Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang mana ia harus menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Suatu hari, Rayyan pamit harus kembali ke Ibu Kota demi menyelesaikan urusannya. Tapi lama waktu berlalu, Rayyan tak kunjung kembali, hingga Lilis makin gelisah menanti.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri, dan menetap di desa tersebut?
Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adegan Romantis di Depan Banyak Orang
#15
“Assalamualaikum,” ucap Nanang setelah memastikan motornya mati dan berdiri dengan aman.
“Nang, berita semalam, beneran?” seru seorang ibu berdaster ungu tetangga Lilis.
“Benar, Lek.”
“Jadi, Lilis sekarang istri teman kamu yang dari kota?” sekali lagi, wanita itu memastikan berita yang sejak semalam menyebar secara simpang siur.
“Benar lagi, Lek.”
“Tuh, bener,” katanya pada teman-temannya yang berdiri di belakang tubuh wanita berdaster ungu tersebut.
“Beneran mereka kena grebek nggak pake baju sama sekali? Bahkan masih— masih— annu masih itu, loh, Nang. Kumpul kayak suami istri gitu.” Dengan kikuk dan rikuh, wanita itu menjabarkan pertanyaannya, namanya juga di desa, hal-hal semacam itu masih tabu untuk dipertanyakan secara gamblang.
“Nggak, lah, emang Lek dengar dari mana?” tanya Nanang tanpa prasangka.
“Dari Yu Karti, Yu Karti bilang, kata Mak Jubaedah, Nah mak Jubaedah, denger dari menantu dan suaminya yang semalam ikut datang ke rumah Pak Kades.”
Nanang garuk-garuk kepala, “Benar, Bu.”
Tak lama kemudian, “Waalaikumsalam, Nang.”
Pintu rumah terbuka, Rayyan harus menundukkan kepala, agar kepalanya tidak terbentur kusen pintu.
Rasa penasaran para ibu yang berkerumun di depan rumah Lilis segera terobati manakala melihat sendiri suami Lilis, pria yang kini jadi pengembala ternak milik bosnya yang tinggal di kota.
Ternyata, oh, ternyata, beruntungnya Lilis karena lagi-lagi diperistri pria dari kota, bahkan suami keduanya ini lebih tampan dari suami pertamanya. “Mak, aku seperti lihat artis koriyah yang sering nongol di tipi.”
“Apaan, ini bukan artis koriyah, tapi lebih ganteng dari artis.”
“Eh, emm, Nang, ada apa ini?” bisik Rayyan heran.
“Tetangga Lilis, ingin lihat suami barunya Lilis yang dari kota.” Nanang balas berbisik.
Rayyan nyengir aneh, “Apaan, sih. Emang ada yang aneh?”
“Bukan aneh, tapi peristiwa semalam, sudah jadi buah bibir warga. Di desa ini masyarakat jarang menggunakan ponsel mahal, tapi berita bisa menyebar lebih cepat dibandingkan dengan sinyal 5G.”
Rayyan menggaruk kepalanya yang tak gatal, mengabaikan para ibu yang masih berbisik di belakang Nanang. Pria itu pun menyeret Nanang untuk duduk di kursi panjang teras rumah. “Untung kamu datang,” kata Rayyan mengawali pembicaraan mereka.
“Mengantarkan ini.” Nanang menyodorkan ponsel milik Rayyan. “Dan sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan.”
Rayyan menerima ponselnya, memeriksa sejenak apakah ada pesan atau email penting yang masuk. Tak ada laporan apa-apa, berarti urusan pabrik aman terkendali. Kini pabrik terus fokus membuat sambal kering grade B, karena belum menemukan cabai dengan kualitas super.
Rayyan menutup ponsel kemudian menatap sahabatnya, “Sekarang aku harus gimana?”
“Kok tanya aku, sih? Kan aku kesini mau antar kamu beli bibit cabai.”
“Lha terus aku harus tanya siapa, Nang?” raung Rayyan gemas. Jujur saja ia mulai mati gaya.
Dilanjutkan, kok, ya, gimana? Disudahi, seperti permintaan Lilis, kok, ya, rasanya Rayyan takut dosa. Belum lagi bila kedua orang tuanya mendengar berita pernikahannya yang serba mendadak, pasti mereka merasa sedih, karena menjadi orang terakhir yang tahu.
Nanang menepuk paha Rayyan pelan. “Gini, Ray, hanya kamu yang tahu bagaimana isi hatimu saat mengucap ijab semalam. Apakah diniatkan sungguh-sungguh atau sekedar main-main, semuanya akan ada perhitungannya kelak di hari akhir.”
“Tapi, sepanjang pengetahuanku, kamu orang baik, bahkan kedua orang tuamu pun baik. Jadi aku sangat yakin, kamu meniatkan pernikahan semalam dengan niat yang baik juga. Benar begitu?” sambung Nanang, tebak-menebak, tapi Nanang yakin itu benar.
Rayyan menghembuskan nafas sejenak, menerawang memikirkan perkataan Lilis sesaat sebelum akad nikah semalam. “Kamu selalu bisa membaca diriku dengan baik, Nang. Terima kasih karena tetap mempercayaiku hingga akhir.”
“Enak saja hingga akhir, kita masih sehat, nih. Aku belum mau mati cepat!” seloroh Nanang menyahuti perkataan serius Rayyan.
Sebelum melanjutkan ucapannya, Nanang menoleh ke arah pintu, khawatir bila tiba-tiba Lilis mencuri dengar pembicaraan mereka. “Mmm … sebenarnya apa yang terjadi, semalam?”
“Kita bicarakan nanti, jadi beli bibit, kan? Sekalian ada yang mau aku urus.” Rayyan ingin bicara berdua saja dengan Nanang, tanpa takut di dengar Lilis atau Bu Saodah. “Sebentar, aku pamit Lilis dulu,” kata Rayyan yang segera dibalas anggukan oleh Nanang.
Namun, ketika berdiri lalu berbalik, Lilis sudah ada di belakang Rayyan, “Awas!” pekik Lilis reflek khawatir nampan yang ia bawah jatuh ke tanah. Rayyan pun secara reflek memeluk pinggang Lilis, agar wanita itu tidak jatuh bersama barang bawaannya.
Tatapan mereka bertemu dengan jarak sangat dekat, jantung Rayyan berpacu cepat, ketika pertama kali melihat wajah istrinya dari jarak sangat dekat. Mata bulat, wajah cantik yang tersembunyi dibalik kerasnya perjuangan hidup, tubuhnya pun tinggi proporsional.
Tapi penampilan Lilis amatlah sederhana, baju kaos panjang lengkap dengan rok dan celana serta jilbab instan yang menutupi auratnya. Tak pernah berpikir membeli baju indah dan riasan wajah untuk mempercantik dirinya, semua demi menafkahi ibu dan adik tiri yang tak pernah memperlakukannya dengan baik.
“Ehm!” Suara Nanang memecah suasana romantis di antara kedua pengantin baru tersebut. Saking romantisnya, mereka tak menyadari sedang jadi bahan tontonan para tetangga.
Rayyan segera melepaskan pelukannya, tentu setelah memastikan istrinya kembali berdiri tegak. “Maaf, aku tak tahu kamu di belakangku,” ucap Rayyan kikuk.
“Tidak apa-apa, Mas. Aku cuma mengantar suguhan buat kalian, biar enak ngobrolnya.” Lilis meletakkan nampan di atas kursi panjang, tak ada yang tahu bahwa Lilis pun menyembunyikan detak jantung dan rona samar di wajahnya. “Ya, sudah, aku melanjutkan pekerjaan di belakang, sebentar lagi mau buka warung,” pamit Lilis.
“Terima kasih, Lis. Wah, aku akan sering main kemari, tak perlu lagi beli pisang goreng di warungmu,” cetus Nanang.
“Silahkan, Mas. Dengan senang hati.”
Lilis kembali masuk ke dalam rumah, “Asem! Kalian mau bikin aku iri?” gerutu Nanang, setelah kepergian Lilis.
Rayyan nyengir ikut duduk dan menikmati pisang goreng, karena sesaat tadi ia pun belum sempat menyentuh pisang goreng yang disiapkan istrinya.
Setelah pisang goreng dan teh hangat ludes, Rayyan membawa kembali nampannya ke belakang. “Lis, aku pergi bersama Nanang, ya? Mau ke toko bibit tanaman.”
Lilis menoleh, dan menghentikan pergerakan tangannya yang sedang memasukkan barang-barang yang akan ia jual di warung. “Iya, Mas.”
Adegan itu tak lepas dari tatapan penuh benci dari Bu Saodah. Rayyan melewati Bu Saodah begitu saja, “Permisi, Bu,” pamit Rayyan basa-basi.
“Huh! Daripada kelayapan, mending kamu cari kerja yang duitnya banyak, biar jadi menantu berguna!”
Rayyan mengangkat kedua pundaknya Acuh, lalu kembali melangkah, “Mas!” Mendengar Lilis memanggil dirinya, Rayyan pun berhenti.
“Salim,” kata Lilis meminta tangan Rayyan untuk dicium sebagai bentuk takzimnya seorang istri.
Bu Saodah tiba-tiba muak pada anak tiri dan menantunya yang sok mesra di hadapannya. Tak hanya Bu Saodah, Arimbi yang baru keluar kamar, pun melihat adegan tersebut, tapi fokusnya bukan pada kedua pengantin baru. Namun, pada ponsel dalam genggaman Rayyan.
Mata yang semula lengket seperti ketumpahan lem tikus mendadak segar bugar, seperti baru saja di siram air jeruk nipis campur garam.
“Gila! Beneran pria itu hanya tukang jaga di peternakan kambing?” jerit Arimbi dalam hatinya.
setelah Rayyan liat apa akan langsung ehem ehem ya🤭