Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Di Antara Cemburu dan Ketulusan
Malam kian merambat menuju puncaknya, membawa sunyi yang mencekam sekaligus menenangkan. Di dalam kamar penginapan, lidah api pada lampu minyak bergetar hebat, seolah-olah ketakutan tertiup angin yang menyelinap dari sela jendela yang baru saja dilewati Yue Lan.
Suasana setelah kepergian wanita perak itu menyisakan ketegangan baru. Bukan lagi tentang perebutan pusaka, melainkan tentang getaran batin antara dua manusia yang kini berdiri saling berhadapan.
Sin Yin masih mematung, dadanya turun naik karena sisa emosi yang bergejolak. Sementara itu, Wang Long berdiri tegak dengan tatapan yang tetap tenang, meski ia merasakan ada sesuatu yang tak biasa dalam napas rekannya itu.
“Kenapa kau diam?” tanya Wang Long pelan. Suaranya datar namun terdengar lembut di tengah kesunyian malam.
Sin Yin menghela napas panjang, mencoba membuang sesak yang menghimpit batinnya. “Aku sedang berpikir,” jawabnya singkat tanpa menoleh.
“Memikirkan apa?”
“Memikirkan kenapa kau selalu begitu tenang, seolah-olah hatimu terbuat dari batu gunung yang tak bisa pecah,” Sin Yin berbalik, menatap Wang Long dengan mata yang masih menyiratkan sisa kejengkelan.
Wang Long sedikit mengernyitkan alisnya yang tebal. “Tenang itu buruk? Guruku selalu bilang, ketenangan adalah kunci kemenangan.”
“Kadang ketenanganmu itu menyebalkan!” Sin Yin melangkah mendekat, sepasang matanya menatap tajam. “Wanita itu masuk ke kamar saat kau tidur. Memandangmu dengan cara yang tidak sopan. Hampir menyentuh pusakamu. Dan kau hanya… ‘Turunkan pedangmu, Sin Yin.’”
Sin Yin menirukan nada bicara Wang Long dengan sedikit cemberut, membuat wajahnya yang biasanya garang sebagai Bidadari Maut kini tampak seperti gadis remaja yang sedang merajuk.
Wang Long tidak bisa menahan senyum tipis—senyum yang sangat jarang terlihat namun mampu membuat dunia seolah lebih terang. “Kau terdengar sangat marah tadi. Padahal, pedangmu lebih tajam dari ucapanku.”
“Aku memang marah! Sangat marah!” Sin Yin menghentakkan kakinya ringan.
“Karena pusaka itu terancam?” tanya Wang Long polos.
Sin Yin langsung mendongak, menatap mata Wang Long dengan gusar. “Kau benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tidak tahu?”
Wang Long terdiam. Ia mematung selama beberapa detik, seolah sedang menghitung rumus tenaga dalam di kepalanya, lalu menjawab dengan kejujuran yang lugu. “Tidak sepenuhnya.”
Sin Yin menutup matanya sejenak, membuang napas frustrasi. Saat ia membuka matanya kembali, amarah itu telah meluruh, berganti dengan sorot mata yang jujur dan rapuh.
“Aku cemburu,” bisiknya.
Udara di kamar itu seakan berhenti mengalir. Wang Long berkedip pelan, raut wajahnya tampak bingung seolah ia baru saja mendengar istilah asing dari naskah kuno yang belum pernah ia pelajari.
“Karena dia mencoba mencuri pusaka?” tanya Wang Long lagi, benar-benar tidak menangkap maksud di balik kata 'cemburu'.
Dug!
Sin Yin maju dan memukul dada Wang Long ringan dengan kepalan tangannya. “Karena dia memandangmu seperti itu, Wang Long! Bukan karena kotak kayu itu!”
Wang Long terdiam, merasakan detak jantungnya sendiri sedikit meningkat akibat pukulan ringan itu. Ia benar-benar berpikir keras. “Memandang seperti apa? Matanya tidak memiliki niat membunuh saat memandangku.”
Sin Yin mendekat satu langkah lagi, hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa inci. Aroma harum bunga mawar dari tubuh Sin Yin menyergap indra penciuman Wang Long.
“Tatapan yang ingin memiliki,” bisik Sin Yin dengan suara yang bergetar.
Hening. Wang Long menatap mata Sin Yin yang kini berkilau di bawah temaram lampu minyak. “Dan kau?” tanyanya pelan.
Jantung Sin Yin seolah berhenti berdetak sesaat. Ia tidak menyangka pemuda polos ini akan melontarkan pertanyaan balasan. “Aku…” suaranya melembut, “…aku juga ingin memiliki.”
Wang Long menelan napas. Untuk pertama kalinya, ia terlihat tidak siap. Tenaga dalamnya yang biasanya stabil kini seolah sedikit berguncang bukan karena serangan musuh, tapi karena pengakuan jujur di depannya.
“Kau ingin… memiliki?” tanya Wang Long gagap.
Sin Yin mengangguk kecil, rona merah menjalar hingga ke telinganya. “Setidaknya… aku ingin tahu bahwa kau tidak akan pergi hanya karena ada wanita lain yang memberikan senyum manis padamu.”
Wang Long terdiam lama, lalu bertanya dengan kepolosan yang hampir membuat Sin Yin tertawa sekaligus menangis, “Apa tersenyum itu berbahaya? Apakah itu sejenis teknik ilusi?”
Sin Yin hampir tertawa karena frustrasi. Ia menahan wajahnya dengan kedua tangan. “Bagaimana mungkin kau bisa begitu hebat bertarung, menahan serangan Tetua He tanpa berkedip, tapi begitu tidak mengerti soal urusan hati?”
“Aku tidak pernah mempelajarinya,” jawab Wang Long jujur. “Di desaku, aku hanya belajar bertani dan berlatih bela diri. Tidak ada buku tentang hati di dalam kotak pusaka.”
Sin Yin menurunkan tangannya perlahan. “Kau belum pernah… menyukai seseorang sebelumnya?”
Wang Long menggeleng pelan. “Tidak. Fokusku hanyalah bertahan hidup dan membalas dendam.”
Jawaban itu membuat dada Sin Yin bergetar hebat. Rasa haru menyeruak di antara rasa cemburunya. “Lalu sekarang?” tanya Sin Yin nyaris berbisik.
Wang Long tidak mengalihkan matanya. Tatapannya kini terasa lebih intens. “Sekarang… aku sedang belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar mengerti kenapa hatiku terasa aneh, sedikit sesak tapi juga tidak tenang, saat melihatmu marah karena Yue Lan tadi.”
Sin Yin terdiam, menahan napas.
“Aku belajar kenapa aku merasa tidak suka ketika orang lain membuatmu kesal,” lanjut Wang Long dengan suara rendah yang menggetarkan sukma. “Dan belajar kenapa aku merasa lega, seolah baru saja menemukan sumber air di tengah padang pasir, saat melihatmu tersenyum padaku.”
Dadanya terasa hangat. Sin Yin merasa seluruh kemarahannya tadi menguap begitu saja. “Kau… benar-benar polos, atau kau sengaja ingin membuatku gila?”
“Mungkin keduanya,” sahut Wang Long dengan kejujuran yang telak.
Sin Yin mendekat lagi, hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. “Kalau begitu dengarkan baik-baik, calon Master Naga.”
Wang Long mematung, menunggu instruksi seolah sedang mempelajari jurus baru.
“Aku tidak suka saat Yue Lan memandangmu terlalu lama.”
“Baik,” sahut Wang Long patuh.
“Aku tidak suka saat dia berbicara dengan nada lembut yang dipaksakan seperti itu.”
“Baik.”
“Aku tidak suka saat kau menyentuhnya untuk mengobatinya.”
Wang Long terdiam sebentar, otaknya memproses logika medisnya. “Tapi itu untuk menyelamatkan nyawanya dari kehancuran meridian.”
“Aku tahu!” Sin Yin tertawa kecil dengan sisa-sisa rasa gemas. “Tapi hatiku tetap saja tidak suka melihat tanganmu berada di punggung wanita lain!”
Wang Long mengangguk pelan, seolah sedang mencatat hukum baru dalam hidupnya. “Kalau begitu lain kali, aku akan memintanya mengobati dirinya sendiri, atau aku akan lebih cepat mengusirnya.”
Sin Yin tertegun. “Kau tidak marah aku mengatur seperti ini? Kau punya kekuatan besar, kau bisa melakukan apa saja.”
“Kenapa harus marah? Kau melindungiku dengan caramu, aku melindungimu dengan caraku,” jawab Wang Long sederhana.
“Tapi aku terlihat kekanak-kanakan, bukan?”
Wang Long menggeleng. “Kau terlihat jujur. Dan kejujuran itu… lebih indah daripada teknik pedang manapun yang pernah kulihat.”
Kalimat itu sederhana, namun sanggup membuat mata Sin Yin sedikit berkaca-kaca. “Kalau suatu hari… ada wanita yang lebih cantik dariku, lebih lembut, dan lebih hebat ilmu silatnya…”
“Tidak ada,” potong Wang Long cepat. Tanpa ragu, tanpa jeda.
“Kau bahkan belum melihat banyak wanita di dunia ini. Dunia ini luas, Wang Long.”
“Tidak perlu,” jawab Wang Long dengan ketegasan yang sama saat ia menangkis pedang lawan. “Aku tidak melihat kecantikan dari seberapa halus pakaian atau seberapa lembut suara yang dibuat-buat.”
Ia mengangkat tangannya yang kasar akibat latihan berat, menyentuh ringan ujung rambut Sin Yin yang jatuh di pipinya. “Aku melihat siapa yang tetap berdiri di sampingku, memegang pedang untukku, saat seluruh dunia mungkin ingin membunuhku.”
Napas Sin Yin tercekat. “Aku akan selalu berdiri di sampingmu, meski itu berarti aku harus melawan seluruh sekte di dunia.”
“Aku tahu.”
“Kau tidak takut aku akan cemburu lagi? Itu bisa sangat berisik.”
“Aku mulai terbiasa,” goda Wang Long dengan senyum tipis.
Sin Yin tertawa kecil, kali ini benar-benar tulus. “Jangan terbiasa. Aku bisa lebih mengerikan dari tadi jika ada wanita lain yang berani menyentuh kain bajumu.”
“Kalau begitu aku akan belajar lebih cepat agar tidak membuat kesalahan.”
“Belajar apa lagi?” tanya Sin Yin manja.
“Belajar membuatmu tidak perlu cemburu lagi.”
Wajah Sin Yin memerah padam. “Dan bagaimana caramu belajar melakukan itu?”
Wang Long berpikir sejenak, menatap langit-langit kamar dengan wajah polosnya. Lalu ia berkata, “Mungkin dengan lebih sering berdiri lebih dekat seperti ini. Rasanya… tidak buruk.”
Sin Yin tidak bisa menahan senyumnya lagi. “Kalau terlalu dekat, aku bisa kehilangan kendali dan menyerangmu, Tuan Naga.”
“Kalau begitu aku tidak akan melawan. Silakan serang aku sepuasmu,” jawab Wang Long dengan nada serius yang justru terdengar lucu bagi Sin Yin.
Sin Yin menatap Wang Long selama beberapa detik. Kehangatan itu meluap-luap di dadanya. Tanpa sanggup menahan diri lagi, ia memajukan tubuhnya dan menyandarkan dahinya, lalu perlahan seluruh kepalanya, ke dada bidang Wang Long.
Tubuh Wang Long seketika menjadi kaku seperti patung batu di kuil tua. Ia benar-benar belum pernah merasakan kontak sedekat ini dengan lawan jenis. Namun, perlahan-lahan, ia mulai rileks. Tangannya terangkat dengan ragu, seolah takut akan merusak sesuatu yang rapuh, lalu mendarat dengan canggung di punggung Sin Yin.
“Jangan terlalu polos di depan wanita lain,” gumam Sin Yin pelan, suaranya teredam oleh jubah Wang Long.
“Kenapa?”
“Karena mereka bisa memanfaatkannya untuk mencuri hatimu.”
Wang Long menjawab dengan suara yang kini terdengar sangat lembut, selembut angin pegunungan di pagi hari, “Kalau begitu aku hanya akan bersikap polos di depanmu. Untuk mereka, aku akan tetap menjadi batu.”
Sin Yin tersenyum dalam pelukan itu. Untuk pertama kalinya malam itu, hatinya benar-benar merasa damai, seolah ia telah menemukan pelabuhan setelah badai yang panjang.
Namun, di luar penginapan, di atas atap yang dingin, bayangan hitam masih membeku. Pembunuh bayangan itu menatap jendela kamar yang masih menyala dengan mata sedingin es.
“Cukup bermain hati,” desisnya pelan, tangannya mencengkeram erat hulu belati beracun. “Nikmatilah kehangatan itu selagi bisa. Malam berikutnya, aku akan memastikan darahmu yang akan menghangatkan tanah ini.”
Bersambung...