Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32-Tangis yang Datang Sendiri
Kamar kost nomor 12 itu terasa lebih dingin dari biasanya. Alea masih terduduk di lantai, menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang kasar. Ia tidak punya energi bahkan hanya untuk meraih saklar lampu yang jaraknya hanya sejengkal dari bahunya. Di dalam kegelapan yang pekat itu, satu-satunya yang terlihat adalah pantulan pucat dari cahaya lampu jalan yang menerobos masuk lewat celah ventilasi, membentuk garis-garis tipis di atas keramik lantai.
Setetes air mata jatuh tanpa peringatan, membasahi kemeja kotak-kotaknya. Disusul tetesan lain yang lebih deras, seolah-olah seluruh beban yang ia tahan sepanjang hari di toko buku tadi menemukan celah untuk keluar. Alea membekap mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan. Ia benci suara isakannya. Ia benci bagaimana dadanya terasa sesak seolah ada bongkahan beton yang bersarang di sana.
Tiba-tiba, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Nama Aksa menyala terang di layar, memotong kesunyian kamar yang mencekik. Alea tertegun. Ia ingin mengabaikannya, namun jemarinya yang gemetar tak sengaja menyentuh layar saat ia mencoba menjauhkan ponsel itu dari wajahnya.
Sambungan terhubung. Suara berat Aksa langsung memenuhi ruangan melalui loudspeaker.
“Al?” panggil Aksa. Suaranya terdengar sangat tenang, namun ada nada tegas di sana.
Alea membeku. Ia menahan napas sekuat tenaga, berusaha mematikan suara isak yang hampir lolos dari tenggorokannya.
“Alea, aku tahu kamu belum tidur. Aku baru saja lihat lampu kamarmu menyala sebentar lalu mati lagi dari bawah sini,” ucap Aksa lagi.
Alea baru sadar, pria itu ternyata belum beranjak dari depan pagar kost. Ia masih di sana, menunggu di dalam mobilnya. Ketakutan Alea semakin menjadi. Ia tidak ingin Aksa melihatnya seperti ini.
“Al, bicara. Jangan cuma diam.” Suara Aksa berubah sedikit lebih lembut. “Kamu nangis?” tanya Aksa.
Alea akhirnya menyerah. Pertahanannya runtuh dalam satu isakan kecil yang tajam. “Enggak, Sa. A-aku cuma capek.”
“Capek suaranya nggak pecah begini, Al. Nangis saja kalau memang mau nangis. Nggak usah ditahan di depan aku. Aku nggak akan tutup teleponnya.”
“Aku nggak tahu kenapa, Sa!” Alea akhirnya meledak. Ia membiarkan tangisnya pecah tanpa kendali lagi. Ia meringkuk, memeluk lututnya di lantai yang dingin. “Aku nggak tahu kenapa aku kayak begini! Harusnya aku nggak begini, kan? Aku merasa aneh, aku merasa rusak di dalam sini.”
“Kamu nggak rusak, Alea,” sela Aksa cepat, suaranya sangat stabil, seolah ia sedang menjadi jangkar bagi kapal yang sedang dihantam badai. “Kamu cuma lagi penuh. Kamu sudah terlalu lama menampung semuanya sendirian, dan sekarang wadahnya meluap. Itu manusiawi.”
“Tapi aku malu!” seru Alea di sela isakannya. “Aku malu kamu harus denger aku sehancur ini. Kamu punya kehidupan yang sempurna, kamu punya kerjaan yang penting, dan sekarang kamu malah terjebak dengerin aku nangis di lantai kost.”
“Sempurna itu cuma kelihatannya, Al” balas Aksa pelan. Alea mendengar suara kursi mobil yang berderit, mungkin Aksa sedang menyandarkan kepalanya di setir. ”Hanya karena aku pakai setelan jas setiap hari, bukan berarti aku nggak pernah merasa dunia ini mau kiamat. Aku juga pernah ada di posisi kamu, duduk sendirian di ruangan gelap dan berharap waktu berhenti sebentar.”
Alea terdiam sejenak, isakannya mulai mereda meski cegukannya masih terdengar. “Kamu? Kamu pernah merasa kayak gitu?”
“Sering,” jawab Aksa jujur. “Tapi aku nggak punya seseorang yang mau nungguin di telepon kayak gini dulu. Itu alasannya kenapa aku nggak mau pergi sekarang. Kalau kamu butuh sejam lagi buat nangis, ya sudah. Aku tungguin.”
Alea menyeka matanya dengan lengan baju. “Kamu... kamu beneran belum pulang?”
“Belum. Aku baru mau jalan tadi, tapi firasatku nggak enak. Aku lihat lampu kamarmu, dan aku tahu ada yang nggak beres. Ternyata benar.”
“Sa, kenapa kamu mau repot-repot nungguin aku?” tanya Alea dengan suara serak. “Kamu bisa pulang, istirahat, dan lupain kalau aku lagi kacau begini. Aku bukan siapa-siapa buat kamu.”
“Karena aku nggak mau kamu terbiasa nanggung semuanya sendirian, Al,” sahut Aksa pelan namun sangat tajam di telinga Alea. “Dunia sudah cukup keras sama kamu selama ini. Aku nggak mau nambahin beban itu dengan ninggalin kamu di saat kayak begini hanya karena aku ingin tidur lebih awal.”
Alea tertegun. Kalimat itu terasa lebih hangat daripada teh jahe yang tadi diberikan Dinda. “Tapi aku orang asing, Sa. Aku cuma orang yang tiba-tiba muncul di toko buku itu.”
“Orang asing nggak akan bikin aku gelisah di parkiran cuma buat mastiin dia sudah minum obat atau belum,” balas Aksa telak.
“Sekarang, aku mau kamu gerak. Jangan duduk di lantai terus, keramiknya dingin. Ambil air putih dan obat lambung cair yang tadi aku kasih. Bisa?”
“A-aku lemas, Sa.”
“Aku tungguin suaranya. Ayo, Alea. Satu langkah saja ke meja.”
Alea memaksa tubuhnya bangkit. Dengan kaki yang bergetar, ia berjalan menuju meja kecilnya. Ia meraba botol air dan meminumnya perlahan, membiarkan rasa dingin membasahi tenggorokannya yang kering. “Sudah, Sa.”
“Bagus. Sekarang naik ke kasur. Selimutan yang rapat. Jangan dipikirkan soal besok atau soal toko. Pikirkan saja suara napasmu sendiri.”
Alea merangkak naik ke tempat tidurnya yang tipis. Saat tangannya meraba bantal, ia merasakan tekstur keras dari amplop cokelat yang tadi ia temukan di toko. Jantungnya kembali berdegup kencang, rasa takut yang tadi sempat mereda kini kembali menyengat.
“Sa?” panggil Alea dengan nada yang lebih cemas.
“Iya, aku masih di sini. Kenapa?”
“Kalau...suatu saat kamu tahu hal yang buruk banget tentang aku. Sesuatu yang bikin orang-orang jijik atau menjauh, apa kamu bakal tetap ada di sini?” tanya Alea.
Hening menyelimuti sambungan telepon itu selama beberapa detik yang terasa sangat lama bagi Alea. Ia menahan napas, takut Aksa akan merasa ia terlalu banyak menuntut.
“Al,” panggil Aksa akhirnya. Suaranya terdengar sangat serius. “Dunia ini tempat yang kotor. Dan kalau kamu pikir aku ini orang yang benar-benar bersih, kamu salah besar. Aku juga punya sisi gelap yang nggak pernah kulihatkan pada siapa pun.”
Alea mendengarkan dengan seksama, mencengkeram ujung selimutnya.
“Jadi,” lanjut Aksa, “Apa pun hal buruk yang kamu takutkan itu, itu nggak bakal mengubah keputusanku buat ada di sampingmu. Aku nggak berteman dengan masa lalumu, aku berteman dengan kamu yang sekarang.”
“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”
“Karena aku sudah memutuskan, Alea. Dan aku bukan tipe pria yang suka menarik kembali kata-kataku hanya karena situasinya jadi sedikit sulit,” ucap Aksa dengan nada yang begitu final.
“Sekarang, tutup matamu. Jangan pikirkan apa-apa lagi. Aku nggak akan matikan teleponnya sampai aku dengar napasmu teratur. Aku akan jadi orang terakhir yang kamu dengar malam ini.”
“Makasih, Sa. Selamat malam.”
“Malam, Alea. Tidurlah.”
Alea membiarkan ponselnya tetap menyala di samping telinganya. Suara napas Aksa yang stabil dari seberang sana menjadi lagu pengantar tidur yang paling menenangkan yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Perlahan, badai di dadanya mereda, meskipun ia tahu, jauh di bawah bantalnya, amplop cokelat itu sedang menunggu untuk dibuka.
Di bawah, di dalam mobilnya, Aksa masih menggenggam ponselnya erat-erat. Matanya menatap ke arah jendela kamar Alea yang gelap. Ia tahu, Alea sedang menyimpan sesuatu yang besar, sesuatu yang membuatnya ketakutan setengah mati. Aksa hanya bisa berharap, saat saatnya tiba, ia benar-benar sekuat kata-katanya tadi.