Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 - Sisa yang Tertinggal
...Aku tidak menangis karena dia pergi. Aku menangis karena aku terlalu lama berharap ia akan tinggal....
Happy Reading!
...----------------...
Shaira pulang sendirian sore itu.
Motor maticnya melaju pelan meninggalkan halaman sekolah. Jemarinya mencengkeram setang lebih kuat dari biasanya, sementara pundaknya kaku menahan sesuatu yang tidak terlihat. Helm menutup setengah wajahnya, menyembunyikan ekspresi yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya mengerti.
Biasanya, ada satu hal kecil yang selalu ia lakukan setiap kali motor mulai menjauh dari gerbang sekolah.
Mengirim pesan.
“Udah jalan.”
“Hati-hati, sayang.”
Atau sekadar satu emoji receh yang tidak penting.
Hari ini, tidak ada itu.
Jempolnya sempat bergerak refleks ke arah saku jaket, lalu berhenti di udara sebelum akhirnya turun lagi.
Shaira menoleh sekilas ke kaca spion. Gerbang sekolah semakin kecil, lalu menghilang di tikungan. Tidak ada siapa pun yang mengejarnya. Tidak ada pesan masuk. Notifikasi yang biasanya ia tunggu, hari ini benar-benar diam.
Angin sore menerpa jaketnya, membawa udara yang dingin dan agak lembap. Jalanan Samarinda padat seperti biasa. Klakson bersahutan. Motor-motor lain menyalip tanpa peduli.
Dunia tetap berjalan dengan ritme yang sama—dan justru itu yang terasa paling menyakitkan.
Ia berhenti di lampu merah. Menurunkan kaki, menahan motor tetap seimbang. Sepatunya bergeser pelan di aspal, mencari pijakan yang lebih stabil, meski yang sebenarnya goyah bukan motornya. Lampu lalu lintas menyala merah terlalu lama. Shaira menatap garis putih di aspal, lalu tanpa sadar menelan ludah.
Baru sekarang ia benar-benar menyadari satu hal: tidak ada lagi yang menunggunya sampai rumah.
Biasanya, sebelum lampu hijau menyala, ponselnya sudah bergetar.
“Udah sampai mana?”
“Jalan rame?”
“Jangan ngebut.”
Sekarang, sunyi.
Lampu hijau menyala. Shaira menarik gas pelan. Jalan kembali bergerak. Tapi ada sesuatu di dadanya yang terasa tertinggal di bangku taman sore tadi.
Ia berkendara lebih lambat dari biasanya. Tidak ada alasan untuk buru-buru. Tidak ada siapa pun yang menunggu kabar darinya.
Di satu titik, ia hampir menepi.
Bukan karena capek. Bukan karena motor bermasalah. Hanya karena dadanya terasa terlalu penuh.
Tapi ia tetap melanjutkan perjalanan.
Karena pulang tetap harus dilakukan, meski rasanya tidak lagi sama.
Saat melewati sungai, Shaira sedikit melambat. Airnya berkilau memantulkan cahaya senja yang hampir habis. Angin dari arah air membawa bau lembap yang dingin, menempel di ujung jaketnya seperti kenangan yang enggan benar-benar pergi. Tempat itu biasanya hanya sekadar dilewati. Hari ini, rasanya seperti pengingat.
Tentang sore. Tentang bangku panjang. Tentang kata “selesai” yang tidak diucapkan dengan marah, tapi dengan kelelahan.
Tangannya bergetar sedikit di setang motor. Ia menarik napas dalam-dalam di balik helm. “Tenang,” bisiknya pada diri sendiri. “Sampai rumah aja dulu.”
Saat akhirnya memasuki gang rumah, langit sudah berubah gelap. Lampu-lampu rumah menyala satu per satu. Suara televisi dari rumah tetangga terdengar samar. Anak kecil tertawa entah karena apa.
Semua terasa terlalu normal.
Shaira memarkir motor di teras, mematikan mesin, lalu duduk diam di atasnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Helm masih menempel di kepala. Jaket belum dilepas.
Ia hanya duduk. Diam. Menatap pintu rumah, jemarinya masih menggenggam kunci motor yang sudah tidak ia butuhkan lagi. Seolah kalau ia masuk sekarang, semua akan terasa lebih nyata.
Akhirnya, ia melepas helm, menaruhnya di jok, lalu berdiri.
“Shaira?” suara Mama terdengar dari dalam. “Udah pulang?”
“Iya, Ma,” jawabnya.
Nada suaranya stabil. Padahal dadanya tidak.
Ia masuk, melepas sepatu, lalu langsung menuju kamar dengan alasan klasik—capek, mau istirahat. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang bertanya lebih jauh.
Dan Shaira bersyukur untuk itu.
Begitu pintu kamar tertutup, dunia mengecil.
Ia meletakkan tas di kursi, jaket digantung seadanya. Lalu ia duduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk, kedua tangannya bertumpu di paha. Kepalanya menunduk dalam, sampai rambutnya jatuh menutup sebagian wajah.
Beberapa detik berlalu. Tidak ada apa-apa. Lalu napasnya mulai terasa berat.
Tangannya meraih ponsel di saku jaket.
Refleks. Kebiasaan lama. Layarnya menyala. Tidak ada pesan baru.
Nama Raven masih ada di daftar chat teratas.
Shaira menatapnya lama. Sangat lama. Jempolnya sempat menyentuh layar, lalu berhenti tepat sebelum membuka percakapan itu. Ia tidak jadi membuka chat itu. Tidak juga menghapusnya.
Ia hanya meletakkan ponsel kembali di kasur, lalu berbaring menghadap langit-langit.
Kamar ini sama seperti kemarin. Sama seperti minggu lalu. Sama seperti saat mereka masih bersama.
Tapi rasanya berbeda. Ada ruang kosong yang baru terasa sekarang.
Putus, pikir Shaira, bukan tentang satu percakapan sore tadi.Putus adalah saat kau pulang dan sadar—tidak ada lagi yang perlu kau kabari.
Air mata jatuh pelan. Tidak langsung deras. Seperti bocoran kecil yang akhirnya menemukan jalan keluar. Shaira memejamkan mata, membiarkan hangat air mata meresap ke bantal tanpa berusaha menyekanya.
Ia membiarkan dirinya menangis dalam diam.
Yang ia tangisi bukan hanya Raven. Tapi semua kebiasaan kecil yang sekarang kehilangan arah. Mengirim foto langit. Mengeluh capek. Menunggu balasan sebelum tidur.
Ia memeluk bantal, menariknya dekat ke dada. Napasnya mulai tersengal, tapi tetap tanpa suara. Tangis yang ditahan terlalu lama selalu jatuh seperti itu—diam, tapi menyakitkan.
Dalam gelap, ingatan datang bergantian.
Tawa. Diam. Tatapan yang dulu terasa cukup.
Dan satu kesadaran yang akhirnya utuh: ia tidak ditinggalkan hari ini.
Ia sudah ditinggalkan pelan-pelan sejak lama.
Malam itu, Shaira menangis bukan untuk meminta Raven kembali. Ia menangis untuk dirinya sendiri—yang bertahan, yang berharap,
yang akhirnya harus belajar melepas.
Ketika air matanya mengering dan tubuhnya terasa lelah, Shaira memejamkan mata.
Besok, hidup akan tetap berjalan. Sekolah. Ujian. Nama Raven yang masih akan ia dengar tanpa bisa menghindar.
Tapi malam ini, ia hanya ingin jujur pada rasa sakitnya sendiri. Ia mematikan lampu. Membiarkan gelap mengambil alih.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tertidur tanpa menunggu pesan siapa pun.
Kosong. Sepi. Tapi jujur.
Dan dari situlah, hidup setelah putus perlahan akan dimulai.
...----------------...
Tidurnya datang tanpa mimpi, tapi tidak tanpa rasa.
Shaira terbangun beberapa jam kemudian.
Bukan karena mimpi buruk. Bukan karena suara apa pun.
Ia terbangun karena dadanya terasa kosong dengan cara yang aneh—seperti seseorang yang baru sadar ada sesuatu yang hilang, tapi belum ingat apa.
Lampu kamar masih mati. Jam di dinding menunjukkan hampir tengah malam. Udara terasa lebih dingin. Shaira berguling pelan, menatap layar ponselnya yang gelap di atas kasur.
Tidak ada notifikasi.
Ia menyalakan layar. Refleks yang belum sempat mati.
Tetap tidak ada apa-apa.
Shaira menghela napas panjang, lalu duduk bersandar di kepala ranjang. Rambutnya jatuh berantakan ke bahu. Matanya terasa perih, tapi air mata sudah tidak keluar lagi. Tangis punya batasnya sendiri.
Ia membuka galeri.
Foto-foto lama berderet tanpa diminta. Tanggal-tanggal yang dulu terasa penting sekarang hanya jadi angka. Foto helm di jok motor. Foto tangan di setang. Foto senja yang dulu selalu ia kirim lebih dulu sebelum disimpan.
Ia menutup galeri cepat-cepat. Belum sanggup.
Shaira berdiri, berjalan ke jendela, lalu membukanya sedikit. Udara malam masuk pelan. Di luar, gang rumah sunyi. Lampu teras tetangga masih menyala. Seekor kucing lewat tanpa suara.
Hidup orang lain tidak berubah.
Hanya hidupnya yang terasa bergeser satu langkah ke samping.
Ia bersandar di dinding, lalu perlahan duduk di lantai. Lututnya ditarik ke dada. Lengannya melingkar di sekitar kaki, jari-jarinya saling menggenggam erat, seperti mencoba menahan dirinya agar tidak kembali runtuh.
Dari luar kamar, terdengar suara Mama membalikkan badan di tempat tidur. Shaira menahan napas, takut terdengar. Ia tidak ingin ditanya apa pun malam ini. Ia tidak ingin menjelaskan hal yang bahkan dirinya sendiri belum selesai pahami.
Putus.
Kata itu terasa terlalu singkat untuk menjelaskan semua yang runtuh.
Shaira menutup mata.
Ingatan sore tadi kembali, tapi kali ini tidak sekeras sebelumnya. Lebih seperti gema. Suara Raven yang datar. Tatapan yang lelah. Cara mereka berdiri tanpa saling menyentuh.
Tidak ada pelukan terakhir. Tidak ada permintaan tinggal.
Dan anehnya, justru itu yang membuat perpisahan ini terasa final.
Ia kembali ke kasur, menarik selimut sampai ke dada. Tubuhnya menggigil sedikit. Entah karena dingin atau karena sadar—mulai malam ini, tidak ada lagi “nanti aku kabarin”.
Waktu berjalan pelan.
Shaira tidak tidur lagi. Ia hanya berbaring, menatap kegelapan, membiarkan pikirannya berantakan.
Tentang besok. Tentang sekolah. Tentang bagaimana caranya berjalan melewati koridor yang sama, dengan orang yang sama, tanpa status yang sama.
Tentang motor yang akan ia kendarai sendiri lagi. Tanpa pesan sebelum berangkat. Tanpa “udah sampai?”.
Sekitar jam dua pagi, ia bangkit, berjalan ke meja belajar. Buku-buku masih terbuka dari kemarin. Pulpen tergeletak tidak rapi. Semua terlihat seperti ia akan kembali sebentar lagi.
Padahal, sesuatu sudah selesai.
Shaira merapikan buku-buku itu satu per satu. Gerakannya lambat. Hati-hati. Seolah kalau ia terlalu kasar, perasaannya akan jatuh lagi.
Di laci bawah, ia menemukan kertas kecil—catatan tangan Raven dari entah kapan.
“Jangan lupa makan.”
Tulisan itu sederhana. Tidak puitis. Tidak istimewa.
Tapi Shaira menatapnya lama, ujung jarinya menyentuh lipatan kertas itu sebentar sebelum akhirnya melipatnya kembali. Tidak dibuang. Tidak juga disimpan rapi.
Hanya dikembalikan ke laci.
Beberapa hal tidak harus dihapus. Cukup tidak lagi dipegang.
Menjelang subuh, matanya akhirnya terasa berat. Ia kembali ke kasur, memejamkan mata.
Kali ini, ia tertidur.
Bukan tidur yang tenang. Tapi cukup untuk membuat pagi datang.
Cahaya matahari menyelinap lewat celah gorden. Suara ayam entah dari mana terdengar samar. Dunia kembali berjalan.
Shaira membuka mata. Tidak ada rasa lega. Tidak ada rasa hancur baru.
Hanya satu kesadaran sederhana: hari ini, ia harus bangun tanpa membawa siapa pun bersamanya.
Ia bangkit, duduk di tepi kasur, lalu menarik napas panjang. Bahunya naik turun perlahan, mencoba menenangkan sesuatu yang belum sepenuhnya reda.
“Pelan aja,” gumamnya pada diri sendiri. “Satu hari dulu.”
Karena setelah putus, yang paling sulit bukan kehilangan orangnya—tapi belajar hidup tanpa kebiasaan yang tumbuh bersama rasa.
...----------------...
Shaira — Aku kehilangan versi diriku yang selalu punya tempat untuk pulang.
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/