Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Manipulasi Sutra dan Duri yang Tersembunyi
Setelah kejadian di perpustakaan, suasana di mansion Valerius berubah total. Jika sebelumnya udara di sana terasa seperti es yang membeku, kini ia terasa seperti api yang merayap—panas, menyesakkan, dan siap menghanguskan. Dante tidak lagi hanya mengawasi Aruna saat menyusui; ia mulai hadir dalam setiap aspek kehidupan gadis itu, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu inci pun dari eksistensi Aruna yang tidak berada di bawah kendalinya.
Malam itu, hujan turun dengan lebat, menghantam kaca-kaca jendela besar mansion dengan suara yang berisik. Aruna duduk di meja riasnya, menatap pantulan dirinya yang mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat—pemberian terbaru dari Dante. Hitam, warna berkabung, namun di tubuh Aruna, warna itu justru membuatnya tampak seperti dewi malam yang misterius.
Pintu kamarnya terbuka tanpa suara. Melalui cermin, Aruna melihat Dante masuk. Pria itu tidak lagi mengenakan jas formalnya, melainkan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura yang sedikit lebih santai namun tetap sangat mengintimidasi.
Dante berjalan mendekat, berdiri di belakang Aruna. Tangannya yang besar memegang bahu Aruna, dan melalui pantulan cermin, mata mereka bertemu.
"Kau terlihat cantik dengan warna ini," suara Dante rendah, bergetar di dekat telinga Aruna. "Hitam adalah warna Valerius. Warna kekuatan."
"Hitam adalah warna kematian, Dante," balas Aruna lirih. Tangannya yang dingin meremas pinggiran meja marmer. "Seperti foto yang kau hancurkan tadi siang."
Rahang Dante mengeras, namun kali ini ia tidak meledak marah. Sebaliknya, ia mengambil sisir perak di meja dan mulai menyisir rambut panjang Aruna dengan gerakan yang sangat perlahan, hampir seperti sebuah ritual.
"Isabella adalah masa lalu yang gagal, Aruna. Jangan menyamakan dirimu dengannya. Dia tidak memiliki keteguhan hati sepertimu. Dia rapuh."
"Dia rapuh karena kau mematahkannya!" Aruna berbalik, menepis tangan Dante. "Aku melihat tulisan di belakang foto itu. Kau tidak mencintainya, kau memilikinya seperti sebuah piala!"
Dante terdiam, matanya berkilat gelap. Ia meletakkan sisir itu dengan pelan, lalu membungkuk, menatap Aruna dengan jarak yang sangat dekat. "Cinta bagi orang-orang sepertiku adalah perlindungan. Di luar sana, duniaku akan memakan wanita seperti kalian hidup-hidup. Jika aku tidak 'mematahkan' sayapnya, dia akan terbang ke pelukan musuhku dan berakhir dengan peluru di kepalanya. Aku menjaganya tetap hidup di dalam sini."
"Dan pada akhirnya dia mati juga di tanganmu, bukan?"
Dante tidak menjawab. Ia justru meraih tangan Aruna, membawa jemari gadis itu ke bibirnya dan mengecupnya pelan—sebuah gestur yang seharusnya romantis namun terasa seperti klaim predator atas mangsanya.
"Makan malam sudah siap. Dan malam ini, kita tidak hanya berdua. Seorang tamu penting akan datang. Aku ingin kau berperan dengan baik, Aruna. Kau bukan hanya ibu susu malam ini. Kau adalah... pendampingku."
Ruang makan malam itu dihias dengan lilin-lilin perak yang tinggi. Di ujung meja, duduk seorang pria paruh baya dengan bekas luka melintang di pipinya—Don Salieri, pemimpin keluarga mafia dari distrik sebelah yang dikenal licin dan berbahaya.
Aruna duduk di sebelah kanan Dante, merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan Don Salieri yang terus-menerus menelanjangi tubuhnya.
"Jadi, ini 'permata' baru yang kau sembunyikan, Dante?" suara Don Salieri serak, ia tertawa kecil sambil menyesap wine-nya. "Aku dengar kau menyewa seorang mahasiswi cantik hanya untuk menyusui anakmu. Sangat boros, tapi melihatnya secara langsung... aku mengerti kenapa kau melakukannya."
Dante memotong dagingnya dengan sangat tenang, namun Aruna bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh pria di sampingnya itu.
"Dia bukan sekadar pengasuh, Salieri. Dia adalah bagian dari rumah ini. Dan aku sangat tidak suka jika ada orang lain yang menatap bagian dari rumahku terlalu lama."
Salieri tertawa lebar. "Jangan terlalu posesif, kawan. Kita sedang membicarakan bisnis. Tapi aku harus jujur, kulitnya yang putih dan matanya yang berani itu... sangat langka. Berapa kau membayarnya? Aku punya keponakan yang baru lahir, mungkin aku bisa meminjamnya sebentar?"
Suasana di ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Aruna merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia melihat tangan Dante yang memegang pisau makan mengepal hingga buku jarinya memutih.
Tiba-tiba, dengan gerakan secepat kilat, Dante melemparkan pisau itu ke arah meja di depan Salieri hingga pisau itu tertancap dalam di kayu mahoni yang mahal, hanya beberapa sentimeter dari tangan Don Salieri.
"Satu kata lagi tentang meminjamnya," bisik Dante dengan nada yang begitu dingin hingga Aruna merasa merinding, "dan aku akan memastikan lidahmu menjadi hidangan penutup malam ini."
Salieri tertegun, senyumnya menghilang. Ia mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, meski matanya masih berkilat penuh kelicikan. "Tenang, Dante. Aku hanya bercanda. Tidak perlu mengeluarkan taringmu."
"Makan malam selesai," Dante berdiri, menarik tangan Aruna dengan kasar agar ikut berdiri bersamanya. "Marco, antar Don Salieri ke pintu depan. Sekarang."
Dante menarik Aruna menuju koridor yang sepi, langkahnya sangat cepat hingga Aruna hampir terjatuh. Dante baru berhenti saat mereka sampai di depan pintu kamar bayi. Ia membalikkan tubuh Aruna, menghimpitnya ke dinding dengan tubuhnya yang besar.
Napas Dante memburu, matanya dipenuhi dengan amarah dan sesuatu yang lain... sesuatu yang tampak seperti gairah yang tertekan.
"Kau dengar itu?" Dante menggeram, tangannya mencengkeram pinggang Aruna dengan kuat. "Mereka semua menatapmu. Mereka menginginkanmu. Itulah sebabnya kau tidak boleh keluar dari sini. Kau terlalu berharga untuk dibiarkan dilihat oleh babi-babi seperti mereka."
"Aku bukan barang, Dante! Aku manusia!" teriak Aruna, air mata mengalir di pipinya. "Kau membawaku ke sana hanya untuk memamerkanku, lalu kau marah saat mereka melihatku?"
Dante tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru membungkuk, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aruna, menghirup aroma susu dan melati yang memabukkan dari kulit Aruna. Aruna gemetar, ia mencoba mendorong dada Dante, namun pria itu seperti gunung yang tak tergoyahkan.
"Jangan pernah berani menatap pria lain seperti itu, Aruna," bisik Dante di kulit lehernya. "Kau adalah milikku. Setiap tetes di tubuhmu, setiap napasmu... hanya untuk Valerius. Jika kau mencoba mencari perlindungan dari pria lain, aku akan menghancurkan mereka dan aku akan mengurungmu di ruangan tanpa jendela selamanya."
Dante menarik diri, menatap Aruna yang hancur dengan pandangan posesif yang mutlak. "Sekarang, masuklah ke dalam. Leonardo sedang menunggumu. Dan aku akan menunggu di luar pintu ini sampai kau selesai. Jangan coba-kali mencoba mengunci pintunya."
Aruna masuk ke kamar bayi dengan sisa tenaga yang ia miliki. Di dalam sana, ia melihat Leonardo yang sedang menggeliat bangun. Saat ia menggendong bayi itu, ia menyadari satu hal yang mengerikan: ia mulai merasa "aman" saat berada di dekat Leonardo, namun ia merasa "terancam" setiap kali ayahnya ada di sana.
Namun, di tengah ketakutan itu, sebuah rencana mulai terbentuk di kepala Aruna. Ia melihat ponsel Don Salieri yang tadi sempat tertinggal di atas meja makan (atau mungkin sengaja ditinggalkan sebagai umpan). Jika ia bisa mendapatkan alat komunikasi, ia bisa menghubungi dunia luar.
Tapi taruhannya adalah nyawanya. Dan nyawa ibunya.