“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”
Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.
Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.
Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di Balik Pintu
Raka menjauh dari meja makan, menyalakan ponselnya, meninggalkan Sekar dan ibunya yang menatapnya heran.
“Itu anak kebiasaan,” gerutu Ayunda. “Mama sudah berkali-kali bilang jangan main ponsel saat makan. Ini malah lebih mementingkan telepon daripada makan bersama.”
Sekar tersenyum menenangkan. “Mungkin telepon penting dari kerjaan, Ma. Mas Raka memang sedang sibuk akhir-akhir ini.”
Sementara itu, Langit memilih diam. Ia lebih sibuk menyendok nasi dari piring meskipun ekor matanya melirik ke arah Raka yang berjalan keluar.
“Ya sudah, kamu makan lagi, ya. Nasi sama lauknya nambah. Ibu hamil harus makan banyak,” kata Ayunda sambil menambah isi piring Sekar. “Jaga kandunganmu baik-baik, Nak. Jangan kecapekan, jangan angkat yang berat-berat dulu.”
Sekar mengangguk, tapi rasa tidak nyaman mulai merayapi pikirannya. Hampir sepuluh menit berlalu, Raka tak juga kembali ke meja. Tadi ia sempat melirik panggilan masuk di ponselnya Raka—nomor asing, tapi foto profilnya terasa familiar.
Apa aku pernah lihat nomor itu? pikirnya penasaran.
Wanita itu menyudahi makanannya, menoleh ke arah Ayunda. “Ma, Sekar cari Mas Raka sebentar, ya.”
Ayunda mengangguk. “Iya, suruh dia tutup teleponnya. Makanannya belum habis.”
“Baik, Ma.”
Mata Sekar menyapu sekeliling, mencari-cari suaminya. Senyum tipis muncul saat melihat Raka berdiri di dekat kolam renang di taman samping rumah. Ia melangkah mendekat, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Raka berbicara pelan.
“Jangan gitu, dong. Aku, kan, sudah bilang. Hari ini ada janji makan malam di rumah Mama. Aku nggak bisa ke sana.”
Siapa itu? gumam Sekar dalam hati, napasnya tertahan. Ia bersembunyi di balik pohon, mencoba menangkap percakapan lebih jelas.
“Iya, besok kita ketemu. Sudah, jangan telpon aku dulu. Iya ... nanti aku transfer. Sudah, aku matikan telponnya dulu.”
Hati Sekar bergejolak. Transfer? Ketemu? Itu telepon dari siapa? Batinnya kacau, tapi ia mencoba menahan diri. Sekar melangkah cepat untuk menjauh sebelum Raka menyadari keberadaannya. Tiba-tiba—
Bruk!!
Tubuhnya menubruk sesuatu atau seseorang. Sekar memekik lirih karena kaget. Saat pandangannya mulai fokus, Langit berdiri di depannya, tegap dan tenang, tapi matanya tajam menatapnya.
“Lain kali jalan hati-hati,” ujar Langit tenang.
“Mas Langit! Ngagetin aja, sih. Ngapain Mas di sini?” Sekar terkejut.
“Kamu juga ngapain di sini?”
Sebelum Sekar menjawab, Langit menariknya ke lorong, menjaga jarak dari Raka yang mulai mendekat.
“Kalau mau menguping, lihat kanan kiri dulu. Jangan terlalu dekat,” bisik Langit datar.
“Hah? Siapa yang nguping? Aku—“
“Jangan menguping kalau belum yakin kuat,” potong Langit masih dengan nada datar.
Sekar mengernyitkan kening. “Maksud Mas apa, sih? Aneh banget.”
Sekar menggerutu mendengar ucapan aneh yang di lontarkan oleh Langit. Ia kemudian bergabung dengan Raka dan mertuanya yang sudah berkumpul kembali di ruang keluarga. Obrolan ringan mengalir mengalihkan perhatian Sekar untuk sejenak.
***
Malam merambat pelan, tapi Sekar tak juga bisa memejamkan mata. Perasaan mengganjal terus menekannya, seperti ada sesuatu yang ingin ia temukan, tapi belum tahu di mana. Ia menatap wajah Raka yang tertidur pulas, napasnya stabil.
Satu tahun perkenalan dan lima bulan menikah, ia tidak pernah melihat suaminya bersikap aneh. Raka selalu perhatian, selalu memanjakannya, selalu memberikan apa pun yang ia inginkan. Kata-katanya pun tak pernah berubah.
“Kamu istri aku, calon ibu dari anak-anakku. Apa pun yang membuatmu bahagia, itu yang akan aku lakukan.”
Tapi sejak kemarin malam, semua terasa berbeda—bukan karena Raka, tapi karena hatinya sendiri. Sekar mengingat noda samar di kemeja putih itu. Raka memang mengatakan itu tinta spidol, tapi sesuatu dalam hatinya menolak percaya begitu saja. Ia tahu bedanya noda tinta dan noda lipstik.
Perlahan, ia menarik napas panjang. ‘Apa benar itu lipstik? Tapi lipstik siapa? Kenapa di kemeja Mas Raka?’ pikir Sekar.
Ia menelan ludah, kembali menatap wajah Raka.
“Jangan-jangan… Mas Raka menyembunyikan sesuatu?” gumamnya pelan, tapi cepat-cepat ia tepis pikiran itu.
Sekar menoleh ke atas nakas, ke arah ponsel Raka. 'Apa aku cek saja kali, ya?’
Dengan hati-hati, ia bangkit. Tangannya sedikit gemetar saat mengambil ponsel sambil sesekali menoleh ke arah Raka. Perlahan, ia menyalakan ponsel itu. Tapi …diminta password.
“Aneh … biasanya Mas Raka nggak pakai password HP,” bisiknya.
Ingatan tentang awal pertunangan kembali. “Password itu cuma bikin ribet. Kalau pun aku pakai, aku pakai tanggal lahirmu, biar selalu ingat sama kamu.”
Ia segera mengetik tanggal lahirnya sendiri, napasnya tercekat saat layar terbuka. Sekar menatap Raka untuk kesekian kalinya. Dengkuran halus itu menenangkan sekaligus menegangkan. Dengan jari gemetar, ia mulai menelusuri pesan, panggilan, foto—semua tampak biasa, rapi, tanpa jejak yang menimbulkan curiga.
Ia lalu membuka salah satu kontak yang familiar. Itu nomor ponsel penelpon malam tadi.
“Mega Karsa Mandiri …,” gumamnya, alis mengernyit. “Sepertinya aku pernah dengar nama ini. Jadi telepon tadi tentang bisnis? Tapi … kenapa sepertinya akrab banget?”
Sekar menggelengkan kepala. “Nggak mungkin … Mas Raka nggak mungkin selingkuh. Aku cuma terlalu overthinking.”
Wanita itu meletakkan kembali ponsel Raka ke atas nakas lalu membaringkan tubuhnya. Ia mencoba menenangkan dirinya sendiri bahwa mungkin memang benar ia hanya terlalu overthinking.
***
Keesokan harinya, Sekar kembali ceria seperti biasanya. Rasa ragu dan penasaran yang sempat menggelayuti hatinya kini hilang, tergantikan kembali oleh keyakinannya terhadap cinta mereka berdua.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi saat Sekar tiba di kantor suaminya. Senyum lebar merekah di bibirnya. Ia mengelus perutnya yang masih rata dengan lembut, membayangkan janin kecil yang sedang tumbuh di dalam sana.
“Hari ini kita makan siang bareng sama Papa lagi, ya, Nak. Kamu pengertian banget, sih, sejak ada kamu di perut Mama. Pengennya, tuh, makan bareng sama Papa terus. Tahu aja kalau Mama lagi butuh Papa." Ia terkikik geli sambil bergumam lirih.
Perempuan itu membuka pintu mobil dengan langkah ringan. Ia mengangguk ramah saat para karyawan menyapanya dengan hormat. Denting lift berbunyi mengantarkannya ke lantai tempat suaminya berada.
Ia kemudian mempercepat langkahnya, seakan tidak sabar untuk bertemu dengan Raka. Saat tiba di depan ruang tunggu, ia menyapa Bagas yang tengah sibuk dengan laptopnya.
“Pagi, Mas Bagas … lagi sibuk ya?” sapanya ramah.
Pria itu terkejut, ia segera berdiri memberikan penghormatan. “Pagi, Bu Sekar. Eh, itu, Pak Raka—“
“Saya ke dalam aja, ya, Mas. Saya sengaja mau bikin kejutan buat Mas Raka,” bisiknya lirih, menyembunyikan senyum jahilnya.
Lalu tanpa menunggu jawaban dari Bagas, ia menuju pintu ruangan suaminya yang tidak sepenuhnya tertutup. Namun langkahnya terhenti mendadak saat mendengar suara Raka tengah berbincang di saluran telepon.
Posisi Raka yang membelakangi Sekar membuatnya tidak menyadari kalau istrinya telah berdiri di balik pintu, menguping percakapannya.
“Maaf, ya, Sayang … semalam aku harus menutup teleponnya tiba-tiba. Aku nggak mau mereka semua curiga sama kita." Suara Raka terdengar begitu lembut.
Deg. Sayang?
Hati Sekar mencelos mendengar panggilan itu. Siapa yang sedang dia ajak bicara? Perempuan itu berusaha menajamkan pendengarannya, meskipun dadanya berdebar kencang. Jemarinya bergetar halus.
"Loh, bukannya semalam aku sudah transfer sepuluh juta? Masih kurang?" Suara Raka terdengar lagi.
"Ya kuranglah, Mas. Itu hanya cukup buat beli tas. Aku mau beli seragam 'dinas malam' khusus buat kamu. Kemarin aku lihat ada yang bagus banget modelnya. Transfer, ya, Mas.“ Di seberang sana, Anita melembutkan suaranya untuk merayu kekasih gelapnya itu.
Raka tertawa kecil. "Kamu memang selalu tahu bagaimana membuatku menginginkanmu, Sayang. Beli yang warna merah, aku suka kamu mengenakan warna itu. Terlihat lebih … mempesona. Oh, ya, beli aja yang bertali satu. Biar lebih mudah." Kata-kata penuh godaan dan rayuan itu meluncur manis dari mulutnya.
Sekar yang mendengar percakapan itu semakin merasa sesak. Ia tidak pernah menyangka bahwa suami yang selama ini ia percayai ternyata menusuk dari belakang. Tangannya meremas gamis yang ia kenakan dengan erat hingga jari-jarinya memutih.
"Mulai nakal ya, kamu .…" Suara Anita terdengar lagi. "Oh, ya, Mas. Jadi, kan, besok ke Bandung?"
"Jadi, dong. Makanya kamu harus siapkan pakaian spesial. Pokoknya, dua hari ke depan adalah milik kita berdua.“ Raka kembali menggoda.
"Memangnya istrimu nggak ikut? Kamu nggak mengajaknya, Mas?"
"Buat apa ngajak dia? Kan, udah ada kamu. Lagipula, dia lagi hamil, kasihan. Lebih baik sama kamu, kan? Kita bebas mau melakukan apa saja."
Sekar membeku di balik pintu, air mata mengalir tanpa suara membasahi pipinya. Tubuhnya bergetar, bukan karena amarah yang meledak-ledak, melainkan karena sakit hati yang meremukkan tulang. Ternyata pria yang selama ini ia cintai, telah menorehkan luka yang begitu dalam.
Di dalam, Raka masih terbuai dalam percakapan mesra dengan Anita, tak menyadari kehadiran Sekar yang menguping di balik pintu.
"Kamu memang tahu bagaimana membuatku merasa istimewa, Sayang," bisik Raka, suaranya rendah dan serak.
Anita terkekeh pelan, lalu bertanya dengan nada menggoda yang menusuk, "Jujur, Mas. Lebih nikmat bersamaku atau dengan istrimu?"
Hening sesaat. Lalu, Raka menjawab dengan nada meremehkan yang semakin menusuk jantung Sekar.
"Jangan dibandingkan, dong, Sayang. Aku udah pernah bilang sama kamu, kamu itu candu buat aku. Jadi jangan bandingkan dirimu dengannya, karena dia nggak sebanding sama kamu.“
Cukup sudah! Sekar tak tahan lagi. Ia menutup mulutnya untuk menahan isak tangis yang hampir keluar. Dengan sedikit terhuyung, ia berbalik. Berdiri bersandar sejenak di tembok sekadar untuk menenangkan diri.
Ia mengusap air matanya dengan tangannya yang masih gemetar hebat. Wajahnya memucat dan terlihat kacau. Matanya nanar seolah hilang pegangan.
“Bu ….“ Bagas menatapnya iba. Suaranya terdengar lirih penuh penyesalan.
Sekar menatap sekretaris pribadi suaminya itu dengan penuh rasa kecewa. Ia mengangkat telapak tangannya yang pucat di depan dadanya seolah memintanya untuk berhenti.
“Cukup, Mas …,” bisiknya dengan bibir gemetar.
Perempuan itu berjalan menjauh dengan cepat. Ia menekan tombol pintu lift berkali-kali sambil terus berusaha menahan tangis.
Bagas berusaha mengejar tapi sayang Sekar terlanjur pergi.
“Sial!!!“ desisnya pelan.
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂