Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUJUD PENYESALAN
Ariya kembali ke rumah dengan tatapan kosong. Dunianya seolah runtuh setelah menyaksikan pesawat yang membawa Arumi menjauh dari jangkauan pandangannya. Saat asistennya mendorong kursi roda itu memasuki ruang tengah, Heni yang sedang menunggu langsung bangkit dengan wajah cemas. Ia melihat mata putranya sembab dan merah, sebuah pemandangan yang sangat jarang terjadi sejak Ariya dewasa.
Heni segera menghampiri dan berlutut di depan kursi roda Ariya, menggenggam tangan putranya yang terasa dingin. "Arya, ada apa, Nak? Kenapa wajahmu seperti ini? Apakah hasil cek up tadi sangat buruk? Tolong katakan pada Mama."
Ariya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, bahunya mulai bergetar hebat menahan isak tangis yang kembali membuncah.
"Sabar, Nak. Jangan putus asa dulu. Papamu sedang berusaha menghubungi dokter spesialis saraf terbaik di luar negeri. Kami akan mengupayakan segalanya agar kamu bisa berjalan lagi. Percayalah pada Mama," bujuk Heny dengan suara yang bergetar karena ikut merasakan kepedihan anaknya.
"Arumi, Ma," gumam Ariya dengan suara yang parau dan pecah.
Heny tertegun sejenak. Ia mengira Ariya mencari istrinya karena membutuhkan sesuatu. "Oh, Arumi? Dia tadi berpamitan pada Mama, Arya. Dia terpilih menjadi relawan medis yang dikirim oleh rumah sakit Papa. Mama tidak bisa melarangnya karena itu adalah tugas mulianya sebagai dokter. Kamu harus mengerti, Nak."
Mendengar konfirmasi dari ibunya, pertahanan Ariya runtuh sepenuhnya. Tangisnya pecah seketika, ia menutup wajah dengan kedua tangannya sambil meraung pelan. Heny terkesiap dan bingung melihat reaksi putranya yang begitu emosional. Ia belum pernah melihat Ariya menangis sesedih ini karena seorang wanita.
"Arya, ada apa sebenarnya? Kenapa kamu menangis seperti ini hanya karena Arumi bertugas?" tanya Heny heran.
Sebelum Ariya sempat menjawab, suara langkah kaki yang berat terdengar dari arah pintu utama. Ferdiansyah masuk dengan wajah datar, namun matanya memancarkan kilat sinis saat melihat putranya yang sedang tersedu-sedu.
"Dia sudah mengetahui kebenarannya, Mah. Makanya dia mulai bertingkah seperti orang yang paling menderita di dunia ini," ujar Ferdiansyah dengan nada bicara yang menusuk.
Heny menoleh ke arah suaminya. "Apa maksud Papa?"
"Dia baru sadar kalau dia sudah menyia-nyiakan wanita terbaik demi mempercayai fitnah adik tiri yang tidak tahu malu. Tapi semuanya sudah terlambat. Arumi sudah pergi dan dia tidak ingin lagi melihat wajah sombong suaminya itu," lanjut Ferdiansyah tanpa ampun. Ia melangkah melewati Ariya begitu saja menuju lantai atas, meninggalkan suasana yang semakin berat.
Heny kini mengerti pangkal permasalahannya. Rasa iba menjalar di hatinya melihat kondisi Ariya yang hancur. Ia meraih kepala putranya dan menariknya lembut ke dalam pelukannya. Ariya langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang ibu, menyandarkan wajahnya di perut Heny sambil menumpahkan seluruh penyesalannya.
"Bersabarlah, Nak. Ini adalah ujian untuk kalian berdua. Mungkin Allah sedang menguji seberapa besar rasa sabarmu menanti istrimu kembali," bisik Heny sambil mengusap rambut Ariya dengan penuh kasih sayang.
Ariya hanya bisa terisak, dadanya terasa sesak seolah dihimpit batu besar.
"Ingatlah, Arya. Arumi sudah melewati lima tahun penuh luka dengan kesabaran yang luar biasa. Maka kamu pun harus bisa melewatinya sekarang. Ini adalah ganjaran atas apa yang kamu tanam dulu," tutur Heny lagi.
Heny melepaskan pelukannya, lalu menghapus air mata di pipi putranya. "Sekarang, pergilah ke kamar. Bersihkan dirimu karena sebentar lagi waktu Maghrib tiba. Menghadaplah pada Pemilik Hati dan memohonlah ampun pada-Nya. Allah Maha Pemaaf, maka insyaallah kamu juga akan mendapatkan maaf dari hamba-Nya nanti."
Ariya mengangguk lemah. Ia menggerakkan kursi rodanya menuju lift dengan gerakan yang gontai. Heny hanya bisa menatap punggung putranya dengan doa yang tulus dalam hati agar Ariya mampu melewati badai ini.
Setibanya di kamar, Ariya tidak langsung membersihkan diri. Ia terpaku menatap pinggiran tempat tidur tempat ia biasa duduk. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin pagi, saat tangannya melayang menghantam pipi lembut Arumi hingga meninggalkan bekas merah yang membiru.
"Bodoh! Kamu benar-benar bodoh, Ariya!" teriaknya pada diri sendiri.
Tanpa sadar, Ariya mengangkat tangannya sendiri dan menampar pipinya berkali-kali. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih di hatinya. Ia merasa sangat hina karena telah memperlakukan wanita suci seperti Arumi selayaknya musuh bebuyutan.
Pandangannya kemudian beralih ke sofa panjang di dekat jendela. Di sana, Arumi biasa tidur meringkuk setiap malam tanpa mengeluh, meskipun ia berhak atas tempat tidur yang nyaman. Ariya baru menyadari betapa dekatnya kebahagiaan itu selama ini, namun ia justru mengusirnya dengan kebencian yang buta.
Dengan sisa tenaga, ia menuju kamar mandi untuk bersuci. Setelah itu, ia mengenakan sarung dan baju koko, lalu melaksanakan kewajiban shalat di atas kursi rodanya. Di tengah sujudnya yang panjang, tangisnya kembali pecah.
"Ya Allah, ampuni hamba yang sudah zalim pada jodoh yang Engkau tetapkan," rintih Ariya dalam doanya. "Hamba telah buta karena ego dan fitnah. Hamba mohon, jaga Arumi di sana. Berikan dia keselamatan dalam tugasnya."
Ia mengangkat kedua tangannya, memohon dengan sangat agar Arumi diberikan perlindungan di tengah daerah bencana yang berbahaya. Ia berjanji dalam hati, jika Arumi kembali nanti, ia akan menebus semua dosanya, bahkan jika ia harus berlutut di bawah kaki istrinya sekalipun.
Malam itu, kamar yang biasanya terasa hangat kini berubah menjadi sangat sunyi dan dingin bagi Ariya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah langit malam yang gelap, membayangkan di mana Arumi berada saat ini. Apakah istrinya sedang kedinginan di tenda pengungsian? Ataukah Arumi sedang berjuang menyelamatkan nyawa orang lain dengan hati yang masih terluka karena ulahnya?
Satu hal yang pasti, Ariya kini sadar bahwa mencintai Arumi kembali adalah perjuangan yang jauh lebih berat daripada sekadar belajar berjalan lagi. Penyesalan itu kini menjadi api yang akan terus membakar jiwanya sampai Arumi benar-benar kembali ke sisinya.
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra