Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.
Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.
Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:
Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.
Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Cahaya redup memantul di lantai logam yang mulai bergerak.
Suara mekanisme berat berderak dari bawah kaki mereka. Panel lantai bergeser perlahan, membuka celah sempit yang memancarkan cahaya merah berkedip.
Aidan langsung menarik Lyra mundur satu langkah.
“Tekanan aktif,” katanya dingin.
Kael bergerak cepat ke sisi ruangan, mencari jalur keluar.
Tapi Tidak ada.
Semua pintu terkunci.
Lucian mengutuk pelan di headset.
“Sinyal terputus total. Kita terisolasi.”
Di atas balkon, pria itu tetap berdiri santai, seolah semua ini hanya demonstrasi kecil.
Damian menatap ke atas tanpa gentar.
“Kau membuat pertunjukan besar hanya untuk bicara?”
Suara pria itu tenang.
“Aku ingin memastikan kau memperhatikan semua apa yang ku lakukan.”
Lyra menatap Damian sekilas. Ia bisa merasakan perubahan halus dalam diri pria itu. Bukan ketakutan — melainkan sesuatu yang lebih dalam.
Kenangan.
Pria di balkon melangkah maju hingga wajahnya tersinari sebagian cahaya.
Mata abu-abu dingin. Garis luka tipis di pipi kiri. Senyum yang tidak pernah mencapai mata.
Lyra menahan napas.
“Sudah lama,” ucap pria itu.
Damian akhirnya menjawab, suaranya rendah dan berat.
“…Orion.”
Nama itu jatuh seperti batu di air tenang.
Kael langsung menegang.
Aidan menyipitkan mata.
Lucian berhenti bernapas sepersekian detik.
Lyra menatap Damian.
“Kau kenal dia?”
“Dulu,” jawab Damian pelan, “kami berada di sisi yang sama.”
Orion tersenyum tipis.
“Tidak hanya di sisi yang sama. Kita pernah saling menyelamatkan nyawa.”
Hening menekan ruangan.
Lantai kembali bergerak. Dari celah terbuka, batang logam ramping muncul perlahan — seperti tombak otomatis yang siap aktif.
Aidan mengamati mekanisme dengan cepat.
“Ini bukan untuk membunuh,” katanya. “Ini untuk memaksa kita bergerak.”
Orion mengangguk puas.
“Tepat sekali. Aku ingin melihat pilihan kalian.”
Lyra menggenggam jaket hitam Damian lebih erat.
“Pilihan apa?”
Orion menatap langsung padanya.
“Kau pusatnya.”
Damian bergerak sedikit ke depan, seolah refleks melindungi.
“Jangan libatkan dia.”
Orion tertawa kecil.
“Dia sudah terlibat sejak dia memutuskan menyelamatkanmu malam itu.”
Lucian mencoba kembali meretas sistem melalui perangkat portabel. Lampu indikator berkedip cepat.
“Berikan aku tiga menit,” gumamnya.
Kael berdiri di sisi kanan Damian, siap menghadapi apa pun.
Aidan memetakan pola gerak lantai dengan cepat di pergelangan tangannya.
Lyra memandang Orion tanpa berkedip.
“Apa yang kau mau?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun ruangan terasa menunggu jawabannya.
Orion menunduk sedikit, seolah menghargai keberanian itu.
“Aku ingin melihat apakah Damian masih orang yang sama… atau hanya bayangan dari masa lalu.”
Ia mengangkat satu tangan.
Lantai berhenti bergerak.
Kemudian, tepat di tengah ruangan, sebuah panel terbuka dan menampilkan kotak logam kecil.
“Di dalam kotak itu,” lanjut Orion, “ada kunci untuk menonaktifkan seluruh sistem perangkap.”
Semua mata tertuju ke kotak itu.
“Tapi,” katanya pelan, “hanya satu orang yang bisa mencapainya tanpa memicu pertahanan otomatis.”
Lyra mengerti lebih dulu.
“Jadi kau ingin aku yang mengambilnya.”
Orion tersenyum.
“Pilihan pertama: Lyra berjalan sendiri mengambil kunci. Kalian selamat.”
Ia menoleh pada Damian.
“Pilihan kedua: kau mencoba melindunginya. Sistem aktif penuh.”
Kael berbisik,
“Ini manipulasi psikologis.”
Aidan menambahkan,
“Sensor membaca massa dan pola gerak. Jika lebih dari satu orang bergerak, serangan dilepas.”
Lucian akhirnya berkata,
“Aku bisa mematikan sistem… tapi butuh waktu.”
Orion mengangkat satu jari.
“Kalian punya satu menit untuk memilih.”
Jam hitung mundur muncul di layar dinding.
00:59
00:58
00:57
Lyra melangkah maju.
Damian langsung menahan lengannya.
“Tidak.”
Lyra menatapnya.
“Aku bisa melakukannya.”
“Ini bukan permainan.”
“Ini juga bukan hidup normal,” balas Lyra pelan.
Tatapan mereka terkunci.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Damian terlihat benar-benar ragu.
Lyra mendekat satu langkah.
“Percayalah padaku.”
Kael menatap Damian, menunggu perintah.
Aidan memeriksa lintasan sensor.
Lucian berbisik, “Aku hampir masuk ke sistem… hampir…”
Waktu terus berjalan.
00:21
00:20
00:19
Damian menutup mata sejenak.
Ketika membukanya kembali, suaranya rendah.
“…Hanya lurus ke depan. Jangan berhenti. Jangan ragu.”
Lyra mengangguk. Ia melepaskan tangan Damian perlahan. Perlahan iya mengambil Langkah pertama. Tetapi Tidak ada reaksi. Langkah kedua. Tiba-tiba Lampu sensor menyala redup. Langkah ketiga. Ruangan terasa sesak.
Orion memperhatikan dengan minat yang tulus.
Lyra berjalan semakin dekat ke kotak logam. Sepuluh langkah. Lima langkah. Satu langkah. Tangannya meraih kotak itu. Detik terasa seperti menit.
Klik.
Tidak ada serangan.
Lyra mengangkat kotak itu.
Lucian berteriak melalui headset,
“Dapat! Sistem melemah!”
Lampu merah padam satu per satu.
Pintu baja mulai terbuka.
Kael langsung bergerak mengamankan perimeter. Aidan menurunkan senjata, tetap waspada.
Damian mendekati Lyra perlahan. Tatapan mereka bertemu. Tidak perlu kata-kata.
Di balkon atas, Orion mundur ke bayangan.
“Menarik,” katanya pelan. “Kau berubah, Damian.”
Ia menatap Lyra untuk terakhir kali.
“Dan kau… lebih berbahaya dari yang kau sadari.”
Lampu padam.
Ketika kembali menyala — Orion sudah hilang.
Hanya gema suaranya yang tersisa.
“Permainan baru saja dimulai.”
Beberapa detik setelah cahaya kembali stabil, ruangan terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.
Bukan karena ancaman telah pergi.
Melainkan karena sesuatu yang tak terlihat baru saja dimulai.
Kael bergerak lebih dulu, memeriksa sudut ruangan dengan gerakan terlatih. Ia menekan komunikator di telinganya.
“Perimeter luar bersih. Tapi ini terlalu mudah.”
Aidan berlutut di dekat panel lantai yang terbuka, memeriksa mekanisme yang kini mati. Jarinya menyentuh kabel yang masih hangat.
“Dia tidak ingin membunuh kita,” gumamnya. “Dia ingin menguji reaksi kita.”
Lucian akhirnya masuk ke ruangan, napasnya sedikit terengah karena berlari menuruni tangga darurat. Laptop tipisnya masih terbuka, layar dipenuhi baris kode.
“Aku dapat sebagian data dari sistem,” katanya cepat. “Dia tidak hanya mengendalikan perangkap. Dia mengendalikan seluruh gedung selama tujuh menit penuh.”
Lyra mengangkat alis.
“Seluruh gedung?”
Lucian mengangguk serius. “Lift, kamera, akses pintu, bahkan jalur listrik cadangan. Itu bukan kerja improvisasi. Itu perencanaan panjang.”
Damian tidak langsung menanggapi. Ia masih berdiri di dekat Lyra, tatapannya kosong seolah melihat sesuatu yang jauh di masa lalu.
Lyra memperhatikan perubahan itu.
“Kau kenal dia lebih dari yang kau katakan,” ujarnya pelan.
Damian tidak menyangkal.
“Dulu,” katanya akhirnya, “kami dilatih dalam sistem yang sama. Kami diajarkan satu hal: jangan pernah meninggalkan orang yang berdiri di sisimu.”
Ia berhenti sejenak, rahangnya menegang.
“Dia yang pertama melanggar aturan itu.”
Hening kembali turun.
Kael menoleh. “Jika Orion muncul di sini, berarti jaringan lama sudah aktif kembali.”
Aidan berdiri, menatap Damian lurus. “Dan jika dia bergerak, maka dia punya tujuan besar. Dia tidak bermain tanpa hasil akhir.”
Lucian menambahkan, “Aku menemukan satu hal lagi.”
Semua menoleh padanya.
Ia memutar layar laptop, memperlihatkan peta digital.
Di tengah peta, sebuah titik merah berkedip.
“Ini bukan jebakan tunggal. Ini pesan. Sistem di gedung ini sebelumnya dipakai sebagai node komunikasi rahasia. Orion sengaja memperlihatkan aksesnya.”
Lyra menatap titik merah itu, perutnya terasa mengeras.
“Jadi dia ingin kita tahu dia bisa menemukan kita kapan saja.”
Lucian mengangguk pelan.
“Bukan hanya menemukan,” katanya. “Mengendalikan.”
Damian akhirnya bergerak. Ia mengambil kotak logam dari tangan Lyra, membukanya perlahan.
Di dalamnya tidak hanya ada kunci elektronik.
Ada chip kecil berwarna hitam.
Aidan langsung mengenalinya.
“Penanda.”
Kael menatap tajam. “Pelacak?”
“Bukan,” jawab Aidan. “Lebih buruk. Ini pemancar pasif. Dia bisa mengaktifkannya kapan saja.”
Lyra menatap chip itu, lalu pada Damian.
“Dia menaruh itu… untuk kita temukan?”
Damian mengangguk pelan.
“Dia ingin kita membawa pesannya.”
Lucian menelan ludah.
“Ini bukan peringatan. Ini undangan.”
Damian menutup kotak itu perlahan.
Tatapannya berubah. Lebih dingin dari sebelumnya.
“Kalau dia ingin permainan,” katanya tenang, “maka kita tentukan aturannya.”
Kael menyeringai tipis.
Aidan memeriksa senjatanya tanpa suara.
Lucian menutup laptop dengan gerakan tegas.
Lyra memperhatikan mereka semua.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar melihat bagaimana lingkaran Damian bekerja. Tidak ada kepanikan. Tidak ada keraguan. Hanya keputusan.
Ia melangkah mendekat.
“Apa rencananya?”
Damian menatapnya.
“Aku akan memberitahumu pilihanmu sekarang,” katanya pelan. “Kau bisa pergi. Kami akan memastikan kau aman.”
Lyra menatapnya lama.
Kemudian ia menghela napas pelan.
“Kau tahu apa masalahnya?”
Damian tidak menjawab.
Lyra tersenyum kecil.
“Aku benci ketika orang lain memulai masalah dan mengira aku akan lari.”
Ia menunjuk chip di tangan Damian.
“Dia melibatkan aku. Jadi sekarang… aku juga punya urusan dengannya.”
Kael tertawa pendek.
Lucian menggeleng kagum.
Aidan hanya mengamati dalam diam.
Damian menatap Lyra beberapa detik.
Kemudian, hampir tak terlihat, ia mengangguk.
“Kalau begitu,” katanya, “tetap dekat denganku.”
Di luar gedung, langit mulai gelap kembali.
Badai baru sedang terbentuk.
Dan di suatu tempat yang tak terlihat — seseorang sedang menunggu langkah mereka berikutnya.
Permainan benar-benar telah dimulai.