Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon istri?
Sore itu, bau masakan sisa kemarin dan debu jalanan menyambut Sultan saat ia membuka pintu. Ia baru pulang kerja, badannya sudah remuk tapi belum sempat duduk, istrinya sudah menyambut dengan wajah cemberut.
“Aduh Mas, kamu lama banget sih nyampe rumahnya. Aku nungguin kamu dari tadi loh. ” kata Annisa, langsung menyambar tas kerja suaminya dengan mimik dibuat-buat capek.
Sultan menjatuhkan diri ke sofa, menghela napas panjang. "Ada apaan sih, Nis? Kayaknya ada masalah gede." tanyanya, menangkap gelagat Annisa yang lebay.
Annisa langsung nyosor, duduk merapat dengan wajah teraniaya total. “Aku tuh lagi kesel banget sama Aluna, Mas. Masa tadi pagi aku ke rumah Ibu, terus dia marah-marah, teriak-teriak kayak orang gila. Mana sopan santunnya coba. Sampai dia narik jilbabku juga, Mas.”
Sultan mengerutkan kening, rasa pegalnya langsung hilang diganti rasa heran. "Masa sih Aluna kayak gitu? Nggak mungkin deh, Nis,." bantahnya cepat. Dia tahu, meski Aluna akhir-akhir ini suka melawan, dia tidak mungkin sampai kasar sama iparnya sendiri.
"Apa yang nggak mungkin? Kalau Mas nggak percaya, tanya aja sama Ibu. Dia itu udah berani kurang ajar sama aku, Mas. Nggak ada sopan-santunnya sama ipar sendiri. Pokoknya aku nggak terima." desak Annisa.
"Aluna nggak mungkin marah kalau nggak ada pemicunya. Memang kamu tadi ngapain di sana?" tanya Sultan, mulai curiga.
"Ya, nggak ngapa-ngapain, Mas. Aku cuma mau nitipin Zahra ke Ibu sebentar. Eh, si Aluna tiba-tiba nongol langsung marah-marah, Mas. Dia nyindir utang kita terus, terus dia ngatain kamu anak laki-laki nggak tahu diri yang nggak berbakti sama Ibu. Ya jelas aku marah, Mas. Aku nggak terima kamu dikatain kayak gitu sama dia." Annisa sengaja mengorek luka dan memutarbalikkan fakta. Sentuhan terakhir soal berbakti itu adalah kartu truf Annisa.
"Benar Aluna ngomong kayak gitu?" tanya Sultan, suaranya langsung berat, menahan emosi yang sudah mendidih. Rasa bersalahnya karena sering menyusahkan Ibu langsung berubah jadi amarah ke Aluna.
"Beneran, Mas. Dia itu keterlaluan banget. Pokoknya Mas harus tegur Aluna ya, Mas! Aku nggak mau lagi kita dipandang remeh sama anak itu." tuntut Annisa.
Sultan mengepalkan tangan. Amarahnya sudah di puncak. "Oke. Besok pagi kita ke rumah Ibu sebelum Mas berangkat. Jam segini kan Aluna baru mau berangkat kerja." putus Sultan tegas.
"Iya Mas..." sahut Annisa, senyum licik langsung tersungging di bibirnya. "Rasain kamu, Aluna. Tunggu aja Mas Sultan marah." batinnya, merasa menang telak.
**
Malam itu di Starlight Club, suasananya lebih gegap gempita dari biasa. Musik jedag-jedug dan bau rokok campur parfum murah memadati ruangan. Budi Setiawan, si teman kantor Sultan, kembali datang, penasaran dengan Friska dan sensasi mabuk yang baru ia rasakan.
Budi celingak-celinguk mencari Friska, tapi nihil. Matanya lantas menangkap sosok wanita yang buru-buru menjauh dari keramaian, seperti dikejar setan. Budi memicingkan mata, melewati orang-orang yang sibuk joget. Postur tubuh itu familiar.
Wanita ber-dress hitam minim dengan rambut disanggul tinggi itu menghilang di balik tirai. Budi buru-buru mengikutinya tapi kehilangan jejak.
Tiba-tiba, Windi teman Aluna, sudah berdiri di depannya. "Eh, Mas Budi... balik lagi? Kenapa celingukan? Sini aku temenin, yuk..." Windi langsung menarik tangan Budi ke sofa sudut.
Budi ikut saja, tapi pikirannya masih tertinggal di tempat tadi. "Tadi itu kayak Aluna... tapi masa iya? Aluna kan pakai jilbab, mana mungkin kerja di sini. Kata Sultan kan dia waitress restoran biasa. Tapi... postur tubuhnya, tadi sekilas kayak lihat mukanya juga." batin Budi. Ia mulai ragu, tapi sensasi Windi di pangkuannya segera mengganggu fokusnya.
"Kenapa, Mas? Mau aku tuangin minum?" goda Windi.
Budi mengangguk. "Mm... di sini ada yang namanya Aluna nggak?" tanyanya, mencoba memastikan.
"Aluna? Nggak ada, Mas. Kenapa?" tanya Windi berbohong tanpa kedip.
"Ah, nggak apa-apa. Mungkin aku salah lihat." kata Budi, langsung menenggak minumannya. Untung saja Windi sigap. Di klub itu, mereka punya solidaritas tinggi, apalagi untuk Aluna yang statusnya paling rumit.
Sementara itu, Aluna sudah ngumpet di ruang ganti, jantungnya masih belum normal. Pintu dibuka dan Manajer masuk.
"Mules lagi, Lun?" tanya Manajer.
"Nggak, Pak. Cuma mau benerin dandanan sebentar." jawab Aluna, tidak mau ambil risiko.
"Bagus kalau gitu. Habis ini kamu langsung ke ruang VIP Pak Marko, ya. Dia datang lagi, nyari kamu." titahnya.
"Siap, Pak." jawab Aluna, rasanya seperti disiram air dingin. Pak Marko. Ancaman senyap yang lebih menakutkan dari teriakan Annisa. Setelah memantapkan diri, ia beranjak.
Aluna mengetuk pintu VIP yang remang-remang. "Permisi, Pak." sapanya ramah memasang senyum palsu.
Marko,Bosnya.... pria perlente yang selalu terlihat kaku, langsung menepuk paha kirinya. Aluna tahu tugasnya. Ia mendekat dan duduk di pangkuannya. Marko segera memeluk pinggang Aluna erat, lalu menyembunyikan kepalanya di antara belahan dad*nya.
Aluna kaget, ini pertama kali Marko menempel sebegini intim. Ia mau turun, tapi pelukan Marko mengencang, menahannya.
"Tetap kayak gini. Jangan gerak sebelum saya suruh. Diam." kata Marko, suaranya rendah tapi tajam, penuh perintah.
Aluna menelan ludah, seluruh tubuhnya menegang. Ia terpaksa menurut. Keheningan aneh menyelimuti mereka. Aluna, mencoba memecah ketegangan, mengusap kepala Marko pelan. "Ada masalah apa, Pak?" tanyanya hati-hati.
Gerakan tangannya berhenti ketika Marko mendongak, menatapnya lurus. Wajah pria itu serius sekali.
"Mau nggak kamu nikah sama saya?" tawar Marko, tanpa basa-basi.
Aluna tertawa hambar. "Bapak bercanda nggak lucu. " katanya, mencoba santai.
Marko melepaskan pelukan, lalu menggeser Aluna agar duduk di sofa, bukan di pangkuannya. Wajahnya makin serius.
"Saya nggak bercanda. Nikah sama saya dan saya pastikan Ibu dan adikmu bakal terjamin. Semua utang, kuliah adikmu dan biaya pengobatan ibumu, saya yang tanggung." kata Marko mantap.
"Maksud Bapak apa, sih?" tanya Aluna, bingung dan takut. Ini tawaran aneh dan mengerikan.
"Saya tahu kamu itu tulang punggung keluarga. Kamu mati-matian cari uang untuk biaya pengobatan ibumu, kuliah adikmu, Alika. Saya tau biaya itu sangat besar untuk kamu. Apalagi kakakmu suka ngutang. Semua masalah kamu, saya bisa bereskan, asalkan kamu mau nikah sama saya." kata Marko, menyebutkan semua detail pribadi Aluna tanpa ekspresi.
Tubuh Aluna langsung dingin. Rasa takutnya lebih hebat dari amarah Annisa. "Bapak tahu semua ini dari mana?" bisiknya.
"Gampang. Saya punya uang, saya punya kuasa. Cari info tentang kamu dari kecil sampai sekarang itu mudah sekali." kata Marko, senyumnya kini terlihat seperti seringai.
"Bapak... nggak waras! Kenapa Bapak ngelakuin itu? Mau ngetawain hidup saya yang menyedihkan ini?" Aluna mendesis kesal, merasa telanjur dan terhina.
"Saya nggak punya waktu buat ngetawain kamu." potong Marko tenang. "Saya cuma mau tahu kehidupan calon istri saya."
"Calon istri?" tanya Aluna, memastikan pendengarannya, jantungnya serasa mau meledak. Ia baru saja kabur dari drama keluarga, kini ia dihadapkan pada ancaman pernikahan yang terasa seperti penjualan diri.