NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Suasana kantin siang itu sangat bising dengan denting sendok dan tawa ringan para santriwati. Namun, bagi Intan, kebisingan itu terasa seperti ribuan jarum yang menusuk harga dirinya.

Intan berjalan menuju kantin dengan perasaan campur aduk.

Kakinya yang biasa melangkah di lantai marmer restoran mewah kini harus berpijak di ubin semen yang dingin.

Tangan halusnya gemetar saat memegang nampan plastik berwarna oranye kusam.

Ia merasa semua mata santriwati tertuju padanya, menghakiminya, atau menertawakan kejatuhannya—meskipun sebenarnya mereka hanya bersikap ramah dan sesekali memberikan senyum tulus saat berpapasan.

"Ayo, Intan! Jangan melamun terus, nanti keburu habis lho!" seru Yuana dengan ceria mengenalkan menu 'Sambal Teri' andalan pondok.

Yuana menyendokkan nasi hangat dan sesendok besar sambal teri merah kecokelatan ke nampan Intan.

Aroma cabai dan gurihnya teri goreng menyeruak, memenuhi indra penciuman Intan yang biasanya hanya akrab dengan aroma steak atau pasta.

Dengan ragu, Intan duduk di bangku kayu panjang.

Saat Intan menyuap makanan sederhana itu, rasa pedas dan gurih yang meledak di lidahnya memberikan sensasi yang sangat akrab.

Ia teringat masakan Bi Inah di rumah—sambal teri yang selalu tersedia di meja makan setiap pagi, yang sering ia abaikan karena lebih memilih sarapan di kafe kekinian.

Ketegangan di wajahnya pecah menjadi keheningan yang menyesakkan.

Sesuap nasi itu terasa begitu sulit ditelan. Bukan karena rasanya tidak enak, tapi karena setiap butir nasi itu seolah membawa bayangan wajah Aisyah yang sedang menangis dan wajah Rizal yang menatapnya penuh kecewa.

"Enak, kan?" tanya Yuana polos, tanpa menyadari badai emosi yang sedang melanda temannya.

Intan hanya menunduk dalam-dalam.

Air matanya jatuh tepat di atas nampan plastiknya.

Ia baru menyadari bahwa kemewahan yang ia kejar bersama Hadi hanyalah semu, sementara kebahagiaan sejati ada pada kesederhanaan rumah yang baru saja ia khianati.

Siang itu, di sudut kantin yang mulai sepi, udara terasa berat bukan karena cuaca, melainkan karena beban rahasia yang tersimpan di hati masing-masing.

Yuana meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah pohon kamboja di halaman pesantren dengan tatapan yang menerawang jauh.

"Kamu beruntung, Intan," bisik Yuana pelan.

"Setidaknya, kamu punya orang tua yang cukup peduli untuk mengirimmu ke sini agar menjadi lebih baik."

Intan terdiam, suapan nasinya tertahan di udara.

Yuana menceritakan kisahnya yang yatim piatu.

Ia bercerita bagaimana ia harus berjuang sendirian sejak kecil setelah kedua orang tuanya tiada dalam kecelakaan, hingga akhirnya seorang dermawan membawanya ke pondok ini.

Yuana bercerita tentang betapa ia merindukan aroma masakan ibunya atau suara tegas ayahnya—hal-hal yang selama ini dianggap Intan sebagai gangguan.

Mendengar itu, Intan merasa sangat berdosa karena hampir menghancurkan orang tuanya sendiri demi lelaki licik seperti Hadi.

Ia membayangkan betapa jahatnya dirinya yang memiliki segalanya namun tega mencurinya, sementara di sampingnya ada seorang gadis yang tidak memiliki siapa-siapa namun tetap bisa tersyukur.

Melihat mata Intan yang mulai berkaca-kaca, Yuana merasa empati. Ia menggeser duduknya lebih dekat.

Saat Yuana mencoba memegang tangan Intan untuk menguatkan, Intan sempat menegang.

Tubuhnya bereaksi secara naluriah. Ia belum terbiasa dengan sentuhan tulus tanpa manipulasi.

Selama ini, sentuhan dari Hadi selalu berarti ada permintaan di baliknya, dan "kebaikan" Intan sendiri kepada Aisyah hanyalah akting untuk mendapatkan sertifikat.

Namun, genggaman Yuana terasa berbeda. Hangat, jujur, dan tidak meminta apa-apa.

"Tidak apa-apa menangis, Intan. Air mata itu bisa mencuci hati yang sedang kotor," ucap Yuana lembut.

Perlahan, ketegangan di bahu Intan meluruh. Ia membiarkan tangan Yuana menggenggam jemarinya.

Di bawah atap kantin yang sederhana itu, tembok keangkuhan Intan benar-benar runtuh.

Ia bukan lagi putri pengusaha yang angkuh, melainkan seorang gadis yang mulai menyadari betapa mahalnya harga sebuah keluarga.

Suara riuh santriwati di kejauhan seolah meredup, menyisakan ruang hampa di antara Intan dan Yuana.

Intan menarik napas panjang, sebuah napas yang terasa sangat berat seolah ada batu besar yang menyumbat dadanya.

Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu perlahan menatap Yuana yang masih setia menggenggam jemarinya.

"Kamu bilang aku beruntung, Yuana. Tapi kamu tidak tahu betapa kotornya hatiku," bisik Intan, suaranya parau.

Intan akhirnya mulai terbuka dan menceritakan kesalahannya pada Yuana.

Dengan suara gemetar, ia mulai mengurai benang kusut masa lalunya yang selama ini ia tutup rapat dengan keangkuhan.

"Aku dulu kekasih Rizal, yang sekarang menjadi ayah tiriku," ucap Intan. Kata-kata itu meluncur begitu saja, membuat Yuana sempat tertegun, namun gadis yatim piatu itu tidak melepaskan genggamannya.

Intan menunduk, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung lagi.

"Dulu saat ia menjadi kekasihku, aku selalu menghinanya. Aku memandangnya rendah karena saat itu dia belum menjadi siapa-siapa. Aku hanya melihat harta, Yuana. Aku membuangnya seperti sampah karena kupikir dia tidak punya masa depan."

Intan menceritakan bagaimana egonya yang setinggi langit membuatnya buta akan ketulusan Rizal di masa lalu.

Ia juga menceritakan bagaimana ia kemudian terjebak rayuan Hadi, lelaki yang ternyata jauh lebih licik darinya, yang menghasutnya untuk kembali ke kehidupan Rizal hanya demi menguras harta keluarganya sendiri.

"Aku hampir menghancurkan kebahagiaan Mamaku sendiri. Aku mengkhianati pria yang sekarang justru melindungiku sebagai seorang ayah," isak Intan.

"Setiap kali melihat kalung di leher Mama atau sertifikat yang hampir kucuri itu, aku merasa seperti iblis."

Yuana mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.

Ia melihat Intan bukan lagi sebagai santriwati baru yang manja, melainkan sebagai jiwa yang sedang hancur berkeping-keping karena penyesalan.

"Kebaikan Mamaku, ketegasan Papaku membuat aku tidak pantas mendapatkan semua itu," lanjut Intan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Yuana menghela napas panjang, sorot matanya yang tenang menatap Intan yang masih terguncang oleh pengakuannya sendiri.

Ia tidak menjauh, justru genggaman tangannya pada jemari Intan semakin erat, seolah ingin memberikan sandaran bagi jiwa Intan yang sedang rapuh.

"Intan, lihat aku," ucap Yuana lembut namun penuh penekanan.

Yuana memberikan nasihat bijak yang membuat Intan akhirnya bertekad untuk bertaubat. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang menenangkan.

"Kamu tahu? Masa lalu itu seperti bayangan. Semakin kamu lari, dia akan semakin mengikutimu. Tapi kalau kamu berbalik dan berjalan menuju cahaya, bayangan itu akan berada di belakangmu."

Intan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

Bibirnya bergetar saat menanyakan satu hal yang paling menghantui pikirannya sejak tiba di pesantren ini.

"Apa Allah akan menerima taubatku?" tanya Intan lirih. "Dosaku terlalu banyak, Yuana. Aku menyakiti pria yang tulus mencintaiku, aku mengkhianati ibu yang sudah merawatku selama ini dan aku memuja harta lebih dari segalanya. Apa ada tempat untuk orang sepertiku di hadapan-Nya?"

Yuana mengangguk mantap. "Intan, ampunan Allah itu jauh lebih luas dari seluruh samudra di dunia ini. Dia tidak melihat seberapa hitam masa lalumu, tapi Dia melihat seberapa tulus usahamu untuk berbalik hari ini. Ingat apa yang dikatakan Ustadzah Mina? Ilmu itu cahaya. Sekarang, kamu sedang diajak keluar dari kegelapan."

Yuana mengusap sisa air mata di pipi Intan.

Penyesalanmu hari ini adalah tanda bahwa Allah masih sayang padamu. Kalau Dia tidak sayang, Dia akan membiarkanmu sukses mencuri sertifikat itu dan membiarkanmu hancur bersama Hadi. Tapi lihat? Kamu diselamatkan di sini."

Mendengar itu, ada sesuatu yang retak di dalam hati Intan, namun kali ini bukan karena kesakitan, melainkan karena harapan yang mulai tumbuh. Ia menatap ke arah masjid pondok yang megah di kejauhan.

"Aku ingin berubah, Yuana. Aku ingin meminta maaf pada Mama dan Papa bukan karena terpaksa, tapi karena aku benar-benar menyesal," ucap Intan dengan nada bicara yang kini terdengar lebih kuat.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!