Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama itu Disebut Lagi
Nadira hendak pulang, langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruang perawatan. Pintu terbuka dari arah luar.
Disana berdiri sepasang suami istri yang tampak sedikit kelelahan, namun membawa senyum sopan di wajah mereka.
Nadira sempat terdiam, mencoba mengenali mereka.
"Maaf..... Ini ruangannya pak Robihot?" tanya ibu Damar dengan suara lembut, meski ada rasa gugup.
Nadira mengangguk pelan, "Iya, benar, Bu."
Ibu Damar tersenyum lega sambil melihat suaminya, "kami ingin bertemu Naya."
Mendengar pernyataan itu, barulah Nadira menyadari siapa mereka. Wajah keduanya pernah dilihatnya saat di pemakaman Damar, sangat terpukul dan yakin itu adalah orangtua Damar.
Nadira melirik ke arah ruangan sejenak sebelum menatap mereka kembali. Ada perasaan hati yang tiba-tiba muncul, melihat orangtua dari seseorang yang sudah tiada, namun masih datang membawa perhatian.
"Ada, Pak. Silahkan masuk, Bu..Pak."
Ibu Damar memeluk rantangnya lebih erat. Matanya menyimpan rindu yang belum selesai.
Langkah kaki terdengar. Naya yang sedang duduk di samping ranjang ayahnya menoleh sekilas, mengira Nadira kembali karna ada sesuatu yang tertinggal. Namun gerakannya terhenti begitu melihat ayah dan Ibu Damar berdiri berdampingan.
Matanya langsung membesar.
"Om.... mama... " Suaranya hampir seperti bisikan.
Ibu Damar tersenyum lembut, meski sorot matanya langsung berkaca-kaca saat melihat Naya.
"Naya.... " panggilnya pelan.
Ibu Damar memberikan rantang itu kepada suaminya, mendekati Naya lalu memeluknya.
"Nak.... " tangannya mengusap punggung Naya.
Naya berdiri diam dalam pelukan itu, matanya terpejam, wajahnya terlihat rapuh.
Naya berdiri perlahan. Ada rasa haru, rindu, dan canggung bercampur jadi satu.
Pintu kamar mandi terbuka pelan. Ibu Naya melangkah keluar sambil merapikan lengan bajunya yang sedikit basah. Namun ia berhenti di depan pintu kamar mandi. Di depan matanya, Naya sedang dipeluk erat oleh ibu Damar.
Ekspresi ibu Naya seketika menegang. Tatapannya berubah, senyum yang sempat ada menghilang begitu saja.
Ia tak menyukai pemandangan itu.
"Naya!" Suara ibunya terdengar datar, namun cukup membuat keduanya tersadar. Naya segera membuka mata dan perlahan melepaskan pelukan.
"Ibu... " ucap Naya pelan.
Ibu Damar tampak sedikit terkejut. "Maaf, Bu... Saya tadi hanya... "
"Iya, " Potong ibu Naya halus, tetapi nadanya tegas.
Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Naya. Menarik tangannya, mengambil jarak di antara mereka.
"Terima kasih sudah datang menjenguk," Lanjutnya sopan. "Tapi Naya akhir-akhir ini lagi cape. Banyak pikiran."
Ayah Damar meletakkan rantangnya, mendekat, memegang bahu istrinya, seolah memberi dukungan.
"Kami mengerti, Bu." Katanya tenang. "Kami tidak ingin mengganggu."
Naya menunduk, merasakan ketegangan. Ia tahu ibunya tidak bermaksud kasar, hanya ingin melindunginya dengan cara yang mungkin terlalu tegas.
Ketegangan itu rupanya tidak luput dari perhatian ayah Naya yang sejak tadi terbaring di ranjang. Meski tubuhnya masih lemah, ia menoleh ke arah mereka.
"Ada tamu...? " Suaranya serak namun hangat.
Ia berusaha menegakkan posisi duduknya, membuat istrinya refleks membantu menyangga bantal di punggungnya.
"Wah... Terima kasih sudah datang, Pak, Bu." Katanya tulus. "Silahkan duduk."
Suasana ruangan perlahan mereda. Ibu Damar yang sedang duduk akhirnya berdiri perlahan. Ia mengambil rantang itu dengan hati-hati.
"Naya.. " Ibu Damar melangkah mendekat, menyodorkan rantang itu ke hadapannya. "Mama, masak ini tadi."
Naya menerimanya dengan kedua tangan. Hangatnya masih terasa di telapak tangannya.
"Terima kasih, Ma." Ucapnya pelan.
Ibu Damar tersenyum tipis, "kamu suka sup ini, kan.... Mama sering minta...... "
Kalimatnya menggantung di akhir, seolah sengaja menahan kata berikutnya. Matanya sempat berkaca-kaca, namun ia cepat mengalihkan pandangan.
Ayah Naya berdehem pelan dari ranjang. "Wahhh sepertinya enak itu, saya jadi ingin cepat sembuh." Katanya mencoba menghidupkan suasana.
Ucapan itu membuat semua orang tersenyum kecil, kecuali ibu Naya.
"Bapak tidak boleh makan sembarangan," Nada ibu Naya tegas, tidak keras tapi cukup membuat ruangan kembali hening. "Dokter bilang, harus jaga makanan. Jangan asal." tegasnya.
Ibu Naya mengambil rantang itu dari tangan Naya, meletakkannya di meja.
"Maaf ya... " Suaranya lembut namun terdengar jelas. "Istri saya memang agak tegas kalau soal makanan." tambahnya sambil tersenyum tipis, memastikan tak ada yang tersinggung.
Ayah Damar segera menggeleng. "Tidak apa-apa, Pak. Justru itu bagus, berarti benar-benar dijaga."
Ibu Damar dan suaminya akhirnya pamit pulang setelah berbincang-bincang cukup lama. Naya mengantar mereka hingga depan pintu ruangannya.
"Terimakasih ya, sayang. Sudah menerima kita." ucap ibu Damar lembut sambil menggenggam tangan Naya.
Naya tersenyum kecil, "harusnya aku yang berterimakasih, Ma. Sudah datang menyempatkan waktu menjenguk ayah."
Mereka sempat terdiam sesaat. Suaminya sudah melangkah lebih dulu beberapa langkah, memberi ruang bagi istrinya.
Saat ingin berbalik pergi, ibu Damar tiba-tiba berhenti, seolah baru teringat sesuatu.
"Oh iya... " katanya pelan, lalu menatap Naya dengan mata yang mendadak sendu. "Besok... Ulang tahun Damar."
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa sengaja.
Naya membeku, langsung terdiam. Senyumnya perlahan memudar. Dadanya terasa sesak mendengar nama itu disebut lagi.
Ibu Damar tampak menyesal telah mengatakannya. Ia buru-buru tersenyum tipis, meski matanya mulai berkaca-kaca.
"Maaf, Nak.... Mama nggak bermaksud bikin kamu sedih. Mama cuman keingat... "
Naya menggeleng pelan, "Nggak apa-apa, Ma... " nada suaranya nyaris berbisik.
Naya masih berdiri di depan pintu, menemani ibu Damar yang tampak belum benar-benar ingin pergi. Suasana lebih hening setelah ada kalimat itu.
Ibu Damar tersenyum Damar, berusaha menutupi kesedihannya. "Ya sudah... Kami pulang ya, Nak. Jaga kesehatan, istirahat yang cukup."
Naya mengangguk pelan, namun langkahnya belum juga mundur dari ambang pintu.
Suara ibunya terdengar dari dalam ruangan.
"Naya!" panggilnya agak keras. "Bantu ibu sebentar!"
Naya menoleh refleks ke arah suara itu, sebelum akhirnya berbalik masuk. Meninggalkan ibu dan ayah Damar yang masih di tempat itu.
"Bantu apa, Bu?"
Ibunya berdiri dekat meja, Ia tampak pura-pura sibuk, merapikan sesuatu yang tidak benar-benar perlu dirapikan.
"Itu... Ibu mau tuang air dari termos, tapi takut tumpah," Katanya tanpa menatap Naya.
Naya dengan mudah menuangkannya ke dalam gelas.
"Cuma ini, Bu?"
Ibunya berdehem kecil, sedikit salah tingkah. "Iya.... sekalian kamu di dalam aja. Ngapain lama-lama di luar, anginnya dingin."
Naya terdiam. Ia tahu alasan itu bukan yang sebenarnya, tapi memilih tidak membantah.
Naya dan ibunya sedang duduk di dalam ruangan, menemani ayahnya yang tertidur setelah minum obat.
Suasana kamar terasa hening.
Seorang perawat membuka pintu dan tersenyum sopan, "Permisi, Bu."
Naya segera berdiri, "Iya? "
"Dokter ingin bertemu pihak keluarga pasien," ujar perawat itu lembut.
Ibunya langsung bangkit dari duduknya, wajahnya sedikit tegang, "Sekarang?"