Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kristal Ketenangan
Gelombang kedua latihan gabungan telah mengubah padang rumput Silver-Leaf menjadi teater manifestasi jiwa yang luar biasa. Di Arena Sembilan, atmosfer terasa berbeda dari kegarangan Arena Satu milik Lucien atau ketegangan Arena Tujuh milik Daefiel. Di bawah kepemimpinan Vivienne, arena ini memancarkan aura ketenangan yang dingin, namun di bawah permukaan itu, setiap anggota tim sedang berjuang melawan manifestasi batin mereka sendiri.
Sesuai instruksi Master Alaric, formasi tim harus terbagi. Kael, ksatria bertubuh tegap dengan pedang besar berelemen tanah, harus meninggalkan arena. Sebagai satu-satunya pengguna sihir pedang di Tim Sembilan, ia memiliki kewajiban untuk membuktikan kemurnian jiwanya di Zona Tengah melalui duel fisik melawan instruktur.
"Kael, fokuslah pada berat pedangmu, bukan pada lawanmu," ucap Vivienne memberinya semangat terakhir sebelum ksatria itu melangkah pergi.
Kael mengangguk mantap.
"Serahkan padaku, Ketua. Jangan biarkan arena ini jatuh sebelum aku kembali."
Dengan kepergian Kael, kini tersisa tiga orang di dalam Arena Sembilan: Vivienne sebagai pemimpin, Julian dengan sihir anginnya, dan Elara—yang meski merupakan siswi Crimson Crest, ia dikategorikan sebagai penyihir elemen cahaya fajar dalam konteks latihan ini karena gaya bertarungnya yang lebih mengandalkan proyeksi cahaya daripada teknik pedang fisik murni (ia menggunakan tongkat pendek bercahaya sebagai fokus mananya).
---
Manifestasi Tiga Jiwa
"Waktunya telah tiba," bisik Vivienne. Ia bisa merasakan kabut emas di sekeliling mereka mulai bereaksi terhadap mana mereka.
"Julian, Elara, ingat apa yang dikatakan Master Alaric. Jangan lawan mahluk itu dengan kebencian. Mereka adalah bagian dari kita. Jinakkan mereka dengan pengakuan."
Julian memulai lebih dulu. Ia merentangkan tangannya, membiarkan angin berputar kencang di sekeliling tubuhnya. Dari pusaran udara itu, muncul seekor Elang Badai yang sayapnya terbuat dari bilah-bilah angin yang tajam.
Begitu tercipta, elang itu memekik nyaring, suaranya sanggup merobek gendang telinga, dan langsung menukik untuk menyerang Julian dengan paruh anginnya.
Di sisi lain, Elara memusatkan cahaya fajarnya. Dari pendaran kuning keemasan yang hangat, muncul seekor Unicorn Cahaya. Mahluk itu tampak sangat indah, namun matanya memancarkan kesombongan yang buta.
Unicorn itu menyeruduk ke arah Elara, mencoba menusuknya dengan tanduk cahaya yang mampu menembus pelindung mana apa pun.
Vivienne sendiri menarik napas dalam-dalam. Ia menutup matanya, mengabaikan keributan di sekitarnya. Ia memanggil elemen airnya. Namun, di balik aliran air itu, ia bisa merasakan Bulan Hitam di lehernya berdenyut. Ia harus sangat berhati-hati. Jika ia tidak fokus, mahluk yang lahir dari jiwanya akan terkontaminasi oleh kutukan iblis.
Air mulai mengumpul di depan Vivienne, membentuk bola besar yang berputar. Perlahan, bola itu memanjang dan membentuk tungkai. Seekor Naga Air Biru yang megah lahir dari mana Vivienne.
Naga itu tidak memiliki sisik keras, melainkan tubuhnya terdiri dari arus air yang terus mengalir deras.
Namun, kegelapan itu tetap merembes. Mata sang naga yang seharusnya biru jernih, tiba-tiba berkilat dengan warna ungu gelap—warna yang sama dengan kekuatan kutukan Vivienne.
Naga itu meraung, bukan suara air, melainkan suara guntur yang tertahan. Ia langsung mengibaskan ekor besarnya, menghantam dinding arena dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan tulang.
---
Perjuangan Menjinakkan Diri
"Vivienne! Naga itu terlalu kuat!" teriak Julian sambil menghindar dari serangan Elang Badainya.
Vivienne tidak menjawab. Ia terpaku menatap naga airnya. Ia menyadari bahwa naga ini adalah representasi dari ketakutannya akan kekuatan yang ia miliki. Naga itu liar karena Vivienne sendiri takut pada sisi gelapnya.
"Tenang..." bisik Vivienne pada dirinya sendiri.
Ia melangkah maju mendekati naga yang sedang mengamuk itu. Setiap langkahnya membuat air di bawah kakinya bergetar. Naga air itu bersiap menyemburkan meriam air bertekanan tinggi ke arah Vivienne.
Jika aku lari, aku mengakui bahwa aku takut pada diriku sendiri, batin Vivienne.
Ia terus berjalan tanpa pelindung. Saat naga itu menyemburkan airnya, Vivienne hanya mengangkat tangan kanannya. Ia tidak menggunakan mantra pertahanan. Ia menggunakan Sinkronisasi Jiwa.
Ia menerima hantaman air itu, membiarkan tubuhnya basah kuyup, namun ia tetap berdiri tegak.
"Kau adalah aku, dan aku adalah kau," ucap Vivienne dengan nada yang sangat lembut namun penuh otoritas.
"Kegelapan di matamu bukanlah musuhku. Itu adalah bagian dari beban yang kupilih untuk kupikul."
Vivienne menyentuh moncong naga air itu. Seketika, warna ungu di mata naga itu memudar, menyatu dengan warna biru laut yang tenang.
Naga itu berhenti menggeram. Tubuhnya yang tadinya bergejolak liar kini menjadi tenang dan transparan, melingkari tubuh Vivienne seperti pelindung yang setia.
Di saat yang sama, Julian berhasil menjinakkan Elang Badainya dengan cara mengikuti irama kepakan sayap mahluk itu, menjadikannya partner dalam tarian angin.
Elara pun berhasil menenangkan Unicorn Cahayanya dengan menurunkan egonya dan membiarkan cahaya itu menyatu dengan kerendahan hatinya.
Ketiga mahluk manifestasi itu kini berdiri tenang di Arena Sembilan.
---
Zona Tengah: Kael dan Ujian Tanah
Sementara itu, di Zona Tengah yang berlantai marmer, Kael sedang berada di tengah pertempuran yang brutal. Ia berhadapan dengan Master Iron-Hide, instruktur Crimson Crest yang terkenal dengan pertahanan fisiknya yang tak tertembus.
Kael menghantamkan pedang besarnya berkali-kali ke arah perisai Master Iron-Hide.
DANG! DANG! DANG!
Suara benturan logam itu bergema ke seluruh lapangan.
"Hanya segini kekuatan tanahmu, Kael?!" teriak Master Iron-Hide.
"Kau terlalu fokus pada berat pedangmu, tapi kau lupa pada akar di bawah kakimu!"
Kael terengah-engah. Ia teringat pesan Vivienne tentang fokus pada berat pedang. Namun kini ia sadar, berat itu bukan hanya beban, tapi kekuatan dari bumi itu sendiri.
Kael menutup matanya, merasakan getaran lantai marmer di bawah sepatunya. Ia berhenti mengayunkan pedangnya secara liar.
Ia menancapkan pedang besarnya ke tanah.
"Earth Vein: Soul Link!"
Seketika, pedang itu seolah menyatu dengan bumi. Saat Master Iron-Hide menyerang dengan gada besarnya, Kael tidak menghindar. Ia menahan serangan itu hanya dengan satu tangan pada gagang pedangnya.
Tanah di sekitar Kael meledak, namun ia tetap tidak bergeming. Ia telah menjinakkan "keberatan" jiwanya.
Master Iron-Hide tertawa bangga.
"Bagus! Itulah cara seorang ksatria tanah bertarung! Kembali ke timmu, Kael. Kau telah lulus!"
---
Kembali Menjadi Satu
Kael berlari kembali ke Arena Sembilan dengan napas terengah namun wajah penuh kemenangan. Saat ia memasuki arena, ia terpana melihat pemandangan di depannya.
Vivienne berdiri di tengah, dikelilingi oleh naga air yang anggun, Julian dengan elang di bahunya, dan Elara dengan unicorn yang bersinar lembut.
"Kalian melakukannya..." ucap Kael takjub.
"Kau juga, Kael," balas Vivienne dengan senyum tipis yang tulus.
"Kita semua berhasil menjinakkan sisi liar kita hari ini."
Tim Sembilan berdiri bersama di tengah arena yang kini dipenuhi oleh manifestasi sihir yang stabil. Mereka adalah tim yang paling harmonis; tidak ada amarah yang meledak seperti Daefiel, tidak ada perselisihan yang harus dipadamkan seperti tim Lucien.
Mereka bekerja seperti sebuah simfoni yang sempurna.
Namun, di balik ketenangan itu, Vivienne merasakan kelelahan yang luar biasa. Menjinakkan naga yang terkontaminasi kutukan iblis tadi telah memeras hampir seluruh energi mentalnya.
Ia melirik ke arah panggung pengawas, di mana Master Alaric sedang memperhatikan mereka.
Vivienne tahu bahwa ini baru gelombang kedua. Masih ada sisa-sisa latihan dan ujian yang mungkin akan memaksa mereka melampaui batas yang sudah mereka bangun dengan susah payah.
Namun untuk saat ini, di bawah sinar matahari yang mulai condong ke barat, Tim Sembilan membuktikan bahwa kedamaian batin adalah senjata yang jauh lebih tajam daripada pedang mana pun.
"Tetaplah waspada," Vivienne memperingatkan timnya sembari mengelus kepala naga airnya.
"Latihan ini belum selesai sepenuhnya sampai Master Alaric menurunkan tongkatnya."
Julian, Elara, dan Kael mengangguk mantap.
Mereka siap menghadapi apa pun yang akan dilemparkan akademi kepada mereka, selama mereka tetap berdiri bersama sebagai satu kesatuan yang utuh