Cassia Bellvania Anahera adalah personifikasi keanggunan di SMA Kencana, dengan rambut panjang yang menjadi simbol harga diri dan kasih sayang kakaknya, Kalingga. Namun, dunia Cassia yang berwarna merah muda seketika berubah menjadi kelabu saat ia mendapati kekasihnya, Zidane, dan sahabatnya, Elara, mengkhianatinya. Penghinaan Zidane terhadap dirinya—yang dianggap hanya sebagai "pajangan membosankan"—memicu ledakan luka yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan harga diri di lintasan maut
Langit Sentul hari itu adalah tungku raksasa yang menempa nyali menjadi baja. Di bawah cakrawala yang membara, angin berhenti berbisik, seolah alam pun menahan napas menyaksikan tarian maut yang akan segera dipentaskan di atas aspal hitam. Bagi Cassia, lintasan ini bukan sekadar sirkuit; ia adalah sungai api yang harus diseberangi demi menjemput keadilan yang telah lama tenggelam.
Matahari tepat berada di atas kepala, membakar aspal Sirkuit Internasional Sentul hingga menciptakan fatamorgana yang bergetar di ujung lintasan lurus. Raungan mesin-mesin monster berkapasitas 1000cc memecah udara, menciptakan simfoni kekacauan yang memacu adrenalin. Di tengah kebisingan itu, Cassia duduk diam di atas Valkyrie-01. Di dalam helmnya, ia hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri dan suara napas yang diatur melalui teknik AGSM.
"Cassie, The Twin Snakes ada di posisi satu dan dua. Mereka bakal pakai taktik 'penjepit'. Hati-hati di tikungan pertama," suara Galaksi terdengar melalui interkom, tenang namun ada nada kecemasan yang tertahan.
"Diterima, Kak. Aktifkan mode siaga Neural-Balance," sahut Cassia.
Lampu merah... satu... dua... tiga... empat... lima... MATI!
Ban belakang Valkyrie-01 berputar hebat, mencari traksi di atas aspal panas sebelum melesat bak anak panah. Cassia berada di posisi ketiga, tepat di belakang dua motor hitam tanpa logo milik Skorpio. Benar saja, saat memasuki tikungan pertama, kedua pembalap itu sengaja menutup jalur, memaksa Cassia melakukan pengereman keras yang hampir membuatnya terpelanting.
"Mereka main kotor!" geram Kalingga dari pinggir lintasan.
"Tetap tenang, Cass. Tunggu sektor kedua," bisik Galaksi.
Memasuki lap kelima, tubuh Cassia mulai merasakan beban itu. Setiap kali ia memiringkan motor di tikungan tajam, sistem Neural-Balance mengalihkan seluruh gaya sentrifugal menjadi tekanan gravitasi murni. Ia merasa seolah-olah ada raksasa yang menginjak dadanya. Pandangannya sempat menyempit, namun katup kompresi di baju balapnya segera mengencang, memaksa darah kembali ke otaknya.
"Sekarang, Cass! Ambil sisi dalam!" teriak Zelene.
Cassia menarik napas dalam, mengencangkan otot perutnya, dan melakukan manuver yang mustahil. Ia tidak mengerem. Saat pembalap Skorpio di depannya miring untuk menutup jalur, Cassia justru menambah gas dan memiringkan motornya hingga sudut yang sangat ekstrem—bahunya nyaris menyentuh aspal. Dengan bantuan algoritma ibunya, ban motor itu seolah memiliki kuku yang mencengkeram bumi.
Dalam satu gerakan halus, ia melewati kedua pembalap Skorpio itu sekaligus. Tribun penonton meledak dalam sorakan. Di paddock VIP, Marco Valentino berdiri, wajahnya merah padam. Ia segera menekan tombol pada radionya. "Jatuhkan dia. Sekarang!"
Salah satu pembalap Skorpio melesat gila-gilaan, menabrak bagian belakang motor Cassia di kecepatan 250 km/jam. Valkyrie-01 bergoyang hebat. Cassia berjuang mati-matian menstabilkan stang yang bergetar hebat. Di lap terakhir, di tikungan terakhir yang menuju garis finis, pembalap Skorpio itu mencoba memepet Cassia ke dinding pembatas.
"Kak Galaksi... sekarang!" teriak Cassia.
Zelene menekan tombol ENTER terakhir. Tepat saat Cassia melewati garis finis sebagai pemenang, sistem Valkyrie Core melepaskan gelombang data yang meretas seluruh layar raksasa di sirkuit. Foto Marco Valentino, dokumen pencucian uang, dan rencana pembunuhan orang tua Cassia terpampang nyata di depan dunia.
Cassia menurunkan kecepatannya, napasnya tersengal-sengal, namun ia tersenyum di balik helmnya. Ia bukan hanya memenangkan balapan; ia telah memenangkan kebenaran.
Di bawah siraman cahaya matahari yang mulai condong ke barat, Cassia merasakan beban di pundaknya luruh bersama debu-debu sirkuit yang beterbangan. Dendam yang selama ini membakar bak api dalam sekam, kini mendingin menjadi embun kemenangan. Kebenaran telah mekar di sela-sela mesin yang menderu, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Cassia merasa napasnya seringan kepak sayap merpati yang baru saja menemukan jalan pulang.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...