NovelToon NovelToon
Aku Bisa Memanggil Mahluk Dari Masa Depan

Aku Bisa Memanggil Mahluk Dari Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Dunia Masa Depan
Popularitas:883
Nilai: 5
Nama Author: Back Dragon

Beberapa tahun lalu, berbagai celah ruang-waktu bermunculan, dan Blue Star pun memasuki era supranatural. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membangkitkan “panel permainan”.

Lu Heng secara tak terduga membangkitkan kelas Summoner. Namun, makhluk-makhluk panggilannya tampaknya… agak tidak biasa.

……

【Si Bulat Daging】: Sebagai keturunan Dewa Jahat, setiap kali ia dimakan, ia justru menjadi semakin kuat. Ia juga mampu membuat musuh terjerumus ke dalam kekacauan persepsi.

【Anjing Mesum】: Sebagai kaki tangan yang setia, ia dapat berpindah tempat secara instan dan menampar orang, bahkan memutus semua skill lawan.

【Prajurit Medis】: Memiliki kemampuan menukar kondisi luka, dan juga bisa diam-diam mencuri organ milik orang lain.

【Zirah Keadilan】: Makhluk simbiotik yang dipenuhi energi positif. Bukan hanya memiliki daya tempur yang sangat tinggi, ia juga dapat berdiri di puncak moral untuk mengecam musuh, membuat lawan…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Back Dragon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 Wanita Ini Bernama Lu Xiaoke

Tak lama kemudian, Si Gendut kembali ke asrama.

Melihat Lu Heng yang sedang rebahan di tempat tidur sambil scroll Douyin, ia bertanya dengan heran, “Bukannya kamu tadi mau pergi berjuang dengan giat?”

Lu Heng berdeham ringan. “Aku sudah muter-muter sekolah, tapi nggak nemu tempat yang layak buat ‘berjuang’.”

Ia lalu menghibur diri sendiri. “Utamanya sih karena sekolah ini terlalu payah. Aku lagi mikir… apa aku perlu mengulang ujian masuk perguruan tinggi.”

“Sudahlah.” Si Gendut langsung mengibaskan tangan. “Mau ngulang juga nasibmu tetap saja di D3.”

Lu Heng tak senang. “Aku kan sudah jadi orang yang terbangkitkan, masa masih ada sekolah yang nggak mau nerima aku?”

“Bang, ujian masuk itu tetap lihat nilai keseluruhan.” Si Gendut menarik sudut bibirnya.

“Masih ingat teman SMA kita yang sindrom Down itu? Nilai maksimal 600, dia dapat 245. IQ-nya rendah. Kamu IQ normal, tapi cuma dapat 122. Sekarang kamu bilang mau ngulang?”

Wajah Lu Heng memerah. “Sudah berapa kali kubilang, jangan bahas nilai ujian itu lagi! Waktu itu aku harus kerja paruh waktu tiap hari, mana sempat belajar? Aku sudah berusaha keras!”

Si Gendut tertawa. “Terus adikmu? Lu Xiaoke juga kerja bareng kamu tiap hari, kan? Kenapa dia bisa jadi juara satu provinsi dan masuk universitas terbaik?”

Lu Heng sebenarnya ingin membantah, tapi akhirnya hanya menunduk. “Kamu benar. Aku memang kurang berusaha. Adikku jauh lebih giat dariku.”

Sejak kecil mereka kehilangan orang tua, bahkan tak punya kerabat. Mereka bertahan hidup dengan bekerja sendiri dan mencukupi kebutuhan masing-masing.

Lu Xiaoke juga selalu bekerja paruh waktu, tetapi nilainya tetap peringkat satu.

Menurut sang adik sendiri, usaha yang ia curahkan untuk belajar tak terbayangkan besarnya.

Lu Heng menghela napas dan membuka galeri di ponselnya.

Isinya penuh dengan berbagai piagam dan penghargaan—semuanya milik Lu Xiaoke.

Beasiswa nasional, juara kompetisi, peringkat satu sekolah—tak terhitung banyaknya.

Yang paling mencolok adalah satu surat penerimaan di bagian tengah.

【Universitas Tianbei Lingwu – Diterima: Lu Xiaoke】

Sebagai universitas peringkat satu dunia, yang bisa masuk ke sana semuanya adalah talenta luar biasa.

Selama sebulan terakhir, orang-orang terus bertanya padanya, punya adik sehebat itu apakah ia merasa tertekan?

Lu Heng hanya bisa menghela napas pelan.

“Ah… mungkin sekarang adikku lagi menulis dengan giat di kampusnya, ya? Andai saja aku bisa menyamai sepersepuluh dari usahanya…”

……

Universitas Tianbei Lingwu.

Kelas Lingwu 3.

“Hehe, main ponsel enak banget.”

Seorang gadis berwajah cantik sedang tengkurap di meja, asyik scroll ponsel sambil tersenyum.

Ia duduk di barisan paling belakang. Sambil bermain ponsel, ia juga makan keripik dengan santai.

Di atas mejanya ada camilan dan minuman soda. Sementara buku mata kuliah itu bahkan belum ia buka segelnya.

Sebaliknya, dosen di depan sedang mengajar dengan serius.

Mahasiswa lain pun belajar dengan sungguh-sungguh, tatapan mereka penuh konsentrasi, meja dipenuhi berbagai bahan belajar.

Kontrasnya sangat jelas.

Namun dosen sama sekali tidak menegur gadis itu, seolah semua orang sudah terbiasa.

“Drring—”

Bel tanda istirahat berbunyi.

Dosen berdeham. “Ehm, kelas berikutnya ada kuis. Nilainya dihitung sebagai SKS, jadi sebaiknya kalian ulangi materi sebentar.”

Begitu mendengar itu, para mahasiswa langsung mengepalkan tangan.

“Sial! Demi kuis ini aku sudah begadang tiga hari! Kali ini pasti dapat nilai tinggi!”

“Payah! Aku sudah persiapan seminggu! Peringkat dua pasti milikku!”

“Sudah, jangan banyak omong! Ulangi materi lagi!”

Semua orang langsung membaca buku dengan panik.

Sementara di barisan belakang, Lu Xiaoke masih asyik bermain ponsel.

Sampai mahasiswa laki-laki di sebelahnya mengingatkan dengan malu-malu, “Bos… kelas berikutnya ujian. Setidaknya lihat sekilas, dong.”

Barulah Lu Xiaoke menutup ponselnya dan meneguk soda. “Ya juga. Sudah waktunya mulai berusaha.”

Ia mengambil buku, membuka segelnya, lalu bertanya, “Bagian mana yang keluar?”

“Sampai halaman 94 semua masuk ujian,” jawab mahasiswa itu cepat.

“Oke.”

Lu Xiaoke menopang dagu dengan satu tangan, tangan lainnya membalik halaman.

Ia membalik halaman dengan sangat cepat—beberapa detik satu halaman—hingga orang lain mengira ia sedang membaca komik.

Namun dalam sepuluh menit, ia sudah menyelesaikan lebih dari sembilan puluh halaman.

Bel masuk berbunyi, dan dosen berkata, “Baik… ujian dimulai.”

Mata semua orang langsung tajam, seolah memasuki medan perang.

Di setiap meja menyala layar elektronik, soal-soal muncul satu per satu.

Semua orang mengerahkan fokus penuh.

Lu Xiaoke mengerjakan dengan santai.

Sekitar sepuluh menit kemudian, saat yang lain bahkan belum setengah, ia sudah selesai dan mengumpulkan jawabannya.

Melihat yang lain masih mengerjakan, ia bergumam, “Lama banget kalian,” lalu langsung tidur di meja.

Menjelang akhir jam pelajaran, dosen berkata, “Baik, yang belum selesai tetap kumpulkan. Waktu habis.”

“Sial, masih kurang dua soal!”

“Ah… soal mata kuliah ini susah banget. Aku nggak percaya ada yang bisa dapat 100.”

“Pak, langsung umumkan nilainya saja.”

Karena ujian elektronik, nilai memang bisa langsung keluar.

Dosen pun menampilkan hasil di papan besar belakang.

Deretan nama segera muncul.

“Lu Xiaoke – 100 poin – Peringkat 1.”

“Jiang Tian – 84 poin – Peringkat 2.”

“Zhang Jing – 80 poin – Peringkat 3.”

“……”

Begitu nilai diumumkan, semua orang hampir muntah darah karena kesal.

“Sial! Kenapa Lu Xiaoke lagi-lagi 100?!”

“Bos memecahkan rekor lagi! Kemarin belajar 20 menit dapat 100, sekarang cuma 10 menit! Bos paling hebat!”

“Diam, penjilat!”

“Aku nggak percaya! Pasti dia diam-diam sudah belajar di rumah!”

“Bro, dia bahkan baru buka segel bukunya tadi…”

“Kenapa aku sudah berusaha segini keras tetap nggak bisa jadi nomor satu?!”

Kelas langsung ribut, bahkan dosen pun menarik sudut bibirnya.

Ia memang sudah dengar dari dosen lain bahwa Lu Xiaoke adalah jenius tingkat dewa. Mau ngapain di kelas juga tak perlu diurus.

Dan hari ini terbukti—luar biasa.

Mahasiswa yang masuk ke sini semuanya top, dan ia tahu betul betapa sulitnya mata kuliah ini.

Tapi Lu Xiaoke cuma belajar 10 menit dan dapat 100, bahkan selisih lebih dari 10 poin dari peringkat dua.

“Sudahlah, sudahlah…” Lu Xiaoke menenangkan. “Pasti kalian belum berusaha sekeras aku. Lain kali semangat lagi, ya.”

Ucapan itu justru membuat yang lain makin kesal.

“Usaha 10 menit itu namanya usaha?”

“Hiks… jadi belajar sebulan dan begadang tiga hari ini apa artinya??”

“Kok kamu enak banget bilang kamu lebih rajin dari kami?!”

Lu Xiaoke berkata santai, “Kalau begitu kenapa nilai kalian lebih rendah? Berarti usaha kalian memang kalah dariku, kan?”

Kalimat itu langsung membuat semua orang terdiam tak bisa membalas.

Setelah berkata demikian, Lu Xiaoke mengambil soda dengan satu tangan, membuka ponsel dengan tangan lainnya, lalu berjalan santai keluar kelas.

Tersisa orang-orang di dalam kelas yang meraung frustasi.

“Aaa! Aku akan bersaing mati-matian dengan para jenius ini!”

“Ah… sudahlah. Dia memang lebih berbakat dari kita. Terima saja kenyataan.”

“Tidak! Yang bikin aku kesal bukan karena dia berbakat. Aku kesal karena dia jelas-jelas menang karena bakat, tapi tetap bilang itu semua karena kerja keras!”

Bersambung.

1
EAKK
.
Khusus Game
bagus k. Cuman kalo bisa... covernya lebih menarik lagi🙏
Khusus Game: nahh.. jadi lebih GG👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!