Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Dermaga di Tengah Badai
Malam merayap perlahan, menyelimuti kota dengan udara dingin yang menusuk tulang. Di dalam rumah mewah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman, Dimas Alvaro justru merasa seperti orang asing yang terkunci di dalam penjara kaca. Ia berdiri di ruang tengah, menatap Reina yang sibuk merapikan riasan wajahnya seolah tidak terjadi apa-apa di cafe siang tadi.
"Reina, aku hanya bertanya siapa pria itu. Sebagai suamimu, aku rasa aku punya hak untuk tahu siapa yang duduk begitu dekat denganmu," ujar Dimas. Suaranya tetap tenang, namun ada getaran ketegasan yang tertahan di sana.
Reina meletakkan kuas bedaknya dengan kasar ke atas meja rias. Ia berbalik, menatap Dimas dengan tatapan yang seolah merendahkan martabat suaminya hingga ke titik terendah. "Hak? Kamu bicara soal hak? Dengar ya, Dimas, pria itu adalah pemilik modal yang jauh lebih berkelas darimu. Dia memberikan peluang bisnis, bukan cuma memberikan ceramah moral yang tidak berguna!"
"Tapi kalian terlihat sangat dekat, Reina. Bagiku itu bukan sekadar pertemuan bisnis."
"Cukup!" bentak Reina sambil berdiri tegak. "Jangan berlagak seperti suami protektif sementara kamu sendiri tidak bisa memberiku kemewahan yang lebih dari apa yang aku punya sekarang. Kamu itu cuma dokter rendahan yang beruntung bisa tinggal di rumah ini. Jadi, diam dan jangan mencampuri urusanku!"
Dimas terdiam. Ia menatap istrinya dalam-dalam, mencari setitik saja sisa kasih sayang di mata wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah kebencian dan keserakahan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dimas berbalik. Ia mengambil kunci mobilnya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Mau ke mana kamu? Aku belum selesai bicara!" teriak Reina dari dalam kamar.
"Aku ada jadwal operasi mendadak. Lebih baik aku di rumah sakit daripada berada di sini hanya untuk menjadi sasaran amarahmu," sahut Dimas datar tanpa menoleh lagi.
Rumah sakit selalu memiliki aroma yang khas campuran antara antiseptik, kesibukan yang sunyi, dan harapan yang tipis. Bagi Dimas, aroma ini jauh lebih menenangkan daripada wangi parfum mahal di rumahnya yang menyesakkan. Setelah menyelesaikan beberapa berkas di ruangannya, Dimas memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak di taman dalam rumah sakit guna mendinginkan kepalanya yang berdenyut.
Taman itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu-lampu hias yang melingkar di batang pohon kamboja. Di salah satu bangku kayu panjang, ia melihat sosok yang tak asing. Seorang gadis dengan dress panjang bergaya Korea, sedang memeluk seorang balita di pangkuannya.
"Dokter Dimas?" suara lembut itu memanggilnya sebelum Dimas sempat menyapa.
Dimas tersenyum, kali ini senyumnya sampai ke mata. "Kathryn? Belum tidur? Ini sudah hampir jam sepuluh malam."
Kathryn Danola mendongak, wajahnya yang polos tampak bersinar di bawah cahaya lampu taman. Ia sedang mendekap Sean yang tampak sangat tenang di pelukannya. "Sean tadi agak rewel di dalam kamar, sepertinya dia bosan. Jadi saya bawa ke sini sebentar untuk menghirup udara segar."
"Bagaimana keadaannya?" tanya Dimas sambil ikut duduk di ujung bangku yang sama, memberi jarak yang sopan namun cukup dekat untuk mengobrol.
"Sudah sangat baik, Dokter. Kata dokter jaga tadi, besok pagi Sean sudah diperbolehkan pulang," jawab Kathryn dengan binar kebahagiaan yang tulus. "Saya senang sekali. Sean sudah rindu rumahnya, rindu masakan kakeknya juga."
Kathryn mulai bercerita. Ia bercerita tentang betapa lucunya Sean saat di rumah, tentang ayahnya yang seorang chef dan selalu bereksperimen dengan resep-resep baru yang kadang enak tapi kadang juga aneh, hingga tentang kuliahnya yang mulai terasa berat di semester lima ini.
"Kemarin saya hampir telat mengumpulkan tugas gara-gara panik membawa Sean ke sini," ujar Kathryn sambil tertawa kecil, jemarinya mengusap lembut rambut Sean yang tertidur pulas. "Tapi tidak apa-apa, bagi saya Sean itu nomor satu. Dia sudah seperti adik sekaligus anak bagi saya sendiri karena saya yang menjaganya sejak dia masih bayi merah."
Dimas tertegun. Ia tidak menyela. Ia hanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Kathryn. Ada sesuatu pada cara gadis itu bercerita semangatnya, ketulusannya, dan cara matanya berbinar saat membicarakan keluarga yang membuat Dimas terpaku. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berbicara padanya dengan cara seperti ini; bukan tentang uang, bukan tentang status, dan bukan tentang tuntutan.
Tanpa sadar, Dimas menatap wajah Kathryn cukup lama. Ia mengagumi bagaimana helai-helai rambut halus Kathryn tertiup angin malam, bagaimana cahaya lampu memantul di bola mata gadis itu. Ada kelembutan yang sangat murni di sana, jenis kelembutan yang selama tiga tahun ini ia rindukan namun tidak pernah ia dapatkan dari Reina.
Kathryn yang sedang asyik bercerita tentang hobinya mengoleksi pita rambut tiba-tiba menyadari keheningan Dimas. Ia menoleh dan mendapati pria itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam dan hangat.
"Dokter? Kenapa melihat saya begitu? Ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Kathryn, seketika wajahnya memerah karena malu.
Dimas tersentak dari lamunannya. Ia berdeham kecil, mencoba mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba melompat. "Ah, tidak. Aku hanya... aku hanya berpikir bahwa kamu sangat hebat, Kathryn. Tidak banyak gadis seusiamu yang mau mendedikasikan waktunya untuk mengurus keponakan dengan setulus itu."
"Eh... benarkah? Saya rasa ini hal yang biasa saja, Dokter," jawab Kathryn sambil menunduk, menyembunyikan senyum malunya di balik bahu Sean.
"Ehem! Sepertinya saya mengganggu momen syahdu di bawah rembulan nih."
Suara godaan yang sangat dikenal Dimas tiba-tiba memecah suasana. Dokter Adrian muncul dari balik pohon besar dengan tangan terlipat di depan dada dan seringai nakal yang menghiasi wajahnya.
"Adrian," gumam Dimas dengan nada memperingatkan, meski hatinya merasa sedikit malu karena tertangkap basah sedang menatap Kathryn.
"Halo, Nona Kathryn. Wah, Sean sudah sehat ya? Luar biasa pengasuhnya memang sangat telaten," sapa Adrian dengan nada yang sengaja dibuat berlebihan. Ia kemudian melirik Dimas sambil menaik-turunkan alisnya. "Dimas, kau dicari suster di bangsal depan, katanya ada 'masalah mendesak'. Tapi melihatmu di sini, sepertinya masalah di sini jauh lebih menarik ya?"
Kathryn segera berdiri dengan canggung, sambil tetap menggendong Sean yang mulai menggeliat karena suara berisik Adrian. "Kalau begitu saya permisi masuk dulu ya, Dokter Dimas, Dokter Adrian. Terima kasih sudah mengobrol dengan saya."
"Eh, jangan buru-buru, Kathryn! Dimas ini baru mau mulai sesi curhat tadi sepertinya," goda Adrian lagi.
"Adrian, cukup," potong Dimas tegas namun tetap dengan nada bercanda. Ia menatap Kathryn yang tampak ingin segera menghilang karena malu. "Terima kasih untuk ceritanya, Kathryn. Sampai jumpa besok sebelum kamu pulang."
Kathryn mengangguk cepat, memberikan sedikit membungkuk hormat, lalu berjalan setengah berlari menuju pintu masuk gedung.
Setelah Kathryn menjauh, Adrian langsung merangkul bahu Dimas dengan erat. "Oi, Pak Direktur! Mata tidak bisa bohong ya. Kau menatap gadis itu seperti sedang melihat oase di tengah padang pasir. Ingat, kau masih punya istri yang 'galak' di rumah!"
Dimas melepaskan rangkulan Adrian dan menarik napas panjang, menatap langit malam yang tak berbintang. "Aku tahu, Adrian. Aku sangat tahu. Tapi baru kali ini aku merasa ada seseorang yang benar-benar melihatku sebagai manusia, bukan sebagai mesin uang atau beban."
"Mungkin itu pertanda, Dimas," ujar Adrian dengan nada yang lebih serius. "Pertanda bahwa kesabaranmu terhadap Reina sudah mencapai batasnya. Jangan biarkan dirimu mati rasa hanya karena satu wanita yang tidak tahu cara menghargai emas di tangannya."
Dimas tidak menjawab. Ia hanya terdiam, namun di dalam benaknya, tawa kecil Kathryn dan kelembutan caranya menggendong Sean terus berputar, memberikan kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Namun, ia juga tahu, badai dengan Reina belum berakhir, dan rahasianya sebagai pemilik rumah sakit ini suatu saat akan menjadi pedang bermata dua yang siap melukainya atau membebaskannya.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰