Luna, seorang mahasiswi jurusan teknologi informasi semester akhir selalu begadang mengerjakan tugas-tugasnya yang menumpuk. Suatu malam ia tertidur di meja belajar bersama tumpukan kertas-kertas nya lalu tiba-tiba ia merasa seperti jatuh dari kursi. Tapi saat ia membuka matanya rupanya ia berada di dalam tubuh seseorang yang mirip dengannya. Ia yakin itu bukan dirinya yang sebelumnya. Tempat itu juga sangat asing baginya. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah seorang pria tampan berparas lembut berbicara padanya. "Annette, kau sudah lebih baik ? Bangunlah, aku membuatkan mu sarapan,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap di rumah ayah
Leon dan Annette sudah berada di rumah Leon dan kini mereka bersiap akan kembali ke rumah perkebunan. Tapi sejak tadi Annette hanya diam saja. Leon bicara pun Annette hanya membalas dengan anggukan dan gelengan saja.
"Kau kenapa, Annette ? kenapa diam saja ?" tanya Leon memeluk Annette dari samping.
"Aku kesal. Di sini seperti ada sesuatu yang harus ku keluarkan," jawab Annette menunjuk dadanya sendiri.
Leon mengangkat sebelah alisnya. Ada-ada saja jawab Annette. Memangnya apa yang bisa dikeluarkan dari dadanya.
"Leon, bagaimana kalau kita tinggal disini lebih lama lagi. Kita tinggal di rumah ayahku," kata Annette mencoba mengutarakan apa yang diinginkannya.
"Tidak bisa, Annette. Para petani akan memanen sayuran selama beberapa hari ini dan aku juga harus ikut membantu. Tapi jika kau mau kau bisa tinggal disini lebih lama lagi. Mungkin lima sampai tujuh hari lagi aku akan datang untuk menjual hasil panen pada ayahmu," kata Leon dan disambut dengan anggukan antusias dari Annette.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke rumah ayahmu. Setelah itu aku akan pergi," kata Leon menggandeng tangan Annette.
Annette mengangguk dan membalas genggaman Leon. Sepanjang perjalanan menuju kereta kudanya ia sudah menyusun banyak rencana untuk memberi pelajaran pada Nyonya Vivian dan Emilie.
"Kau ingin tinggal bukan karena ingin mencari perkara dengan Emilie dan ibunya kan ?" tanya Leon yang mirip dengan tuduhan.
"Tidak tau," balas Annette singkat. Moodnya seketika memburuk jika membicarakan hal ini dengan Leon.
Masih teringat semua omelan Leon sepanjang perjalanan pulang dari pesta tadi. Suaminya memberinya banyak sekali petuah dan menyuruh Annette untuk mengingatnya. Secara garis besar, Leon melarang Annette mengganggu Nyonya Vivian dan Emilie lagi.
"Annette, jika hati kita dipenuhi dendam dan kebencian maka itu akan merugikan diri kita sendiri. Beberapa hari ini aku melihatmu seperti tidak menyukai keluarga mu. Ada apa sebenarnya ?" kata Leon.
Annette terdiam sesaat. Hatinya gundah. Apakah ia harus memberitahu Leon jika sebenarnya Nyonya Vivian dan Emilie ingin menyingkirkan nya. Menghilangkan nya dari dunia ini. Dan memberitahunya jika sebenarnya Annette sudah tiada dan yang saat ini bersamanya adalah orang dari masa depan yang bernama Luna.
Annette menggelengkan kepalanya seakan sedang beradu dengan dirinya sendiri. Ia bingung untuk membuat keputusan apa.
"Leon, jika seandainya aku tidak mencintaimu apa yang akan kau lakukan ?" tanya Annette menatap wajah Leon dengan serius.
"Tidak mungkin kau tidak mencintaiku. Aku kan tampan," jawab Leon sambil bercanda. Ia juga mencium wajah Annette sambil tersenyum.
"Haha benar juga. Memangnya siapa yang tidak mau punya suami tampan," kata Annette membenarkan jawaban Leon dengan tawanya yang hambar.
"Selama kau tinggal disana, jaga dirimu sendiri dengan baik. Aku merasa Ibu Vivian dan Emilie tidak menyukaimu. Kau boleh membalas mereka jika mereka mengganggu mu tapi kau tidak boleh mengganggu mereka lebih dulu," pesan Leon penuh cinta. Ia bukannya buta, tidak bisa melihat tatapan benci Nyonya Vivian pada Annette sejak dulu.
Apalagi, Annette juga sudah memberitahunya sebelum mereka menikah jika Nyonya Vivian yang gencar untuk menikahkan nya dengan anak teman Tuan Wiles.
"Iya. Itulah wanita yang kau sukai. Bermuka dua," sekali lagi Annette menyindir Leon dna Leon hanya cengar-cengir. Dasar wanita, sampai kapanpun sesuatu yang tidak ia sukai akan diungkit selamanya. Batin Leon.
Leon mengantarkan Annette ke rumah Tuan Wiles lagi. Ia tidak mengambil barang apapun yang sudah tertata rapi di kereta sebab nantinya akan meminta yang baru pad ayahnya.
"Sudah pergilah, jangan sampai kau kemalaman.." usir Annette setelah mereka tiba di depan gerbang.
"Baiklah. Ingat pesanku tadi ya. Aku pergi dulu," kata Leon mencium kening Annette kemudian menarik tali pengendali kudanya hingga kuda mulai berjalan menjauh meninggalkan kediaman Tuan Wiles.
Annette berdiri disana menatap Leon yang hanya tinggal bayangan. Dalam hati ia berdoa untuk keselamatan suaminya itu.
"Wah wah.. Coba lihat siapa yang datang menyetorkan nyawa setelah membuatku malu," geram Nyonya Vivian berdiri di depan pintu.
Annette menoleh. Tatapannya datar tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Ia mulai berjalan mendekat dengan gerakan anggun yang dibuat-buat layaknya peragawati.
"Wah coba lihat siapa yang sedang menyambut tuan putri ini," balas Annette dengan senyumnya. Nyonya Vivian menahan amarahnya mendengar sindiran halus dari Annette. Apa maksudnya ia adalah seorang pelayan.
"Sialan kau. Jangan bersikap kurang ajar padaku," teriak Nyonya Vivian tidak mampu lagi berbasa-basi. Tangannya terangkat ingin menampar Annette yang sudah berdiri tepat dihadapannya. Namun Annette pun dengan sigap menahannya.
"Apa dulu kau juga sering memukulku, ibu tiri ?" tanya Annette dengan wajah mengejek.
Nyonya Vivian bertambah marah mendengar ucapan Annette. Entah karena Annette bertanya sesuatu yang tidak pernah ia lakukan atau karena Annette lagi-lagi memanggilnya ibu tiri. Baginya, sebutan ibu tiri sangatlah rendahan. Sejak dulu ia memaksa Annette untuk memanggilnya dengan sebutan ibu. Namun Annette menolaknya dan lebih memilih untuk memanggil Vivian saja walaupun itu di depan ayahnya.
"Wajahmu sangat jelek seperti itu. Oh iya, aku lupa. Kau kan memang sudah tua," kata Annette tertawa seraya melemparkan tangan Nyonya Vivian yang sudah ia pelintir.
Nyonya Vivian meringis kesakitan tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengelus tangannya yang memerah.
"Aku akan membalas perbuatan mu," kata Nyonya Vivian kemudian berbalik pergi.
"Kenapa menunggu nanti ? Kenapa tidak sekarang saja ? ayolah aku menunggu.." teriak Annette. Suaranya nyaring terdengar di dalam rumah yang besar itu hingga membuat beberapa pelayan yang bekerja saling berpandangan.
Selama ini mereka tidak pernah mendengar Annette berteriak apalagi pada Nyonya Vivian. Annette hanya akan marah dengan suara rendah jika ada sesuatu yang tidak ia sukai.
Nyonya Vivian berjalan cepat meninggalkan Annette. Tidak berniat melakukan apapun karena keahliannya hanya berakting, memprovokasi dan menyebarkan gosip.
Annette hanya tertawa kecut lalu mengikutinya masuk ke dalam rumah. Tidak sabar membuat keonaran yang nantinya akan membuat ibu dan anak itu kebakaran sendiri.
...
Othor habis sakit. Baru bisa up cerita 🙏
😍😍💪❤❤
paati meninggalnya diracun ama vivian..
❤😍😍💪💪💪❤❤❤
❤❤❤💪💪💪
🤣😄😄❤💪💪
😍❤❤❤💪💪💪💪
🤣😄❤❤💪
❤❤😍😍💪