Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.
bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 “Rahasia di Balik Senyum CEO”
Minggu itu terasa berbeda bagi Sakira. Sejak pagi, ia sudah merasakan ketegangan yang tidak biasa, seolah seluruh kantor menunggu sesuatu. Namun yang membuat hatinya berdebar bukanlah pekerjaan, melainkan kehadiran Rafael. CEO tampan itu terlihat lebih serius dari biasanya, dengan tatapan yang menusuk dan senyum tipis yang misterius.
Sakira menatap layar laptopnya, mencoba fokus pada laporan proyek, tapi pikirannya melayang ke pesan malam sebelumnya dari Rafael:
“Besok, aku ingin bicara sesuatu yang penting. Jangan khawatir, ini tentangmu… dan kita.”
Sakira menelan ludah. “Tentang kita?” gumamnya sendiri. Kata-kata itu membuat jantungnya berdetak cepat. Apakah Rafael akan membicarakan kontrak cinta yang tidak resmi itu? Atau ada sesuatu yang lebih rumit?
Saat istirahat siang, Rafael memanggil Sakira ke ruangannya. Ia menatap gadis itu dengan intensitas yang membuat Sakira merasa seperti berada di ruang tertutup di mana hanya mereka berdua yang ada.
“Kau terlihat gelisah,” kata Rafael, suaranya rendah. “Apakah ini tentang kontrak atau… tentang perasaanmu padaku?”
Sakira tersentak. “Aku… aku tidak tahu, Pak Rafael. Aku hanya… bingung.”
Rafael tersenyum tipis, senyum yang selalu membuat Sakira campur aduk antara nyaman dan takut. “Bingung boleh. Tapi aku ingin kau jujur padaku. Aku bisa merasakannya, Sakira. Jangan menahan diri hanya karena takut salah langkah.”
Sakira menunduk. Bagaimana ia bisa jujur tentang perasaannya padahal hatinya sendiri masih berjuang mengerti apa yang ia rasakan?
“Baik, Pak… aku… aku takut,” jawabnya akhirnya. “Takut jika perasaan ini… merusak semuanya.”
Rafael mencondongkan badan, matanya menatap Sakira dengan intensitas yang membuat napasnya terhenti sebentar. “Aku juga takut, Sakira. Takut jika ini semua terlalu rumit. Tapi ada sesuatu yang harus kau ketahui… sesuatu tentang diriku yang belum pernah aku ceritakan pada siapapun.”
Sakira menatap Rafael dengan penasaran dan sedikit ketakutan. “Apa maksud Pak Rafael?”
Rafael menarik napas panjang. “Aku… pernah terluka. Sangat parah. Itu membuatku sulit percaya orang lain. Dan mungkin, itulah alasan aku selalu terlihat dingin dan sulit didekati.”
Sakira terkejut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Rafael, sosok yang selalu percaya diri dan dominan, menyimpan luka sedalam itu. Hatinya bergetar, merasa ingin merangkul CEO itu dan berkata bahwa ia ada untuknya.
Tapi aku ingin kau tahu aku memilihmu, Sakira. Bukan hanya sebagai rekan kerja, tapi karena aku ingin mengenalmu lebih jauh… dan mungkin, karena aku mulai mempercayaimu,” tambah Rafael, suaranya terdengar lembut namun penuh tekad.
Sakira menahan air matanya. Kata-kata itu begitu jujur, namun juga menakutkan. Ia takut jatuh terlalu dalam, tapi hatinya tak bisa menolak. “Aku… aku juga ingin percaya, Pak Rafael. Aku… aku ingin mencoba.”
Rafael tersenyum, senyum yang akhirnya membuat hati Sakira meleleh. “Bagus. Kita akan mencoba bersama.”
Hari-hari berikutnya, hubungan mereka
semakin dekat. Rafael sering mengiriminya pesan kecil, bukan hanya tentang pekerjaan, tapi juga perhatian pribadi—seperti menanyakan apakah ia sudah makan siang atau menyarankan agar ia beristirahat saat lembur. Sakira merasa hatinya perlahan-lahan terkikis oleh perhatian itu, dan ia mulai menyadari bahwa ia tidak bisa berpura-pura tidak peduli.
Namun, konflik mulai muncul. Suatu sore, ketika mereka sedang bekerja lembur, seorang wanita muda masuk ke kantor dengan sikap percaya diri yang luar biasa. Ia tersenyum pada Rafael dengan cara yang membuat Sakira merinding.
Rafael! Lama tidak bertemu,” kata wanita itu dengan nada ceria, seolah mereka memiliki sejarah panjang.
Rafael menoleh, sedikit kaku, tapi tetap tersenyum. “Lisa… sudah lama. Apa kabar?”
Sakira menelan ludah. Lisa? Siapa wanita ini? Tatapan mereka yang akrab membuat Sakira merasa cemburu, meski mencoba menahannya. Ia sadar, kontrak cinta mereka belum tentu membuat Rafael hanya fokus padanya.
Setelah wanita itu pergi, Sakira menatap Rafael dengan rasa penasaran yang sulit disembunyikan. “Siapa dia, Pak Rafael?” tanyanya dengan suara sedikit bergetar.
Rafael menatap Sakira sebentar, lalu menghela napas. “Lisa… teman lama. Pernah bekerja sama denganku, Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, Sakira. Aku hanya ingin kau tahu, masa laluku cukup rumit, dan kadang ada orang yang akan muncul untuk menguji kesabaran kita.”
Sakira mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri. Hatinya campur aduk; ia percaya pada Rafael, tapi rasa cemburu dan takut kehilangan tetap muncul.
Malam itu, setelah pulang, Sakira duduk di apartemennya, memikirkan Rafael dan semua yang terjadi. Ia menyadari bahwa hubungan mereka bukan hanya tentang kontrak, tapi juga tentang kepercayaan, kerentanan, dan keberanian untuk jatuh cinta.
Keesokan harinya, Rafael memintanya untuk bertemu di luar kantor lagi. Kali ini, di sebuah kafe kecil yang hangat. Suasana santai berbeda dari kantor yang kaku, membuat Sakira merasa sedikit lega.
“Kau terlihat lelah,” kata Rafael sambil menatap Sakira. “Apakah semuanya baik-baik saja?”
Sakira tersenyum tipis. “Aku… aku baik, Pak Rafael. Hanya sedikit terkejut dengan… masa lalunya.”
Rafael tersenyum, senyum yang lembut namun menenangkan. “Masa laluku tidak akan menghalangi kita, Sakira. Aku ingin kau tahu itu. Tapi aku juga ingin kau jujur tentang perasaanmu. Tidak ada yang perlu disembunyikan di antara kita.”
Sakira menelan ludah, hatinya berdebar. “Aku… aku mulai… menyukaimu, Pak Rafael. Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi… aku tidak bisa menolak perasaan ini.”
Rafael menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum. “Aku juga menyukaimu, Sakira. Aku mencoba menahan diri, tapi aku tidak bisa. Aku ingin kita mencoba… meski ini sulit dan penuh risiko.”
Mereka berdua duduk di kafe itu, saling menatap dengan campur aduk antara bahagia, takut, dan penasaran. Ada jarak yang tak terlihat, tapi ada juga kedekatan yang tumbuh perlahan.
Namun, masalah tidak berhenti di situ. Lisa, wanita yang muncul sebelumnya, ternyata kembali. Kali ini dengan tujuan yang lebih jelas: mengambil proyek penting dari perusahaan Rafael, yang secara tidak langsung juga mengancam posisi Sakira. Rafael harus bersikap profesional, tapi Sakira merasa terancam.
“Jangan khawatir, Sakira. Aku akan melindungimu,” kata Rafael suatu sore saat Sakira terlihat gelisah. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kita, atau proyek ini.”
Sakira menatap Rafael, hatinya hangat oleh kepastian itu. Namun ia juga sadar, hubungan mereka tidak akan mudah. Selain menghadapi tekanan profesional, mereka harus menghadapi ketakutan, cemburu, dan rahasia yang belum sepenuhnya terbuka.
Malam itu, setelah bekerja lembur bersama, Rafael mengantar Sakira pulang Di pintu apartemennya, ia menatap Sakira dengan intensitas yang membuat pipinya memanas.
“Sakura… aku ingin kau tahu, aku serius dengan perasaan ini. Aku ingin kita menghadapi semua ini bersama,” katanya lembut.
Sakira menelan ludah, hatinya bergetar. “Aku juga, Pak Rafael. Aku… aku ingin mencoba, meski takut.”
Rafael tersenyum, lalu menundukkan kepalanya sedikit, hampir menyentuh wajahnya. “Kita akan melalui semua ini. Bersama.”
Saat pintu apartemen Sakira tertutup, ia duduk di sofa dengan pikiran yang kacau tapi bahagia. Ia tahu, perjalanan cinta kontrak mereka baru saja memasuki babak yang lebih rumit—penuh rahasia, konflik, dan tantangan yang menguji hati mereka. Tapi satu hal jelas: Sakira dan Rafael mulai jatuh cinta, meski dunia mencoba memisahkan mereka.
Malam itu, Sakira menulis di jurnalnya:
“Kontrak ini awalnya hanya formalitas… tapi kini aku mulai mengerti, cinta tidak bisa diatur oleh dokumen. Aku mulai percaya padanya… dan aku takut jika jatuh terlalu dalam. Tapi hatiku tahu, Rafael bukan hanya CEO yang harus aku hormati… tapi seseorang yang ingin aku percayai, meski takut kehilangan.”
Di sisi lain kota, Rafael menatap langit dari jendela kantornya. Ia tersenyum tipis, lalu memutar kembali semua hari-hari yang telah dilalui bersama Sakira. “Aku harus hati-hati… tapi aku juga tidak bisa menahan perasaanku lagi. Sakira, aku ingin kita berhasil. Bukan hanya proyek ini… tapi kita.”
Mereka berdua, meski masih terikat kontrak, mulai menyadari satu hal: cinta adalah risiko terbesar dan paling indah yang pernah mereka ambil. Dan setiap langkah yang mereka ambil ke depan akan menentukan apakah kontrak hati ini akan bertahan atau hancur karena rahasia, cemburu, dan masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap.
Bersambung...