NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suasana terminal kedatangan Bandara Juanda terasa sangat menyesakkan.

Isak tangis dari keluarga korban lainnya menggema, bersahutan dengan suara bising pengumuman bandara.

Di papan pengumuman besar yang dipasang secara darurat, terdapat daftar nama penumpang pesawat yang dinyatakan hilang kontak di atas Samudra Hindia.

Intan yang sampai di bandara dan menggelengkan kepalanya saat melihat nama orang tuanya masuk dalam daftar penumpang yang hilang kontak.

Ia berdiri mematung, menolak mempercayai apa yang dilihatnya. Nama "Rizal" dan "Aisyah" tertulis jelas di sana, di kolom merah yang menandakan status pencarian.

"Enggak, ini salah. Ayah dan Mama tadi malam masih telepon. Ini pasti salah orang," bisik Intan dengan suara bergetar hebat.

Seketika, bayangan mereka saat memberikannya ayam panggang di meja makan rumah mereka dulu terlintas begitu nyata di benak Intan.

Ia ingat bagaimana Aisyah dan Rizal memberikan ayam panggang sebelum mereka berpamitan.

Kehangatan aroma ayam panggang itu seolah masih tercium, sangat kontras dengan hawa dingin dan kaku di bandara ini.

"Ayah, Mama... pulang," tangis Intan pecah.

Ia mulai kehilangan keseimbangan, kakinya terasa seperti jeli.

Melihat kondisi Intan yang mulai lepas kendali, Ustadz Yudiz meminta Intan tenang.

Beliau memegang pundak Intan dengan kokoh, memberikan sandaran agar gadis itu tidak jatuh tersungkur di lantai bandara.

"Intan, istighfar. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Hilang kontak bukan berarti tiada. Kita di sini untuk menjemput harapan, bukan untuk menyerah pada kesedihan," ujar Ustadz Yudiz dengan suara yang dalam dan penuh wibawa, meskipun matanya sendiri memancarkan rasa prihatin yang mendalam.

Yuana di sampingnya terus memeluk lengan Intan, ikut menangis namun berusaha tetap kuat demi sahabatnya.

Di tengah ketidakpastian itu, mereka hanya bisa menunggu di posko darurat, berharap ada kabar keajaiban dari tim SAR yang sedang berjuang di tengah laut.

Sinar matahari pagi yang terik mulai menyengat kulit, memaksa Rizal untuk membuka matanya yang perih karena air garam.

Di sekeliling mereka, hamparan pasir putih yang silau berpadu dengan jernihnya air laut yang kini tampak tenang, seolah tidak pernah terjadi badai besar semalam.

Sementara itu, matahari menyinari Rizal dan Aisyah terdampar di pulau kecil.

Puing sayap pesawat yang mereka gunakan sebagai rakit tersangkut di antara karang dangkal, menyelamatkan nyawa mereka dari tarikan arus samudera.

Rizal mencoba bangkit dengan tubuh yang terasa remuk.

Ia merangkak mendekati Aisyah yang masih terbaring lemah.

Saat itulah, wajahnya berubah cemas. Rizal melihat luka di tangan istrinya, sebuah sayatan cukup dalam yang didapat saat mereka terhantam puing pesawat di laut semalam.

"Mas..." paku Aisyah lirih. Suaranya serak dan bibirnya pecah-pecah karena dehidrasi.

Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa perih yang luar biasa membuatnya meringis kesakitan.

"Tenanglah dulu. Aku akan mencari makanan dan minuman untuk kita," ujar Rizal sambil merobek sebagian kemejanya yang sudah lusuh untuk membalut luka di tangan Aisyah guna menghentikan pendarahan.

Aisyah mencengkeram ujung baju Rizal, matanya menyapu hutan bakau dan pepohonan rimbun yang ada di belakang pantai itu dengan rasa takut yang nyata.

"Tapi Mas, ini pulau dan pasti banyak binatang buas. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini," pinta Aisyah dengan suara bergetar.

Rizal mengusap pipi istrinya dengan lembut, mencoba menyalurkan keberanian.

"Aku tidak akan pergi jauh, Sayang. Aku hanya akan mencari kelapa atau air tawar di dekat sini. Kita harus bertahan hidup sampai tim SAR menemukan kita. Percayalah padaku."

Rizal tahu mereka sedang berada dalam situasi hidup dan mati.

Dengan langkah pincang karena memar di kakinya, ia mulai berjalan menuju pinggir hutan, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan

Aisyah tetap dalam pengawasannya, sementara di Jakarta, putri mereka sedang berjuang melawan kehancuran hatinya.

Rizal menyeka keringat yang bercucuran di dahinya.

Rasa haus yang mencekik membuatnya harus bergerak cepat jika ingin mereka berdua bertahan hidup di pulau terpencil ini.

Matanya berbinar saat melihat beberapa batang pohon kelapa yang menjulang tinggi di pinggir hutan, buahnya yang hijau tampak sangat menjanjikan.

Rizal yang berhasil menemukan pohon kelapa dan ia langsung memanjatnya dengan sisa tenaga yang ada.

Meski tangannya lecet dan otot-ototnya terasa kaku setelah berenang semalaman, naluri pelindungnya jauh lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Ia memeluk batang pohon itu erat-erat, merayap naik perlahan demi perlahan.

"Tunggu sebentar, Aisyah. Mas akan ambilkan minum untukmu," gumamnya terengah-engah.

Dari kejauhan, Aisyah menatap suaminya dengan cemas.

Ia melihat bagaimana seorang CEO yang biasanya mengenakan setelan jas mewah dan duduk di ruang rapat ber-AC, kini berjuang layaknya seorang penyintas sejati di alam liar demi dirinya.

Bruk! Bruk!

Tiga buah kelapa jatuh berdebum ke atas pasir putih.

Rizal segera merosot turun dengan tangan yang sedikit gemetar.

Ia mengambil sebuah batu tajam dari pinggir pantai dan mulai memecahkan sabut kelapa itu dengan sekuat tenaga.

"Ini, Sayang. Minum ini dulu," ucap Rizal sambil menyodorkan kelapa yang sudah terbuka bagian atasnya ke bibir Aisyah.

Aisyah meminum air kelapa itu dengan rakus, merasakan kesegaran yang luar biasa mengalir di tenggorokannya.

Kekuatan sedikit demi sedikit mulai kembali ke tubuhnya.

Ia menatap Rizal dengan mata berkaca-kaca, menyadari bahwa di balik kemewahan yang diberikan Rizal selama ini, cinta pria ini jauh lebih dalam saat mereka tidak memiliki apa-apa selain satu sama lain.

"Terima kasih, Mas. Kamu benar-benar menyelamatkan nyawaku lagi," bisik Aisyah sambil memegang tangan Rizal yang kini kotor dan luka-luka.

Rizal hanya tersenyum tipis, ia membelai rambut istrinya yang kusut.

Di tengah pulau yang tak berpenghuni ini, mereka hanya memiliki satu misi: bertahan hidup sampai bisa memeluk Intan kembali.

Aisyah tersenyum tipis, mencoba mencari sisi terang di tengah situasi yang mengancam nyawa mereka.

Meski tubuhnya lemas dan tangannya terbalut kain robekan kemeja Rizal, ia menatap hamparan laut biru dan pasir putih yang sunyi itu dengan pandangan jenaka.

"Bulan madu kita sepertinya diperpanjang, Mas," goda Aisyah pelan, mencoba mengusir ketegangan yang menyelimuti mereka sejak pesawat itu jatuh.

"Hanya saja, kali ini hotelnya sangat terbuka dan fasilitasnya benar-benar alami."

Rizal tertawa kecil saat mendengar perkataan dari istrinya.

Tawa itu terdengar sedikit parau karena tenggorokannya yang kering, namun matanya memancarkan kekaguman yang luar biasa pada ketegaran hati Aisyah.

"Kamu benar, Sayang. Sepertinya alam belum rela kita pulang ke Jakarta," balas Rizal sambil duduk di samping Aisyah, menyandarkan punggungnya pada puing sayap pesawat.

"Tapi aku rasa pelayanan di 'resort' ini agak kurang. Pelayannya harus memanjat pohon kelapa sendiri hanya untuk segelas air."

Aisyah tertawa kecil, membuat rasa sakit di perutnya sedikit berkurang.

Ia menyandarkan kepalanya di bahu Rizal yang kokoh.

Di tengah ketidakpastian ini, humor kecil itu menjadi oksigen bagi mereka.

"Tapi Mas..." suara Aisyah mendadak melembut dan penuh kerinduan.

"Kira-kira Intan sedang apa ya sekarang? Aku takut dia mendengar kabar buruk tentang pesawat kita."

Rizal terdiam, pandangannya lurus menatap cakrawala.

Ia menggenggam tangan Aisyah yang tidak terluka.

"Intan anak yang kuat. Dia sudah belajar banyak di pesantren. Kita harus bertahan hidup demi dia, Aisyah. Kita harus pulang."

Rizal kemudian bangkit berdiri, melihat luasnya hamparan pasir pantai yang masih bersih.

Ia tahu mereka tidak bisa hanya menunggu keajaiban. Ia harus melakukan sesuatu agar mereka bisa terlihat dari langit.

1
Lizam Alby
lohhh ko Rizal yg JD wali kan dia bpak sambung
my name is pho: terima kasih kak. Thor revisi sebentar
total 1 replies
mfi Pebrian
cerita nya bagus......semangat untuk up nya yah KK.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!