Kim Ae Ra hanya ingin hidup tenang setelah kehilangan ayahnya di masa kecil. Demi bertahan, ia bekerja keras hingga akhirnya diterima di Aegis Corp dan menjadi sekretaris CEO muda yang dingin, Hyun Jae Hyuk.
Bagi Ae Ra, pertemuan mereka hanyalah kebetulan. Namun tanpa ia sadari, Jae Hyuk telah mengenalnya jauh sebelum itu—pada sebuah malam hujan yang hampir mengubah hidupnya.
Saat hubungan mereka perlahan mendekat, seseorang dari masa lalu muncul kembali membawa kenangan yang telah lama terlupakan. Di antara rahasia, takdir, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Ae Ra mulai menyadari bahwa beberapa pertemuan bukanlah kebetulan.
Karena terkadang, orang yang berdiri di samping kita saat hujan… adalah rumah yang sejak lama kita cari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — Retakan Kecil
Pagi itu Aegis Corp terasa jauh lebih ramai dari biasanya.
Sejak pintu lift terbuka, Kim Ae Ra langsung disambut suara langkah cepat dan percakapan tegang yang saling bersahutan. Beberapa staf membawa dokumen tebal, sementara layar monitor di ruang kerja menampilkan grafik pasar yang terus bergerak.
Ia bahkan belum sempat duduk ketika Yoo Min Ji sudah datang menghampiri.
“CEO meminta semua jadwal hari ini dipadatkan,” katanya cepat. “Investor utama datang sore ini.”
Ae Ra langsung membuka agenda di tabletnya.
“Iya, saya atur ulang sekarang.”
Tangannya bergerak cepat, memindahkan rapat, menghubungi divisi lain, dan memastikan tidak ada jadwal yang bertabrakan. Beberapa minggu lalu pekerjaan seperti ini akan membuatnya panik, tapi kini ia mulai menemukan ritmenya sendiri.
Meski begitu, tekanan hari itu terasa berbeda.
Lebih berat.
---
Di dalam ruangannya, Hyun Jae Hyuk berdiri menatap layar besar yang menampilkan laporan pasar.
Nama **Haesung Group** muncul berulang kali.
Mereka bergerak agresif—terlalu agresif.
Pintu diketuk.
Ae Ra masuk membawa dokumen.
“Semua jadwal sudah diperbarui.”
Jae Hyuk menerima berkas itu tanpa langsung melihatnya.
“Kau sudah sarapan?”
Pertanyaan itu datang tiba-tiba lagi.
Ae Ra hampir tersenyum.
“Sudah.”
Ia sebenarnya hanya minum kopi, tapi tidak ingin membuatnya khawatir.
Jae Hyuk mengangguk singkat.
“Bagus.”
Namun saat Ae Ra berbalik pergi, ia berkata lagi,
“Kalau terlalu lelah, bilang.”
Ae Ra berhenti sebentar.
“Iya.”
Nada suaranya lebih lembut dari biasanya.
---
Menjelang siang, gosip kantor kembali terasa jelas.
Ae Ra mendengar namanya disebut beberapa kali saat melewati pantry.
“Kau lihat? CEO makin sering bicara dengannya.”
“Mungkin memang ada sesuatu.”
Langkah Ae Ra melambat.
Ia tahu tidak bisa menghindarinya selamanya.
Namun kali ini ia tidak berhenti.
Ia terus berjalan.
---
Rapat sore berlangsung tegang.
Investor yang datang membawa banyak pertanyaan tajam mengenai langkah Aegis menghadapi ekspansi Haesung.
Ae Ra duduk di sisi ruangan, mencatat cepat.
Tatapannya beberapa kali tertuju pada Jae Hyuk.
Cara pria itu berbicara berubah total—tenang, percaya diri, dan penuh kontrol. Tidak ada jejak pria yang terkadang menyebalkan di kantor.
Ia terlihat… jauh.
Untuk pertama kalinya Ae Ra sadar, dunia Jae Hyuk sebenarnya sangat berbeda dari miliknya.
---
Rapat selesai menjelang malam.
Ketika semua orang keluar, Ae Ra menghela napas panjang.
“Kau bekerja dengan baik hari ini.”
Ia menoleh.
Jae Hyuk berdiri di belakangnya.
“Terima kasih.”
Ia tidak sadar sejak kapan pujian darinya terasa penting.
Jae Hyuk memperhatikan wajah lelah itu beberapa detik.
“Kau pulang naik bus lagi?”
“Iya.”
Ia tampak berpikir sejenak.
“Aku antar.”
Ae Ra langsung menggeleng cepat.
“Tidak perlu! Maksudku… saya bisa sendiri.”
Hening singkat.
Jae Hyuk akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Namun entah kenapa, suasana menjadi canggung.
---
Malam kembali membawa Ae Ra ke tempat yang sama.
Toserba kecil itu terasa seperti dunia berbeda.
*Klining…*
Bo Ram sedang menghitung stok sambil bersenandung.
Seo Jun berdiri di dekat kulkas minuman.
“Kau terlambat,” katanya ringan.
“Ada rapat besar.”
Seo Jun menyerahkan minuman hangat seperti biasa.
Ae Ra duduk sambil menghela napas lega.
Hari itu terasa panjang.
Bo Ram mendekat sambil menyipitkan mata.
“Kau terlihat berbeda akhir-akhir ini.”
“Hah?”
“Seperti… orang yang mulai terbiasa dengan sesuatu.”
Ae Ra tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya tertawa kecil.
---
Di luar toko, mobil hitam berhenti lagi.
Namun kali ini tidak lama.
Hyun Jae Hyuk hanya melihat sekilas sebelum memalingkan wajah.
Ia sadar sesuatu yang tidak ia sukai.
Ae Ra memiliki dunia lain… yang tidak melibatkannya.
Perasaan itu terasa seperti retakan kecil di dalam dirinya.
---
Di dalam toko, Seo Jun menatap jalan kosong tempat mobil itu tadi berhenti.
Tatapannya tenang, tapi lebih dalam dari biasanya.
Ia tahu.
Permainan perlahan berubah.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia mulai merasa waktunya tidak akan selamanya tenang.
Sementara itu, Ae Ra masih tertawa bersama Bo Ram, tanpa menyadari bahwa tiga arah berbeda kini mulai menarik hidupnya… ke jalur yang tidak bisa ia hindari lagi.