SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 - Bismillah, kuterima kamu
"Saya terima nikah dan kawinnya Andina Syifa binti Asep suparman dengan mas kawin uang satu juta dibayar tunai!" Meski dalam keadaan terpasang, Arya tetap melakukan ijab qobul demi orangtuanya.
Perkataan sang bunda membuatnya berpikir mungkin ini cara dia bisa menemukan jodohnya.
"Jodoh itu jorok Ar, kadang bisa bertemu dimana saja. Mungkin dia memang jodoh kamu yang sudah Allah persiapkan. Dan soal penampilannya, kamu bisa bicara dengan dia baik-baik, bunda yakin Andina akan nurut jika kamu sebagai nahkodanya mengendalikan dengan tepat. Bunda emang tidak mempermasalahkan kamu menyukai seseorang tapi bunda tidak ridho dunia akhirat jika kamu jadi perusak rumah tangga orang, bunda tidak ridho Ar. Berhubung perasaan kamu belum dalam sama Galuh, menikahlah dengan Andina dan tumbuhkanlah cinta itu untuk istrimu, bunda percaya kalian memang ditakdirkan berjodoh. Tolong turuti permintaan bunda mu ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya, bunda tidak minta apapun dari kamu selain menikah."
Kata-kata itu terus terngiang-ngiang ditelinga Arya membuatnya kembali berpikir bahwa perasaannya pada Galuh salah, tidak seharusnya dia menyukai istri orang dan bundanya benar, sudah seharusnya dia hapus perasaan itu dan gantikan pada istrinya.
"SAH!"
Kata sah menggema di rumah kontrakan Andina, bukan di mesjid, bukan di gedung, tapi mereka menikah di kontrakan yang Andina tempati.
Arya menunduk lemas, hari ini dia sah mempersunting perempuan yang sama sekali tidak dia kenal. Apa bisa dia menerima pernikahan ini disaat hatinya sudah terisi Galuh? Meski Arya akui perasaannya baru tumbuh tapi tidak menutup kemungkinan bisa menjadi petaka dalam pernikahannya.
Sementara di dalam kamar, Andina menunduk lesu. Hari ini dia sudah resmi menyandang status istri dari pria baru yang dia kenal. Hatinya sakit sebab pernikahan tidak dihadiri oleh bapaknya.
Sebelumnya.
Appa Huda bertanya mengenai orangtuanya. "Apa kamu masih punya orangtua, Nak?"
Andina mengangguk. "Saya cuman punya bapak, Appa. Mama saya udah meninggal 10 tahun yang lalu tapi bapak saya berada di desa terpencil daerah Cianjur."
"Kalau gitu hubungi bapak kamu, minta izin dulu sama bapakmu kalau kamu akan menikah."
Andina mengangguk, dia menghubungi orangtuanya. Sambungan telpon terhubung, "Halo Bi."
"Ngapain lagi kamu hubungi kita?" Jawaban di sebrang telpon terdengar ketus.
"Bi, bilang sama bapak aku mau nikah lagi."
Tidak ada suara namun setelahnya suara pria yang dia rindukan terdengar.
"Kalau kamu mau nikah lagi tinggal nikah aja gak usah hubungi saya! Saya serahkan urusan pernikahan kamu sama wali hakim!"
"Tapi pak ..."
Tut..
Dan telpon diputus secara sepihak. Andina menatap Appa Huda dan bunda Nurul secara bergantian.
"Bagaimana?"
"Bapak memasrahkan pernikahanku pada wali hakim. Bapak tidak bisa datang karena jarak cukup jauh dan juga gak punya ongkosnya, tapi bapak udah setuju sama pilihan Andin." Terpaksa dia berbohong, tidak ingin semua orang tahu masalah hidupnya. Meski sakit menjadi anak tidak dianggap, bagi Andina bapaknya tetaplah bapak kandungnya.
Dan sekarang dia sudah sah menjadi istri Arya Pratama, anak pertama dari pasangan Huda Pratama dan Nurul Fauziah.
Andina di temani Rizki, adiknya yang orang lain ketahuan sebagai anaknya sebab Rizki menyebutnya mama. Tak lupa si kecil Syakir yang tidak ingin jauh dari Andina dan selalu menggandeng tangannya seakan tidak mau melepaskannya.
Arya masih diam mematung, tak percaya dengan semua ini.
"Bun, Arya tidak mau nikah begini," ucap Arya tiba-tiba.
Tiba-tiba pundaknya di geplak Bunda Nurul. "Kamu sudah jadi suami, gak usah nolak lagi dan sekarang Andina udah jadi istri kamu jadi kamu harus hargai Andina sebagai istri dan kamu wajib bahagiakan dia. Bunda gak peduli Andina siapa karena bagi bunda Andina mantu terbaik bunda."
"Bun, masa nikah aja main grasak grusuk bagaikan maling ketangkap mesum, di nikahkan langsung. Mana kagak ada acara apa-apa, kagak ada seserahan, kagak ada lamaran, kagak ada siraman, sungguh tega sekali Bunda ini padaku." Wajah pria itu merah, bibirnya mengerucut manyun seperti anak kecil yang ingin minta jajan.
"Udah nurut aja, kita tunggu istri kamu datang menghampiri," kata Papa Huda.
Pusing, kesal, marah, bingung, semua bercampur menjadi satu. Mau menolak namun tidak bisa karena para warga yang tidak suka menyarankan pernikahan ini. Dia hanya bisa pasrah sama keadaan dengan harapan bisa lepas dari paksaan, namun ternyata malah semakin terseret pada pernikahan dadakan.
"Nah itu Andina keluar," kata tetangga.
Arya dan yang lainnya menoleh ke arah Andina keluar. Mata Arya terpaku tak bisa berpaling dari wanita yang sudah menjadi istrinya.
Jika tadi dia melihat Andina memakai pakaian terbuka memperlihatkan lekuk tubuhnya, sekarang Andina mengenakan baju muslimah lengkap dengan hijabnya.
Baju muslim berwarna putih bertabur Payet di bagian pinggang ke atas menambah kesan anggun, riasan sederhana menambah kecantikkan Andina yang udah cantik dari sananya.
Tidak dipungkiri Arya terpesona menatap kagum wanita yang sudah menjadi istrinya. Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah cantiknya.
Perlahan Andina duduk disamping Arya, menunduk gugup saat mata pria itu tak hentinya menatap.
"Om, mamaku cantik kan?" celetuk Rizki langsung duduk disampingnya Arya.
Barulah Arya sadar dari keterpanannya. "Ekhem, iya."
"Istli papa cantik, olang-olang lihatin, lacanya mau Cakil colok mata meleka telutama pala plia, jelalatan kali meleka ini." Syakir juga bersuara, menatap kesal laki-laki yang tertarik pada Andina. Anak itu bergelayut manja di lengan Andina seolah menunjukan jika Andina miliknya.
Mendengar hal itu, Arya memperhatikan mereka, ia mendadak kesal istrinya jadi bahan tatapan orang-orang terutama laki-laki. "Kondisikan mata kalian semua wahai kaum Adam. Andina istriku jadi kalian tidak berhak menatapnya penuh damba, mau ku congkel mata kalian semua, hah?"
Suasana di dalam rumah kontrakan sederhana berubah tegang, mereka yang menatap penuh kagum serta damba mendadak menunduk ketika mata tajam Arya memperhatikannya.
"Ceileh, tadi aja sok menolak, eh udah jadi istrinya posesif banget, Bang. Makanya jaga bininya, cakep loh, ikat jangan sampai lepas," kata Papa Huda meledek sang putra.
Arya tersenyum canggung.
"Udah, sekarang waktunya pasang cincin nikah." Bunda Nurul melepaskan cincin di jari manisnya, cincin turun temurun dari keluarga sebagai wujud cinta mertua untuk menantunya.
"Ini cincin pernikahan Appa dan Bunda, cincin ini turun temurun dari keluarga kita. Sekarang kamu pasangkan cincin ini di jari istrimu," sambung bunda menyerahkan cincin nikah dengan permata blue safir ke tangan Arya.
Arya pun memasangkan cincin itu kemudian Andina mengecup tangan suaminya dan diakhiri oleh kecupan di kening Andina.
Ketika bibir Arya menyentuh kening Andina, keduanya berdebar. Andina memejamkan mada begitu pun dengan Arya yang juga sama memejamkan matanya. Lalu Arya berucap tulus, "dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, aku terima kamu menjadi istriku Andinaku."
Deg