Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Simphoni terakhir,sebelum konfrensi
Malam di kawasan sebuah hunian elit di jakarta utara terasa begitu senyap, hanya menyisakan suara mobil dan embusan angin dingin yang menelusup di sela pepohonan yang tumbuh di sekitar halaman rumah megah Steven. Di dalam, interior minimalis yang didominasi kaca dan marmer hitam itu tampak remang, hanya diterangi beberapa lampu dinding yang temaram.
Laura duduk di tepi ranjang besar di kamar tamu. Ia baru saja mengganti celana dan t-shirt yang di pakainya dari bandara,dengan gaun tidur berwarna merah marun yang di bawa di kopernya. Kulit sawo matangnya tampak eksotis dan berkilau di bawah cahaya kuning redup. Namun, pikirannya tidak tenang; kata-kata Steven tentang "Proyek Zaman Baru" terus berputar di kepalanya.
Di luar kamar, Steven berdiri mematung di koridor. Pria yang biasanya begitu taktis dan dingin itu kini tampak rapuh. Ia berulang kali memutar gelas kristal berisi whisky di tangannya. Sebagai petinggi, ia tahu mencintai "Anak Setan Emas" adalah pelanggaran protokol yang fatal, namun pesona Laura—perpaduan antara kecantikan asli Indonesia dan aura gelap yang kuat—telah meruntuhkan tembok logikanya.
TOK. TOK.
Steven mengetuk pintu kamar tamu dengan ragu. Sebelum Laura menjawab, ia sudah membukanya sedikit.
Dengan suara serak, matanya menatap Laura yang sedang menyisir rambut.
"Maaf... aku hanya ingin memastikan suhu ruangan ini cukup hangat untukmu. Udara Jakarta bisa sangat menusuk."
Laura menoleh, meletakkan sisirnya.
"Aku baik-baik saja, Steven. Terima kasih atas semuanya hari ini."
Steven melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia duduk di kursi armchair yang tak jauh dari ranjang Laura, matanya tak lepas dari sosok gadis itu.
"Kau tahu, Laura... di organisasi ini, kita diajarkan untuk hanya memuja kekuasaan. Tapi melihatmu hari ini... melihat bagaimana kau menyerap semua kegelapan itu dengan begitu anggun... itu membuatku takut."
Laura mengernyitkan dahi.
"Takut? Seorang Steven bisa merasa takut?"
"Takut kehilangan kendali atas diriku sendiri. Kau adalah 'Pengantin' yang sedang disiapkan untuk kekuatan besar, tapi terkadang aku berharap kau hanyalah wanita biasa yang kutemui di jalanan Jakarta."
Steven bangkit, melangkah mendekat hingga ia berdiri tepat di depan Laura. Ia berlutut di satu kaki, menyamakan tingginya dengan Laura yang duduk di tepi ranjang. Ia meraih jemari Laura, mengabaikan pendar hitam yang berdenyut di sana.
"Kulitmu... warnanya mengingatkanku pada tanah yang subur sebelum badai datang. Kau begitu nyata, sementara dunia yang kita bangun ini terasa begitu artifisial."
Laura menyentuh rahang Steven dengan lembut, merasakan kehangatan yang berbeda dari Marco.
"Kau mulai bicara seperti seorang penyair, bukan seorang pemimpin Satanik."
Pemuda itu memejamkan mata sejenak saat jemari Laura menyentuh kulitnya. Ia mencium telapak tangan Laura dengan penuh perasaan—sebuah ciuman yang bukan bagian dari ritual, melainkan sebuah pengakuan.
"Biarkan malam ini kita melupakan jaring merah di peta itu. Biarkan malam ini kau bukan 'Pusaka Asia', dan aku bukan pemandumu. Aku hanya pria yang terpesona olehmu, Laura."
Laura Berbisik, wajahnya mendekat ke wajah Steven.
"Apa kau sadar risiko dari apa yang kau katakan sekarang? Jika mereka tahu..."
"Maka biarlah kegelapan itu menelanku, asalkan aku pernah memilikimu sejenak dalam ingatanku."
Napas mereka beradu di udara hangat Jakarta. Di tengah rencana besar untuk mengontrol dunia, di kamar itu, justru merekalah yang kehilangan kontrol atas perasaan mereka sendiri. Sebuah romansa yang lahir di sarang serigala, mekar di sela-sela duri konspirasi global.
Pagi itu di perumahan elite,mereka disambut oleh cahaya mentari pagi yang menembus dari kaca jendela.Suasana di dalam rumah terasa sangat tenang, hanya terdengar denting halus sendok perak yang beradu dengan porselen. Aroma kopi Toraja yang kuat dan roti panggang mentega mengisi ruangan yang minimalis namun sangat mewah itu.
Laura duduk dengan tenang dan sopan,ia masih mengenakan baju tidurnya yang kontras dengan kulit sawo matangnya yang eksotis. Di seberangnya, Steven sudah tampil rapi dengan kaos hitam berkancing atasnya dibiarkan terbuka, memberikan kesan santai namun tetap berwibawa.
Mata Steven tidak pernah benar-benar lepas dari Laura. Sisa-sisa keintiman semalam masih terasa menggantung di udara, menciptakan getaran yang membuat suasana sarapan ini terasa berbeda dari biasanya.
" apakah tidurmu nyenyak semalam?terkadang udara di tempat ini biasanya membuat orang sulit beranjak dari ranjang."
Laura menyesap kopinya, menatap Steven dari balik cangkir"
Sangat nyenyak. Mungkin karena aku merasa aman di sini... atau mungkin karena aku terlalu lelah memikirkan jaring-jaring merahmu itu."
Steven tersenyum tipis. Ia meletakkan garpunya, lalu merogoh saku jasnya yang tersampir di sandaran kursi. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam legam.
Dengan perlahan, Steven menggeser kotak itu di atas meja marmer menuju ke arah Laura.
"Konferensi hari ini akan sangat berat, Laura. Kau akan menjadi pusat perhatian dunia. Aku ingin kau membawa sesuatu yang... nyata. Sesuatu yang bukan milik organisasi."
Laura membuka kotak itu dengan hati-hati. Di dalamnya melingkar sebuah kalung emas murni dengan rantai yang sangat halus. Yang menarik perhatiannya adalah liontinnya: sebuah bentuk hati yang sederhana namun sangat elegan, berkilau tertimpa cahaya matahari pagi yang menembus kabut.
Laura tertegun, jemarinya menyentuh emas yang dingin itu.
"Hati? Steven... kau tahu mereka membenci simbol ini. Mereka menganggap ini kelemahan."
Steven bangkit dari kursinya, berjalan mendekat ke arah Laura "Itulah intinya. Biarkan mereka melihat emasnya, tapi hanya kau yang tahu maknanya. Pakailah di balik gaunmu. Biarkan ini menjadi rahasia kecil kita di tengah ribuan mata pendoa kegelapan nanti."
Steven mengambil kalung itu dari kotaknya. Laura menyibakkan rambutnya ke samping, membiarkan Steven melingkarkan rantai halus itu di leher jenjangnya. Tangan Steven yang hangat sempat menyentuh kulit leher Laura, menciptakan sensasi elektrik yang membuat gadis itu memejamkan mata sejenak.
Steven berbisik tepat di telinga Laura saat mengancingkan pengait kalung.
"Liontin ini adalah janjiku. Bahwa di tengah kontrol total dunia yang sedang kita bangun, aku tidak akan pernah mencoba mengontrol hatimu."
Laura menyentuh liontin hati yang kini menggantung tepat di atas dadanya. Ia menatap pantulan dirinya di jendela kaca. Kalung itu tampak begitu murni di tengah aura gelap yang mulai menyelimuti jiwanya selama dua tahun terakhir.
"Terima kasih, Stev. Aku akan menjaganya... seperti aku menjaga rahasia kita malam tadi."
Steven kembali ke kursinya, wajahnya kembali mengeras menjadi sosok pemimpin yang dingin. Waktu sarapan hampir usai. Di luar,suara deru mesin mobil yang di panaskan yang akan mebawa mereka mulai terdengar, menandakan bahwa sandiwara profesionalisme harus segera dimulai kembali.