan. Tapi beliau menyimpan catatan observasinya. Catatan yang tidak pernah masuk ke rekam medis resmi karena beliau bilang ada tekanan untuk tidak mencantumkan hal-hal yang 'tidak perlu memperumit situasi keluarga yang sedang berduka.'"
Tekanan untuk tidak mencantumkan.
"Dari siapa tekanan itu?"
Pak Syarif menatapnya. "Dari seseorang yang mengaku sebagai perwakilan keluarga. Laki-laki, datang ke klinik tempat dokter itu praktik dua hari setelah ibumu meninggal."
"Reinaldo."
"Beliau tidak tahu namanya waktu itu. Tapi dari deskripsi yang beliau berikan ke rekan sejawatnya dan dari foto yang sudah saya tunjukkan ke beliau minggu lalu..."
Pak Syarif tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.
Lily memegang gelasnya. Airnya sudah tidak dingin lagi.
Di dalam kepalanya ada dua hal yang berlawanan yang bergerak bersamaan: bagian yang sudah menduga ini sejak beberapa hari lalu, sejak itu yang dibilang ayahmu dan dia tidak sendiri dan bagian yang, meski sudah menduga, tetap tidak siap untuk mendengarnya dikonfirmasi dengan suara yang jelas di ruangan yang nyata.
Mama tidak meninggal karena jantungnya lemah.
Mama dibantu untuk pergi.
Lily meletakkan gelasnya di meja dengan gerakan yang terkontrol.
"Bukti apa yang sudah ada sekarang?"
"Kesaksian dokter ini yang terkuat tapi paling mudah diserang karena sudah empat belas tahun dan tidak ada sampel fisik yang bisa diuji." Pak Syarif menghitung di jarinya. "Catatan observasi dokter yang belum pernah dipublikasikan. Pola akuisisi aset Reinaldo yang menunjukkan modus operandi. Dan yang ini baru, ada satu orang lagi yang Hendra temukan kemarin."
Lily menatap Hendra.
"Mantan karyawan lama Reinaldo," kata Hendra. "Berhenti kerja tujuh tahun lalu dan sejak itu tidak mau berhubungan dengan perusahaan itu. Lily, orang ini tahu nama S."
"Siapa S?"
Hendra menatapnya.
"S adalah Sinta. Sinta Wardhani. Pengacara internal PT Langit Nusantara yang sudah bekerja dengan Reinaldo sejak awal perusahaan berdiri. Perempuan yang dikirim ke klinik dokter itu bersama Reinaldo. Perempuan yang menurut mantan karyawan ini bertugas memastikan tidak ada jejak hukum yang bisa ditelusuri balik ke Reinaldo."
Lily ingat kertas di balik foto di ruang kerja ayahnya. Nomor enam belas digit dengan huruf S di depannya.
"Nomor itu nomor Sinta," kata Lily pelan. Bukan ke siapa-siapa khusus.
"Kemungkinan besar," kata Pak Syarif.
"Dan ayahku---"
"Ayahmu kemungkinan besar tahu sebagian. Tapi tidak semua." Pak Syarif menutup map-nya. "Ada perbedaan antara orang yang aktif terlibat dan orang yang tahu tapi memilih tidak bertanya terlalu jauh. Kita belum punya cukup untuk membuktikan yang mana posisi ayahmu."
"Rekaman yang Dimas punya," kata Lily. "Kalau isinya apa yang dia bilang, pembicaraan soal cara memastikan dokumen kematian tidak memunculkan pertanyaan. Itu bisa menentukan posisi ayahku."
Hendra dan Pak Syarif saling tatap.
"Kamu perlu dapatkan rekaman itu," kata Hendra.
"Minggu depan. Dimas bilang minggu depan."
"Itu terlalu lama kalau mereka mulai curiga kamu tahu." Pak Syarif mengangkat kacamatanya dan mengusap matanya. "Lily, dengan keberatan yang sudah kita ajukan ke kantor pertanahan. Reinaldo sekarang tahu ada pihak ahli waris yang aktif. Dia akan mencari tahu seberapa jauh kamu sudah bergerak. Dan kalau dia menyimpulkan kamu tahu soal kasus ibumu..."
Dia tidak menyelesaikannya.
Tidak perlu.
Lily pulang jam sepuluh lewat dengan kepala yang lebih berat dari waktu berangkat tadi.
Di angkutan, dia menatap jalanan yang lewat di luar jendela tanpa benar-benar melihatnya.
Mama.
Bukan jantung. Bukan takdir. Bukan sesuatu yang tidak bisa disalahkan pada siapa pun.
Ada nama yang bisa disalahkan. Ada wajah. Ada jejak yang sudah empat belas tahun berhasil disembunyikan tapi ternyata tidak cukup rapi. Karena ada dokter tua yang menyimpan catatan, ada mantan karyawan yang berhenti tujuh tahun lalu, ada ruang kecil di belakang gudang yang menyimpan surat-surat yang tidak boleh dibakar.
Amarah yang selama ini Lily jaga pada ukuran yang bisa dia kelola. Api kecil yang stabil, yang cukup untuk menghangatkan tapi tidak membakar, sekarang terasa seperti ukurannya naik tanpa izin.
Dia menarik napas. Satu kali. Dua kali.
Sabar artinya menunggu waktu yang tepat tanpa berhenti bergerak.
Dia tidak boleh terburu-buru. Bukan karena tidak marah, tapi karena bergerak terlalu cepat dari amarah adalah cara paling efisien untuk membuang satu-satunya keunggulan yang dia punya: bahwa mereka belum tahu seberapa banyak yang sudah dia ketahui.
Ponselnya bergetar.
Bukan Hendra. Bukan Pak Syarif.
Nomor yang tidak tersimpan, tapi formatnya Lily kenal. Bukan nomor yang pernah mengancamnya sebelumnya. Ini berbeda.
Lily mengangkat telepon.
"Nona Lily?" Suara perempuan. Tua, terlatih, profesional. "Nama saya Hendrawati. Notaris yang kemarin..."
"Saya ingat," kata Lily.
"Saya perlu bicara dengan Anda. Bukan soal dokumen kemarin." Jeda sebentar. "Ada sesuatu yang saya lihat di pertemuan itu yang menurut saya Anda perlu tahu. Dan ada sesuatu yang saya temukan di arsip lama kantor saya yang mungkin relevan."
Lily menegakkan punggungnya di kursi angkutan.
"Kapan?" tanyanya.
Bersambung ke Bab 26...