NovelToon NovelToon
Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Mahkota Darah: Pembalasan Sang Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Wanita perkasa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.

Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Gadai Martabat di Balik Salju

Suara teriakan dari pos penjaga atas masih bergema di dinding-dinding kristal gua saat Elara melangkah keluar. Udara dingin pegunungan yang biasanya terasa menusuk, kini justru terasa lambat dan tunduk di bawah otoritas barunya. Pupil gandanya berputar pelan, membelah kegelapan malam menjadi lapisan-lapisan aliran mana yang terlihat jelas seperti benang-benang cahaya. Di ufuk perkemahan, ia melihat rona kemerahan dari obor yang bergerak liar dan mendengar dentum logam yang beradu.

"Nyonya, tunggu! Anda tidak bisa keluar dalam kondisi seperti ini!" seru Kaelen, mencoba mengejar langkah Elara yang terasa sangat ringan namun cepat.

Elara berhenti tepat di bibir gua, menatap ke arah perkemahan yang kini riuh oleh kepanikan. "Apa kau merasakannya, Kaelen? Bau belerang dan kain terbakar itu? Mereka bukan sekadar rombongan yang tersesat."

"Saya merasakannya, Nyonya. Tapi lihat mata Anda... lihat cahaya di tangan Anda," suara Kaelen merendah, dipenuhi ketakutan yang berusaha ia sembunyikan. "Jika prajurit melihat Anda seperti ini, mereka tidak akan melihat seorang Ratu. Mereka akan melihat entitas yang selama ini mereka takuti dalam dongeng-dongeng gelap."

"Biarkan mereka melihat," sahut Elara dingin, suaranya bergema dengan nada ganda yang membuat bulu kuduk Kaelen berdiri. "Lebih baik ditakuti oleh kawan daripada mati di tangan lawan karena pemimpinnya pengecut."

"Ini bukan soal keberanian! Ini soal kerahasiaan kekuasaan Anda!" Kaelen meraih bahu Elara, namun tangannya bergetar saat bersentuhan dengan aura dingin yang memancar dari tubuh wanita itu. "Kaisar memiliki mata-mata di mana-mana. Jika berita tentang Void Level ini sampai ke telinga Valerius sebelum kita siap, semua rencana pembalasan ini akan hancur sebelum dimulai."

Elara menepis tangan Kaelen dengan gerakan perlahan. "Kerahasiaan tidak akan ada gunanya jika perkemahan ini rata dengan tanah malam ini. Mereka yang datang membawa niat membunuh, Kaelen. Aku bisa melihat aliran mana mereka—tajam dan haus darah."

"Lalu apa rencana Anda? Menghancurkan mereka semua dan membiarkan dunia tahu siapa Anda sebenarnya?"

"Aku akan menggunakan opsi yang tidak mereka duga," Elara menatap telapak tangannya yang kini memiliki garis-garis kristal transparan. "Aku akan menunjukkan otoritas, tanpa harus membongkar seluruh isi kepalaku."

Mereka berdua bergerak turun menuju perkemahan. Di gerbang utama, barisan pertahanan mulai goyah. Rombongan tak dikenal itu mengenakan jubah abu-abu berat dengan lambang tentara bayaran elit, namun teknik bertarung mereka terlalu terorganisir untuk sekadar tentara bayaran. Mereka membawa perisai anti-sihir yang berpendar redup, meredam setiap serangan panah api yang dilepaskan oleh prajurit Elara.

"Tahan posisi! Jangan biarkan mereka menembus gerbang!" teriak Juna dari garis depan, pedangnya bersimbah darah.

"Mereka terlalu kuat, Sersan! Sihir kita tidak mempan pada perisai itu!" sahut seorang prajurit dengan napas terengah.

Tepat saat gerbang kayu itu mulai berderit akibat hantaman palu besar musuh, sebuah gelombang kejut biru menyapu tanah, membekukan salju di bawah kaki para penyerbu dalam sekejap. Elara muncul di atas barikade, jubahnya berkibar ditiup angin kencang yang seolah-olah berpusat pada dirinya.

"Hentikan serangan ini, atau salju di bawah kaki kalian akan menjadi makam abadi," suara Elara menggelegar, memotong kebisingan pertempuran.

Pemimpin rombongan penyerbu, seorang pria tinggi dengan bekas luka di pipinya, mendongak. Ia menyipitkan mata saat melihat pupil ganda Elara yang bersinar di tengah kegelapan. "Jadi, ini adalah wanita yang dicari-cari oleh kekaisaran? Kau tampak lebih mengerikan dari laporan yang kami terima."

"Siapa yang mengirimmu? Kapten Harka atau langsung dari meja Valerius?" tanya Elara, matanya mulai memindai titik lemah pada perisai anti-sihir mereka.

Pria itu tertawa kasar, suaranya serak tertelan angin. "Kami tidak bekerja untuk orang-orang lemah seperti Harka. Kami di sini untuk mengambil apa yang seharusnya milik dunia luar. Serahkan kristal itu, dan mungkin aku akan menyisakan beberapa prajuritmu untuk menguburmu."

"Kau salah bicara jika mengira martabatku bisa ditukar dengan nyawa," Elara melangkah maju ke udara kosong, namun kakinya seolah-olah menginjak anak tangga transparan yang terbuat dari tekanan mana.

"Nyonya, jangan!" teriak Rina dari arah tenda logistik, wajahnya pucat pasi melihat sosok Elara yang tampak seperti dewi kematian.

Elara tidak menghiraukan peringatan itu. Ia mengangkat tangan kirinya ke langit. "Kalian mengandalkan perisai anti-sihir karena kalian pikir sihir selalu datang dari depan. Tapi kalian lupa, alam Utara ini adalah milikku."

Secara instan, Elara memanipulasi kelembapan udara di belakang barisan musuh. Ia tidak menyerang perisai mereka secara langsung. Alih-alih melakukan konfrontasi fisik yang sia-sia, ia membekukan uap air di udara menjadi ribuan jarum es yang tajam. Dengan satu sentakan jari, jarum-jarum itu meluncur dengan kecepatan tinggi, menghujam punggung para penyerbu yang tidak terlindungi oleh perisai.

Jeritan kesakitan pecah seketika. Barisan musuh kocar-kacir saat mereka menyadari bahwa perlindungan mereka tidak berguna melawan serangan dari titik buta.

"Sialan! Formasi melingkar! Lindungi punggung kalian!" perintah pemimpin penyerbu itu dengan panik.

"Terlambat," bisik Elara.

Ia melepaskan Void Burst yang terkendali, sebuah ledakan energi murni yang hanya berfokus pada area musuh, menghantam mereka hingga terlempar beberapa meter ke belakang tanpa merusak satu pun tiang tenda di sekitarnya. Namun, saat debu es mulai menipis, Elara melihat ketakutan yang nyata di mata para prajuritnya sendiri. Juna tertegun, Rina menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar, dan para prajurit barisan Bisu perlahan mundur selangkah saat Elara mendarat di tanah.

"Nyonya..." Juna berbisik, suaranya mengandung keraguan yang dalam. "Apakah itu benar-benar Anda?"

Elara merasakan kekosongan yang dingin di dadanya. Inilah harga dari kekuasaan. Semakin kuat ia menjadi, semakin jauh ia dari kemanusiaan yang ia coba lindungi. Martabatnya sebagai penguasa kini berdiri di atas fondasi ketakutan bawahannya sendiri.

"Kaelen, amankan para tawanan," perintah Elara tanpa menoleh, suaranya datar dan tak tersentuh emosi.

"Tapi Nyonya, mereka belum menyerah sepenuhnya!" Kaelen menunjuk ke arah pemimpin penyerbu yang mulai bangkit kembali dengan seringai licik.

Pria dengan bekas luka itu menyeka darah dari bibirnya. "Hebat. Benar-benar hebat. Tapi kau lupa satu hal, Elara... atau harus kupanggil Aurelia? Kami tahu kelemahanmu. Kau terlalu peduli pada bidak-bidak kecilmu ini."

Pria itu memberikan isyarat tangan, dan tiba-tiba beberapa penyerbu yang masih bertahan menarik rantai yang tersembunyi di bawah salju. Rantai-rantai itu terhubung pada perangkap yang telah mereka pasang sebelumnya di sekitar area tenda medis.

"Lepaskan mereka!" teriak Kaelen saat melihat beberapa prajurit yang terluka diseret oleh mekanisme rantai tersebut.

"Pilih, Ratu Asteria," pemimpin musuh itu berdiri di tengah kepungan prajurit Elara, namun ia memegang sebuah alat picu sihir. "Kau bisa membunuhku sekarang, tapi saat kepalaku jatuh, perangkap di bawah tenda medis itu akan meledak dan membawa semua orang di dalamnya bersamaku. Termasuk jenderal kesayanganmu ini jika ia berani melangkah lebih dekat."

Elara membeku. Matanya yang memiliki pupil ganda bergetar hebat saat ia melihat Kaelen berada di jalur ledakan potensial tersebut, berusaha memutus rantai dengan pedangnya. Di saat yang sama, sensorik Void-nya menangkap aliran mana yang tidak stabil di bawah tanah, siap meledak dalam hitungan detik.

"Jangan dengarkan dia, Elara! Bunuh saja mereka!" seru Kaelen, meski ia tahu posisinya sangat berbahaya.

Elara menatap tangan kirinya. Cahaya biru transparan di sana mulai berdenyut tidak stabil seiring dengan kemarahan dan ketakutan yang bercampur di hatinya. Ia harus memilih: martabat sebagai pemimpin yang tidak bisa ditekan oleh ancaman, atau nyawa Kaelen dan prajuritnya yang menjadi jangkar terakhir kemanusiaannya.

Udara di sekitar Elara bergetar hebat, menciptakan distorsi visual yang membuat sosoknya tampak membias di antara butiran salju. Pupil gandanya berputar dalam ritme yang berlawanan, memproses ribuan kemungkinan dalam fraksi detik. Di depannya, pemimpin penyerbu itu masih menggenggam pemicu sihir dengan tangan yang gemetar—sebuah tanda bahwa meski ia memegang kendali atas ledakan, ia sendiri gentar menghadapi aura predator yang memancar dari Elara.

"Kau pikir aku selemah itu, membiarkanmu mendikte langkahku dengan nyawa orang lain?" Elara berbicara, suaranya kini terdengar seperti gesekan kristal yang retak.

"Jangan coba-coba menggertak, Elara! Satu langkah saja, dan tenda medis itu akan menjadi abu bersama semua orang di dalamnya!" pria itu berteriak, matanya melotot liar.

Elara tidak melangkah. Sebaliknya, ia memejamkan mata sesaat. Dalam kegelapan batinnya, ia memanggil resonansi kristal biru yang baru saja ia asimilasi di dalam gua. Ia tidak mencari kekuatan untuk menghancurkan, melainkan presisi untuk memanipulasi. Melalui sirkuit Void Level 2.0, ia memetakan aliran mana di bawah tanah yang terhubung ke pemicu sihir tersebut.

"Kaelen, menjauh dari sana sekarang!" perintah Elara, namun kali ini ada nada emosional yang terselip di sela otoritasnya.

"Nyonya, saya tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja!" Kaelen bersikeras, pedangnya hampir menyentuh rantai perangkap.

"Ini perintah absolut, Kaelen! Pergi!"

Tepat saat Kaelen melompat mundur karena tekanan aura Elara yang mendadak memuncak, Elara menghantamkan tangan kirinya ke permukaan salju. Garis-garis cahaya transparan menjalar secepat kilat di bawah permukaan tanah, mengejar jalur mana milik musuh. Ia tidak mencoba mematikan aliran itu, melainkan melakukan Mana Inversion—membalikkan polaritas ledakan sehingga energi tersebut terserap kembali ke dalam tanah sebelum sempat mencapai titik picu.

Pemimpin penyerbu itu menekan tombol pemicunya. "Mati kalian semua!"

Keheningan yang mencekam menyusul. Tidak ada ledakan. Tidak ada api yang membubung. Hanya ada suara desis halus dari uap mana yang keluar dari pori-pori tanah yang membeku.

Wajah pria itu memucat. "Apa... apa yang kau lakukan? Sihir macam apa ini?"

"Sihir yang tidak akan pernah kau pahami karena kau hanya melihat kekuasaan sebagai alat penghancur," Elara berdiri tegak, napasnya sedikit memburu. Tangan kirinya kini berpendar lebih terang, menunjukkan beban besar yang baru saja ia tanggung untuk menetralkan ledakan tersebut.

"Bunuh dia! Sekarang!" teriak pria itu kepada sisa-sisa pasukannya.

Namun, semangat para penyerbu itu telah hancur. Mereka melihat pemimpin mereka gagal, dan mereka melihat seorang wanita yang mampu menjinakkan ledakan sihir hanya dengan satu sentuhan tangan. Sebelum mereka sempat bergerak, pasukan barisan Bisu yang dipimpin oleh Juna merangsek maju. Dengan koordinasi yang sempurna, mereka melumpuhkan para penyerbu yang sudah kehilangan arah.

Juna menebas senjata lawan dengan presisi yang mematikan, sementara matanya tetap waspada pada Elara. "Nyonya, area telah diamankan. Tawanan dalam pengawasan kami."

Elara mengangguk lemah, namun matanya langsung tertuju pada Kaelen yang terduduk di salju, berusaha mengatur napasnya. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa berat seolah-olah seluruh pegunungan Utara sedang menekan bahunya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Elara, suaranya kembali melembut, meski pupil gandanya belum kembali normal.

Kaelen mendongak, menatap Elara dengan campuran rasa syukur dan ngeri. "Saya baik-baik saja... tapi Nyonya, apa yang baru saja Anda lakukan itu... itu akan menarik perhatian yang jauh lebih besar dari sekadar tentara bayaran."

"Aku tahu," Elara menoleh ke arah kegelapan hutan di luar perkemahan. "Martabat perkemahan ini terjaga malam ini, tapi harga yang harus kubayar adalah terungkapnya identitas baru ini lebih cepat dari perkiraanku."

Tiba-tiba, dari arah belakang tawanan, pemimpin penyerbu yang tadi terkapar melakukan satu gerakan terakhir. Ia tidak menyerang Elara, melainkan mengeluarkan sebuah suar sihir berwarna ungu pekat dan meluncurkannya ke langit. Suar itu meledak di angkasa, menciptakan simbol lingkaran ganda yang persis dengan pupil mata Elara saat ini.

"Apa itu?" tanya Rina dengan suara gemetar.

"Itu adalah tanda untuk Sekte Void," Elara berbisik, wajahnya kini benar-benar dingin. "Mereka tidak hanya mengirim orang untuk menjemput kristal itu. Mereka mengirim umpan untuk memastikan apakah 'Wadah' yang mereka cari telah bangkit."

Pemimpin penyerbu itu tertawa terbahak-bahak meskipun darah mengalir dari mulutnya. "Kau telah menunjukkan matamu pada dunia, Aurelia! Sekarang, bukan hanya kaisar yang akan memburumu... tapi seluruh kegelapan yang selama ini kau coba bendung!"

Elara mengangkat tangannya, siap memberikan serangan akhir, namun ia berhenti saat melihat Kaelen tiba-tiba terbatuk hebat dan memuntahkan darah hitam. Pedang mana di tangan Elara bergetar.

"Kaelen!" Elara berlutut di samping jenderalnya.

"Nyonya... suar itu... ada racun di udara saat ia meledak..." Kaelen berbisik sebelum kesadarannya mulai hilang.

Elara mendongak ke langit yang kini dipenuhi warna ungu dari sisa suar tersebut. Di kejauhan, ia mendengar suara gemuruh yang lebih besar dari sekadar longsoran salju. Sesuatu yang sangat besar dan kuno sedang bergerak mendekati perkemahan, merespons simbol yang baru saja dinyalakan.

Ia harus memilih lagi. Mengejar sisa-sisa musuh yang melarikan diri untuk menutup mulut mereka, atau tetap di sini untuk menyelamatkan Kaelen yang nyawanya berada di ujung tanduk karena racun tak dikenal itu, sementara ancaman yang lebih besar sedang menuju ke arah mereka dalam hitungan menit.

Tangan Elara mencengkeram salju hingga bekuan es menusuk kulitnya. Ia menatap pupil gandanya yang terpantul di pedang Kaelen yang terjatuh. Keputusan ini akan menentukan apakah ia akan tetap menjadi manusia yang memiliki hati, atau sepenuhnya berubah menjadi Ratu Void yang absolut dan tak tersentuh.

"Juna! Siapkan pertahanan melingkar! Rina, bawa Kaelen ke dalam gua kristal, hanya energi di sana yang bisa menahan racun ini!" Elara berteriak, matanya berkilat penuh amarah yang terpendam.

Tepat saat ia berdiri untuk menghadapi kegelapan yang mendekat, sebuah bayangan raksasa muncul dari balik kabut salju di gerbang, dan sepasang mata merah besar menyala, menatap langsung ke arah pupil ganda Elara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!