Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16: gadis dengan mata badai
Pasca insiden di Gurun Gobi, konstelasi kekuatan dunia tidak lagi sama. World Hunter Association (WHA) secara resmi menyatakan Korea Selatan sebagai "Zona Merah Terlarang"—sebuah pengakuan pahit bahwa organisasi pahlawan internasional tersebut telah kalah telak oleh kekuatan Crimson Eclipse. Namun, bagi para penguasa di balik layar, menyerah bukanlah sebuah pilihan. Jika pedang tidak bisa mematahkan Sovereign, maka jarum halus mungkin bisa menembus kulitnya.
Di SMA Gwangyang, pagi itu udara terasa lebih berat dari biasanya. Arkan berjalan menyusuri koridor, kepalanya sedikit tertunduk, tangannya meremas tali tas punggungnya yang sudah mulai aus. Secara fisik, ia kembali menjadi Arkan sang murid beasiswa yang tidak mencolok. Namun, melalui Sanguine Perception-nya, ia bisa merasakan ada sebuah frekuensi mana yang sangat asing dan tajam sedang bergerak menuju ruang kepala sekolah.
'Julian,' panggil Arkan dalam batinnya.
'Saya sudah mengidentifikasinya, Ayah,' suara Julian terdengar sigap. 'Alice Pendragon. Adik kandung Arthur Pendragon. Dia adalah Hunter Kelas S termuda dari Inggris, dijuluki "The Eye of the Storm". Dia tidak datang sebagai agen WHA secara resmi, melainkan sebagai murid pindahan melalui program pertukaran pelajar internasional.'
Arkan menghentikan langkahnya sejenak di depan pintu kelas. 'Gadis yang merepotkan. Apa tujuan mereka sebenarnya?'
'Seer melihat bahwa Alice membawa artefak "Truth Seeker" di dalam kalungnya. Mereka tidak ingin menyerang; mereka ingin memverifikasi identitas Ayah melalui kontak fisik dan pengamatan jarak dekat. Arthur tampaknya memberikan deskripsi yang cukup detail tentang postur tubuh Ayah sebelum ingatannya dikacaukan,' jelas Julian.
Arkan mendengus dingin. 'Biarkan dia masuk. Jika dia mencari badai, dia akan menemukan samudera yang akan menelan badainya tanpa sisa.'
Pelajaran sejarah dunia sedang berlangsung saat pintu kelas 1-A terbuka. Pak Kim masuk diikuti oleh seorang gadis yang seketika membuat seluruh siswa laki-laki menahan napas. Gadis itu memiliki rambut pirang platinum yang panjang dan mata biru jernih secerah langit musim panas. Ia mengenakan seragam SMA Gwangyang dengan sangat elegan, namun ada aura kebangsawanan yang tak bisa disembunyikan dari setiap gerakannya.
"Perkenalkan, ini adalah Alice, murid pindahan dari London," ucap Pak Kim singkat.
Alice tersenyum, namun matanya yang tajam langsung menyapu seluruh ruangan. Detak jantungnya stabil, sebuah tanda kendali diri yang luar biasa untuk gadis seusianya. Tatapannya berhenti sejenak pada Liora yang menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu, lalu tatapannya beralih ke bangku paling belakang.
Di sana, Arkan sedang sibuk mencorat-coret buku catatannya, sama sekali tidak melihat ke arah depan.
"Alice, silakan duduk di bangku kosong di belakang Liora," perintah Pak Kim.
Alice berjalan melewati meja Arkan. Saat ia melintas, ia secara sengaja melepaskan sedikit riak mana sensorik yang sangat halus, mencoba memicu reaksi dari siapa pun yang memiliki kekuatan tersembunyi. Namun, Arkan tetap diam. Aliran darahnya tetap lambat dan membosankan, seperti manusia biasa yang kekurangan tidur.
Liora menoleh ke belakang saat Alice duduk. "Hai, aku Liora. Selamat datang di kelas paling berisik di sekolah ini."
"Terima kasih, Liora," jawab Alice dengan bahasa Korea yang sangat fasih. Ia melirik ke arah Arkan yang berada di sampingnya. "Dan siapa pemuda yang tampak sangat rajin belajar di sebelahmu ini?"
"Ah, ini Arkan. Dia memang agak pendiam, tapi dia murid paling pintar di sini," Liora memperkenalkan Arkan sambil menyenggol bahu pemuda itu.
Arkan mendongak, menyesuaikan letak kacamatanya, dan memberikan tatapan canggung yang sempurna. "H-halo, Alice. Aku Arkan."
Alice menatap mata Arkan dengan sangat dalam. Melalui artefak "Truth Seeker" yang tersembunyi di kalungnya, ia mencoba mencari kebohongan. Namun, kalung itu tetap dingin. Di matanya, Arkan benar-benar terlihat seperti remaja biasa yang tidak memiliki bakat mana sedikit pun.
Mustahil,pikir Alice. Kakak bilang pemimpin Crimson Eclipse ada di sekolah ini. Postur tubuhnya mirip, suaranya... mirip. Tapi kenapa jiwanya terasa begitu kosong?
Jam istirahat tiba, dan Alice tidak membuang waktu. Ia mengikuti Arkan yang pergi ke kantin sendirian. Di tengah keramaian siswa yang sedang mengantre makanan, Alice tiba-tiba "tersandung" dan menjatuhkan nampan makanannya tepat ke arah Arkan.
Ini adalah taktik klasik. Jika Arkan memiliki refleks seorang Sovereign, ia pasti akan menghindar atau menangkap nampan itu dengan kecepatan supernatural.
Arkan melihat nampan itu melayang di sudut matanya. Ia memiliki waktu ribuan milidetik untuk bereaksi, namun ia memilih pilihan yang paling menyakitkan.
BYUR!!!
Sup panas dan nasi tumpah membasahi seluruh seragam Arkan. Arkan terjatuh ke lantai dengan bunyi yang cukup keras, kacamatanya terlepas dan terlempar ke bawah meja.
"Oh my God! Maafkan aku! Aku benar-benar tidak sengaja!" Alice segera berlutut di depan Arkan, berpura-pura panik. Ia memegang tangan Arkan, mencoba melakukan kontak fisik langsung untuk merasakan nadi Sanguine-nya.
Arkan membiarkan Alice memegang tangannya. Ia memanipulasi detak jantungnya agar terdengar sangat cepat karena "terkejut" dan "malu".
"T-tidak apa-apa, Alice. Ini hanya kecelakaan," ucap Arkan dengan suara yang sedikit gemetar.
Liora yang melihat kejadian itu dari jauh segera berlari mendekat. "Rian! Lihat apa yang kamu lakukan—eh, maksudku Alice! Kamu baik-baik saja, Arkan?"
Liora membantu Arkan berdiri dan mulai mengelap seragamnya dengan tisu. Ia menatap Alice dengan pandangan tidak suka. Sebagai sesama perempuan, insting Liora mencium bahwa "kecelakaan" itu terlalu dibuat-buat.
"Maafkan aku, Liora. Aku akan mengganti seragamnya," ucap Alice dengan wajah bersalah yang sangat meyakinkan.
Arkan mengambil kacamatanya dan memakainya kembali. "Tidak perlu, Alice. Aku punya seragam cadangan di loker. Permisi."
Arkan berjalan pergi meninggalkan kantin. Begitu ia masuk ke kamar mandi yang sepi, ekspresi wajahnya yang polos menghilang seketika. Ia membersihkan sup dari bajunya dengan satu jentikan energi darah yang menguapkan seluruh noda dalam sedetik.
'Julian, beritahu Hana untuk tetap diam,' perintah Arkan. 'Aku bisa merasakan dia sedang bertengger di jendela kamar mandi, siap memotong leher Alice.'
'Dimengerti, Ayah. Hana memang sangat marah melihat sup itu mengotori Anda,' jawab Julian.
Malam harinya, Arkan tidak langsung pulang. Ia pergi ke pinggiran Seoul, ke sebuah hutan bambu yang sunyi tempat ia berjanji akan bertemu dengan seseorang. Di sana, di tengah kegelapan, berdiri sosok wanita dengan jas formal yang rapi—Choi Ha-neul.
"Anda memanggil saya, Sovereign?" Ha-neul berlutut dengan penuh hormat. Meskipun ia adalah Direktur KHA, ia tahu di hadapan siapa ia berdiri sekarang.
"Beritahu aku tentang Alice Pendragon," ucap Arkan, membelakangi Ha-neul.
"Dia bukan utusan resmi WHA, namun dia bekerja langsung di bawah perintah Dewan Penatua London. Mereka mencurigai Anda ada di sekolah Gwangyang karena data spasial yang tumpang tindih. Mereka mengirimnya karena ia memiliki kemampuan unik: 'Soul Echo'. Dia bisa merasakan sisa-sisa emosi di sebuah tempat," jelas Ha-neul.
"Soul Echo, ya?" Arkan menatap bulan. "Kalau begitu, buatlah dia sibuk. Aku ingin kau memberikan informasi palsu bahwa Crimson Eclipse sedang membangun markas baru di Pulau Jeju. Gunakan artefak mana yang kita ambil dari Arthur untuk membuat jejak energi di sana."
"Melaksanakan, Tuan. Namun... bagaimana dengan Liora?" Ha-neul ragu sejenak. "Alice tampak mulai mendekatinya. Dia tahu Liora adalah orang terdekat Anda di sekolah."
Mata Arkan menyipit, memancarkan hawa membunuh yang membuat bambu-bambu di sekitarnya retak. "Jika dia menyentuh sehelai rambut Liora untuk kepentingannya... aku akan memastikan seluruh garis keturunan Pendragon berakhir di tanganku. Berikan perlindungan rahasia pada Liora. Gunakan agen-agenmu yang paling bisa dipercaya."
"Baik, Sovereign."
Arkan menghilang dalam kepulan asap merah. Ia kembali ke apartemennya, menatap ke arah jendela kamar Liora yang berada di gedung seberang. Gadis itu tampak sedang belajar di mejanya, sama sekali tidak tahu bahwa ia sedang berada di pusat konspirasi global.
Arkan mengepalkan tangannya. "Dunia ini tidak akan pernah membiarkanku tenang, bukan?"
Di dalam bayangan kamarnya, kelima bawahannya muncul. Mereka semua berlutut.
"Tuan, beri kami perintah," ucap Bastian. "Kami bosan bersembunyi. Biarkan kami menghancurkan mereka yang mengusik Anda."
"Sabar, anak-anakku," Arkan duduk di kursi kayu sederhananya. "Ujian yang sesungguhnya bukan di medan perang, tapi di sini. Di sekolah ini. Kita akan membiarkan Alice bermain dengan fantasinya sejenak. Dan saat dia merasa sudah menang... kita akan tunjukkan padanya bahwa dia hanya sedang menari di atas telapak tangan sang penguasa."
Malam itu, Alice Pendragon duduk di asrama mewahnya, menatap rekaman video Arkan yang sedang terjatuh di kantin. Ia merasa ada yang salah. Refleks Arkan terlalu lambat, terlalu sempurna untuk seorang manusia biasa.
"Arkan... kau sangat menarik," bisik Alice. "Tapi tak seorang pun bisa menyembunyikan jiwanya dari mataku selamanya."
Pertempuran intelijen telah dimulai. Di satu sisi adalah Hunter jenius dari Inggris, dan di sisi lain adalah penguasa darah yang telah hidup melintasi zaman. Dan di tengah-tengah mereka, Liora menjadi kunci yang tidak disadari oleh siapa pun.