Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Laras melihat perubahan pada laki laki berjenggot tipis itu. Ia datang ke kantor dengan mata merah duduk di meja dalam diam, menolak tawaran makan siang—pertama kalinya sejak ia kembali.
"Ada apa?" tanyanya duduk di seberang meja tanpa diundang.
"Nggak apa apa, Ras"
"Maya?"
Ia menatap tajam, pertanyaan itu mengganggu hatinya, "Lo tahu dari mana?"
Laras tersenyum tipis sampai ke mata. "Gue melihat Maya di parkiran kemarin membawa koper masuk mobil lalu pergi?"
Raka tidak menjawab, itu memang jawabannya.
"Lo nggak usah khawatir," Perempuan itu berkata dengan suara lembut malah terlalu lembut untuk telinga orang yang lagi bingung. "Orang bisa pergi dan kembali. Atau... bisa saja diganti."
"Maya bukan barang," balas Raka dingin. "Dan gue nggak mau diganti."
Laras mengangkat tangannya sedikit menyerah. "Gue nggak bermaksud begitu, Ra gue cuma... gue cuma mau lo tahu, lo nggak sendiri. Itu aja." Ia berdiri, kembali ke mejanya tapi sebelum pergi, sebuah kotak kecil berpita merah diletakkannya diatas meja
"Buka nanti," bisiknya pelan
\=\=
Rasa penasaran laki laki itu begitu membuncah sesampainya di rumah. Ia membuka kotak itu dalam kamarnya
sebuah coklat berbentuk hati dengan kartu ucapan diatasnya: "Untukmu telah mengisi hariku dulu, semoga menjadi lebih baik. —Laras"
Raka menelisik —enam tahun lalu, ia pernah mengirim coklat serupa saat mereka pacaran ia senang sekali tapi kini? Ia merasa... apa? Berdosa? Bersalah ? menerima ini sama saja mengkhianati orang orang yang mencintai, Tapi siapa yang di khianati ? Mereka semua sudah pergi.
Ia meletakkan kotak itu didalam lemari, tidak dibuang tidak dimakan, hanya... ada.
---
Laras datang lebih awal sebelum masuk kantor membawa dua kotak nasi—
"Gue tahu lo nggak mau keluar," ucapnya pelan meletakkan di atas meja. "Jadi gue bawa masuk."
"Lo nggak usah—"
"Gue tahu, Raka, tapi gue lapar, dan gue nggak mau makan sendiri." Ia lalu duduk membuka kotaknya sendiri. "Makan,dulu Raka, atau gue lapor ke HRD lo kerja sambil puasa."
Raka hampir tertawa membuka kotak nasi—ayam goreng, sambal, timun sederhana, tidak seperti masakan Maya selalu rumit dan penuh perhatian tapi... enak, sangat enak.
Mereka makan dalam diam. Laras sesekali bercerita—soal proyek, rekan kerja yang aneh, apartemen barunya yang bocor saat hujan. Raka mendengarkan, tidak banyak menjawab, tapi ia mendengarkan.
Itu sudah lama tidak ia lakukan—mendengarkan orang lain selain Kinan atau Maya."Thanks ya Ras ," ucapnya saat selesai menyuap nasi "Untuk nasinya, untuk perhatian Lo."
Gadis berambut panjang itu tersenyum, sebuah kemenangan kecil.
"Besok gue bawa lagi?"
"Nggak usah repot, repot, gue masih bisa."
"Bukan repot, Ra, ini yang membuat gue senang."
Raka menatapnya tidak ada yang mengalah.
"Oke," ucapnya akhirnya. "Tapi gue bayar."
"Deal, tanpa bayaran."
---
Minggu berjalan dengan cepat dan sebuah pola baru terbentuk. Laras datang dengan bekal setiap hari, mereka makan bersama—kadang di kantor, kadang di taman kecil belakang gedung. Laras bercerita banyak dan Raka mulai menjawab sedikit demi sedikit.
Temuan teman kantor memperhatikannya, bisik-bisik di pantry. "Balikan?" "Mantan mana yang menang?" Kasian Kinan, belum juga satu tahun, tapi cewek yang satu lagi mana ya?"
Raka mendengar tidak peduli atau pura-pura tidak peduli sampai sahabat dekatnya Dito menegur saat istirahat siang di pantry , " Lo baru saja kehilangan, Raka, jangan sampai lo kehilangan untuk kedua kalinya."
" Maksud Lo?"
" Gue kenal Maya sudah sejak lama, saat dulu bersama Kinan."
" Lalu ?"
" Sementara Laras orang baru di kantor walau dia mantan Lo."
"Masalahnya apa ?"
"Gue cuma ngingetin Lo, Ra...gak ada mantan datang kecuali punya maksud."
Raka hanya diam menatapnya lamat, "Gue masih waras Dik, gak mungkin gue mengulang cerita lama yang menyakitkan."
"Lu menyia nyiakan orang baik demi mengenang cerita lama."
laki laki itu tercenung berbisik didalam hatinya, "'May, maaf kan gue, tapi Lo mesti ingat bahwa Laras bukan siapa siapa."
---
"Cuma kopi, Ra, gak jauh bukan kencan atau janji."
Kalimat itu selalu mampir di gendang telinga membuatnya hampir luluh. Ia ingin menolak, tapi rumahnya selalu kosong. Terlalu kosong. Tidak banyak aktivitas yang ia lakukan semenjak Maya pergi, selain menyiram tanaman. Tapi mereka tetap layu—seolah tahu pemilik keduanya sudah pergi.
"Oke," kata Raka. "Cuma kopi."
Kafe kecil. Lampu temaram. Laras memesan cappuccino, Raka americano hitam.
"Lo masih begitu," kata Laras, melihat pesanan Raka. "Kopi hitam, tanpa gula. Pahit."
"Gue suka pahit."
"Gue tahu." Laras menyesap cappuccino nya. "Dulu gue pernah coba minum kopi lo. Gue muntah."
"Kenapa lo inget?"
Laras menatapnya lurus tidak ada tipuan.
"Karena gue inget semua, semua yang baik, yang buruk. Gue inget cara lo menatap waktu pertama kali, lo pilih Kinan karena ulah gue sendiri... gue inget cara gue pergi dengan amarah, kata-kata yang nggak bisa ditarik kembali."
Raka menatap gelasnya kopi hitam, tanpa gula.
"Gue juga inget," kata Raka. "Gue inget gue bilang ke lo—gue cinta dia bukan karena lebih baik. Tapi karena lu sendiri meminta lebih."
"Dan sekarang?"
Raka menatapnya lamat, wanita egois, posesif, tapi penuh gairah sekarang terlihat lebih tenang, sabar, tapi matanya tetap sama, mencari dan menginginkan.
"Sekarang gue nggak tahu," jawabnya jujur. "Kinan pergi, Maya juga pergi. Gue... gue tetap di sini, gue ..."
Laras meraih tangannya sebelum menarik."Gue bisa bantu lo cari," katanya, "bukan gantikan mereka, tapi... " Ia terdiam
Tangan yang halus, dingin, asing, bukan seperti tangan Maya kurus tapi hangat, bukan seperti tangan Kinan kasar tapi menyejukkan
Tapi ia ada di sini nyata. Raka tidak menarik, tapi tidak juga meremas.
Udara di sekeliling mereka berubah seperti ada yang menghela napas panjang, tepat di belakangnya dingin, merambat dari ubun-ubun hingga ke tulang ekor.
" Mas Raka."
Itu bukan suara tapi Raka tahu betul siapa itu.
Kopi di gelasnya bergerak perlahan, permukaan yang hitam pekat beriak membentuk pusaran kecil. Raka terpaku. Laras sedang tersenyum penuh harap, tiba-tiba menggigil hebat. "Kenapa AC-nya dingin banget, sih?" gumam menggesek-gesek lengannya.
Wajah laki laki itu menegang melihat bayangan tipis terbentuk di pusaran kopi menatapnya, tangan Laras yang masih menggenggam.
Lalu, gelas kopi itu bergeser di tengah beberapa sentimeter, menjauh dari genggamannya, gesekannya nyaring di telinga seperti bisikan peringatan.
"Ra?" panggil laras "Lo kenapa?"
Ia tidak bisa menjawab, samar melihat di balik bahunya, di kaca jendela kafe yang buram, bayangan dengan rambut panjang yang dulu ia sisir setiap malam, kini basah, menempel di pelipis. Matanya sayu menatap langsung ke arah tangan masih bersentuhan.
Ia dengan cepat menariknya, wajahnya berubah pucat
"Raka..."
Lampu temaram di atas meja berkedip, sekali, dua kali lalu padam.
Raka tahu itu bukan listrik dan ketika hidup kembali bayangan itu sudah tidak ada, hanya pantulan dirinya sendiri tampak lelah, dan di sampingnya terbentuk dari embun sebuah tulisan
Pulang
\=\=\=
mampir 🤭