di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Rina merapatkan tubuhnya ke daun pintu, tangannya meraba-raba ke belakang mencari gagang pintu yang sudah terkunci rapat. Jantungnya berdegup kencang, bukan lagi karena rasa ingin tahu yang nakal, melainkan karena kewibawaan Rohman yang tiba-tiba berubah menjadi aura dominan yang sangat mengintimidasi.
"Mas mau ngapain?? Jangan deket-deket ya entar aku teriak!" ancam Rina dengan suara yang sedikit bergetar. "Katanya Mas cinta sama aku, kok serem banget sih? Katanya Mas orang alim, Mas ustadz... masa mau maksa?!"
Rohman menghentikan langkahnya hanya beberapa jengkal di depan Rina. Ia tidak langsung menyentuh istrinya, melainkan meletakkan kedua tangannya di atas pintu, tepat di sisi kanan dan kiri kepala Rina, mengurung gadis itu dalam ruang sempit antara tubuhnya dan kayu pintu.
"Mas memang sangat mencintaimu, Rina. Justru karena cinta, Mas ingin memberikan pelajaran kecil," bisik Rohman.
Suaranya rendah, serak, dan terdengar sangat maskulin di telinga Rina. "Dan soal 'maksa'... bukankah kamu sendiri yang semalam bilang 'boleh kok kalau Mas mau apa-apain aku'?"
Rina meneguk ludah, teringat ucapan frontalnya di mobil. Sial, mulutnya memang seringkali lebih cepat dari otaknya.
"Itu... itu kan kemarin! Sekarang kondisinya beda!" bela Rina, matanya melirik ke arah tangan Rohman yang kekar.
"Bedanya di mana? Semalam kamu bilang haid baru satu hari, lalu subuh tadi kamu bilang sudah bersih, terus pas di depan Ayah kamu bilang baru dua hari," Rohman memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka bersentuhan. "Istri Mas ini ternyata punya banyak versi cerita ya? Mas jadi bingung, mana yang harus Mas percayai kalau bukan dengan membuktikannya sendiri?"
Rina memejamkan matanya rapat-rapat saat merasakan hembusan napas Rohman yang hangat di permukaan kulit wajahnya. "Mas... aku minta maaf, aku cuma mau bercanda..."
"Bercandamu itu berbahaya, Sayang. Kamu sudah membangunkan macan yang sedang tidur," gumam Rohman. Ia menurunkan satu tangannya, perlahan menarik tali mukena Rina hingga penutup kepala itu terlepas, memperlihatkan rambut Rina yang masih sedikit lembap dan beraroma mawar.
Rohman menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Rina dengan tatapan yang kini melembut namun tetap intens. "Mas tidak akan memaksamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan. Tapi Mas butuh kepastian, apakah istrimu yang agresif ini sudah siap menjadi milik Mas sepenuhnya, atau dia hanya berani di kata-kata saja?"
Rina membuka matanya perlahan, melihat ketulusan di balik ketegasan mata Rohman. Rasa takutnya perlahan mencair, berganti dengan rasa hangat yang menjalar di hatinya. Ia menyadari bahwa di balik "hukuman" ini, Rohman sebenarnya sedang menunggu kesiapannya dengan cara yang paling manis.
"Mas..." panggil Rina lirih, tangannya perlahan naik dan meremas ujung kaos singlet Rohman. "Kalau aku bilang aku siap... Mas beneran nggak akan kasih ampun?"
Rohman tersenyum, jenis senyuman yang membuat Rina sadar bahwa pagi ini akan menjadi pagi yang sangat panjang bagi mereka berdua. "Tergantung seberapa nakal kamu nanti, Khumairah."
Rina menatap mata Rohman dalam-dalam, mencoba memasang wajah paling melankolis yang ia bisa. Tangannya masih meremas ujung kaos singlet Rohman, menciptakan ilusi seolah ia benar-benar sedang menyerahkan diri sepenuhnya.
"Mas tahu tidak??" bisik Rina, suaranya terdengar bergetar hebat—akting yang sangat juara.
Rohman terpaku, tatapannya melembut. Ia merasa benteng pertahanan Rina benar-benar sudah runtuh. "Tahu apa, Sayang?"
"Akutuh sayang banget sama Mas Rohman... cinta banget. Mau nolak nggak ngasih itu rasanya kayak bersalah banget di hati," ucap Rina sambil menunduk, menyembunyikan kilat jenaka yang kembali muncul di matanya. Rohman menarik napas panjang, ia merasa sangat tersentuh hingga tangannya perlahan melonggar dari pintu.
"Tapi..." Rina menjeda kalimatnya tepat saat ujung jarinya merasakan dinginnya gagang pintu yang sudah ia putar kuncinya secara diam-diam sejak tadi.
"TAPI SEKARANG AKU HARUS KABUR! DA-DAH MAS ARAB!"
CEKLEK! BRAKK!
Dalam hitungan detik, Rina menarik gagang pintu dan melesat keluar kamar secepat kilat. Ia tidak peduli lagi dengan mukenanya yang menjuntai atau rambutnya yang berantakan.
"AYAAAHHH! TOLONGIN RINA LAGI! MAS ARAB MAU JADI MACAN!" teriak Rina sambil berlari menuju dapur, tempat ia yakin Bunda dan Ayah sedang berada.
Rohman yang masih berdiri di posisi semula hanya bisa menatap pintu yang terbuka lebar dengan mulut sedikit menganga. Ia tertegun sejenak, lalu tawa renyahnya pecah memenuhi kamar. Ia memijat pangkal hidungnya, benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang satu ini.
"Rina... Rina... Kamu pikir kamu bisa lari ke mana di rumah sekecil ini?" gumam Rohman sambil menggelengkan kepala.
Ia merapikan kaosnya, lalu berjalan keluar dengan langkah santai namun pasti. Ia melihat Rina sudah bersembunyi di balik meja makan, menjadikan Bunda sebagai perisai hidup.
"Nak Rohman, ada apa lagi?" tanya Bunda sambil memegang sudit, menahan tawa melihat Rina yang sudah seperti kucing ketakutan tapi masih sempat-sempatnya mencuri sepotong tempe goreng dari piring.
"Istri saya sedang latihan lari maraton, Bunda," sahut Rohman santai sambil duduk di kursi meja makan, tepat di depan Rina yang sedang melotot ke arahnya. "Katanya mau kabur, tapi kok kaburnya ke dapur?"
"Biarin! Perut lapar lebih serem daripada Mas Arab!" balas Rina sambil menjulurkan lidahnya, meskipun tangannya masih gemetar karena sisa adrenalin tadi.
Rohman hanya tersenyum tenang, menyesap teh hangat yang baru saja diletakkan Bunda. "Lari saja sepuasmu, Rina. Masih ada sisa dua puluh tiga jam hari ini. Mas akan tunggu sampai kamu capek sendiri."
Rina mendadak tersedak tempenya. Ia menatap Rohman yang sedang menatapnya balik dengan sorot mata yang seolah bilang, 'Permainan baru saja dimulai, Sayang.'