Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 – Dinding Bernama Keluarga
Hari-hari pun berlalu di balik senyum dan rasa gembira yang menghiasi wajah Alya. Hatinya dipenuhi kebahagiaan setelah kembali bertemu dengan Arga, pangeran dalam kisah hidupnya, pada momen terakhir perpisahan sekolah. Pertemuan itu seolah menghidupkan kembali kenangan dan harapan yang sempat terkubur.
Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Alya harus menghadapi tekanan dari ayah dan ibu tirinya. Sang ayah menuntut agar Alya menerima perjodohan dengan pria pilihan keluarga. Mendengar hal itu, Alya terdiam. Dadanya terasa sesak.
“Aku harus bagaimana?” gumam Alya dalam hati.
Baru saja ia bertemu kembali dengan Arga, kini ia harus mendengar keputusan kedua orang tuanya tentang perjodohan dengan seseorang yang bahkan tak ia kenal. Alya tidak tahu seperti apa wajah pria itu, bagaimana sikapnya, dan seperti apa kehidupannya kelak jika menerima perjodohan tersebut.
Di antara kebahagiaan dan keterpaksaan, Alya terjebak dalam dilema besar. Hatinya ingin bebas memilih, tetapi dinding bernama keluarga seolah mengurung setiap langkahnya. Hari pun berlalu. Arga tiba di kantor tempat ia bekerja. Wajahnya tampak gelisah karena ia belum juga melihat Alya. Hanya beberapa orang yang lalu-lalang di hadapannya.
“Ke mana Alya? Kenapa aku belum melihatnya…” gumam Arga pelan.
Arga melangkah masuk lebih dalam ke ruangan kantor. Pandangannya terus mencari sosok yang ia nantikan. Setiap kali pintu terbuka, hatinya berdebar, berharap itu adalah Alya. Namun, hingga waktu terus berjalan, sosok itu tak juga muncul.
Arga menarik napas panjang. Kegelisahan di dadanya semakin terasa. Ia duduk di kursinya, namun pikirannya melayang jauh.
“Apa terjadi sesuatu padanya?” batin Arga penuh cemas.
Jam demi jam berlalu. Arga beberapa kali melirik ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Alya. Namun layar tetap sunyi. Hatinya mulai diliputi kekhawatiran yang tak bisa ia jelaskan.
Tak lama kemudian, pintu kantor perlahan terbuka. Seorang gadis melangkah masuk dengan wajah sedikit pucat dan sorot mata yang tampak lelah. Itu Alya.
Langkahnya pelan, seolah beban di pundaknya terlalu berat untuk ditopang. Begitu memasuki ruangan, pandangannya langsung tertuju pada Arga yang duduk di meja kerjanya.
Arga yang sejak tadi gelisah sontak menoleh. Matanya membelalak, lalu sorot cemas itu berubah menjadi lega.
“Alya…” gumamnya lirih.
Alya menghentikan langkah di hadapan Arga. Ia berusaha tersenyum, namun senyum itu tampak dipaksakan.
“Maaf aku terlambat,” ucap Alya pelan.
Arga berdiri, menatap wajah Alya dengan penuh khawatir. “Kamu kenapa? Dari tadi aku menunggumu. Aku sempat takut terjadi sesuatu.”
Alya terdiam sejenak. Dadanya terasa sesak, namun ia belum sanggup menceritakan semuanya. Ia hanya menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa… hanya sedikit lelah,” jawabnya singkat.
Namun Arga bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Alya. Tatapan mata itu tak lagi secerah biasanya. Ada kesedihan yang tertahan, seolah hatinya sedang berperang dengan keadaan.
Arga menatap Alya lekat. Hatinya tak tenang melihat perubahan di wajah gadis itu.
“Alya, aku kenal kamu. Kamu bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaan. Ada apa sebenarnya?” tanya Arga lembut.
Alya menunduk. Jarinya saling menggenggam, seolah menahan gemetar. Napasnya terasa berat, matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku… aku sedang tidak baik-baik saja, Ga,” ucapnya pelan.
Arga terdiam, lalu mendekat selangkah. “Ceritakan. Jangan kamu simpan sendiri.”
Alya mengangkat wajahnya perlahan. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh.
“Ayah dan ibu tiriku ingin menjodohkanku,” katanya lirih.
Arga tersentak. Dadanya terasa dihantam kenyataan yang tak pernah ia bayangkan.
“Menjodohkan?” ulang Arga tak percaya.
Alya mengangguk pelan. “Aku tidak mengenal pria itu. Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Tapi mereka memaksaku untuk menerimanya.”
Hening sejenak menyelimuti di antara mereka. Arga mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarah dan rasa sakit di hatinya.
“Lalu… apa yang kamu inginkan?” tanya Arga dengan suara bergetar.
Alya menatap Arga dalam. “Aku ingin memilih jalanku sendiri. Aku ingin mempertahankan perasaanku.”
Arga menarik napas panjang. “Kalau begitu, jangan menyerah, Alya. Aku akan ada di sisimu.”
Alya terdiam, lalu menggeleng pelan. “Kamu tidak mengerti, Ga. Keluargaku terlalu kuat. Aku takut…”
Arga menatap Alya dengan penuh keteguhan. “Selama kamu belum menyerah, aku juga tidak akan.”
Alya terisak. Untuk pertama kalinya, ia merasa tak sendirian menghadapi badai yang datang.
Arga menatap Alya dalam-dalam. Hatinya bergejolak, namun tekadnya semakin kuat.
“Alya, dengarkan aku,” ucap Rayhan dengan suara mantap. “Aku tidak akan membiarkan kamu berjuang sendirian. Apa pun yang terjadi, aku akan memperjuangkanmu.”
Alya terkejut. Matanya membesar, menatap Arga penuh ragu dan harap.
“Tapi ini tentang keluargaku, Ga. Aku tidak ingin kamu terluka karena aku.”
Arga menggeleng tegas. “Aku tidak peduli. Perasaanku padamu jauh lebih besar dari rasa takutku. Aku mencintaimu, Alya. Dan aku akan membuktikannya.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam. Air mata kembali mengalir, namun kali ini bukan hanya karena sedih, melainkan karena terharu.
“Terima kasih…” bisik Alya lirih.
Arga mengusap punggung tangannya perlahan. “Percayalah padaku.”
Malam itu, Alya pulang dengan langkah berat. Rumah yang seharusnya menjadi tempat ternyaman justru terasa seperti penjara baginya.
Begitu masuk, suara ayahnya langsung terdengar lantang.
“Kamu dari mana saja, Alya?”
Alya berhenti melangkah. Ia menunduk hormat. “Dari kantor, Yah.”
Ibu tirinya melipat tangan di dada, menatap Alya dengan sinis. “Kami sudah membicarakan soal perjodohan itu. Kamu harus siap. Keluarga calon suamimu akan datang minggu depan.”
Jantung Alya berdegup kencang. “Minggu depan?” suaranya bergetar.
Ayahnya menatap tajam. “Iya. Dan kamu tidak punya pilihan.”
Alya mengangkat wajahnya perlahan. “Yah… bolehkah Alya menolak?”
Tamparan keras menghantam meja.
“Cukup!” bentak ayahnya. “Semua ini demi masa depanmu! Pria itu berasal dari keluarga terpandang. Hidupmu akan terjamin!”
“Tapi Alya tidak mencintainya…” lirih Alya.
Ibu tirinya tertawa kecil, penuh ejekan. “Cinta? Hidup bukan soal cinta saja, Alya. Kamu harus tahu diri.”
Air mata Alya jatuh tanpa bisa dibendung. “Alya hanya ingin bahagia…”
Ayahnya terdiam sejenak, lalu berkata dingin, “Kebahagiaanmu adalah mengikuti keputusan keluarga.”
Kata-kata itu menghancurkan sisa kekuatan Alya. Ia berlari menuju kamarnya, mengunci pintu, lalu menangis sejadi-jadinya.
Di dalam sepi, Alya memeluk lututnya. Bayangan Arga terlintas di pikirannya.
“Ga… aku takut…” bisiknya lirih.
Malam semakin larut. Hujan turun perlahan, membasahi jendela kamar Alya. Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya dan menatap nama Arga yang tertera di layar. Setelah menarik napas panjang, ia memberanikan diri menghubunginya.
Tak sampai beberapa detik, panggilan itu terangkat.
“Alya…” suara Arga terdengar cemas. “Kamu kenapa? Seharian ini aku merasa tidak tenang.”
Air mata Alya kembali jatuh. “Ga… mereka benar-benar memaksaku. Minggu depan keluarga pria itu akan datang.”
Arga terdiam. Rahangnya mengeras menahan emosi. “Berarti waktuku tidak banyak.”
“Aku takut, Ga…”
“Kamu jangan takut,” ucap Arga tegas. “Aku tidak akan tinggal diam.”
Setelah panggilan itu berakhir, Arga duduk termenung. Pikirannya berputar cepat, menyusun langkah demi langkah. Ia tahu, menghadapi keluarga Alya tidak bisa dengan emosi semata.
Ia bangkit, meraih map berisi berkas-berkas penting di meja kerjanya. Pandangannya menajam.
“Aku harus membuktikan kalau aku layak untuk Alya,” gumamnya.
Keesokan harinya, Arga mulai bergerak. Ia menemui atasannya, mengajukan proyek besar yang selama ini ia siapkan. Ia bekerja tanpa mengenal lelah, membangun kepercayaan, memperkuat posisi, dan mengumpulkan keberanian.
Di sela-sela kesibukannya, Arga menghubungi sahabat lamanya, meminta bantuan untuk mencari tahu lebih banyak tentang keluarga yang akan dijodohkan dengan Alya.
“Aku tidak boleh kalah sebelum bertarung,” tekad Arga dalam hati.
Setiap malam, ia mengirim pesan penyemangat untuk Alya. Meski jarak dan keadaan memisahkan, Arga ingin Alya tahu bahwa ia tidak sendirian.
Perjuangan baru saja dimulai.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰