Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apan itu
Saat diam saja di dalam mobil Anisa menoleh keluar jendela menghela nafasnya tadinya diam saja baru sekarang bergerak menoleh ke jendela.
"Apa ini?"
Anisa menatap lekat keluar jendela bibirnya serasa ingin bicara.
"Apa tadi paman membicarakan aku dengan keluarga mu?"
"Iya, kau punya indra keenamnya?"
"Tidak aku menebak saja lagi pula anak yang di adopsi oleh anda karena alasan untuk menghindari pernikahan itu alasan yang aneh, apapun yang kalian bicarakan pasti menyangkut aku lah.."
Bahasanya sudah sangat terlampau jauh tak seperti anak seusianya yang membahas makanan atau mainan atau baju seperti apa untuk ke pesta.
Besar di panti asuhan sangat membuatnya tubuh menjadi anak dengan pemikiran tidak sesuai umur nya.
"Lalu panggilan paman? Apa-apaan itu."
"Lebih baik dari pada ayah, saat di luar begini, citramu akan jadi buruk kalo aku memanggilmu ayah di tempat umum begini."
Sama sekali tidak berpengaruh apapun pada James walaupun Anisa terang-terangan memanggilnya ayah dan berlari ke pelukannya di depan semua orang.
"Sudahlah anak kecil, bertingkah lebih seperti anak kecil umumnya."
"Hah! Aku ini sudah seperti umumnya tahu!"
Anisa sudah mulai berisik.
"Jangan dengarkan ucapan mereka, aku sudah bilang padamu untuk tetap bahagia jadi anakku dan minta apapun yang masih masuk akal aku kabulkan, jika kau masih terlihat seperti ini aku merasa kita bukan ayah dan anak."
Eh! Anisa merasa ucapan itu fakta tak salah lalu apa ini yang di maksud orang tidak jelas ini.
"Memang kan, kita tidak sedarah bahkan aku ada karena anda adopsi dan aku dari panti asuhan."
Eh iya, Anisa tidak salah menjawab.
"Bagaimanapun mereka hanya pandai bicara tentang mereka bukan tentang kita yang tau bagaimana kita berjalan atau bicara."
Menunduk Anisa lalu menghela nafasnya kasar dengan suara besarnya.
"Aku hanya merasa ingin melihat anda bahagia, aku berharap tak sampai di adopsi dan di rawat dengan baik seperti ini aku di jadikan anak pekerja di bawah umur dengan di beri pakaian makanan minum dan tempat tinggal itu sudah bagus tapi, ini melebihi ekspetasi."
"Tidak ada yang salah." Mengusap kepala Anisa dengan lembut dan membelanya ke pangkuannya.
"Tidur lah kau terlalu banyak berpikir tidak seperti tubuhmu yang ringan. Makan yang banyak, aku tak mau kau kena gizi buruk.."
"Mungkin itu ide bagus, baiklah ayah." Nyaman rasanya Anisa menyandarkan kepala di dada bidang ayahnya yang di tatap lembut dengan kedua wajah imut perlahan tenang mata yang mulai tertutup redup.
Sepertinya pesta membuatnya lelah James akan catat ini kalo anak kecil tak bisa terlalu lama ada di pesta orang dewasa.
**
"James... Kalo nanti punya anak perempuan kamu harus bilang padaku, nanti kalo aku punya anak laki-laki kita akan jodohkan dia."
"Bukannya kamu ibu dari anak yang akan kamu kandung nanti?"
Rosa terdiam.
"Hei kau melamarku!"
"Tidak!"
"Baguslah aku pun lebih suka kita berteman dan bertemu setiap hari begini menyenangkan." Rosa yang terus merasa bahagia dengan kebersamaan nya bersama orang ini, dingin tapi ia suka.
"Aku juga suka." Rosa tertawa dengan ucapan James yang menatapnya penuh perhatian.
"Tidak ada teman perempuan yang dekat dengan mu bagaimana kalo aku mencarikannya untukmu?"
"Tidak perlu."
Situasinya berubah kacau dimana kecelakaan dan mobil itu hancur dengan didalamnya Rosa tersenyum padanya.
"Tolong jaga dia, James."
Suara Anisa yang terbatuk membuatnya kaget. James bangun dari tidurnya mengambil air untuknya minum dan mengambil air dengan gelas lain untuk Anisa minum.
"Jangan! Jangan mendekat!"
"Anisa.. Nak.. Bangun."
Perlahan kedua matanya terbuka dan melihat samar gelas air di depan wajahnya.
"Ayah.."
"Minum perlahan."
Setelah meminum di bantu James. Anisa kembali tidur dengan lelap dan James keluar kamarnya.
Melangkah ke ruang kerjanya dan menyibukkan dirinya dengan banyak pekerjaan yang begitu banyak sampai pagi hampir tiba James keluar ruang kerjanya dan kembali masuk kedalam kamarnya melihat Anisa sudah tidak ada di kasur berarti dia sudah bangun pagi-pagi sekali.
Saat sudah rapi dengan pakaian kerja, pintu kamarnya terketuk dan ternyata Silva masuk bersama Sol yang membawa secangkir kopi.
"Apa yang akan Tuan lakukan pada mereka?" Laporan yang di bawa Silva adalah mengenai pekerjaan dimana beberapa perusahaan besar yang telat membayar angsuran dalam pinjaman yang sudah mereka ajukan beberapa bulan terakhir ini.
"Minta pada mereka mendatangi kantor pusat dan berikan surat peringatan, bank Oceanus tidak bisa menoleransi keterlambatan yang baru saja terjadi, bukan kah dalam perjanjian awal sudah di peringatkan secara tertulis?" Menoleh pada Sol yang mengambilkan dasi yang diminta James untuk di ganti dengan warna lain.
"Jika hal itu sudah di lakukan, maksudku yang sekarang adalah mereka benar-benar menolak membayar dan malah menyebarkan rumor kalo bank Oceanus anak dari bank Pacificum adalah bank yang terlalu besar mengambil bunga hingga membuat mereka tertipu, alasannya adalah pembayaran mereka hampir lunas di katakan jika mereka baru membayar setengah padahal, semua datang yang sudah di periksa sebelum melaporkan pada anda adalah sesuai apa yang saya berikan."
Oceanus adalah bank yang bergerak di bawah kendali ayah Zachary dan di turunkan ke James Arthur untuk di kelola walaupun pemegang utama bank Pacificum adalah Kakek dari keturunan moyangnya entah yang ke beberapa lalu sekarang di kelola neneknya. Akibat banyak bisnis yang di kelola keluarga Oceanus di berbagai bidang, untuk bagian keuangan selalu diandalkan pada keturunan nenek Luna plena Oceanus dimulai dari ayahnya James dan keturunan Oceanus lainnya mengambil alih di bidang lain selain keuangan ketetapan kakek dari neneknya James.
Baru saja akan berjalan keluar ke halaman rumah, Anisa berpapasan dengan James yang akan keluar untuk bekerja.
"Kau melewati ku?"
"Lalu?" Semua diam.
"Kenapa ya jika ingin lewat ya lewat jalanan di samping anda tidak ada pembatasannya atau halangannya." Anisa berbalik menatap James dengan tatapan bingungnya dan itu mengemaskan di mata James.
"Berikan aku ciuman di pipi jika kau mau melewati ku, itu halangannya."
"Sekarang aku harus membayar pajak untuk tinggal di rumah ini kak." Suaranya sedikit lemah lembut pada pelayan Mina di sebelahnya sedangkan bicara dengan James selalu bisa menaikkan nada tingginya.
Sol melipat kedalam bibir nya menahan senyumannya.
"Anisa.. Kau selalu lemah lembut pada mereka itu tidak menyenangkan hati ku, kau tau?"
"Tidak, lagi pula hanya hati anda itu bukan masalah."
"Tentu masalah jika hatiku buruk maka uangku bisa bicara dan membuatmu patuh."
"Apa!" Terdiam Anisa dengan ucapan James yang sudah membawa-bawa uang yang bicara.
"Jangan mentang-mentang ya paman!"
"Heii katakan paman untuk di luar kau bilang!" Tidak terima James rasanya itu merusak suasana hatinya
Perdebatan pagi ini.
"Ya ampun, aku harus terbiasa memanggil anda paman ya, dan anda juga ya!"
Tunjuk Anisa pada James dengan berani, dengan tatapan tajam, James pun menatapnya dengan tangan di lipat didepan dadanya.
"Hoho, begitu ya kalo gitu dengar baik-baik ini," ucap James terjeda membuat Anisa bingung menurunkan tangannya di samping badannya dan kedua tangan James pun di samping saku celana nya masing-masing.
Senyumannya mencurigakan.
"Semua pelayan di rumah ini di ganti karena putri ku yang cantik dan satu-satunya selalu bicara lemah lembut pada mereka kecuali, pada ayahnya."
"Apa! Ayah!"