NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

​Alya memaksa bibirnya untuk membentuk senyuman tipis, meski seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia melingkarkan lengannya di leher Rangga, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya agar Arka tidak melihat tatapan matanya yang penuh ketakutan.

​"Maafkan aku, Mas," bisik Alya pelan. "Aku hanya... aku hanya takut kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak ingin ada rahasia di antara kita."

​Rangga terdiam sejenak. Pelukannya mengendur, namun tangannya masih mencengkeram pinggang Alya dengan posesif. Ia tampak menikmati pengakuan itu.

​"Rahasia? Sayang, aku melakukan ini semua untuk kita. Agar tidak ada yang bisa memisahkan kita. Kamu mengerti, kan?" ucap rangga.

​"Iya, Mas. Aku mengerti," dusta Alya. "Ayo kita tidur. Kamu pasti lelah setelah mengurus... urusan kantor itu."

​Malam itu, Alya berbaring di samping Rangga, berpura-pura terlelap. Namun, setiap kali Rangga bergerak sedikit saja dalam tidurnya, jantung Alya seakan berhenti berdetak. Ia menunggu hingga napas Rangga terdengar berat dan teratur.

​Pukul 02.00 pagi.

​Alya bangkit perlahan, sangat perlahan. Ia tidak membawa tas, tidak membawa baju ganti—itu akan memicu kecurigaan sensor di pintu. Ia hanya mengambil ponselnya yang sudah ia silent dan menyelipkan sebuah gunting kecil dari meja rias ke dalam saku piyamanya.

​Ia harus mencari tahu di mana Rendi berada. Jika Rendi masih hidup, dia adalah satu-satunya saksi yang bisa menjebloskan Rangga ke penjara.

​Alya berjalan berjinjit menuju ruang bawah tanah, tempat yang selalu dilarang oleh Rangga. Ia ingat pernah melihat Rangga membawa kunci perak kecil yang selalu ia simpan di dalam laci jam tangannya. Dengan tangan dingin, Alya berhasil mengambil kunci itu dan membuka pintu kayu berat yang menuju ke bawah.

​Udara di bawah sana terasa lembap dan berbau karbol yang tajam. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu besi dengan jendela kecil yang tertutup terali.

​Alya mengintip ke dalam.

​Di sana, di atas sebuah ranjang besi, seseorang terbaring dengan berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Itu Rendi. Dia tidak mati, tapi dia juga tidak benar-benar hidup. Rangga menyekapnya di sana, merawat lukanya hanya agar Rendi tetap bernapas untuk disiksa kembali atau entah untuk alasan gila apa.

​"Rendi..." bisik Alya, air matanya jatuh.

​Tiba-tiba, lampu di lorong bawah tanah menyala dengan terang benderang.

​Klik.

​"Aku baru saja akan memberitahumu, Sayang," suara Rangga bergema dari arah tangga. Ia berdiri di sana, masih mengenakan piyama sutranya, namun di tangannya ia memegang sebuah suntikan berisi cairan bening.

​"Tamu kita ini sangat keras kepala. Dia terus memanggil namamu dalam tidurnya. Itu membuatku sangat... tidak nyaman."

​Rangga berjalan mendekat dengan langkah santai, senyumnya kini terlihat sangat tulus, yang justru membuatnya seribu kali lebih menakutkan.

​"Karena kau sudah menemukannya, bagaimana kalau kau yang membantuku malam ini? Kita akan memastikan dia tidak akan pernah memanggil namamu lagi. Selamanya."

Rangga menyodorkan suntikan itu kepada Alya.

 Ini adalah ujian kesetiaan yang gila. Alya terjepit antara menyelamatkan nyawa Rendi atau menjaga penyamarannya demi keselamatannya sendiri.

Alya menatap jarum suntik di tangan Arka dengan pandangan nanar. Cairan bening di dalamnya tampak seperti air mata malaikat maut. Jika ia menolak, Rangga akan tahu sandiwara patuhnya telah berakhir, dan mungkin Alya akan berakhir di ranjang besi di samping Rendi. Jika ia menerimanya, ia akan menjadi seorang pembunuh.

Bersambung......

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!