Setelah dikhianati oleh orang orang terdekatnya, Indira pun berusaha untuk keluar dari zona yang membuatnya tertekan, namun orang orang itu sama sekali tidak membiarkan Indira untuk bebas. Dengan rasa trauma yang dia alami, ia di hantui kata kata menyakitkan yang selama ini ia dengar, lantas bagaimana caranya agar bisa keluar dari zona tersebut? apakah dia akan menemukan cinta sejati yang selama ini ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penikmat_lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar mengejutkan
Indira pun menceritakan kepada Yanti mengenai infusan nya yang habis sebelum Yanti datang, dan untung saja dirinya masih memiliki Nia yang siap datang untuk membantunya saat itu. Sehingga dirinya tidak kehabisan infus sebelum Ibunya datang, dan Ibunya sendiri hanya menanggapinya dengan tersenyum kepada Indira.
"Tadi Bunda juga mampir ke Bude soalnya," Ucap Yanti.
"Terus Bude gimana? Bude marah kah sama Dira, Bunda?" Indira nampak khawatir apabila Ana marah kepadanya.
Indira sendiri paham bagaimana sikap dari Ana yang sebenarnya, Ana mudah sekali marah dan tidak terima apapun yang mengganjal dihatinya. Sehingga Indira takut apabila perbuatannya sebelumnya menciptakan jarak diantara Ibunya dan Ana, dan hal yang paling Indira takutkan hanyalah hubungan diantara keduanya terputus karena dirinya.
Indira tidak ingin hanya gara gara dirinya hubungan antara Kakak dan Adik itu terputus, namun dirinya juga tidak ingin menikah dengan lelaki seperti itu dan hanya akan menghancurkan hidupnya nanti. Apalagi lelaki itu sok sombong, bahkan soal pekerjaan saja dia pilih pilih, sehingga harta yang dimiliki oleh Ayahnya sebelum meninggal pun perlahan lahan habis ditangannya.
Apalagi lelaki itu menganut gengsi, sehingga jika ada saudaranya yang memiliki sesuatu barang mahal dirinya juga harus ikut membelinya untuk sama persis dengan saudara saudara itu. Mendengar kisahnya yang penuh tekanan gengsi saja sudah membuat Indira menyerah, padahal baru perkenalan saja sudah menampakkan jati dirinya meskipun belum semuanya.
Indira yang orangnya selalu tampil apa adanya pun merasa minder dengan Sugik, ditambah lagi dengan ia yang suka sekali pilih pilih makanan. Pemasukannya sedikit namun pengeluarannya banyak hanya untuk makan enak, oleh karenanya lahan sawah yang sangat luas itu perlahan lahan menyusut dan bahkan habis sia sia.
"Tadi loh ada kejadian bagus Dira, dirumah Bude,"
"Kejadian apa Bun? Bagus apanya?" Indira sangat penasaran dengan kabar yang dibawa oleh Ibunya itu.
"Kamu ingat kan soal kemarin?"
"Ingat, ada apa emang?"
"Sugik ditanya sama warga sekitar, kok nggak jadi lamaran sama kamu, eh jawabnya malah nggak dibolehin Pakdemu Dira. Lalu Bude mu langsung nggak terima kalo Pakdemu dituduh kayak gitu, langsung lah dilabrak tuh Pakdenya sama Budenya yang nyebarin gosip gitu,"
Yanti pun menceritakan kepada Indira mengapa alasannya telat datang ke rumah sakit untuk menjenguk Indira, karena ada hal yang penting yang harus ia lakukan. Ia harus memisahkan perkelahian antara Kakaknya dengan orang lain terlebih dahulu, sehingga hal itulah yang membuatnya harus datang terlambat untuk menjenguk Indira.
Ana tidak terima apabila suaminya dituduh aneh aneh oleh keluarga itu, yang mengatakan bahwa suaminya tidak menyetujui hubungan diantara Sugik dan Indira. Mereka juga mengatakan bahwa Indira sudah mencintai Sugik sebelumnya, namun hubungan keduanya tidak mendapatkan restu dari Pakdenya sehingga harus ia akhiri saat itu.
Mendengar kabar itu sontak langsung membuat Ana murka, padahal mereka semua juga tau bahwa yang tidak mau melanjutkan hubungan itu adalah Indira bukan Pakdenya Indira. Tapi Sugik mengatakannya kepada semuanya bahwa hubungan keduanya tidak mendapatkan restu dari Pakdenya Indira, oleh karenanya Ana langsung murka dengan mendatangi rumah mereka.
"Padahal kan semuanya sudah tahu sendiri kan ya Bunda, untung saja enggak jadi nikah sama orang itu, kalau jadi entah bagaimana nasibku." Ucap Indira.
Indira sendiri tidak bisa membayangkan dirinya tinggal bersama dengan lelaki itu, padahal lagi itu yang salah namun ia menyalahkan orang lain. Mungkin saja di masa depan Indira bisa saja tidak melakukan kesalahan namun dituduh melakukannya, sehingga banyak orang yang mendukung Sugik dan menuduh Indira yang bersalah.
Untung saja sikap itu ketahuan ketika belum menjalani hubungan yang serius, andai saja mereka jadi menikah mungkin Indira akan menyesal nantinya. Karena kehidupannya akan sangat menderita daripada sebelumnya, orang orang yang suka sekali playing victim dan manipulatif seperti itu memang harus dijauhi.
Untung saja Allah maha baik kepada Indira, sehingga Ia langsung menunjukkan sikap dan sifat asli dari Sugik kepada Indira agar Indira bisa menjauhinya. Allah sangat menyayangi Indira dan tidak mau Indira semakin terluka nantinya, sehingga meskipun dengan cara yang sangat menyakitkan Allah menjauhkan lelaki itu dari Indira.
"Iya semua orang juga sudah tau kalo itu kesalahan lelaki itu sendiri, tapi dia nuduh Pakdemu yang memutuskan hubungan itu," Ucap Yanti.
"Untung saja nggak jadi lamaran bulan depan, kalo nggak ada kejadian kayak gini pasti kalian akan lamaran nantinya," Ucap Yono menyela.
"Bener tuh Dira, intinya kejadian ini gunakan sebagai pelajaran saja. Jangan terlalu dipikirkan,"
Terlalu memikirkan sesuatu akan membuat kondisi Indira drop lagi, sehingga keduanya menyimpulkan bahwa hal yang menyebabkan Indira sakit saat ini hanyalah karena Indira yang terus memikirkan soal kejadian ini. Tiap kali Indira sakit juga karena hal hal yang tengah menganggu isi pikirannya, sehingga Indira mudah drop hanya karena memikirkan sesuatu yang terjadi dalam hidupnya.
Sumber dari segala penyakit yang dialami oleh manusia hanyalah berasal pada pikirannya, semakin memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dipikir akan membuat otaknya tertekan, dan jika tertekan maka semakin rusak pula tubuhnya. Jika pikirannya bahagia manusia akan berpikir dua kali untuk menyakiti tubuhnya, dan tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan bagi tubuhnya.
Pikiran cemas atau stres memicu pelepasan hormon stres (kortisol, adrenalin) yang memengaruhi organ tubuh. Respons fisik ini (jantung berdebar, otot tegang, dll.) adalah respons alami, namun jika terus-menerus, bisa menjadi gejala penyakit kronis.
Banyak pikiran (overthinking) dapat menyebabkan masalah kesehatan mental seperti stres, kecemasan, depresi, serta masalah fisik seperti insomnia, sakit kepala, gangguan pencernaan (maag, asam lambung), penurunan daya tahan tubuh, dan masalah jantung, karena memicu pelepasan hormon stres yang berdampak negatif pada seluruh tubuh. Kondisi ini juga mengganggu konsentrasi, memicu perubahan nafsu makan, serta menyebabkan nyeri otot dan kerontokan rambut.
Pikiran bahagia melepaskan hormon positif (dopamin, serotonin, endorfin) yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi stres, serta menurunkan risiko penyakit kronis. Secara fisik, ini menstabilkan tekanan darah, meningkatkan kesehatan jantung, dan memperpanjang usia. Secara mental, ini meningkatkan fokus, memori, dan motivasi.
Rasa bahagia tidak hanya memengaruhi otak, tapi juga jantung dan pembuluh darah. Ketika merasa bahagia, anda berada dalam kondisi rileks, hal ini juga akan membuat jantung dan pembuluh darah anda juga rileks.
Pikiran bahagia adalah pengalaman menyenangkan dalam pikiran kita yang membentuk cara kita memandang diri sendiri dan dunia di sekitar kita . Berpikir positif meningkatkan kesejahteraan kita sehingga kita dapat menjalani hidup yang memuaskan. Pikiran bahagia dapat membuat Anda merasa bahagia seketika, memperbaiki suasana hati, dan mengurangi stres.
"Kamu kebanyakan mikir kali, mangkanya bisa jatuh sakit seperti ini," Ucap Yono dan hanya membuat Indira tersenyum kecut.
Seberapa kuatnya Indira akan terlihat lemah apabila yang diserang pertama kali adalah pikirannya, dan seberapa lemah Indira akan terus bertahan apabila yang dilukai adalah tubuhnya. Jika tubuhnya terluka maka mudah untuk disembuhkan seiring berjalannya waktu, sementara jika pikiran dan hatinya terluka bahkan waktu seberapa lama pun tidak akan mampu untuk menyembuhkan.
Tiba tiba ponsel Indira pun berdering pertanda ada pesan yang masuk, Indira langsung mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang tengah mengirimkan pesan kepadanya. Disana terpampang dengan jelas nama Dion, Dion adalah saudara laki laki dari Rania yang telah diperkenalkan kepadanya, dan lelaki itu kini tengah mengirimkan pesan kepada Indira.
*Kamu diruangan apa?* Isi pesan tersebut.
*Dahlia depan sendiri,* Jawab Indira dipesan tersebut.
*Aku nggak tau, dari tadi muter muter nggak ketemu,*
*Bentar, aku ke depan*
Bagi orang yang belum pernah datang ke rumah sakit akan merasa bingung dengan nama ruangan ruangannya, sementara yang sudah sering kesana bakalan paham dengan nama ruangan ruangan yang ada disana. Ini adalah pertama kalinya bagi Dion masuk kedalam ruangan inap, sehingga dirinya sendiri pun kebingungan.
Indira merasa khawatir apabila lelaki itu tersesat disana, ditambah lagi bangunan rumah sakit itu sangatlah besar. Indira langsung bergegas untuk bangkit dari tidurnya lalu mengambil botol infus, ia melihat kedua orang tuanya yang tengah tertidur pulas, dan dirinya takut untuk membangunkannya karena merasa bahwa kedua orang tuanya juga lelah saat ini.
"Dira keluar sebentar ya," Ucap Indira lirih.
Indira langsung bergegas pergi dari ruangan itu tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan kedua orang tuanya sendiri saja tidak tau kepergiannya. Indira langsung menuju kearah depan untuk menyambut kedatangan Dion, Indira berdiri didepan ruangan dahlia dengan cukup lama, dan akhirnya Dion tiba juga didepan ruangan itu.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Dion ketika melihat Indira yang tengah berdiri sambil membawa tabung infus.
"Sudah lima menit an disini," Jawab Indira.
"Maaf ya lama menunggu, soalnya tadi muter muter cari ruangannya,"
"Iya nggak papa, yaudah ayo masuk. Ada orang tuaku juga didalam kok,"
"Baiklah."
Indira langsung mengajak lelaki itu untuk masuk kedalam ruangan kamar inapnya itu, disana ia sudah mendapati bahwa kedua orang tua Indira sudah terbangun. Keduanya panik ketika melihat Indira sudah tidak ada didalam kamarnya, dan bahkan didalam kamar mandi pun tiada sehingga keduanya langsung panik ketika Indira pergi.
"Kamu dari mana saja, Dira? Tak pikir ke kamar mandi, tapi kok kosong," Ucap Yanti.
"Ini loh temenku datang, dia nggak tau ruangannya dimana jadi Dira ke depan untuk menjemputnya tadi," Jawab Indira seraya menenangkan Ibunya itu.
"Kamu nggak bilang bilang dulu tadi,"
"Nggak sempet, lihat Bunda aja kayak udah kecapekan gitu kok. Mangkanya Dira nggak mau bangunin takut ngganggu Bunda tadi,"
"Yaudah, tak kirain kamu kenapa kenapa tadi, soalnya pas Bunda bangun sudah tidak melihatmu,"
Dion langsung bersalaman dengan kedua orang tua Indira, dan langsung disambut dengan hangat oleh keduanya. Hanya orang orang tertentu yang datang menjenguk Indira, meskipun temannya sangat banyak namun tiada yang dikabari olehnya kalau dirinya tengah dirawat, bahkan teman satu organisasinya pun tidak ia beritahu dan ia pun beralasan bahwa ada kepentingan yang membuatnya tidak bisa hadir.
Indira hanya takut merepotkan orang lain hanya karena dirinya, apalagi ia mengingat tentang sesuatu yang membuatnya sakit hati yakni hanya dianggap beban oleh siapapun dan menganggap bahwa kehadirannya hanyalah sebuah kesialan. Oleh karena itu, Indira tidak berharap lebih untuk bisa dihargai oleh orang lain, dan Indira sendiri pun tidak ingin merepotkan orang lain hanya karena dirinya.
Selama Indira bisa sendiri, ia akan melakukannya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain, namun jika dirinya meminta bantuan orang lain itu artinya masalah yang ia hadapi tidak mampu untuk ia selesaikan dengan sendiri. Oleh karenanya jarang sekali Indira meminta bantuan kepada siapapun, termasuk saudara saudaranya sendiri ataupun sahabatnya.
"Aku nggak tau kesukaanmu apa, aku belikan asal asalan," Ucap Dion sambil menyerahkan beberapa bungkus makanan.
"Nggak usah repot repot lah, jadi tidak enak aku," Jawab Indira yang merasa tidak enak dengan Dion.
"Nggak papa kok, nggak repot sama sekali juga. Malah seneng aku soalnya bisa membelikan mu,"
"Terima kasih ya,"
"Sama sama."
Keduanya pun mengobrol santai didalam sana, melihat adanya tamu yang tengah berkunjung ditempat itu langsung membuat kedua orang tua Indira keluar dari dalam ruangan, dan keduanya tidak ingin menganggu Indira yang tengah mengobrol dengan lelaki tersebut. Indira belum pernah dekat dengan lelaki manapun kecuali Wisma, sehingga Ibu dan Ayahnya tidak ingin mengganggu keduanya yang tengah mengobrol.
masih jd pacar ae di Peres mau saja 🤣. pa lagi dah di nikahi di jadi kan BABU gratisan pun mau di indira ini.
cewek kok bego mau di manfaat kan laki.
Aku ae orang kampung kurang kasih sayang Dr ortu pun gk sebego itu kok, gk bucin ma laki.
bikin indira nya jd perempuan yg kuat, tegas dan pintar jd gak mudah diperalat oleh laki2 sperti wisnu
kayak nya orang desa lbih Pinter mau tinggal di suatu tempat ya laporan dulu, ibarat kata permisi. trus salam perkenalan ke tetangga.
kcuali rumah kaum elit lah biasa gk akn kenal dng tetangga. kl komplek hrse ya laporan dulu kan.